Ibadah Online
Renungan Harian
-
Setelah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira. (Lukas 15:5)
“Tidak peduli seberapa jauh engkau melangkah menjauh, kasih Tuhan selalu mencari, menemukan, dan memelukmu pulang.” Kutipan inspiratif ini mengajak kita untuk menyadari bahwa kasih Allah tidak bersyarat dan tidak berbatas. Ia tidak menanti kita menjadi lebih baik atau sempurna terlebih dahulu, barulah la mengasihi kita. Ketika kita gagal, jatuh dalam kesalahan, dan tersesat, Allah justru datang mencari, menemukan, dan memeluk kita dengan kasih-Nya.
Lukas 15:1-7 menggambarkan hati dan sikap Allah yang terungkap dalam perumpamaan domba yang hilang. Melalui perumpamaan ini, Yesus ingin kita tahu bahwa kita bukan sekadar angka dalam kumpulan besar. Kita dikenal, dicintai, dan dicari secara pribadi. Setiap kita berharga di mata Tuhan. Bahkan ketika kita tersesat karena pilihan hidup yang keliru di hadapan-Nya, luka batin, atau kelelahan rohani, la tidak menyerah. la tidak menunggu kita pulang dalam kondisi baik, tetapi datang mencari kita di lembah tergelap kehidupan kita dan membawa kita kembali ke dalam pelukan kasih-Nya.
Mari kita belajar dari kasih Sang Gembala. Jangan ragu untuk berbalik pada-Nya. Namun, jangan puas juga hanya menjadi bagian dari “99 domba”. Mari ikut ambil bagian dalam misi pencarian: menjangkau yang terhilang dan menyatakan kasih Tuhan melalui tindakan nyata. Setiap pribadi berharga di mata Tuhan. [Pdt. Jotje H. Karuh]
DOA:
Tuhan, kami bersyukur karena Engkau sangat mengasihi kami. Ajar dan mampukan kami untuk dapat mencari dan menemukan yang terhilang dalam kasih-Mu. Amin.Ayat Pendukung: Yeh. 34:1-16; Mzm. 23; Luk. 15:1-7
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Di zaman sekarang, banyak orang berjuang mencari identitas. identitas sering diukur dari hal-hal luar: pekerjaan, pencapaian, latar belakang keluarga, bahkan pengakuan di media sosial. Ketika semua itu goyah, manusia mudah merasa kehilangan nilai diri.
Jemaat yang menerima surat Petrus hidup dalam tekanan dan ketidakpastian. Mereka adalah orang-orang percaya yang tersebar, mengalami penderitaan, dan bisa saja mempertanyakan: “Siapa kami sebenarnya?”
Melalui 1 Petrus 1:17–23, Petrus mengingatkan bahwa identitas orang percaya tidak ditentukan oleh dunia, tetapi oleh Kristus. Dahulu kita hidup dalam cara hidup yang sia-sia, terikat pada dosa, dan jauh dari Allah. Itu adalah identitas lama. Namun melalui pengorbanan Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya, terjadi perubahan yang radikal. Kita ditebus bukan dengan barang fana, tetapi dengan darah yang mahal. Di dalam Dia, kita tidak lagi hidup sebagai manusia lama, tetapi dilahirkan kembali menjadi ciptaan yang baru. Kristus adalah penentu identitas kita.
Artinya, yang dulu kalah oleh dosa, kini dimampukan untuk menang oleh kebangkitan Kristus. Yang dulu hidup dalam ketakutan, kini berjalan dalam pengharapan. Yang dulu kosong, kini dipenuhi oleh kasih yang sejati. Identitas baru ini bukan sekadar label, tetapi kehidupan yang nyata. Hidup dalam ketaatan kepada kebenaran dan kasih yang tulus kepada sesama. Karena kita telah dilahirkan kembali dari benih yang tidak fana, maka hidup kita pun dipanggil untuk mencerminkan Kristus setiap hari.
Mari kita bertanya pada diri sendiri: masihkah kita hidup dalam identitas lama, atau sudah benar-benar hidup sebagai manusia baru di dalam Kristus? (LS)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...

