Ibadah Online
Renungan Harian
-
Karena kami sangat hebat diombang-ambingkan angin badai, keesokan harinya mereka mulai membuang muatan kapal ke laut. (Kisah Para Rasul 27:18)
Ada cara menangkap kera yang sederhana tetapi efektif yang dilakukan pemburu. Pemburu melubangi sebuah tempurung kelapa atau kendi, lalu meletakkan kacang, buah, atau makanan yang disukai kera di dalamnya. Kera akan memasukkan tangannya dan menggenggam makanan itu. Kera tidak dapat mengeluarkan tangannya karena kepalan tangan yang berisi makanan terlalu besar untuk melewati lubang. Alih-alih melepaskan genggamannya, kera justru tetap bertahan dan berteriak. Pada saat itulah pemburu dengan mudah menangkapnya.
Bacaan firman hari ini mengajarkan kita untuk berani dan rela melepaskan hal yang baik demi sesuatu yang lebih baik. Dikisahkan bahwa kapal yang ditumpangi Paulus menghadapi badai yang sangat ganas. Setidaknya, tiga kali diceritakan bahwa kapal tersebut harus membuang muatan yang baik, seperti alat-alat kapal dan gandum. Kapal memang harus membuang muatan saat berhadapan dengan badai agar tidak mudah tenggelam. Dengan beban yang lebih ringan, kapal dapat lebih mudah mengikuti arah gelombang, alih-alih tenggelam ke dasar lautan.
Saudara, badai merupakan simbol aneka persoalan yang mungkin muncul dalam kehidupan. Jika hal itu terjadi, ada baiknya kita meniru tindakan awak kapal, yakni membuang muatan yang baik. Dalam hidup, hal baik tersebut dapat berupa rencana atau impian pribadi. Bukan karena impian itu salah, melainkan karena ada rencana Tuhan yang lebih besar dan indah. [Pdt. Natanael Setiadi]
REFLEKSI:
Saat kesukaran hidup melanda, Tuhan sedang mengajarkan kita untuk percaya kepada-Nya, bukan bergantung pada apa yang kita punya.Ayat Pendukung: Kej. 7:1-24; Mzm. 66:8-20; Kis. 27:13-38
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Pernahkah saudara berpikir, untuk apakah gereja ada? Seperti apakah gereja yang bertumbuh itu?
Petrus dalam suratnya, dalam perikop kita hari ini setidaknya bicara 2 hal, yang pertama Kristus dia metaforakan sebagai batu hidup-batu penjuru yang terpilih, berharga dan mahal. Yang ke dua, dia mendorong umat Allah untuk menjadi batu hidup yang dipergunakan untuk pembangunan suatu bangunan Rohani dan memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah di hidupnya.
Tentu, Kristus sang batu hidup-batu penjuru itu harus jadi kiblat dalam seluruh laku hidup menggereja. Lihat, bagaimana Petrus mengutip tiga ayat dari tradisi dan kitab yang berbeda, untuk menegaskan tentang nilai Kristus – Sang Batu penjuru itu. Bagi saya yang paling menonjol dan sangat relevan bagi kita saat ini adalah penghargaan yang sangat tinggi yang diberikan Petrus kepada Yesus, Sang Batu penjuru itu. Ia mengutip misalnya, Yesaya 28:16, untuk menegaskan Kristus itu adalah pusat semua penyembahan (diletakkan di Sion), Kristus itu digambarkan sebagai batu terpilih dan mahal. Penilaian ini sangat penting. Jika kita tak menghargai Kristus setinggi-tingginya di hidup kita, bagaimana kita akan tergerak menyembahnya dengan benar dan penuh ketakjuban dan rasa hormat? Bayangkan jika gereja-umat Allah-melangkah ke rumah Tuhan dengan rasa takjub akan kasih-Nya! Bayangkan seperti apa umat Tuhan yang menilai Kristus itu sangat berharga dan mahal? Umat itu akan sangat menghargai sebuah ibadah, sebuah persekutuan, dan ia akan berusaha menjaga dirinya, menjaga umat Tuhan yang lain juga. Ia akan terpanggil untuk menjadi batu hidup yang dipergunakan untuk membangun suatu bangunan rohani, membangun gereja-Nya.
Tak berhenti di situ, umat yang sudah mengecap kebaikan Tuhan, umat yang rindu bertumbuh di dalam Dia, akan tergerak menjadi pribadi yang memberitakan pekerjaan-pekerjaan besar-Nya di dunia. Lihat, dunia ini terus berubah, bahkan semakin bobrok dalam segala hal. Masih banyakkah umat Tuhan yang mau memberitakan pekerjaan-pekerjaan besar-Nya di dunia ini? Ataukah sekarang gereja hanya ramai, sibuk, dan penuh puji-pujian penyembahan kepada Allah dalam ibadah yang terbatas di gedung gereja?
Dunia yang terus berubah ini, butuh gereja Tuhan, butuh saya dan saudara. Butuh orang-orang yang menghargai Kristus setinggi-tingginya di hidupnya, dan yang tergerak mempersembahkan diri bagi kemuliaan-Nya. Maukah saudara? (DM)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...


