Ibadah Online
Renungan Harian
-
Di Horeb kamu sudah membangkitkan amarah TUHAN, bahkan TUHAN begitu murka kepadamu, sehingga Ia mau memunahkan kamu. (Ulangan 9:8)
Rudi suka berjalan-jalan di alam. Suatu kali, dalam pendakian ke Gunung Puntang, Rudi kehilangan arah. Di depannya terdapat semak belukar dan tidak ada jalan setapak maupun jejak kaki orang. Karena hari sudah mulai sore, Rudi memutuskan untuk turun kembali ke titik keberangkatan dengan mengikuti jejak kakinya sendiri. Menjelang hari gelap, Rudi tiba kembali di titik keberangkatan dan memutuskan untuk pulang ke rumah.
Bacaan hari ini merupakan ajakan Musa kepada bangsa Israel untuk melihat ke belakang, ke masa lalu. Di Gunung Horeb, saat bangsa Israel menantikan Musa yang sedang naik ke puncak gunung, mereka membuat patung anak lembu tuangan. Peristiwa ini merupakan kemurtadan massal. Musa mengajak mereka untuk mengingat kembali peristiwa tersebut. Allah hendak memunahkan Israel, bahkan menghapuskan nama mereka dari kolong langit. Akan tetapi, Allah tetap berbelas kasih. Ia tidak jadi memunahkan bangsa Israel. Namun, hal itu bukan berarti tidak ada konsekuensi dari dosa tersebut (lih. Kel. 32:35).
Dari kisah di atas, kita belajar tentang pentingnya menengok ke belakang, ke masa lalu. Tokoh Rudi dalam renungan ini menengok ke belakang dan menemukan jalan pulang. Demikian pula dengan kehidupan kita. Menengok ke belakang dan mengingat peristiwa di masa lalu menolong kita belajar dari pengalaman. Hal itu juga menolong kita agar tidak jatuh pada kesalahan yang sama. [Pdt. Natanael Setiadi]
REFLEKSI:
Mengingat masa lalu bukanlah untuk tinggal di sana, melainkan untuk belajar berjalan lebih bijak ke masa depan.Ayat Pendukung: Kej. 9:8-17; Mzm. 93; Kis. 27:39-44
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
“Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!” Tulis Sang Rasul. Di tengah pergumulan dan penderitaan yang ditanggung umat saat itu, Petrus tahu, mereka perlukan ini. Penderitaan yang umat alami, terjadi karena mereka menjadi orang percaya. Menjadi pribadi yang menyembah Yesus. Menjadi orang yang hidupnya ’diwarnai’ oleh darah Kristus. Penting sekali bagi mereka saat itu, tidak hanya mendengar tentang pengorbanan Kristus yang mahal dan berharga, tetapi benar-benar mengkhususkan-menguduskan Yesus Kristus itu di dalam hatinya sebagai Tuhan. Bukan sekadar manusia yang baik, manusia yang lembut, manusia yang mau berkorban dan menanggung derita dengan tubuh-Nya sendiri. Tetapi Kristus itu sungguh Tuhan. Pusat hidup orang percaya. Arah langkah orang percaya. Tuhan, pemilik hidup mereka.
”Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!” Tulis Sang Rasul. Bukan tanpa makna. Apa pentingnya menaruh Kristus, mengkhususkannya di hati? Keyakinan bukanlah sekadar tahu. Keyakinan menggerakkan langkah, dan menentukan keteguhan saat melangkah. Keyakinan di dalam hati atas sesuatu yang dijalani, membuat seseorang lebih kuat menanggung konsekuensinya. Ia lebih mampu menjalaninya. Ia memiliki perspektif yang berbeda melihat sekelilingnya, juga dirinya. Keraguan membuat orang gelisah, bisa jadi tetap melangkah tetapi mudah goyah, tak tahan menjalani konsekuensi yang ada. Maka, Petrus sengaja mengingatkan umat yang dilayaninya. Jangan sekadar tahu, jangan sekadar mendengar, tetapi taruh Kristus di tempat khusus di hatimu sebagai Tuhan!
Kini, di jaman yang penuh pandangan hidup dari berbagai sumber, di tengah gempuran informasi dan pengaruh, di tengah tawaran menggiurkan, siapakah yang kita berikan tempat khusus di hati kita? Untuk kita, jemaat Tuhan, sungguh – sungguhkah sudah ada Kristus, di ruang khusus hati kita sebagai Tuhan? Sebagai penentu seluruh arah langkah kita? Sebagai pusat hidup kita? Sebagai Tuhan, persona yang di hadapan-Nya tangan kita tertangkup, kepala kita tertunduk, hati kita merendah menyembah-Nya? Hari ini, biarlah suara dari surat Rasul Petrus ini menggema di hati kita lagi, ”Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!” Banyak hal di jaman ini yang juga bisa membuatmu menderita sebagai orang yang percaya pada Kristus. Kiranya saudara tak bimbang lagi mengarahkan seluruh hidup kepada-Nya. Berani dan mampu menanggung segala konsekuensi sebagai orang percaya yang menyembah Kristus Tuhan, dari hati terdalam. (DM)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...
