Ibadah Online
Renungan Harian
-
“Tetapi supaya kita tidak membuat mereka gusar, pergilah memancing ke danau….” (Matius 17:27a)
Dalam relasi antarmanusia, kadang dapat terjadi konflik karena masing-masing pihak mempertahankan apa yang diyakini sebagai kebenaran. Sangat mungkin apa yang diyakini oleh kedua pihak tidak salah, karena masing- masing mengandung kebenaran dari perspektifnya.
Menurut peraturan yang berlaku di kalangan orang Yahudi, setiap laki-laki berusia 20 tahun ke atas dikenai kewajiban membayar pajak Bait Allah sebesar setengah syikal atau dua dirham. Bacaan kita menceritakan bahwa seorang pemungut pajak Bait Allah mendatangi Petrus dan berkata, “Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?” Pemungut pajak ini ingin mengetahui posisi Yesus: apakah la menentang pembayaran pajak Bait Allah atau menyetujuinya? Apa yang dikatakan Yesus kepada Petrus sebenarnya mengungkapkan fakta bahwa sebagai Anak Allah, la dan para pengikut-Nya tidak wajib membayar pajak di rumah-Nya sendiri. Namun, Yesus tidak bersikeras mempertahankan hak-Nya itu. Yesus, melalui mukjizat uang dirham di dalam mulut ikan, tetap memenuhi kewajiban membayar pajak tersebut. Pertimbangan-Nya adalah “supaya kita tidak membuat mereka gusar.” Dalam terjemahan edisi I, dinyatakan, “jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka.”
Kadang kita mempersoalkan sesuatu yang bukan bersifat prinsip. Konflik untuk hal yang tidak bersifat prinsip sebenarnya dapat dihindari apabila salah satu pihak bersedia mengalah. Itulah yang Yesus lakukan. Maukah kita juga melakukannya? [Pdt. Em. Ronny Nathanael]
DOA: Bapa di surga, beri kami hikmat untuk mengalah ketika terjadi beda pemahaman untuk hal yang tidak bersifat prinsip. Amin.
Ayat Pendukung: Dan. 6:1-28; Mzm. 98; Mat. 17:22-27
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Dalam Matius 22:15-22, orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus melalui pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Mereka memuji Yesus seolah-olah tulus, padahal memiliki niat tersembunyi. Yesus mengetahui kemunafikan mereka dan mengajak mereka melihat persoalan dengan benar. Kemunafikan terjadi ketika perkataan tidak sesuai dengan isi hati dan tindakan. Hal ini dapat terjadi di dalam rumah. Kita bisa terlihat sebagai keluarga yang harmonis di hadapan orang lain, tetapi menyimpan kemarahan, kepahitan, dan ketidakjujuran di antara anggota keluarga. Rumah tanpa kemunafikan bukanlah rumah yang tidak pernah mengalami konflik. Rumah tanpa kemunafikan adalah rumah yang berani berkata jujur, mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaiki diri dalam kasih. Yesus mengingatkan kita untuk hidup benar di hadapan Allah, bukan sekadar terlihat baik di hadapan manusia.
Refleksi: Apakah perkataan dan tindakan kita di rumah sudah mencerminkan kasih Kristus? (LS)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...




