Ibadah Online
Renungan Harian
  • Selagi Masih Siang

    Kejadian 29:1-14

    Lalu kata Yakub, “Hari masih siang, belum waktunya untuk mengumpulkan ternak. Berilah minum kambing dombamu itu, kemudian pergilah mengembalakannya lagi’.’ (Kejadian 29:7)

    Hidup manusia memiliki durasi. Terbatas! Demikian pula ada siang dan malam. Siang memberikan kesempatan bagi manusia untuk bekerja, sedangkan malam untuk beristirahat. Sang Pencipta telah mengaturnya sedemikian rupa. Jadi, selagi hari masih siang, berusahalah karena penyesalan kemudian tiada berguna.

    Yakub, dalam perjalanan mencari pendamping hidup, berjumpa dengan para gembala dari Haran di sebuah sumur. Saat itu masih siang, dan para gembala sedang duduk-duduk menunggu kawanan kambing domba lain untuk bersama-sama memberi minum ternak mereka. Yakub mengajak para gembala memberikan minum bagi kambing domba yang ada, lalu kembali menggembalakan, sebab hari masih siang. Sebenarnya, Yakub sedang mengajak para gembala untuk lebih efektif memanfaatkan waktu yang tersedia. Namun, seandainya mereka mengikuti perkataan Yakub, lalu siapa yang akan mempertemukannya dengan Rahel? Tuhan memang mengatur waktu sedemikian rupa. Kekurangan yang satu dapat dipakai untuk melengkapi yang lain.

    Jadi, selagi hari masih siang, kita memang harus bekerja secara efektif. Ada waktu untuk sendiri, ada waktu untuk saling mengisi. Sebab, kita selalu membutuhkan orang lain. Cara terbaik menikmati hidup adalah bekerja dengan cerdas, menuntaskan bagian kita, menikmati prosesnya, serta saling mengisi dan berbagi dengan orang lain. [Pdt. Hariman A. Pattianakotta]

    REFLEKSI:
    Waktu adalah anugerah yang terbatas. Isilah dengan karya kasih yang pantas diwarisi, yang akan dikenang orang siang dan malam.

    Ayat Pendukung: Kej. 29:1-14; Mzm. 81; 1 Kor. 10:1-4
    Bahan: Wasiat, renungan keluarga.

Khotbah Minggu
  • Melewati Lorong Gelap

    Yohanes 4:5–42

    Perempuan itu datang ke sumur ketika matahari sedang tinggi. Bukan waktu yang lazim. Biasanya orang mengambil air di pagi atau sore. Siang hari terlalu panas, terlalu menyengat. Mungkin ia memilih waktu itu supaya tidak bertemu siapa-siapa. Tidak perlu bertukar sapa. Tidak perlu menangkap tatapan yang terasa seperti penghakiman kecil yang sudah akrab ia terima setiap hari.

    Saya membayangkan lorong hidupnya sudah cukup panjang. Lima kali gagal membangun relasi. Tinggal dengan seseorang yang bahkan tidak disebut suami. Kita sering membaca bagian itu dengan cepat, seolah-olah hanya data moral belaka. Padahal di baliknya pasti ada lelah. Ada kecewa. Ada rasa tidak cukup. Mungkin juga rasa gagal.

    Tetapi menariknya, Yesus tidak memulai percakapan dengan ceramah panjang dan perintah pertobatan. Ia justru memulai dengan permintaan sederhana: “Berilah Aku minum.” Percakapan itu pelan-pelan masuk ke wilayah yang lebih dalam. Tentang air. Tentang haus. Tentang hidup yang tidak pernah benar-benar terpuaskan.

    Lalu Yesus menyebut masa lalunya. Tidak dengan nada keras. Tidak dengan ancaman. Ia menyebutnya begitu saja, seperti seseorang yang tahu dan tetap tinggal. Lorong gelap itu tidak dihindari. Ia justru dilalui bersama.

    Saya sering ingin Tuhan hanya mengambil bagian baik dalam hidup saya. Yang sudah rapi. Yang bisa dipresentasikan. Tetapi perempuan itu belajar sesuatu siang itu: Allah tidak takut pada sejarah kita. Ia masuk ke dalamnya.

    Mungkin pulang bukan berarti masa lalu dihapus. Mungkin pulang berarti kita berani berdiri di hadapan-Nya, tanpa lagi bersembunyi di jam-jam sepi.

