Ibadah Online
Renungan Harian
-
Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya….(Mazmur 105:5a)
Selain Matematika, Sejarah merupakan mata pelajaran yang sering dikeluhkan oleh sebagian murid-murid sekolah. Bisa jadi, metode dan penyampaian materi yang terkesan hafalan tahun peristiwa dan pelaku sejarah terasa monoton dan membosan sehingga tidak disukai. Padahal, belajar sejarah membuat kita memahami peristiwa masa lalu hingga terbentuknya sebuah tatanan sosial dan masyarakat dunia seperti sekarang ini.
Pemazmur dapat beriman kepada Allah, bersyukur dan menyerukan nama-Nya kepada bangsa-bangsa karena ia belajar dari sejarah. Ia memahami perbuatan-perbuatan Allah di masa lampau dan menjadikannya sebagai acuan untuk hidup di masa kini dan mendatang. Pemazmur tidak mudah mengeluh dan mempertanyakan pertolongan TUHAN ketika menghadapi kesulitan dan tantangan hidup yang berat. Kali ini ia belajar dari Yusuf. Yusuf pernah menjadi budak dari seorang bangsawan di Mesir karena dijual oleh saudara-saudaranya. Namun, dengan jalan itu TUHAN memakainya sebagai cara untuk menyiapkan sebuah bangsa yang besar.
Kesulitan dan penderitaan bisa menghampiri kita kapan saja. Pada waktu mengalaminya, kita merasa sangat sesak. Namun, jangan terpaku pada derita. Mari belajar dari masa lalu. Lihatlah bahwa Tuhan telah berulang kali menolong kita. Ia dapat mengubah air mata menjadi tarian. Ia dapat mengubah kesulitan saat ini menjadi sukacita di masa mendatang! [Pdt. Nanang]
DOA:
Ya Tuhan, kami bersyukur atas perbuatan-perbuatan ajaib yang Engkau lakukan. Jadikanlah ini pedoman pengharapan untuk kami melangkah ke depan. Amin.Ayat Pendukung: Kej. 35:22b-29; Mzm. 105:1-6, 16-22, 45b; Kis. 17:10-15
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Matius 14 menempatkan dua perjamuan berdekatan. Yang pertama berlangsung di istana Herodes. Hidangannya berlimpah, para tamunya orang-orang penting, dan sang raja memiliki kuasa. Namun pesta itu berakhir dengan kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah talam. Herodes menyelamatkan muka dengan mengorbankan nyawa orang lain.
Perjamuan berikutnya berlangsung di tempat sunyi. Tidak ada istana, persediaan makanan nyaris tidak ada, dan tamunya orang banyak yang lapar. Ketika hari mulai malam, para murid mengusulkan jalan keluar yang masuk akal: “Suruhlah orang banyak itu pergi.” Keterbatasan segera menjadi alasan untuk menyingkirkan mereka.
Jawaban Yesus mengejutkan: ‘Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Yesus tidak menyangkal bahwa lima roti dan dua ikan terlalu sedikit. la meminta para murid membawa yang sedikit itu kepada-Nya. Roti tersebut la berkati dan pecah-pecahkan, lalu la kembalikan ke tangan para murid untuk dibagikan. Semua orang makan sampai kenyang.
Di sini tema “Allah yang mencukupi, bukan memanjakan” memperoleh artinya. Anugerah Allah tidak menjadikan para murid penonton yang menunggu mukjizat. Yesus melibatkan tangan mereka dalam pemeliharaan-Nya. Kecukupan lahir sebagai roti yang diterima, dipecah, lalu berpindah dari tangan ke tangan sampai semua mendapat bagian.
Kontras kedua meja itu mencapai puncaknya di dalam Kristus. Di meja Herodes, orang lain kehilangan nyawa agar sang raja tetap aman. Di meja Perjamuan Kudus, Sang Raja memberikan tubuh-Nya sendiri agar dunia memperoleh kehidupan. Roti yang kita terima memang kecil, tetapi menunjuk kepada pemberian yang tak terukur: Kristus memberikan diri-Nya.
Kita datang ke meja Tuhan sebagai orang-orang yang membutuhkan anugerah. Sesudahnya, kita diutus sebagai tubuh Kristus yang memberi tempat dan membagikan kehidupan. Kristus mencukupi kita agar keterbatasan tidak menjadi alasan untuk menyingkirkan sesama. (ASC)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



