Ibadah Online
Renungan Harian
-
Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, dan engkau akan memiliki harta disurga. Kemudian, datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Matius 19:21)
Ketika seseorang mengalami sakit yang dapat menyebabkan kematian, ia akan berupaya dengan berbagai cara untuk berobat demi kesembuhannya. Boleh jadi, sebagian orang rela mengorbankan seluruh hartanya asalkan dapat sembuh. Dalam situasi hidup dan mati, sebagian orang bersedia melepaskan harta kekayaannya dan tidak lagi melekat padanya.
Bacaan kita hari ini mencatat percakapan antara seorang muda yang kaya dengan Yesus. Pemuda itu menanyakan apa yang harus dilakukannya untuk memperoleh hidup yang kekal. Ternyata, ia telah menaati semua perintah yang disebutkan oleh Yesus. Kemudian, Yesus menyampaikan apa yang tertulis dalam nas kita hari ini. Bagaimana respons pemuda itu? “Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak harta miliknya.” Melalui perintah yang terdengar begitu ekstrem, Yesus sebenarnya hendak menunjukkan persoalan kemelekatan hati. Jika hati seseorang masih lebih melekat pada harta miliknya, bahkan pada apa pun selain Tuhan, akan sangat sulit baginya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga dan memperoleh hidup yang kekal.
Mari kita memeriksa dengan jujur dan tulus, ke mana hati kita melekat dalam hidup ini. Berhati-hatilah, jangan sampai hati kita melekat pada hal-hal yang membuat kita jauh dari Tuhan. Marilah kita memohon hikmat dan kekuatan, jika ternyata hati kita masih melekat pada hal lain dan bukan kepada Tuhan. [Pdt. Em. Ronny Nathanael]
DOA:
Bapa di surga, berilah kami kemauan dan kekuatan untuk melekatkan hati kami hanya kepada-Mu. Amin.Ayat Pendukung: Yos. 1:1-11; Mzm. 107:1-7, 33-37; Rm. 2:17-29
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Dalam bacaan ini, Yesus menghadapi pertanyaan dari orang-orang Farisi dan kemudian bertanya tentang identitas Mesias. Percakapan tersebut mengajak kita melihat lebih dalam hubungan antara perkataan, pemahaman iman, dan ketulusan hati di hadapan Tuhan.
Dalam konteks penutupan bulan keluarga, firman ini dapat menjadi ajakan untuk tidak menggunakan alasan untuk menghindari inti persoalan, melainkan belajar mengasihi Tuhan dan sesama dengan sungguh-sungguh.
Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi anggota keluarga kita atau hanya pandai berbicara tentang kasih? Apakah kita bersedia meminta maaf, mendengarkan, mengampuni dan memperbaiki hubungan atau justru menyalahkan pasangan, anak, orang tua dan keadaan?
Tema minggu ini, Rumah Tanpa Alibi bukanlah rumah yang tidak pernah salah, melainkan rumah yang tidak sibuk mencari alasan untuk membenarkan kesalahan. Di rumah itu, setiap orang belajar berkata jujur, berani bertanggung jawab, dan bersedia memperbaiki diri dalam kasih Tuhan/’
Sebab, keluarga yang sehat bukan keluarga yang selalu benar, melainkan keluarga yang mau bertumbuh dalam kebenaran dan kasih.
Pertanyaan refleksi: Apakah di rumah kita lebih sering mencari alasan untuk membela diri, atau berani mengakui kesalahan dan memperbaiki hubungan? (LS)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...




