Ibadah Online
Renungan Harian
-
Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Matius 16:15)
Saat ini, media sosial telah menjadi salah satu sumber informasi yang cepat, murah, dan mudah diakses. Hal ini memungkinkan penyebaran berita terkini secara instan. Media sosial juga mampu membentuk opini serta menyebarkan pengaruh yang luas. Ironisnya, masyarakat yang akrab dengan jejaring media sosial sering kali tidak membekali diri dengan literasi digital yang memadai. Akibatnya, banyak orang mudah termakan berita bohong.
Yesus menyadari bahwa opini publik yang berkembang dalam masyarakat Yahudi memiliki pengaruh yang kuat terhadap persepsi para murid dalam memahami diri-Nya. Oleh karena itu, dalam suatu dialog, Yesus memulai dengan pertanyaan, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Muncullah berbagai pendapat, ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau salah seorang dari para nabi. Namun, Yesus tidak berhenti pada jawaban tersebut. la kembali bertanya, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Simon Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”
Iman yang benar berawal dari relasi yang baik dengan Tuhan. Relasi tersebut tidak dibangun berdasarkan opini instan yang bertebaran di media sosial, melainkan melalui kesediaan untuk dibentuk oleh Tuhan dan hidup dalam persekutuan yang benar. Pengakuan akan Yesus sebagai Mesias bukanlah sesuatu yang instan, melainkan hasil dari kedisiplinan untuk terus belajar, mendengar, dan melakukan kehendak-Nya.
DOA:
Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau tak melupakan kami. Teguhkan kami agar tetap berharap kepada-Mu. Amin.Ayat Pendukung: Yes. 51:1-6; Mzm. 138; Rm. 12:1-8; Mat. 16:13-20
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Pada ulang tahun gereja, kata “pembaruan” mudah diterjemahkan sebagai program baru, tata kerja baru, atau cara pelayanan yang lebih relevan dengan zaman. Semua itu mungkin diperlukan. Namun Roma 12 membawa kita melihatnya lebih dalam. Paulus memulai nasihatnya dengan ungkapan “demi kemurahan Allah”. Sebelum berbicara tentang apa yang perlu dilakukan jemaat, ia menunjuk kepada belas kasih Allah yang telah menyelamatkan mereka.
Karena kemurahan itulah umat diminta mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup. Tubuh membawa ibadah keluar dari wilayah kata-kata dan perasaan. Waktu, tenaga, uang, kuasa, serta cara kita memperlakukan orang lain ikut diletakkan di hadapan Allah. Gereja mulai diperbarui ketika seluruh kehidupannya kembali menjadi milik Tuhan.
Lalu Paulus berkata, “Berubahlah oleh pembaruan budimu.” Menarik, kata kerjanya berbentuk pasif: umat diminta membiarkan dirinya diubah. Gereja tidak menciptakan dirinya kembali sesuka hati. la terus belajar melepaskan pola zaman yang membentuknya, lalu menimbang apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. Ukuran pembaruan bukan seberapa baru sesuatu terlihat, melainkan seberapa jernih gereja mengenali kehendak Allah.
Sesudah berbicara tentang budi yang diperbarui, Paulus segera membahas cara seseorang menilai dirinya. Jangan menganggap diri lebih tinggi daripada yang sepatutnya. Lalu ia berbicara tentang satu tubuh dengan banyak anggota dan karunia. Rupanya pembaruan pikiran memiliki bentuk yang sangat nyata: kerendahan hati. Karunia tidak lagi dipakai untuk meninggikan diri atau berebut tempat. Setiap pemberian Allah dipakai untuk melayani kehidupan bersama.
Di tengah perayaan HUT GKI dan Republik Indonesia, gereja dipanggil berkarya di negeri ini tanpa menyerap pola kesombongan, perebutan kuasa, dan kepentingan diri. Gereja perlu terus bertanya: Apakah kehidupan kita makin menyerupai Kristus? Karunia siapa yang belum mendapat tempat? Bagi siapa pelayanan kita sungguh menjadi kabar baik?
Bertambah usia adalah anugerah; menjadi dewasa adalah panggilan. Gereja yang terus membarui diri ialah gereja yang terus kembali kepada kemurahan Allah, membiarkan budinya diubah, dan menyerahkan seluruh karunianya bagi kehidupan dunia yang dikasihi-Nya. (ASC)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...




