Ibadah Online
Renungan Harian
-
Dibuka-Nya gunung batu, terpancarlah air, lalu mengalir di padang-padang kering seperti sungai. (Mazmur 105:41)
Dalam menjalani kehidupan, mungkin kita pernah memiliki pemikiran bahwa sesuatu itu tidak mungkin terjadi. Kita sering merasa bahwa segala sesuatu sudah diukur dan dinilai tidak masuk akal. Sebagai manusia, kita kerap hanya memperhitungkan hal-hal yang masuk akal dan sesuai dengan logika kita. Kita cenderung tidak memberi ruang bagi sesuatu yang tampak tidak masuk akal.
Bangsa Israel mengalami peristiwa-peristiwa yang secara manusiawi tidak masuk akal dalam kehidupan mereka. TUHAN memelihara mereka dengan tiang awan dan tiang api. TUHAN bahkan memancarkan air dari gunung batu. Tidak masuk akal, bukan? Bagaimana mungkin dari gunung batu mengalir air seperti sungai? Secara logika hal itu tidak masuk akal. Namun, itulah perjalanan yang dialami oleh bangsa Israel. Mereka hidup seolah-olah menjalani hal-hal yang tidak mungkin, tetapi semuanya benar-benar dialami dan terjadi.
Di tengah kehidupan yang membuat kita hampir menyerah karena jalan buntu, tetaplah bertahan dan berharap. Berilah ruang bagi Tuhan untuk berkarya. Sama seperti Tuhan dapat melakukan hal-hal yang tampak tidak masuk akal bagi bangsa Israel, Tuhan juga dapat melakukannya dalam kehidupan kita. Berilah ruang untuk mission impossible. Berilah ruang bagi hal-hal yang tampak tidak mungkin. Beri ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Karena bersama Tuhan, segala sesuatu mungkin, jika Ia mengizinkannya. [Pdt. Cordelia Gunawan]
REFLEKSI:
Berilah ruang untuk hal-hal yang tidak mungkin menurut kita, karena kita berjalan bersama Tuhan. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.Ayat Pendukung: Kel. 15:22-27; Mzm. 105:1-6, 37-45; 2 Kor. 13:1-4
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
“Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Sebuah pertanyaan yang dilontarkan Petrus kepada Yesus, dan masih sering menjadi pergumulan banyak orang.
Tentang mengampuni. Mengampuni adalah satu tindakan yang tak mudah dilakukan, sebab melibatkan hati yang luka. Seberapa dalam luka yang diberikan dan seberapa sering ia melukai, menjadi pertimbangan seseorang memberikan pengampunan kepada mereka yang bersalah kepadanya. Saat Petrus mengajukan angka tujuh kali, itu angka yang cukup banyak bukan? Biasanya orang malah menghitung sampai angka tiga, lalu kalau sudah tiga kali, maka ia akan merasa percuma berelasi lagi dengan orang ini, sebab diampuni, berelasi, eh melakukan hal yang membuat luka lagi. Tetapi untuk menjawab Petrus, kita tahu Yesus menyodorkan sebuah angka yang menunjukkan pengampunan yang betul-betul tanpa kendali. Hati siapakah yang sanggup? Itu sungguh angka yang banyak, yang mau menunjukkan pengampunan jangan berhitung-hitung. Berikan saja kepada mereka yang bersalah kepadamu. What?!! Mana bisa begitu?
Belum sempat Petrus mendebat, Yesus melanjutkannya dengan sebuah perumpamaan tentang kerajaan surga yang dikaitkan dengan pengampunan yang diberikan tanpa kendali, tanpa perhitungan. Sang raja yang memberi hutang memutihkan begitu saja hutang yang bejibun banyaknya itu. Padahal si pemilik hutang datang dan memohonkan perpanjangan waktu, bukan diputihkan. Tetapi hati sang Raja yang itu tergerak oleh belas kasihan, maka ia mendapatkan pembebasan yang di luar dugaan. Lalu seperti kita sudah tahu, dia keluar, ternyata ada sesama hamba raja, yang berhutang kepadanya juga. Dia berhitung, utang 100 dinar itu tentu besar baginya dan sangat mampu menopang hidupnya yang sedang sulit itu. Perhitungannya membuatnya kehilangan belas kasih. Dia mencekik dan memenjarakan temannya tersebut. Hal ini membuat sang raja marah, dan kembali menimpakan jumlah hutang yang harus ia lunasi, bahkan melibatkan algojo-algojo untuk proses pembayarannya.
Berhitung tentang tiga kali, atau tujuh kali mengampuni seseorang sangatlah manusiawi. Tetapi pertanyaan singkat Petrus dijawab oleh Yesus dengan sebuah pengajaran bahwa dosa kita seluruhnya, sangat banyak, tetapi tak dihitung-hitung oleh-Nya, semua itu telah dihapuskan karena belas kasih Allah. Allah ingin, kita juga tak berhitung saat mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Yesus menutup penjelasannya dengan mengingatkan bahwa pengampunan yang kita berikan kepada saudara kita mestilah diberikan dengan segenap hati.
Saat belas kasih yang mengendalikan kita, maka pengampunan itu dapat diberikan dengan murah hati. Minggu lalu kita belajar menegur dan ditegur, minggu ini kita belajar sebagai yang terluka yang mengampuni. Maka, selamat mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Belas kasih Allah memenuhi hati kita!(DM)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...




