• Ibadah Online GKI PI Minggu, 18 April 2021

Renungan Harian
  • Sama-Sama Melunak

    1 Yohanes 3:10-16



    Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi ….(1Yoh. 3:11)

    Seorang ayah dan anak sama-sama keras. Sudah tahunan, mereka tidak berbicara satu sama lain. Sejak sang ibu meninggal, sang anak pun memutuskan untuk mengontrak rumah agar tidak berurusan dengan ayahnya. Tak disangka, sang ayah terinfeksi Covid-19 dan harus dirawat di rumah sakit. Selama ayahnya sakit, sang anak kembali tinggal di rumah ayahnya, dan melihat keadaan rumah sang ayah yang berantakan. Pelan-pelan, ia pun merapikan rumah itu sampai ayahnya pulang. Setelah ayahnya kembali, mereka duduk bersama dan melunak. Kisah ini merupakan sebuah iklan e-commerce. Iklan yang sangat menyentuh.

    Secara tegas, surat Yohanes menuliskan bahwa tanda anak Iblis adalah orang yang tidak mengasihi saudaranya. Sebagai anak-anak Allah, kita telah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup. Karena itu, untuk tetap tinggal di dalam hidup, kita harus mengasihi saudara kita. Seorang yang membenci saudaranya diibaratkan sebagai seorang pembunuh yang tidak mendapatkan bagian dalam hidup kekal. Untuk mengasihi saudara, membutuhkan pengorbanan. Namun, itulah panggilan iman kita.

    Terkadang, persoalannya bukan soal siapa benar dan siapa salah. Namun, siapa yang bersedia untuk melunakkan hati dan membangun hubungan yang lebih baik dengan saudara kita. Dengan mengasihi, maka kita tetap tinggal dalam kasih Allah. [Pdt. Novita Sutanto]

    DOA:
    Tuhan, kami mau hidup dalam kasih dengan saudara-saudara kami. Amin.

    Ayat Pendukung: Mzm. 150; Yer. 30:1-11a; 1Yoh. 3:10-16
    Bahan: Wasiat, renungan keluarga.


Khotbah Minggu
  • Peace Maker or Peace Lover

    Saudara, ada banyak peristiwa yang terjadi belakangan ini. Berbagai bencana alam yang baru-baru saja terjadi seolah menambah rangkaian permasalahan yang tak kunjung usai di negeri ini. Setahun lebih kita berjuang melawan Covid-19, berbagai sektor kesehatan, finansial, sosial terdampak olehnya dan kita masih berjuang untuk melindungi diri dan keluarga kita. Tidak ada tempat yang sepenuhnya aman. Di luar rumah tidak, di rumah pun tak menjanjikan kita aman dari paparan virus ini. Rasa jenuh hingga takut, terus menghantui kita. Di tengah situasi tak menyenangkan ini, apa yang paling kita butuhkan?

    Bacaan kita hari ini menunjukkan situasi para murid yang juga sedang tidak menyenangkan. Mereka khawatir akan keselamatan nyawa mereka dari tangan orang-orang yang membenci Yesus, mereka berjuang dengan iman mereka yang mencoba untuk tetap percaya bahwa Sang Guru yang selama ini mereka ikuti adalah sepenuh-penuhnya manusia dan sepenuh-penuhnya Allah. Tentu ini bukan hal yang mudah bagi mereka ketika di satu sisi mereka melihat Yesus melakukan berbagai tindakan mukjizat yang menunjukkan bahwa kuasa Allah bekerja di dalam dan melalui-Nya, namun di sisi lain Sang Guru yang sama itu mati bagaikan seorang penjahat. Pergumulan iman dan pikiran yang tak mudah, jika kita benar-benar mencoba untuk berdiri di sepatu para murid.

