Ibadah Online
Renungan Harian
-
“Tidak demikian dengan hamba-Ku Musa, … Berhadapan muka Aku berbicara dengan dia, secara langsung, … dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapa kamu tidak takut mencela hamba-Ku Musa?” (Bilangan 12:7-8)
Persaingan adalah salah satu kecenderungan insani dalam diri manusia. Selama dikelola dengan bijak, persaingan sebenarnya tidak selalu bersifat negatif. Persaingan dapat mendorong seseorang untuk berinovasi, meningkatkan kualitas, dan hal-hal sejenis. Namun, jika persaingan terjadi secara tidak sehat, dampaknya tentu menjadi negatif. Persaingan menjadi tidak sehat ketika disebabkan oleh iri hati.
Bagian Kitab Bilangan yang kita baca hari ini juga menceritakan hal serupa. Miryam dan Harun, kakak perempuan dan kakak laki-laki Musa, ternyata menaruh iri hati kepada Musa. Padahal, kedudukan mereka di tengah bangsa Israel sudah sangat terhormat: Miryam sebagai nabiah dan Harun sebagai imam. Namun, mereka tidak puas terhadap Musa yang memang ditunjuk Allah untuk memimpin umat Israel. Mereka menggunakan pernikahan Musa dengan seorang perempuan Kusy sebagai alasan untuk menggugatnya, padahal pernikahan tersebut tidaklah salah dari segi hukum maupun moral. Keluhan Miryam dan Harun sebenarnya hanyalah selubung dari rasa iri hati terhadap otoritas yang dimiliki Musa. Sambil menegaskan keutamaan Musa, TUHAN Allah menegur keras sikap Miryam dan Harun, bahkan murka kepada mereka.
Kita harus berhati-hati ketika rasa iri hati mulai muncul dalam hati kita. Jangan sampai perasaan itu membuat kita melakukan dosa dan mendapat celaka. [Pdt. Em. Ronny Nathanael]
DOA:
Ya Allah, Bapa Yang Maha Adil, ampunilah kami sekiranya ada iri hati terhadap orang lain dalam hati kami. Amin.Ayat Pendukung: Kel. 40:34-38; Mzm. 63:1-8; Why. 18:1-10, 19-20
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Dalam Matius 22:15-22, orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus melalui pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Mereka memuji Yesus seolah-olah tulus, padahal memiliki niat tersembunyi. Yesus mengetahui kemunafikan mereka dan mengajak mereka melihat persoalan dengan benar. Kemunafikan terjadi ketika perkataan tidak sesuai dengan isi hati dan tindakan. Hal ini dapat terjadi di dalam rumah. Kita bisa terlihat sebagai keluarga yang harmonis di hadapan orang lain, tetapi menyimpan kemarahan, kepahitan, dan ketidakjujuran di antara anggota keluarga. Rumah tanpa kemunafikan bukanlah rumah yang tidak pernah mengalami konflik. Rumah tanpa kemunafikan adalah rumah yang berani berkata jujur, mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaiki diri dalam kasih. Yesus mengingatkan kita untuk hidup benar di hadapan Allah, bukan sekadar terlihat baik di hadapan manusia.
Refleksi: Apakah perkataan dan tindakan kita di rumah sudah mencerminkan kasih Kristus? (LS)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



