Ibadah Online
Renungan Harian
-
Sesudah orang banyak makan sampai kenyang, Yesus menyuruh para murid menyeberang lebih dahulu. Di tengah danau, perahu mereka dihantam gelombang dan angin sakal. Menjelang pagi, Yesus datang berjalan di atas air. Para murid tidak langsung mengenali-Nya. Mereka mengira melihat hantu dan berteriak ketakutan.
Menariknya, ketakutan tidak hanya muncul sebelum Petrus melangkah. Petrus sudah mendengar suara Yesus, menerima perintah-Nya, bahkan berjalan di atas air. Namun ketika ia melihat kerasnya angin, ia takut dan mulai tenggelam. Pengalaman dekat dengan Tuhan ternyata tidak membuat seseorang kebal terhadap kegoyahan.
Di titik itulah doa Petrus menjadi sangat pendek: ‘Tuhan, tolonglah aku!” la tidak sempat menyusun kata-kata indah atau membuktikan bahwa imannya cukup kuat. Matius lalu menulis bahwa Yesus “segera” mengulurkan tangan dan memegangnya. Teguran, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” diucapkan ketika Petrus sudah berada dalam pegangan Yesus.
Ungkapan “kurang percaya” dalam Injil Matius ditujukan kepada para murid, orang-orang yang sungguh mengikuti Yesus namun masih takut dan belum mengerti sepenuhnya. Iman mereka kecil, tetapi tetap memiliki arah: di tengah tenggelam, Petrus berseru kepada Tuhan. Yang menyelamatkannya bukan keberhasilan menguasai gelombang, melainkan tangan Kristus yang meraihnya.
Karena itu, “iman yang bertahan” jangan dibayangkan sebagai jiwa yang selalu tenang dan tidak pernah goyah. Ada masa ketika iman hanya berbentuk seruan minta tolong. Ada hari ketika kita masih percaya, tetapi sekaligus takut; masih berdoa, tetapi pikiran dipenuhi kemungkinan terburuk.
Kabar baiknya, Yesus tidak menunggu Petrus berhasil menenangkan diri. la mendekat ketika angin masih bertiup, meraih Petrus sebelum danau menjadi teduh, lalu membawanya kembali ke perahu. Yang membuat iman rapuh itu bertahan ialah tangan Kristus yang segera terulur. (ASC)
Khotbah Minggu
-
Matius 14 menempatkan dua perjamuan berdekatan. Yang pertama berlangsung di istana Herodes. Hidangannya berlimpah, para tamunya orang-orang penting, dan sang raja memiliki kuasa. Namun pesta itu berakhir dengan kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah talam. Herodes menyelamatkan muka dengan mengorbankan nyawa orang lain.
Perjamuan berikutnya berlangsung di tempat sunyi. Tidak ada istana, persediaan makanan nyaris tidak ada, dan tamunya orang banyak yang lapar. Ketika hari mulai malam, para murid mengusulkan jalan keluar yang masuk akal: “Suruhlah orang banyak itu pergi.” Keterbatasan segera menjadi alasan untuk menyingkirkan mereka.
Jawaban Yesus mengejutkan: ‘Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Yesus tidak menyangkal bahwa lima roti dan dua ikan terlalu sedikit. la meminta para murid membawa yang sedikit itu kepada-Nya. Roti tersebut la berkati dan pecah-pecahkan, lalu la kembalikan ke tangan para murid untuk dibagikan. Semua orang makan sampai kenyang.
Di sini tema “Allah yang mencukupi, bukan memanjakan” memperoleh artinya. Anugerah Allah tidak menjadikan para murid penonton yang menunggu mukjizat. Yesus melibatkan tangan mereka dalam pemeliharaan-Nya. Kecukupan lahir sebagai roti yang diterima, dipecah, lalu berpindah dari tangan ke tangan sampai semua mendapat bagian.
Kontras kedua meja itu mencapai puncaknya di dalam Kristus. Di meja Herodes, orang lain kehilangan nyawa agar sang raja tetap aman. Di meja Perjamuan Kudus, Sang Raja memberikan tubuh-Nya sendiri agar dunia memperoleh kehidupan. Roti yang kita terima memang kecil, tetapi menunjuk kepada pemberian yang tak terukur: Kristus memberikan diri-Nya.
Kita datang ke meja Tuhan sebagai orang-orang yang membutuhkan anugerah. Sesudahnya, kita diutus sebagai tubuh Kristus yang memberi tempat dan membagikan kehidupan. Kristus mencukupi kita agar keterbatasan tidak menjadi alasan untuk menyingkirkan sesama. (ASC)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...




