Ibadah Online
Renungan Harian
-
… datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yohanes 20:19b)
Rendi sedang merasa kalut. Usaha yang dibangunnya belasan tahun terancam gulung tikar. Istrinya menyalahkan Rendi atas investasi yang dilakukan belum lama ini. Niat untuk menambah modal operasional justru berujung pada penipuan. Charles, sahabatnya, mendampingi dan memberi nasihat agar Rendi kembali bersemangat. Kehadiran sahabatnya itu membuat Rendi mau bangkit kembali.
Yohanes 20:19-23 mencatat peristiwa penting ketika Yesus yang telah bangkit menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. la masuk ke ruangan yang terkunci dan memberi mereka damai sejahtera, lalu menunjukkan tangan dan lambung-Nya sebagai bukti bahwa la hidup. Damai yang Yesus berikan bukan sekadar ketenangan emosional, melainkan shalom yang utuh—pemulihan relasi dengan Allah, pengusiran rasa takut, dan pengutusan yang membawa kuasa. Yesus memberikan Roh Kudus sebagai kekuatan untuk menjalankan misi mereka.
Renungan ini mengingatkan kita bahwa Yesus hadir bahkan ketika hidup terasa seperti berada di balik pintu yang terkunci. Saat kita diselimuti ketakutan, kekhawatiran, atau kebingungan akan masa depan, Yesus tidak tinggal diam. la datang membawa damai, bukan hanya untuk menenangkan, tetapi juga untuk mengutus. Oleh karena itu, daripada terus bersembunyi dalam kekhawatiran, marilah kita membuka hati untuk menerima damai Kristus dan bangkit menjadi saksi-Nya. [Pdt. Natanael Setiadi]
REFLEKSI:
Damai sejahtera bukanlah tentang apa yang kita mau, melainkan tentang apa yang kita butuhkan.Ayat Pendukung: Kis. 2:1-21; Mzm. 104:24-34, 35b; 1 Kor. 12:3b-13; Yoh. 20:19-23
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Minggu, 24 Mei 2026
Di Balik Pintu yang Terkunci
Kis. 2:1-21; Maz. 104:24-34,35b; I Kor. 12:3b-13; Yoh. 20:19-23
Rasa takut adalah sesuatu yang valid. Perasaan itu, semakin besar di dalam diri kita, semakin mencekam, dan membuat semakin tak berdaya untuk melakukan sesuatu. Itulah yang dirasakan para murid yang digambarkan dalam injil Yohanes 20. Mereka berada di suatu tempat dengan pintu- pintu terkunci, alasannya sangat bisa dipahami, yakni karena mereka takut kepada para pemuka agama Yahudi. Para pemuka agama Yahudi yang telah membawa Yesus ke hadapan Pilatus dan mendorong mengeksekusi Yesus melalui kekuasaannya di masyarakat saat itu. Kalau guru yang mereka ikuti saja, tersalib di bukit Golgota, maka hal yang sama juga mengancam nyawa mereka. Maka, mereka mengunci pintu – pintu itu untuk memastikan bahwa mereka aman dari ancaman di luar sana. Kita dapat memahami, mereka tak memiliki rasa aman, apalagi rasa damai sejahtera di hati mereka.
Saat mereka tak punya bayangan akan masa depan mereka sebagai murid Yesus, Yesus tiba – tiba datang begitu saja, tanpa mengetuk pintu yang terkunci rapat itu, dan berdiri di tengah – tengah mereka. Bukan di pinggir ruangan. Ia berdiri di pusat kumpulan itu, dan menyampaikan salam ”Damai sejahtera bagi kamu! ” Terkejut, tak percaya, di Injil Lukas, paralel dengan ini, dikatakan murid sempat ragu. Yesus juga memahami keraguan itu. Ia dengan tenang menunjukkan semua bekas lukanya saat disalibkan. Tangan dan lambung – Nya menjadi bukti tak terbantahkan, Ia hidup! Sungguh, terbayang betapa sukacita mereka meluap – luap, dan dalam sekejap rasa takut mereka tadi yang begitu mencekam, menguap begitu saja. Sebab, Yesus yang hadir di tengah mereka itu, sungguh memiliki bekas luka yang sama dengan Yesus yang mati dan dikuburkan. Bayangan akan para pemuka agama yang berkuasa itu, juga lenyap begitu saja.
Di balik pintu yang terkunci itu, para murid yang takut telah berubah drastis karena mengalami perjumpaan dengan Yesus. Pengalaman perjumpaan yang mengubah semua arah hidup mereka. Rasa takut yang berubah menjadi damai dan sukacita, tidak berhenti di ruang itu saja.
Di balik pintu yang terkunci, yang tadinya menjadi ruang sunyi, tempat bersembunyi, telah menjadi titik berangkat pengutusan ke tengah dunia. Yesus yang hadir di tengah mereka, telah menolong mereka membuka kembali pintu yang terkunci itu, untuk melangkah keluar memberitakan kabar baik, Kristus juru selamat dunia.
Di balik pintu yang terkunci itu, Kristus mengembusi mereka, menolong mereka menerima kuasa Roh Kudus, yang akan memampukan mereka berdiri di tengah – tengah bahaya sekalipun. Roh Kudus menemani mereka dalam perjalanan kehidupan, menguatkan dan memampukan, memperlengkapi dan meneguhkan. Rasa takut tak berkuasa lagi, diganti dengan keberanian, yang tercurah di dalam diri mereka. Selamat merayakan hari Pentakosta, Kristuspun menyatakan hal yang sama pada kita kini, ”Terimalah Roh Kudus! ” (DM)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