    Namun di tengah kegelisahan, ketakutan, keraguan, ribuan pertanyaan, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka serta berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu”. Kalimat yang nampak biasa saja, atau mungkin klise buat kita saat ini. Kata ini kerap kali dipakai untuk menyampaikan salam, begitu sering, sehingga orang terkadang secara tidak sengaja mereduksi maknanya. Kata Syalom bukan sekedar kata salam pengawal perjumpaan. Kata ini lebih dari itu. Ia pada dirinya sendiri memiliki makna doa dan harapan. Maka ketika Yesus mengatakan Damai Sejahtera, Ia bukan saja sekedar basa-basi kepada para murid, tapi Ia juga menyampaikan doa dan harapan agar di tengah segala pergumulan yang sedang dihadapi oleh para murid, mereka tetap bisa merasakan damai sejahtera di hati mereka.

    Yang menarik adalah, para murid tidak sadar akan hadirnya Yesus. Bahkan mereka menganggap Yesus sebagai hantu. Yesus pun harus berupaya untuk menunjukkan diri dan membuktikan bahwa Ia benar-benar bangkit, dan bukan hantu sebagaimana yang mereka pikirkan. Dan di ayat 45, kita melihat bahwa Yesus membuka pikiran mereka hingga mereka mengerti Kitab Suci, mereka mengerti akan nubuatan yang tertulis di dalamnya, dan mereka mengerti bahwa yang di hadapan mereka adalah benar Sang Guru yang bangkit dan hadir di tengah-tengah mereka.

    Saudara, sungguh begitu sering kita mendengar pernyataan bahwa Allah hadir di dalam hidup kita, turut merasakan apa yang kita rasakan, turut menemani perjalanan hidup kita, dan sebagainya. Namun di sisi lain, kehadirannya kerap kali tidak kita rasakan, hingga kita mempertanyakan, “Di mana Engkau ya Allah?”. Saudara, kerap kali, bukan IA yang tak hadir, hanya kita sajalah yang tak mampu merasakan-Nya. Maka, mintalah agar Ia membuka hati dan pikiran kita, sebagaimana yang Ia lakukan kepada para murid, sehingga kita menyadari betul bahwa Ia sungguh-sungguh hadir, dan Ia sungguh-sungguh memberi damai dalam hidup kita. Dan tak berhenti di sana, orang Kristen dipanggil dan diutus. Maka setiap kita yang telah menerima damai dari-Nya, diutus pula untuk membawa damai-Nya itu bagi sesama kita. Tuhan memberkati. Amin.

