Ibadah Online
Renungan Harian
-
Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai. (Mazmur 100:1-2)
“Bahaya terbesar dari rutinitas bukanlah kebosanan, melainkan kehilangan makna dari apa yang kita lakukan.” Kalimat bijak ini mengingatkan kita bahwa bahaya terbesar dari rutinitas bukanlah rasa jenuh atau kebosanan, melainkan ketika kita kehilangan makna dari apa yang kita lakukan. Hal ini sangat relevan dengan ibadah kita. Ketika ibadah menjadi sekadar kebiasaan, kita kehilangan makna sejatinya, yaitu perjumpaan dengan Tuhan yang menumbuhkan spiritualitas kita.
Mazmur 100 adalah seruan sukacita bagi semua orang untuk datang ke hadapan TUHAN dengan hati yang bersyukur. Pemazmur mengajak kita bersorak-sorai bagi TUHAN, beribadah dengan sukacita, dan menyanyikan pujian syukur sebagai pengakuan bahwa Dialah Allah yang menciptakan dan memelihara kita. Ketika kita beribadah dengan kesadaran ini, ibadah kita akan menjadi sarana perjumpaan dengan Tuhan dan perayaan akan kasih-Nya dalam hidup kita.
Saat ibadah hanya menjadi rutinitas tanpa makna, kita hanya hadir secara fisik. Namun, ketika kita sadar bahwa “TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya” (ayat 5), ibadah yang kita lakukan akan dipenuhi sukacita dan menjadi ekspresi hati yang penuh syukur karena mengenal kasih serta kesetiaan Allah kepada kita. Mari melangkah keluar dari rutinitas dan masuk ke dalam hadirat-Nya dengan penuh sukacita! Selamat beribadah! [Pdt. Jotje H. Karuh]
DOA:
Tuhan, mampukan kami untuk beribadah dengan sukacita sehingga kami mengalami perjumpaan dengan-Mu yang mematangkan spiritualitas kami. Amin.Ayat Pendukung: Yeh. 34:17-23; Mzm. 100; 1 Ptr. 5:1-5
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Setiap orang pasti pernah terluka. Ada luka yang terlihat oleh mata, tetapi banyak juga luka yang tersembunyi di dalam hati. Luka karena kata-kata yang menyakitkan, luka karena kehilangan, luka karena dikhianati, bahkan luka karena merasa tidak dihargai. Luka – luka ini sering kali kita simpan rapat-rapat.
Firman Tuhan hari ini membawa kita melihat kepada Kristus sebagai Sang Penyembuh yang terluka. Kristus bukan hanya mengetahui penderitaan kita, tetapi Ia sendiri pernah mengalaminya. Dia disesah, dihina, ditolak, dan disalibkan. Tubuh-Nya penuh bilur, dan hati-Nya menanggung beban dosa manusia. Namun justru melalui bilur-bilurnya itulah, kesembuhan diberikan kepada kita.
Ketika Petrus berkata, “oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh, ” ia mengingatkan bahwa kesembuhan sejati tidak lahir dari kekuatan manusia, tetapi dari pengorbanan Kristus. Luka yang Ia tanggung menjadi jalan pemulihan bagi kita. Ia memulihkan hubungan kita dengan Allah, mengangkat beban dosa, dan menyembuhkan hati yang hancur. Firman ini juga mengingatkan bahwa kita dahulu seperti domba yang tersesat. Kita berjalan tanpa arah, terluka oleh dosa dan dunia. Tetapi sekarang kita telah kembali kepada Sang Gembala dan Pemelihara jiwa kita. Di dalam Dia, kita menemukan perlindungan, arah hidup, dan pemulihan yang sejati.
Karena itu, jangan takut membawa luka kita kepada Kristus. Ia tidak menolak, tidak menghakimi, dan tidak mengabaikan. Ia menerima, mengasihi, dan menyembuhkan. Tidak ada luka yang terlalu dalam bagi-Nya, karena Ia sendiri telah menanggung luka yang terbesar.(LS)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



