Ibadah Online
Renungan Harian
-
Tetapi, kata Samuel kepada Saul, “Aku tidak mau kembali bersamamu, sebab engkau telah menolak firman TUHAN, maka TUHAN pun menolakmu sebagai raja atas Israel.” (1 Samuel 15:26)
Taat! Ini kata yang pendek tapi konsekuensinya panjang. Seorang sahabat menceritakan masa-masa manis sewaktu bekerja. Ia bersikap kritis, tetapi tetap menunjukkan ketaatan pada aturan dan atasan. Kariernya bagus. Ia juga disenangi banyak kawan.
Saul adalah sosok yang manis dan gagah secara fisik. Namun, perjalanannya sebagai raja tidak semanis dan segagah itu. Mengapa? Karena ketidaktaatan! TUHAN memintanya untuk menumpas musuh beserta semua harta benda mereka. Namun, Saul tidak melakukannya. Ia lebih mendengarkan suara rakyatnya, yang justru merampas harta benda musuh dalam perang. Alasannya, ternak yang dirampas akan dipersembahkan kepada TUHAN. Karena itu, Samuel dengan keras menegur Saul. Samuel tanpa tedeng aling-aling menyatakan bahwa TUHAN menolak Saul sebagai raja, sebab ia menolak firman-Nya. Harga sebuah ketidaktaatan Saul sangat mahal: ia kehilangan jabatan, kebahagiaan, dan makna hidup.
Sahabat, belajar taat mungkin sulit, tetapi hasilnya selalu manis. Dari Saul kita belajar bahwa ketidaktaatan akan menyusahkan diri sendiri, dan membuat kita kehilangan kepercayaan. Karena itu, baiklah kita memilih untuk taat. Hidup adalah amanat dari Tuhan, demikian juga jabatan. Jika kita taat kepada aturan, hukum, dan firman-Nya, kita tidak hanya disenangi oleh kawan, tetapi juga dirahmati oleh Tuhan. [Pdt. Hariman A. Pattianakotta]
REFLEKSI:
Kalau kita tidak taat, kita akan kehilangan legitimasi dan kepercayaan. Jadilah taat untuk merasakan manisnya rahmat Tuhan.Ayat Pendukung: 1 Sam. 15:22-31; Mzm. 23; Ef. 5:1-9
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Perempuan itu datang ke sumur ketika matahari sedang tinggi. Bukan waktu yang lazim. Biasanya orang mengambil air di pagi atau sore. Siang hari terlalu panas, terlalu menyengat. Mungkin ia memilih waktu itu supaya tidak bertemu siapa-siapa. Tidak perlu bertukar sapa. Tidak perlu menangkap tatapan yang terasa seperti penghakiman kecil yang sudah akrab ia terima setiap hari.
Saya membayangkan lorong hidupnya sudah cukup panjang. Lima kali gagal membangun relasi. Tinggal dengan seseorang yang bahkan tidak disebut suami. Kita sering membaca bagian itu dengan cepat, seolah-olah hanya data moral belaka. Padahal di baliknya pasti ada lelah. Ada kecewa. Ada rasa tidak cukup. Mungkin juga rasa gagal.
Tetapi menariknya, Yesus tidak memulai percakapan dengan ceramah panjang dan perintah pertobatan. Ia justru memulai dengan permintaan sederhana: “Berilah Aku minum.” Percakapan itu pelan-pelan masuk ke wilayah yang lebih dalam. Tentang air. Tentang haus. Tentang hidup yang tidak pernah benar-benar terpuaskan.
Lalu Yesus menyebut masa lalunya. Tidak dengan nada keras. Tidak dengan ancaman. Ia menyebutnya begitu saja, seperti seseorang yang tahu dan tetap tinggal. Lorong gelap itu tidak dihindari. Ia justru dilalui bersama.
Saya sering ingin Tuhan hanya mengambil bagian baik dalam hidup saya. Yang sudah rapi. Yang bisa dipresentasikan. Tetapi perempuan itu belajar sesuatu siang itu: Allah tidak takut pada sejarah kita. Ia masuk ke dalamnya.
Mungkin pulang bukan berarti masa lalu dihapus. Mungkin pulang berarti kita berani berdiri di hadapan-Nya, tanpa lagi bersembunyi di jam-jam sepi.
Adakah bagian hidup Anda yang selama ini Anda hindari, padahal mungkin justru di sanalah Yesus sedang menunggu untuk berbicara dengan Anda? (ASC)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



