Ibadah Online
Renungan Harian
-
Lalu Musa mengulurkan tangannya ke langit dan gelap gulita meliputi seluruh tanah Mesir selama tiga hari. (Keluaran 10:22)
Mati lampu adalah keadaan yang tidak menyenangkan bagi kita yang kehidupannya sudah sangat bergantung pada listrik. Bagi anak-anak Generasi Alpha dan Z, mati lampu menjadi sesuatu yang terasa menyulitkan, karena sebagian besar aktivitas mereka bergantung pada listrik. Di negara-negara maju, ketika listrik padam, seluruh aktivitas dapat lumpuh. Mati lampu identik dengan kondisi ketika kita berada dalam kegelapan dan harus mencari sumber cahaya lain agar tetap dapat melihat dan beraktivitas.
Tanah Mesir pernah mengalami kegelapan yang sangat pekat. Keadaan itu membuat seluruh negeri berada dalam kegelapan selama tiga hari. Saat itu, orang-orang Mesir tidak dapat melihat apa pun, dan kondisi tersebut menimbulkan kegelisahan serta kemarahan. Mereka hidup dalam kegelapan tanpa cahaya sedikit pun.
Dalam kehidupan rohani, kita meyakini bahwa Kristus adalah Sang Sumber Terang. Pertanyaannya, jika kita tidak pernah berhubungan dengan Sang Sumber Terang, bagaimana mungkin hidup kita menjadi terang? Jika kita tidak memiliki hubungan yang stabil dengan Kristus, maka tidak akan ada cahaya dalam ruang batin kita; yang ada hanyalah kegelapan. Kegelapan rohani jauh lebih berbahaya daripada kegelapan secara kasatmata, karena kegelapan rohani dapat menjerumuskan kita ke dalam dosa dan kehancuran. Kiranya kita terus belajar menjalin hubungan yang erat dengan Kristus, Sang Sumber Terang. [Pdt. Cordelia Gunawan]
REFLEKSI:
Teruslah terhubung dengan Kristus, Sang Sumber Terang, sehingga kegelapan terhalau dari kehidupan kita.Ayat Pendukung: Kel. 10:21-29; Mzm. 149; Rm. 10:15b-21
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Petrus baru saja mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Namun ketika Yesus mulai menjelaskan bahwa la harus pergi ke Yerusalem, menderita, dibunuh, dan dibangkitkan, Petrus menarik-Nya ke samping dan menegur-Nya. la menerima gelar Mesias, tetapi menolak jalan yang akan ditempuh Sang Mesias.
Jawaban Yesus terdengar sangat keras: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku.” Namun ada detail yang mudah terlewat. Secara harfiah Yesus berkata, “Pergilah ke belakang-Ku.” Sesudah itu la berkata kepada para murid, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Ungkapan “di bclakang-Ku” muncul kembali.
Petrus telah berpindah tempat.Seorang murid semestinya berjalan di belakang gurunya, tetapi Petrus maju ke depan dan mencoba menentukan jalan bagi Yesus. la menginginkan kemuliaan tanpa penderitaan, kemenangan tanpa penyerahan diri. Yesus menyuruhnya kembali ke tempat seorang murid: di belakang Sang Guru.
Di sanalah makna menyangkal diri mulai terlihat. Yesus tidak mengajarkan kebencian terhadap diri sendiri. la meminta para murid melepaskan tuntutan untuk mengendalikan jalan-Nya dan menjadikan keselamatan diri sebagai ukuran tertinggi. Salib pada masa itu juga bukan sebutan bagi setiap kesulitan kecil. Salib adalah alat kekuasaan Romawi untuk mempermalukan dan mematikan. Memikul salib berarti tetap setia kepada jalan Kristus sekalipun kesetiaan itu menuntut harga.
Karena itu, teks ini tidak boleh dipakai untuk menyuruh korban kekerasan bertahan dalam penindasan. Salib bukan pembenaran bagi penderitaan yang dipaksakan orang lain. Salib adalah bentuk kehidupan yang mengikuti Yesus: berani kehilangan keuntungan, status, atau rasa aman demi kasih dan kebenaran Allah.
Kita biasanya meminta Yesus memberkati jalan yang sudah kita pilih. Dalam perikop ini, Yesus memanggil kita kembali ke belakang-Nya. Kita mungkin tidak melihat seluruh jalan dan tidak memperoleh jalan pintas. Namun kita mengikuti Dia yang berjalan menuju salib dan kebangkitan. Di belakang-Nya, kehilangan bukan kata terakhir. (ASC)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...




