Ibadah Online
Renungan Harian
-
Di pinggir jalan la melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi la tidak menemukann apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. (Matius 21:19a)
Penulis pernah mencoba menanam bibit bunga. Bibit bunga itu perlahan-lahan bertumbuh. Lambat laun, mulai muncul daun-daun pada batangnya. Namun, ternyata yang tumbuh hanyalah daun-daun, dan sama sekali tidak kunjung muncul bunga seperti yang diharapkan. Ada pertumbuhan, tetapi ternyata tidak optimal karena tidak ada bunga pada tanaman itu.
Dalam perjalanan, Yesus merasa lapar, dan Ia melihat pohon ara. Namun, ternyata pohon ara itu hanya berisi daun-daun dan sama sekali tidak ada buahnya. Yesus mengutuk pohon ara itu, dan seketika itu juga pohon ara menjadi kering. Apakah kehidupan kita sama seperti pohon ara? Kita bisa saja sudah lama menjadi seorang Kristen. Bahkan, mungkin sejak kecil kita sudah menjadi seorang Kristen. Namun, apakah benar bahwa dalam kehidupan kita, kita menghasilkan buah-buah kasih Kristus? Apakah orang lain melihat buah-buah dalam keseharian kita? Atau jangan-jangan, tanpa kita sadari, kita justru menjadi seperti pohon ara yang dikutuk Yesus—pohon yang hanya berdaun lebat, tetapi tidak berbuah?
Sering kali dalam kehidupan, kita tidak sungguh- sungguh hidup sebagai orang beriman. Kita bahkan kerap tidak sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Akibatnya, kita tidak mengalami pertumbuhan yang berarti. Mari belajar untuk tidak menjadi seperti pohon ara yang tidak berbuah. Biarlah kita terus bertumbuh dan menghasilkan buah yang lebat dalam kehidupan kita. [Pdt. Cordelia Gunawan]
REFLEKSI:
Teruslah berbuah lebat, sehingga karya dan kehadiran Tuhan dapat dirasakan melalui kita.Ayat Pendukung: Im. 16:1-5, 20-28; Mzm. 119:65-72; Mat. 21:18-22
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Menegur seseorang sebagai saudara sepersekutuan sangat berbeda dengan menegur seorang rekan kerja di kantor. Di kantor, dengan mudah dapat mengacu kepada aturan yang berlaku yang tertulis dan sudah ditanda tangani oleh yang bersangkutan. Tujuan peneguran yang dilakukanpun biasanya semata hanya untuk membuat pekerjaan tetap dapat berjalan dengan baik. Orang yang ditegur karena tindakannya yang salah dengan melanggar peraturan juga biasanya lebih mudah memahami, menerima konsekuensi, dan melanjutkan pekerjaannya. Tidak demikian halnya saat di gereja. Saat seseorang ditegur, penegur perlu memiliki ‘hati’ yang penuh kasih saat melakukannya. Bahkan sekalipun sudah dilakukan dengan ‘hati’ yang penuh kasih plus ‘hati-hati’ seringkali hasilnya tidak sesuai harapan. Hati retak Gereja retak.
Injil Matius memberikan pengajaran tentang menjaga keharmonisan suatu relasi, antar individu dalam jemaat, tanpa membiarkan sesuatu yang salah terus berjalan. Pertama, seseorang yang mengetahui sesuatu yang salah, perlu memiliki kematangan di dalam menanganinya. la bisa memanggil dan berbicara empat mata dengan yang bersangkutan dengan tujuan pertobatan. Akhir yang diharapkan adalah engkau mendapatkannya kembali. Kalau tidak berhasil, jangan membicarakannya di luar tujuan awal. Melainkan dibahas di ruang terbatas, dua atau tiga orang, supaya kesalahan itu nyata bukan hanya di mata satu orang, sembari menjaga muka orang tersebut. Tahap ini memang bisa jadi makin tidak nyaman, sebab bisa jadi menimbulkan perasaan seolah diadili, apalagi kalau sudah ke tahap akhir, melibatkan jemaat -misalnya pengurus atau majelis- di dalam menyampaikan teguran. Sampai tahap inipun, Matius memberikan kemungkinan terpahit, bahwa seseorang itu tak berubah. Saat itulah biasanya ada perasaan yang membuat semua gelisah. Urusan memperbaiki yang salah, bisa melebar sampai kemana-mana, dan keutuhan persekutuan dipertaruhkan.
Tentu kita selalu berharap, kasih Kristus cukup. Cukup untuk membuat yang menegur dan yang ditegur bahkan orang-orang lainnya memiliki kerendahan hati dan cinta kasih yang memulihkan. Memulihkan hati saudaranya dan hatinya yang terluka. Dalam proses ini, hati yang retak sangat mungkin dialami oleh penegur dan yang ditegur, apalagi sampai ada perkataan-perkataan yang saling melukai. Di tiap gereja, hal ini sangat mungkin terjadi. Bersiaplah memliki hati yang betul-betul murni, di posisi apa pun kita.
Matius 18:20 dengan sangat manis, menuliskan sebuah keadaan yang baik, yakni “Sebab, dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Mengapa ini terdengar manis? Saya membayangkan, orang yang bersitegang itu menaruh egonya dan mengadakan perjumpaan, percakapan yang sulit itu, tegur menegur itu, di dalam nama Tuhan Yesus. Jika itu yang kita lakukan, kata-kata kita pasti terjaga, dan kalaupun terlanjur terluka dan melukai, hati yang retak, gereja yang retak, dibawa kepada-Nya. Tuhan sangat mampu pulihkan. Saya bahkan membayangkan, konflik itu malah mentransformasi relasi sebelumnya, mengubahkan semakin baik. Semakin saling mengenal. Semakin saling mendoakan. Semakin saling peduli. Sebab teguran dan pemulihan, semua dilakukan di dalam nama-Nya.
Dalam persekutuan, dalam kerjasama dengan saudara sepelayanan, menegur dan ditegur adalah hal yang biasa, lakukanlah di dalam nama-Nya dengan penuh kasih. Tuhan memberkati anak-anak-Nya, Tuhan memberkati gereja-Nya. Amin (DM)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