    asc
    #RenunganWartaPaska3

Kalender Kegiatan
[calendar id="29861"]
Antar Kita
  • Siapa Ingin Kehilangan?
    Tak bisa dimungkiri, kematian adalah realitas kehidupan. Meski semua orang mengetahuinya, tetap saja kita tak mengharapkan kematian menghampiri orang yang kita kasihi. Rasa kehilangan mampu meninggalkan duka, luka, bahkan stres. Any loss can bring about grief: divorce, retirement from...
  • I AM HERE FOR YOU
    Persekutuan Gabungan GKI Pondok Indah
    Mengatasi Kesendirian Majelis Bidang Persekutuan menggelar Persekutuan Gabungan dengan tema: (I) Am Here for You yang dipandu oleh Pdt. Riani Josaphine Suhardja pada hari Sabtu, 23 Januari 2021 dari pk. 10.30 hingga 12.30. Persekutuan Gabungan ini diikuti oleh 78...
  • Emeritas Pdt. Tumpal Tobing: Kesan-Pesan Rekan Pendeta
    Sekitar April tahun 2000, kami berlima, yaitu saya, Pdt. Rudianto, Pnt. Sarwono (alm), Pnt. Jasin Tedjasukmana, dan Pnt. Rudi Tobing melakukan misi khusus ke Yogya untuk ‘melamar’ Pdt. Tumpal Tobing menjadi Pendeta GKI Pondok Indah dengan tugas khusus di...
  • Renungan Online Remaja 18 April 2021 : “Sharing is Caring”
  • Renungan Online Remaja GKIPI Minggu, 11 April 2021
  • Ibadah Online GKI PI Minggu, 11 April 2021
Teologi
Maju dengan Sepenuh Hati
Maju dengan Sepenuh Hati
Markus 6:14-29
Tidak diragukan lagi bahwa kita masingmasing ingin maju, tetapi belum tentu sedang bergerak maju. Kita mungkin merasa bahwa kita sedang maju dalam hidup ini,...
Tuhan itu Baik
Tuhan itu Baik
Setiap orang pasti ingin merasakan kebaikan di dalam hidupnya, meski kalau ia ditanya, “Apa baik itu?” “Kebaikan seperti apa yang kauinginkan?” ia akan sangat...
Kitab Pengkhotbah
Kitab Pengkhotbah
kesia-siaan hidup yang tidak dinikmati dan diberi makna dalam anugerah Tuhan
Tentang Penulisnya Sudah menjadi anggapan umum bahwa Kitab Pengkhotbah ditulis oleh Salomo (sekitar 935 SM), karena itu kaum tradisional mengelompokkan kitab ini— bersama Kitab...
Pastoralia
Menyikapi Kematian
Bapak Pendeta yang baik, Bagaimana sebaiknya merespons dan menyikapi kematian? Saya berasal dari kepercayaan lain dan belum lama menjadi Kristen: Apakah jenazah orang Kristen...
Lagi-lagi Soal Nikah Beda Agama
Lagi-lagi Soal Nikah Beda Agama
Pak Pendeta yang baik, Meskipun di rubrik ini sudah sering dijelaskan tentang menikah beda agama yang dilayani di GKI PI, tapi saya masih menemukan...
GKI Pondok Indah Tidak Memberi Wadah Konseling Bagi Permasalahan Keluarga?
Humanis
Hal Yang Paling Ditakuti Dalam Proses Penuaan
Hal Yang Paling Ditakuti Dalam Proses Penuaan
Gampang Sakit & Jadi Beban Keluarga
Setiap manusia pasti menyadari bahwa ia akan mengalami proses penuaan. Hal ini merupakan proses alami pada kehidupan setiap makhluk yang tidak dapat dihindari, dan...
isolasi
ISOLASI
‘Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada Nya, sebab Ia yang memelihara kamu’ (1 Petrus 5:7) Peristiwa yang terjadi pada minggu terakhir bulan Oktober lalu adalah pergumulan...
Antara Si Badu & Akhir Tahun
Antara Si Badu & Akhir Tahun
Selamat pagi, siang, sore, dan malam. Menjalani setiap hari dengan rutinitas yang sama, sampai tiba saatnya Natal dan Tahun Baru, dan kita mulai merenungkan...
Kontemplasi
Menyaksikan Kebaikan Tuhan
Menyaksikan Kebaikan Tuhan
Adalah seorang bapak yang bekerja sebagai karyawan dengan penghasilan terbatas. Sejak tahun 2017 ia terus didera keadaan yang sangat tidak menyenangkan. Mulai dari kisah...
Semangat Baru, Harapan Baru
Ketika Anda membaca tulisan ini, kita sudah berada di penghujung 2020. Tahun yang menghadirkan banyak pengalaman kurang menyenangkan bagi kebanyakan kita. Semua berawal dari...
LEGACY
Sebagai bangsa Indonesia, sejarah mencatat bahwa para pemimpin bangsa meninggalkan legacy atau warisan kepada generasi setelah mereka. Tidak usah menyebut nama, mungkin kita sudah...
Artikel Lepas
Cerita Seputar Natal
bukan sebuah upaya mengubah pemahaman, sekadar pelurusan fakta
Tahun Kelahiran Yesus Di samping tanggal 25 Desember, banyak orang beranggapan bahwa Yesus lahir pada awal tahun 1 Masehi. Oleh karenanya, kelahiran-Nya dikatakan sebagai...
REMEH
REMEH
Sebagai manusia, kita kerap kali meremehkan atau menganggap remeh sesuatu, apakah itu benda, pekerjaan, atau orang. Menganggap remeh adalah memandang sesuatu sebagai tidak penting,...
“Kasihilah Musuhmu...” - seruan surgawi untuk menciptakan perdamaian dunia