Kunjungan Persekutuan Doa Pagi ke Yayasan Breakthrough Mission Indonesia, Sentul

Belum ada komentar 37 Views

Sesuai rencana, pada hari Sabtu kelima tanggal 30 Maret yang lalu, Kunjungan Persekutuan Doa Pagi (PDP) melayani keluar dengan mengadakan Persekutuan Doa di Yayasan Breakthrough Mission Indonesia (YBMI), Sentul.

Kami berkumpul di plaza Gereja pada pk. 6.30 pagi, dan setelah mengatur kendaraan, membagi sarapan, dan berdoa, kami berangkat sekitar pk 7.15. Dua puluh peserta ikut dalam kunjungan ini.

Perjalanan ke Sentul memakan waktu lebih dari 1 jam. Kami tiba sekitar pk. 8.30. Ada kejutan yang menyenangkan ketika kami menjumpai 9 remaja/pemuda Desa Kemang dan Telaga Kahuripan sudah berada di lokasi sejak pk. 8.00. Kami sangat mengapresiasi keikutsertaan mereka. Menurut Ika, salah satu remaja tersebut, kunjungan ke yayasan YBMI merupakan pengalaman perdana yang akan selalu dikenangnya.

Lokasi Breakthrough sangat indah dan tenang, karena para pasien narkoba mau bekerja sama untuk kesembuhan mereka. Mewakili para remaja lainnya, Kyre mengatakan bahwa kunjungan ini memberi banyak sekali pengetahuan baru kepada mereka, karena mereka jadi tahu kehidupan para pecandu narkoba, asal mula penggunaannya, masalah-masalah yang dihadapi, dll. Narkoba membunuh masa depan generasi muda.

Di Sentul, kami disambut oleh beberapa staf Breakthrough Mission, salah satunya Bpk. Fendi yang mengucapkan selamat datang atas kunjungan kami, sekaligus memberi pengarahan tentang aturan yang berlaku di yayasan ini, antara lain tidak memberi tanda kasih berupa uang langsung kepada para “pasien”. Kami juga diminta untuk tidak banyak berfoto, karena para “pasien” ini dilarang membawa ponsel selama masa rehabilitasi.

Yayasan ini tidak mengenakan biaya kepada para “pasien” yang ikut rehabilitasi di sana. Mereka hanya mengandalkan donasi/sumbangan dari para donatur dan para pengunjung.

Salah seorang pengurus yang mantan pengguna narkoba, mengatakan bahwa harta keluarga sekaya apa pun akan habis digunakan oleh pecandu narkoba. Perlengkapan rumah tangga seperti kulkas, AC, meja kursi, sofa semuanya ludes. Dengan fakta ini, maka yayasan tidak mengenakan biaya kepada para “pasien” dan keluarga mereka. Namun apabila masih ada keluarga yang mampu dan ingin menyumbang, dengan senang hati yayasan akan menerimanya.

Kami memulai Ibadah Persekutuan Doa Pagi dengan liturgi yang sudah disiapkan oleh Ibu Damelia. Beliau sekaligus memberi sambutan dan ucapan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada PDP untuk bersekutu di sana.

Sebelum renungan, salah satu dari mereka bernama Herman, menyampaikan kesaksian hidupnya. Ia dibesarkan di dalam keluarga Kristen, dididik di sekolah Kristen, mengikuti Sekolah Minggu, tetapi semuanya itu tidak menjamin bahwa ia menjadi orang yang baik. Ia mulai mengenal narkoba saat duduk di bangku SMA, karena diajak oleh teman-teman pergaulannya. Mulanya memang enak menggunakan narkoba, karena ia bisa merasa bahagia, berhalusinasi, lepas dari masalah sehari-hari, tetapi itu hanya sebentar saja dirasakannya. Setelah pengaruh narkoba hilang, ia kembali menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa dan menghadapi masalah-masalah yang ada. Parahnya, pada saat ia membutuhkan narkoba tetapi tidak mendapatkannya, ia merasa tubuhnya sangat tersiksa dan tak kuat menahannya (kecanduan), sehingga ia menggunakan segala cara untuk membeli narkoba. Bila tidak punya uang karena tidak diberi oleh orangtuanya, maka jalan satu-satunya ia akan meminjam uang ke teman, atau mencuri uang di luar maupun di dalam rumah. Apabila sudah tidak bisa mencuri uang, maka ia akan mengambil apa pun yang ada di rumah untuk dijual dan uangnya dipakai untuk membeli narkoba.

Makin hari makin dalam ia terjerumus ke dalam kubangan narkoba, sampai akhirnya ia melakukan tindakan kriminal dan dijebloskan ke penjara. Di dalam penjara, bukannya sadar, ia malah jadi lebih pintar mengetahui jenis narkoba lain yang belum pernah dikonsumsi sebelumnya, dan makin dalam terjerumus.

Sampai suatu hari Tuhan menjamahnya. Ia merasa bosan dan jenuh, jiwa dan rohnya ingin lepas dari jerat narkoba ini, tetapi ia tidak mampu. Singkat cerita, ia masuk ke Yayasan Breakthrough Mission Indonesia untuk direhabilitasi. Setelah sekian bulan di yayasan ini, ia “sembuh” dan sanggup memberikan kesaksian hidupnya.

Menurut pengurus yayasan, orang-orang yang diterima oleh yayasan ini hanya para pecandu narkoba yang sudah mempunyai keinginan untuk sembuh (seperti Herman). Mereka tidak akan lari/kabur, karena sudah mempunyai motivasi untuk sembuh. Karena itu, petugas keamanan di yayasan ini hanya satu orang.

