Ibadah Online
Renungan Harian
-
“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari Aku.” (Matius 15:8)
Ada sebuah perumpamaan yang berbunyi, “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak.” Artinya, kekurangan atau kesalahan diri sendiri tidak terlihat, sedangkan kekurangan atau kesalahan orang lain terlihat jelas.
Para ahli Taurat menerapkan banyak aturan yang mengatur kehidupan orang Yahudi. Peraturan yang ditetapkan oleh Musa ditafsirkan kembali, kemudian diberlakukan. Timbul kebingungan di kalangan umat mengenai apakah mereka harus taat kepada perintah Allah atau kepada aturan yang ditetapkan oleh ahli Taurat. Penginjil Matius memaparkan bagaimana orang Farisi dan ahli Taurat mempersoalkan para murid Yesus yang dianggap melanggar adat istiadat nenek moyang karena tidak membasuh tangan sebelum makan. Namun, Yesus menegur mereka karena telah mengubah perintah untuk menghormati ayah dan ibu dengan tafsiran mereka sendiri sehingga mengabaikan kewajiban kepada orang tua. Orang-orang seperti ahli Taurat disebut munafik karena memuliakan Tuhan dengan bibir, padahal hati mereka jauh dari Tuhan.
Menyembah Tuhan sesungguhnya harus bersumber dari hati yang tulus, bukan hanya dengan bibir atau kata-kata. Bagi Tuhan, ibadah yang semata-mata dilakukan sebagai rutinitas adalah sia-sia apabila perintah dan kehendak-Nya tidak dilakukan. Menyembah Tuhan dengan benar harus dimulai dengan mengenal Tuhan dari kedalaman hati yang siap dibentuk sesuai dengan kehendak-Nya. [Pdt. Melani Ajub, S.Th., M.Pd.]
REFLEKSI:
Tuhan mengenal hati kita karena itu la tidak berkenan dengan segala kata-kata munafik.Ayat Pendukung: Ams. 16:21-33; Mzm. 5; Mat. 15:1-9
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Sasaran kritik Yesus yang paling tajam bukanlah orang yang tidak beragama, melainkan orang beragama, tepatnya para pemimpin agama. Bacaan kita memperlihatkan bagaimana Yesus menegur para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus mengecam orang-orang yang sungguh saleh, bukan karena la tidak menyukai kesalehan. Ajaran yang muncul dari kesalehan sungguh penting. Yesus sendiri berujar, “lakukan dan peliharalah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu” (ay. 3a), tetapi la segera menambahkan, “tetapi jangan turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” (ay. 3b). Jadi, masalah kesalehan bukanlah terletak pada ajaran yang muncul dari dalamnya, melainkan pada kenyataan bahwa mereka yang mengaku diri saleh dan mengajarkan kesalehan ternyata tidak mempraktikkan apa yang mereka sendiri ajarkan. Kritik Yesus ini tentu berlaku juga untuk kita. Kita terlalu gemar mengatakan yang benar, tetapi terlalu jarang melakukan apa yang kita katakan. Tutur laku kita kerap tidak membenarkan dan malah berlawanan dengan apa yang menjadi tutur kata kita.
Kritik Yesus tidak berhenti pada inkonsistensi ajaran dan kehidupan para pemimpin agama itu. la melanjutkannya dengan kritik atas kesalehan yang dimanfaatkan untuk meraup kedudukan sosial yang lebih tinggi. Siapa yang tak suka dihormati? Siapa yang tak gembira ketika disanjung? Masalahnya, kesalehan yang dipertontonkan oleh para pemimpin agama itu justru mereka manfaatkan bukan untuk mempermuliakan Allah, melainkan untuk menyusun sebuah tangga yang menjulang, dan mereka menaiki tangga itu dengan pongah, sembari menginjak kepala sesama di bawahnya.
Sungguh, kesalehan yang tidak dihidupi dan yang menyengsarakan sesama adalah kesalehan yang berbahaya. Kita perlu memeriksa diri terus-menerus agar tidak terjatuh ke dalam kubangan yang sama. Sebab, jika itu terjadi, kita harus bersiap siap menerima kecaman Yesus. Lebih dari itu, mari menyambut sapaan Injil hari ini, yaitu menjadi saudara yang setara, yang bersama-sama memperjuangkan kesalehan yang benar. Kesalehan yang sejati tidak membangun tangga untuk naik, tetapi turun berlutut melayani. Di situlah iman menjadi sebentuk kerendahan hati yang membebaskan. (JA)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



