Ibadah Online
Renungan Harian
-
Suatu ketika bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang kemalangan mereka. Mendengar itu menyalalah murka TUHAN. Lalu api TUHAN menyala di antara mereka dan melahap tepi perkemahan. (Biangan 11:1)
Kita sering kali tidak mampu mensyukuri apa yang ada sekarang; bahkan, tidak jarang kita mengagung-agungkan masa lalu. Kita seolah-olah menjadi orang-orang yang tidak bisa berpindah dari masa lalu ke masa sekarang. Masa kini dianggap sebagai sesuatu yang buruk, sementara masa lalu seolah-olah jauh lebih baik. Padahal, saat menjalani masa lalu, kita juga tidak sepenuhnya bersyukur.
Bangsa Israel mengalami peristiwa ajaib saat mereka keluar dari tanah Mesir. Namun, ternyata perjalanan menuju Tanah Perjanjian tidak membuat mereka mampu menghargai karya TUHAN yang membebaskan mereka dari Mesir. Bangsa Israel lebih sering meratapi nasib dan membandingkan keadaan dalam perjalanan menuju Tanah Perjanjian dengan keadaan mereka di Mesir. Mereka lebih suka bersungut-sungut. Mereka tidak lagi mampu melihat secara utuh bahwa semua ini adalah bagian dari upaya TUHAN untuk menyelamatkan mereka. Masa lalu menjadi sesuatu yang terus mereka puji, dan mereka tidak mensyukuri masa kini.
Manusia sering kali tidak mampu bersyukur dan gagal mensyukuri apa yang ada saat ini. Manusia lebih suka menangisi apa yang tidak dimiliki. Jangan sampai kita berlaku sama seperti bangsa Israel yang gemar bersungut- sungut. Belajarlah untuk mensyukuri apa yang ada pada kita sekarang. Jangan sibuk menengok masa lalu dan mengabaikan masa kini dengan segala berkat yang ada di dalamnya. [Pdt. Cordelia Gunawan]
REFLEKSI:
Berkat Tuhan selalu ada setiap hari. Berkat Tuhan kadang terbungkus dalam keseharian yang kita anggap biasa.Ayat Pendukung: Yes. 41:1-13; Mzm. 106:1-12; Mat. 18:1-5
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Pada umumnya kita ingin mendapat lebih banyak dari orang lain, apalagi kita bekerja lebih lama, lebih berat dari yang lain. Itu sangat normal bukan? Tetapi di dalam perumpamaan tentang kerajaan surga yang diberikan di Matius 20 ini, Sang Pemberi upah terlihat sangat murah hati. Semua orang yang bekerja kepadanya, ia beri upah yang pantas. Bahkan kepada orang yang bekerja baru satu jam, ia tetap memberi upah sejumlah upah orang yang bekerja satu hari. Luar biasa murah hatinya. Tentu ini tak mengambil jatah pekerja lain. Upah itu berasal dari perbendaharaan pemilik kebun itu. Tetapi ternyata hal itu mengganggu perasaan orang yang merasa bekerja lebih berat. Ada rasa tidak rela orang lain mendapat anugerah sebesar itu. Hatinya mulai menilai, menghitung-hitung dan membuat kesimpulan, bahwa ia tak pantas mendapat upah setara dirinya.
Untuk menjawab keberatan itu, sang pemilik kebun itu menjelaskan dengan sabar dan hangat orang yang komplain itu. la menyebutnya, kawan. Sebutan itu menunjukkan pemilik kebun ini bahkan tak melihat pekerjanya sebagai pekerja semata, tetapi sebagai seseorang yang dekat, yakni seorang kawan. la tak ingin, pekerjanya itu memiliki pikiran yang salah. Lalu ia menjelaskan bahwa di dalam tindakannya itu tidak ada ketidakadilan, ia telah memberikan sesuai kesepakatan. la menegaskan juga supaya orang itu fokus saja kepada apa yang ia dapatkan, upahnya. Tanpa perlu meributkan upah yang didapat orang lain. Di akhir, pemilik kebun menegaskan tentang hak penuhnya untuk menggunakan miliknya sesuai kehendaknya, dan sifatnya yang murah hati.
Terkait keselamatan, banyak orang Kristen juga yang tak mau anugerah keselamatan itu dibagikan oleh Allah dengan murah hati. Mereka ingin, itu hanya untuk orang tertentu. Tetapi, melalui perumpamaan ini kita diajar, bahwa keselamatan itu bisa diberikan kepada siapa saja yang Allah perkenan, sungguh itu hak penuh Allah. Kita harus belajar mendidik diri kita memahami Allah itu murah hati dan tak terganggu dengan itu. (DM)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



