Ibadah Online
Renungan Harian
-
Sekarang, biarlah hambamu ini tinggal menjadi budak tuanku menggantikan anak itu. Namun, izinkanlah anak itu pulang bersama-sama saudara-saudaranya. (Kejadian 44:33)
Persoalan pelik tidak selalu berujung tragis. Justru dalam situasi sulit, karakter seseorang akan teruji: apakah ia bertanggung jawab dan mampu menghadirkan solusi, atau sebaliknya, cenderung menyalahkan orang lain serta menghindari tanggung jawab.
Anak-anak Yakub menghadapi persoalan pelik. Yusuf, yang kini menjadi penguasa di Mesir, menguji saudara-saudaranya. Ia menghendaki agar Benyamin, saudara seibunya, tinggal bersamanya, sementara saudara-saudaranya kembali kepada Yakub, ayah mereka yang sudah renta. Keadaan ini sangat genting, sebab Yakub bisa mengalami kesedihan yang mendalam, bahkan mati, jika Benyamin tidak kembali. Bagi Yakub, Benyamin adalah pengganti Yusuf yang dahulu dikabarkan telah mati. Di puncak peristiwa itu, muncullah Yehuda. Ia bersedia menjadi budak pengganti asalkan Benyamin diperbolehkan pulang. Siapakah Yehuda? Bukankah sebelumnya dialah yang mengusulkan untuk menjual Yusuf? Bersama saudara-saudaranya, ia menipu ayah mereka mengenai nasib Yusuf. Namun, Yehuda tidak lagi sama seperti dahulu. Ia berani mengambil risiko dan menunjukkan tanggung jawab terhadap keluarganya.
Allah sanggup mengubah tabiat manusia. Bisa jadi masa lalu kita tidak baik. Namun, bukan tanpa alasan Allah mengizinkan kita menghadapi pergumulan hidup. Justru melalui situasi itulah kita diberi kesempatan untuk mengalami pertobatan dan menunjukkan perubahan hidup yang nyata. [Pdt. Nanang]
DOA:
Ya Tuhan, mampukan kami melihat persoalan pelik dalam hidup ini sebagai sarana untuk mewujudkan hidup pertobatan kami. Amin.Ayat Pendukung: Kej. 45:16-28; Mzm. 130; Mat. 8:1-13
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Sebelum berjumpa dengan perempuan Kanaan, Yesus baru saja berdebat tentang kenajisan. la menegaskan bahwa yang menajiskan manusia keluar dari hati. Segera sesudah itu, Matius membawa Yesus ke daerah Tirus dan Sidon. Di sana muncul seorang perempuan yang, menurut batas agama dan asal-usul, mudah dicap sebagai orang luar. Namun justru perempuan inilah yang berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud.” Sebutan “Anak Daud” menunjukkan bahwa ia melihat sesuatu yang belum dipahami banyak orang Israel. Anehnya, Yesus tidak menjawab sepatah kata pun. Para murid ingin ia disuruh pergi. Ketika percakapan akhirnya terjadi, perempuan itu mendengar kata kata yang keras tentang roti anak-anak dan anjing.
Kita tidak perlu buru-buru membuat bagian ini terdengar nyaman. Perempuan itu berada di hadapan batas yang sungguh terasa: kesunyian, penolakan para murid, serta gambaran yang menempatkannya di luar meja. Namun ia tidak pergi. la masuk ke dalam gambaran tersebut dan menemukan celah kemurahan di sana: “Benar, Tuhan. Namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”
Jawabannya tidak sopan menurut tata sosial yang mengharuskannya tahu diri dan diam. la berani berbicara lagi karena percaya bahwa kemurahan Sang Anak Daud lebih besar daripada batas yang menghalanginya. Bahkan remah dari meja itu cukup untuk memulihkan hidup anaknya.
Yesus kemudian berkata, “Hai ibu, besar imanmu.” Dalam Injil Matius, pujian sebesar ini justru diberikan kepada seorang perempuan Kanaan. Orang yang dianggap berada di luar tampil sebagai teladan iman. Kisah yang dimulai dengan batas berakhir dengan pemulihan, sekaligus mengarah ke ujung Injil ketika para murid kelak diutus kepada segala bangsa.
Namun ketekunan perempuan ini jangan dijadikan syarat bahwa orang terluka harus berjuang cukup keras sebelum layak ditolong. la tidak membeli belas kasih dengan kegigihannya. Imannya berpegang pada keyakinan bahwa kemurahan Tuhan selalu lebih limpah daripada batas yang dibuat manusia. Kadang iman terdengar tidak sopan karena ia menolak percaya bahwa kasih Allah hanya tersedia bagi mereka yang sudah duduk nyaman di meja. (ASC)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...