Para pecandu narkoba yang baru akan dimasukkan ke dalam ruangan isolasi (mirip sel penjara) yang dikunci dan digembok dari luar. Mereka akan mendekam di ruangan isolasi ini selama 1-2 minggu, tergantung dari beratnya kecanduan mereka. Pada saat mereka “sakauw”, mereka tidak diberi apa-apa (obat penenang) dan tubuh mereka dibiarkan menahan sakit karena tidak dapat mengonsumsi narkoba. Berhari-hari mereka hanya diberi makanan dan minuman, sampai pada suatu saat mereka bisa melampaui masa sulit tersebut dan merasa “tenang”, baru mereka dikeluarkan dari ruang isolasi tersebut dan dipindahkan ke kamar.

Hari-hari berikutnya mereka diharuskan bekerja membersihkan kamar, menyapu halaman, mengepel kamar dan tugas lain yang ringan, sampai sekitar 2-3 bulan. Setelah mereka mulai stabil, mereka diharuskan memotong rumput di kebun, mencuci mobil dan motor, mencuci pakaian dengan menggunakan mesin cuci, menyetrika pakaian, juga sekitar 3 bulan. Setelah kestabilan emosi mulai membaik dan lebih stabil, ada dari mereka yang bertugas untuk memasak. Semua yang di atas adalah hal yang menyangkut jasmani.

Dalam segi rohani, setiap pagi mereka melakukan ibadah dan diberi Firman Tuhan yang akan menguatkan mereka pada saat-saat sedang lemah dan jatuh kembali. Yayasan tidak menggunakan tenaga medis yang memberikan obat penenang kepada para pecandu, dan hanya mengandalkan Firman Tuhan. Selain itu, yayasan tidak menggunakan asisten rumah tangga. Semuanya dikerjakan oleh para “pasien” dan pengurus di sana.

Selain ketrampilan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, para pecandu diberi pendidikan ketrampilan lain seperti menggunakan komputer, agar kelak setelah 18 bulan mereka sembuh, mereka dapat mandiri dan terjun kembali ke masyarakat.

Kembali ke ibadah PDP. Pada intinya, firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt, mengatakan bahwa secara sadar atau tidak, “stempel” yang dikenakan keluarga dan masyarakat kepada para pecandu narkoba yang sudah sembuh, terus menempel pada mereka, sehingga hal ini akan menimbulkan luka yang dalam di hati mereka dan sering berakibat fatal dengan menjerumuskan mereka kembali ke jurang narkoba. Karena itu Pdt. Rudianto mengajak kita semua merangkul mereka dan menghilangkan stempel tersebut dalam hati dan pikiran kita, sehingga kita dapat menerima mereka sebagai manusia yang dicintai Tuhan. Pdt. Rudianto juga mengajak para mantan pecandu untuk tidak membawa stempel tersebut di dalam diri mereka, sehingga mereka merasa rendah, minder dan berdosa, sebab mereka telah menjadi manusia biasa yang telah ditebus dosa dan kesalahan mereka oleh Tuhan Yesus Kristus.

Setelah renungan, para mantan pecandu memberi kesaksian pujian dalam bentuk vocal group dengan suara yang merdu, khidmat, dan penuh penghayatan. Kemudian kami membentuk kelompok-kelompok doa. Di dalam kelompok kecil ini kami bisa berkenalan, berbincang-bincang dengan mereka dan saling mendukung dalam doa. Sungguh dapat dimengerti bahwa mereka rindu kepada keluarga mereka, dan berharap dapat cepat pulang ke rumah masing-masing.

Dalam kesempatan ini PDP menyampaikan persembahan kasih berupa 1 unit komputer grafis yang dapat digunakan untuk memberi kursus komputer grafis kepada para “pasien”. Mereka membutuhkan 10 buah komputer untuk kursus ini, dan juga membutuhkan instruktur yang bisa mengajarkannya.

Saat ini yayasan sedang membangun gedung serupa untuk para pecandu narkoba perempuan, yang terpisah dari para pecandu pria.

Setelah ibadah selesai, kami makan siang bersama dengan hidangan yang telah kami pesan sebelumnya dan dimasak oleh para koki mantan pecandu yang sudah terampil memasak.

Pengurus yayasan juga mengutarakan kerinduan mereka untuk berbagi pengalaman di GKI PI, terutama bagi para remaja dan pemuda, dengan mengadakan semacam seminar mengenai bahaya narkoba yang sudah dalam keadaan darurat di negeri ini. Kami dari PDP sangat tertarik dengan ajakan ini dan berdoa agar bisa ditindaklanjuti oleh Majelis bidang terkait.

Salam dan doa dari kami Persekutuan Doa Pagi GKI PI. Mari ikut bergabung dengan kami pada setiap hari Sabtu pk. 5.30, di ruang Korintus lt. 3.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
  • Tujuan Hidup
    Tujuan Hidup yang Membentuk Hidup Anda
    Catatan Moderator Talkshow Komunitas Profesi GKI Pondok Indah
    Waktu kita masih kanak-kanak, kita melambungkan cita-cita akan menjadi apa kelak. Lalu waktu berlalu, bahkan mungkin terasa terlalu cepat,...
  • bible camp
    BIBLE CAMP 2019
    Shining For Jesus
    Supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya...
  • Berkarya Bersama Dalam Inklusivitas
    Gereja & Sahabat Tuli: Diskusi bersama Sahabat Tuli
    Mengawali rangkaian Bulan Budaya GKI Pondok Indah selama bulan Agustus ini, Panitia menyelenggarakan acara yang menarik, yaitu “Diskusi bersama...
Kegiatan