Ibadah Online
Renungan Harian
-
Aku hendak bernyanyi bagi TUHAN selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada. (Mazmur 104:33)
Saat berjalan-jalan di tepi pantai, kita dapat menikmati pemandangan yang indah. Terhampar langit biru, air laut bergelombang, serta burung-burung yang beterbangan. Kita bahkan dapat melihat lumba-lumba berenang sambil memunculkan kepala atau ekornya. Belum lagi keindahan bawah laut saat kita menyelam. Semua pemandangan itu sungguh indah dan kita kagumi sebagai karya Tuhan yang luar biasa. Membuat kita memuji kebesaran-Nya.
Pemazmur dalam bacaan Alkitab hari ini juga menggambarkan beragam perbuatan TUHAN melalui dunia ciptaan-Nya. Bagi pemazmur, TUHAN-lah yang menciptakan berbagai makhluk di laut. TUHAN pula yang memberi mereka makanan masing-masing sesuai dengan perannya dalam rantai makanan. Mengamati kehidupan alam menolong manusia menyadari betapa luar biasanya karya TUHAN. Oleh karena itu, sudah selayaknyalah kita memuji dan membesarkan nama-Nya.
Kapan terakhir kali Anda memuji kebesaran Tuhan? Kebesaran-Nya dapat dihayati dengan merenungkan berbagai peristiwa dalam kehidupan. Di dalamnya, terdapat jejak kuasa dan kehadiran Tuhan. Kebesaran Tuhan juga nyata melalui alam ciptaan-Nya. Kesibukan dan tantangan hidup di kota besar kerap membuat kita lupa mengamati keindahan ciptaan Tuhan. Mari luangkan waktu sejenak untuk menghayati kebesaran-Nya, serta ungkapkanlah puji-pujian kepada-Nya agar semakin banyak orang percaya dan sungguh mengagumi kebesaran Tuhan. [Pdt. Natanael Setiadi]
REFLEKSI:
Tuhan tidak perlu menunjukkan kebesaran diri-Nya. Aneka perbuatan-Nya sudah menunjukkan siapa diri-Nya.Ayat Pendukung: Yl. 2:18-29; Mzm. 104:24-34, 35b; Rm. 8:18-24
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Minggu, 24 Mei 2026
Di Balik Pintu yang Terkunci
Kis. 2:1-21; Maz. 104:24-34,35b; I Kor. 12:3b-13; Yoh. 20:19-23
Rasa takut adalah sesuatu yang valid. Perasaan itu, semakin besar di dalam diri kita, semakin mencekam, dan membuat semakin tak berdaya untuk melakukan sesuatu. Itulah yang dirasakan para murid yang digambarkan dalam injil Yohanes 20. Mereka berada di suatu tempat dengan pintu- pintu terkunci, alasannya sangat bisa dipahami, yakni karena mereka takut kepada para pemuka agama Yahudi. Para pemuka agama Yahudi yang telah membawa Yesus ke hadapan Pilatus dan mendorong mengeksekusi Yesus melalui kekuasaannya di masyarakat saat itu. Kalau guru yang mereka ikuti saja, tersalib di bukit Golgota, maka hal yang sama juga mengancam nyawa mereka. Maka, mereka mengunci pintu – pintu itu untuk memastikan bahwa mereka aman dari ancaman di luar sana. Kita dapat memahami, mereka tak memiliki rasa aman, apalagi rasa damai sejahtera di hati mereka.
Saat mereka tak punya bayangan akan masa depan mereka sebagai murid Yesus, Yesus tiba – tiba datang begitu saja, tanpa mengetuk pintu yang terkunci rapat itu, dan berdiri di tengah – tengah mereka. Bukan di pinggir ruangan. Ia berdiri di pusat kumpulan itu, dan menyampaikan salam ”Damai sejahtera bagi kamu! ” Terkejut, tak percaya, di Injil Lukas, paralel dengan ini, dikatakan murid sempat ragu. Yesus juga memahami keraguan itu. Ia dengan tenang menunjukkan semua bekas lukanya saat disalibkan. Tangan dan lambung – Nya menjadi bukti tak terbantahkan, Ia hidup! Sungguh, terbayang betapa sukacita mereka meluap – luap, dan dalam sekejap rasa takut mereka tadi yang begitu mencekam, menguap begitu saja. Sebab, Yesus yang hadir di tengah mereka itu, sungguh memiliki bekas luka yang sama dengan Yesus yang mati dan dikuburkan. Bayangan akan para pemuka agama yang berkuasa itu, juga lenyap begitu saja.
Di balik pintu yang terkunci itu, para murid yang takut telah berubah drastis karena mengalami perjumpaan dengan Yesus. Pengalaman perjumpaan yang mengubah semua arah hidup mereka. Rasa takut yang berubah menjadi damai dan sukacita, tidak berhenti di ruang itu saja.
Di balik pintu yang terkunci, yang tadinya menjadi ruang sunyi, tempat bersembunyi, telah menjadi titik berangkat pengutusan ke tengah dunia. Yesus yang hadir di tengah mereka, telah menolong mereka membuka kembali pintu yang terkunci itu, untuk melangkah keluar memberitakan kabar baik, Kristus juru selamat dunia.
Di balik pintu yang terkunci itu, Kristus mengembusi mereka, menolong mereka menerima kuasa Roh Kudus, yang akan memampukan mereka berdiri di tengah – tengah bahaya sekalipun. Roh Kudus menemani mereka dalam perjalanan kehidupan, menguatkan dan memampukan, memperlengkapi dan meneguhkan. Rasa takut tak berkuasa lagi, diganti dengan keberanian, yang tercurah di dalam diri mereka. Selamat merayakan hari Pentakosta, Kristuspun menyatakan hal yang sama pada kita kini, ”Terimalah Roh Kudus! ” (DM)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



