Ibadah Online
Renungan Harian
-
Namun, Aku tidak mencari hormat bagi-Ku. Ada Satu yang mencarinya dan Dia juga yang menghakimi. (Yohanes 8:50)
Pemimpin yang belum selesai dengan dirinya sendiri akan mudah bersikap iri terhadap orang lain. Ia cenderung mencari-cari kesalahan orang lain untuk menjatuhkan mereka. Tujuannya agar dirinya tampak lebih hebat daripada orang lain. Pemimpin seperti ini sering kali haus akan apresiasi, pujian, dan penghormatan. Apakah pemimpin yang demikian layak memperoleh hormat?
Dalam bacaan Alkitab hari ini, sejumlah pemuka agama Yahudi menuduh Yesus sebagai orang Samaria dan kerasukan setan. Orang Samaria merujuk pada keturunan campuran antara Israel dan bangsa lain, yang dianggap tidak murni, najis, bahkan murtad. Tuduhan tersebut menunjukkan bahwa identitas dan wibawa spiritual Yesus sedang diragukan. Tuduhan itu juga lahir dari popularitas Yesus yang kian besar di tengah masyarakat Yahudi, sehingga para pemuka agama merasa tersaingi dan berupaya merusak reputasi-Nya. Namun, Yesus tidak tersinggung. Ia justru menunjuk kepada Pribadi lain, yakni Allah, yang layak menerima hormat dan memiliki otoritas untuk menghakimi. Yesus mengingatkan para pemuka agama untuk mawas diri dan kembali menghormati Allah.
Dikasihi dan dihargai merupakan bagian dari kebutuhan manusia. Namun, melalui bacaan ini, Yesus mengajarkan bahwa Pribadi yang paling layak menerima hormat adalah Allah. Jangan sampai dalam upaya mengejar penghargaan dan hormat, kita melupakan Dia yang sungguh layak menerimanya. [Pdt. Natanael Setiadi]
REFLEKSI:
Sikap hormat diberikan kepada seseorang yang memiliki kualitas, bukan sekadar identitas.Ayat Pendukung: Yer. 26:20-24; Mzm. 31:1-5, 15-16; Yoh. 8:48-59
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Setiap orang pasti pernah terluka. Ada luka yang terlihat oleh mata, tetapi banyak juga luka yang tersembunyi di dalam hati. Luka karena kata-kata yang menyakitkan, luka karena kehilangan, luka karena dikhianati, bahkan luka karena merasa tidak dihargai. Luka – luka ini sering kali kita simpan rapat-rapat.
Firman Tuhan hari ini membawa kita melihat kepada Kristus sebagai Sang Penyembuh yang terluka. Kristus bukan hanya mengetahui penderitaan kita, tetapi Ia sendiri pernah mengalaminya. Dia disesah, dihina, ditolak, dan disalibkan. Tubuh-Nya penuh bilur, dan hati-Nya menanggung beban dosa manusia. Namun justru melalui bilur-bilurnya itulah, kesembuhan diberikan kepada kita.
Ketika Petrus berkata, “oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh, ” ia mengingatkan bahwa kesembuhan sejati tidak lahir dari kekuatan manusia, tetapi dari pengorbanan Kristus. Luka yang Ia tanggung menjadi jalan pemulihan bagi kita. Ia memulihkan hubungan kita dengan Allah, mengangkat beban dosa, dan menyembuhkan hati yang hancur. Firman ini juga mengingatkan bahwa kita dahulu seperti domba yang tersesat. Kita berjalan tanpa arah, terluka oleh dosa dan dunia. Tetapi sekarang kita telah kembali kepada Sang Gembala dan Pemelihara jiwa kita. Di dalam Dia, kita menemukan perlindungan, arah hidup, dan pemulihan yang sejati.
Karena itu, jangan takut membawa luka kita kepada Kristus. Ia tidak menolak, tidak menghakimi, dan tidak mengabaikan. Ia menerima, mengasihi, dan menyembuhkan. Tidak ada luka yang terlalu dalam bagi-Nya, karena Ia sendiri telah menanggung luka yang terbesar.(LS)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...

