Ibadah Online
Renungan Harian
-
… tempat engkau berdiri itu adalah tanah yang kudus…Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. (Keluaran 3:5b, 6b)
Salah satu nilai yang diajarkan orangtua kepada anak adalah sopan santun dan tata krama. Sejak dini, anak dididik untuk bersikap hormat kepada orangtua, guru, pemimpin, dan sesama. Sikap hormat ini juga perlu dibangun dalam relasi kita dengan Tuhan, bukan karena Ia haus akan penghormatan, melainkan karena Ia adalah Pribadi yang layak dihormati.
Ketika Musa menggembalakan ternak milik mertuanya, ia melihat semak duri yang menyala, tetapi tidak terbakar. Peristiwa ini tentu mengundang keheranan. Saat Musa mendekat, terdengar suara ilahi yang memanggil namanya. Musa menyadari bahwa ia sedang berjumpa dengan Allah. Allah memerintahkannya menanggalkan kasutnya, sebab tanah tempat ia berdiri adalah kudus. Bahkan ketika Allah berfirman kepadanya, Musa menutupi wajahnya. Sikap ini menunjukkan rasa hormat yang mendalam.
Apakah kita masih memelihara rasa hormat kepada Allah? Ketika datang beribadah di gereja, apakah kita hadir tepat waktu karena rindu berjumpa dengan-Nya, ataukah datang sesuka hati seolah hanya menonton kebaktian? Dalam pekerjaan, apakah kita bekerja dengan jujur dan bertanggung jawab karena menyadari bahwa meja kerja kita adalah altar bakti bagi-Nya? Ingatlah, seluruh dunia ini adalah wilayah kekudusan Allah. Karena itu, kita dipanggil untuk senantiasa menunjukkan sikap hormat kepada-Nya. [Pdt. Natanael Setiadi]
REFLEKSI:
Allah sesungguhnya Mahahadir, sehingga manusia harus menghormati kekudusan-Nya dengan sikap hidup yang benar.Ayat Pendukung: Kel. 3:1-12; Mzm. 31:1-5, 15-16; Kis. 7:1-16
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Setiap orang pasti pernah terluka. Ada luka yang terlihat oleh mata, tetapi banyak juga luka yang tersembunyi di dalam hati. Luka karena kata-kata yang menyakitkan, luka karena kehilangan, luka karena dikhianati, bahkan luka karena merasa tidak dihargai. Luka – luka ini sering kali kita simpan rapat-rapat.
Firman Tuhan hari ini membawa kita melihat kepada Kristus sebagai Sang Penyembuh yang terluka. Kristus bukan hanya mengetahui penderitaan kita, tetapi Ia sendiri pernah mengalaminya. Dia disesah, dihina, ditolak, dan disalibkan. Tubuh-Nya penuh bilur, dan hati-Nya menanggung beban dosa manusia. Namun justru melalui bilur-bilurnya itulah, kesembuhan diberikan kepada kita.
Ketika Petrus berkata, “oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh, ” ia mengingatkan bahwa kesembuhan sejati tidak lahir dari kekuatan manusia, tetapi dari pengorbanan Kristus. Luka yang Ia tanggung menjadi jalan pemulihan bagi kita. Ia memulihkan hubungan kita dengan Allah, mengangkat beban dosa, dan menyembuhkan hati yang hancur. Firman ini juga mengingatkan bahwa kita dahulu seperti domba yang tersesat. Kita berjalan tanpa arah, terluka oleh dosa dan dunia. Tetapi sekarang kita telah kembali kepada Sang Gembala dan Pemelihara jiwa kita. Di dalam Dia, kita menemukan perlindungan, arah hidup, dan pemulihan yang sejati.
Karena itu, jangan takut membawa luka kita kepada Kristus. Ia tidak menolak, tidak menghakimi, dan tidak mengabaikan. Ia menerima, mengasihi, dan menyembuhkan. Tidak ada luka yang terlalu dalam bagi-Nya, karena Ia sendiri telah menanggung luka yang terbesar.(LS)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