    Adakah bagian hidup Anda yang selama ini Anda hindari, padahal mungkin justru di sanalah Yesus sedang menunggu untuk berbicara dengan Anda? (ASC)

Antar Kita
  • WEEKEND PASUTRI
    WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
  • GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
    Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di...
  • Mata Air Kasih-Nya
    Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...
Video GKIPI
Teologis
Allah yang Menghadirkan Diri
Kehadiran sesama dalam hidup kita merupakan faktor yang sangat berharga, karena setiap orang penting bagi yang lain, baik dalam skala kecil maupun luas. Interaksi...
Pelayanan yang Panjang
Kisah Para Rasul 19:1-41
Kisah Para Rasul merupakan buku kedua yang dituliskan oleh Lukas kepada Teofilus, dengan tujuan mencatat apa yang dilakukan oleh murid-murid Yesus di masa setelah...
Puasa: Laku Spiritual di Masa Prapaska
Dalam perjalanan hidup sebagai seorang Kristen, pernahkah kita berpuasa? Meskipun puasa sudah tidak asing dipraktikkan oleh umat Allah pada masa lalu, tetapi tak jarang...
Pastoralia
KAMI BERTANYA
KAKAK PENDETA MENJAWAB
Kak, kenapa kalau saya disuruh ikut doa sama papa mama kok ngantuk terus nggak konsentrasi, apalagi kalau doanya lama? Waaaah kakak Pendeta juga suka...
Yesus yang Sulung
Bapak Pendeta yang baik, Mohon pencerahan dari Bapak perihal kebangkitan orang mati. Dalam Kolose 1:18 dikatakan bahwa: Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang...
Kerajaan Surga vs Kerajaan Allah?
Bapak Pendeta yang baik, 1. Apakah sebenarnya yang disebut dengan Kerajaan Allah itu? Samakah ia dengan Kerajaan Surga? Saya sering mendapat penjelasan yang berbeda-beda...
Humanis
Aku mencari wajah-mu, Tuhan…
Kesaksian Dapot Parulian Pandjaitan
Berharga di mata Tuhan (kematian) semua orang yang dikasihi-Nya (Mazmur 116:15) Oops… Kematian? Suatu kata yang sering dihindari orang untuk dibicarakan karena tetap masih...
Kasih-Nya Mengalir
Namanya Helen Jayanti, biasa dipanggil Helen. Saat ini sedang menjalani Praktek Jemaat 1 di GKI Pondok Indah. Lulusan dari UKDW Yogyakarta dan asal gerejanya...
THE ART OF LISTENING
Menjadi pendengar yang baik? Ah, semua juga bisa! Tapi apakah sekadar mendengar bisa disamakan dengan menjadi pendengar yang baik? Komunikasi secara sederhana dapat diartikan...
Kontemplasi
Allah hadir bagi kita
Biarkanlah, biarkanlah itu datang, ya Tuhan. Kami berdoa pada-Mu, biarkanlah hujan berkat turun. Kami menanti, kami menanti. Oh hidupkanlah kembali hati semua orang. (Refrein:...
Belas Kasihan vs Kasihan (Compassion vs Pity)
Belas kasihan menjadi tema yang banyak digaungkan dalam ruang ruang berkomunitas. Tanpa kecuali, Gereja juga sering mendiskusikannya dalam perannya sebagai misi Allah di tengah...
MENCINTA DENGAN SEDERHANA
Aku Ingin Aku ingin mencintaimu ciengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:...
Artikel Lepas
Kami Juga Ingin Belajar
Di zaman ini, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat, manusia justru diperhadapkan dengan berbagai macam masalah sosial seperti kesenjangan, kemiskinan, pengangguran,...
KESAHAJAAN
Dalam sebuah kesempatan perjumpaan saya dengan Pdt. Joas Adiprasetya di sebuah seminar beberapa tahun lalu, ia menyebutkan pernyataan menarik yang dikembangkannya dari kata-kata Henry...
Tidak Pernah SELESAI
Dalam kehidupan ini, banyak pekerjaan yang tidak pernah selesai, mulai dari pekerjaan yang sederhana sampai pekerjaan rumit seperti mengurus negara. Pekerjaan domestik rumah tangga...