Ibadah Online
Renungan Harian
-
Kami dan nenek moyang kami telah berbuat dosa, kami telah bersalah, telah berbuat fasik. (Mazmur 106:6)
Ada ungkapan bahwa penyesalan selalu muncul belakangan. Kata penyesalan berarti perasaan menyesal, yaitu tidak senang hati karena telah melakukan sesuatu yang tidak baik, melakukan kesalahan atau dosa, baik melalui perbuatan maupun perkataan. Penyesalan yang tulus merupakan pintu bagi pertobatan sejati. Tanpa disertai penyesalan yang tulus, yang mungkin terjadi bukanlah pertobatan, melainkan “tomat”: tobat-kumat, tobat-kumat.
Jika kita membaca keseluruhan Mazmur 106, kita akan menemukan bagaimana kecenderungan “tomat” terjadi dalam kehidupan bangsa Israel. Pemazmur mengungkapkan penyesalan yang mendalam dengan mengatakan, “Kami dan nenek moyang kami telah berbuat dosa, kami telah bersalah, telah berbuat fasik.” Pengakuan ini bukan hanya penyesalan atas dosa dan kesalahan diri sendiri, melainkan juga atas dosa dan kesalahan seluruh umat dari masa ke masa. Istilah “berbuat dosa” dalam bahasa aslinya secara harfiah berarti “meleset dari sasaran atau menyimpang dari arah atau tujuan yang seharusnya”.
Bukankah hal itu juga terjadi dalam kehidupan kita? Kita berdosa karena tidak menjalani hidup sesuai dengan arah dan tujuan yang Tuhan tetapkan. Mengapa kita dapat berulang kali melakukan dosa yang serupa? Mengapa kita kerap menyimpang dari arah hidup yang seharusnya? Jangan-jangan karena penyesalan yang kita lakukan belum merupakan penyesalan yang sungguh-sungguh tulus. [Pdt. Em. Ronny Nathanael]
DOA:
Ya Allah, Bapa di surga, tolong kami agar mau dan mampu mempraktikkan penyesalan yang tulus demi pertobatan sejati. Amin.Ayat Pendukung: Kid. 8:5-14; Mzm. 144; Yoh. 11:45-57
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan luka yang disimpan bertahun-tahun. Rumah yang diuji bukan berarti rumah yang gagal. Justru melalui ujian, kita dapat melihat apakah rumah itu memiliki dasar yang kuat.
Dalam Matius 2t:33-46, Yesus menceritakan tentang seorang pemilik kebun anggur yang mempercayakan kebunnya kepada para penggarap. Masalahnya muncul ketika para penggarap lupa bahwa kebun itu bukan milik mereka. Mereka menerima kepercayaan, tetapi tidak menjalankan tanggung jawabnya.
Dalam kehidupan keluarga pun demikian. Rumah adalah pemberian dan kepercayaan Tuhan. Suami bukan hanya pemilik rumah, tetapi dipercayakan untuk mengasihi dan melindungi.Istri bukan hanya pengurus rumah, tetapi dipercayakan untuk membangun kehidupan Bersama.Orang tua dipercayakan untuk mendidik anak.
Anak-anak pun dipercayakan kepada keluarga untuk dikasihi dan dibimbing.Karena itu. keluarga bukan sekadar tempat tinggal.Keluarga adalah tempat Tuhan mempercayakan kasih-Nya untuk kita hidupi.Kapan rumah kita diuji?
Rumah kita diuji ketika kita berbeda pendapat. Apakah kita memilih berteriak atau berbicara dengan kasih? Rumah kita diuji ketika ada anggota keluarga melakukan kesalahan. Apakah kita memilih menghakimi atau belajar mengampuni? Rumah kita diuji ketika keadaan ekonomi sulit. Apakah kita saling menyalahkan atau saling menguatkan?
Rumah kita diuji ketika anak melakukan kesalahan. Apakah kita hanya memarahi, mau mendengarkan dan membimbing?
Rumah kita juga diuji ketika kita lelah. Apakah rumah menjadi tempat untuk saling menyembuhkan,atau justru menjadi tempat kita saling melukai?
Rumah yang kuat bukan rumah tanpa masalah. Rumah yang kuat adalah rumah yang ketika diuji, memilih kembali kepada Kristus. Mari mempraktikkannya dalam keluarga. Selamat memasuki bulan keluarga. (LS)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



