Ibadah Online
Renungan Harian
-
Ia sudah mengetahui bahwa mereka menyerahkan Yesus karena dengki. (Matius 27:18)
Seorang sahabat membagikan kisah pilu. Ia dijatuhkan oleh temannya sendiri karena rasa dengki. Dalam relasi, hal semacam ini memang sering terjadi, terlebih di dunia kerja yang sarat dengan kompetisi. Di tempat kerja, ada orang- orang tertentu yang tidak senang melihat orang lain lebih dari dirinya. Orang yang narsisistik biasanya demikian.
Yesus diarak dan dihukum karena orang lain iri hati kepada-Nya. Padahal, Yesus tidak bersalah sedikit pun. Pilatus pun sebenarnya tahu bahwa orang banyak, bersama para pemuka agama, mendengki Yesus. Namun, ironisnya, Pilatus tidak berani menegakkan kebenaran. Ia memilih jalan aman. Mungkin Pilatus juga merasa iri kepada Yesus, sebab ia tidak mampu seperti Yesus, yang tetap tenang dan kokoh memegang kebenaran. Kedengkian memang membuat akal sehat tidak berfungsi dengan baik. Kedengkian membuat orang menghalalkan segala cara demi ambisi. Dalam bentuk ekstrem, kedengkian bisa mematikan. Seperti yang dialami Yesus: Ia menjadi korban kedengkian massa, para pemuka agama, dan politisi.
Sahabat, dengki adalah penyakit hati. Kedengkian akan merusak diri sendiri sekaligus orang lain. Berbahagialah atas kesuksesan orang lain. Tak perlu iri hati atau dengki. Tumbuhkan budaya apresiatif, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Yesus telah memberikan diri-Nya sebagai kurban bagi kita, supaya tidak ada lagi korban- korban kedengkian yang baru. [Pdt. Hariman A. Pattianakotta]
REFLEKSI:
Menyadari bahaya kedengkian menjadi langkah awal untuk kita memutusnya dan menggantikannya dengan budaya apresiasi.Ayat Pendukung: Yes. 50 :4-9a; Mzm. 31:9-16; Flp. 2:5-11; Mat. 27:11-54
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Orang banyak menghamparkan jubah. Mereka memotong ranting. Mereka berseru, “Hosana!” Suasananya riuh. Penuh harapan. Seperti seseorang yang akhirnya melihat pemimpin yang ditunggu-tunggu datang memasuki kota.
Namun Yesus memilih keledai. Bukan kuda perang. Bukan arak-arakan kemenangan seperti yang mungkin mereka bayangkan. Ada ketegangan di sana. Antara ekspektasi dan cara Allah bekerja.
Beberapa hari kemudian, Yesus masuk ke Bait Allah dan membalikkan meja-meja penukar uang. Tindakan itu keras. Tidak sopan menurut ukuran tertentu. Tetapi Ia sedang menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. Rumah Allah telah dipenuhi suara yang bukan suara doa. Tempat perjumpaan berubah menjadi ruang transaksi.
Saya sering bertanya dalam hati, kalau Yesus masuk ke “bait” hidup saya, meja apa yang mungkin Ia balik? Aktivitas rohani bisa berjalan. Liturgi bisa tertata. Namun hati pelan-pelan sibuk dengan hal lain.
Injil Yohanes kelak menyebut bahwa Yesus sendiri adalah Bait itu. Bukan bangunan yang menjadi pusat, melainkan pribadi-Nya. Di dalam Dia, manusia dan Allah bertemu tanpa perantara meja apa pun.
Minggu Palma selalu terasa seperti gerbang. Orang-orang bersorak, tetapi kita tahu jalan di depan-Nya menuju salib.
Mungkin pulang bukan sekadar menyambut Dia dengan daun palma. Mungkin pulang berarti membiarkan Dia menata ulang rumah batin kita, meski itu membuat tidak nyaman. Jika Kristus benar-benar adalah rumah yang Anda tuju, bagian mana dari hidup Anda yang perlu Ia bersihkan agar Anda sungguh-sungguh tinggal di dalam-Nya? (ASC)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...




