Ibadah Online
Renungan Harian
-
Oleh sebab itu, siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. (Matius 18:4)
Dalam kehidupan sehari-hari, anak kecil sering kali tidak diperhitungkan. Anak kecil sering kali dianggap lemah, tidak penting, dan kurang berperan. Perkataan anak kecil pun sering kali diremehkan.
Namun, saat para murid mempertanyakan siapa yang terbesar di antara mereka, Yesus justru memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah- tengah mereka. Yesus meminta murid-murid-Nya menjadi seperti anak kecil yang kerap diremehkan, tetapi dipandang sebagai yang terbesar oleh Tuhan. Bagaimana mungkin jika kita ingin menjadi yang terbesar, kita harus menjadi seperti anak kecil? Anak kecil pada dasarnya polos. Anak kecil tidak memiliki agenda; yang tersisa hanyalah ketulusan. Jika kita ingin menjadi besar atau penting, mulailah dengan ketulusan, bukan dengan politik atau strategi supaya kita menjadi yang utama.
Menjadi yang utama bukanlah hak kita. Kita hanya perlu tulus, dan dalam ketulusan itu, Tuhan yang melayakkan kita. Kita tidak perlu berupaya atau berlomba menjadikan diri kita utama. Keutamaan itu tidak perlu kita cari. Di tengah dunia yang seolah menggiring kita untuk menjadi yang paling utama, yang paling hebat, dan nomor satu, kita diingatkan untuk menjadi orang yang tulus. Mungkin kita tidak dipandang atau diindahkan orang, tetapi jika kita memelihara ketulusan hati, Tuhan akan melayakkan kita. [Pdt. Cordelia Gunawan]
REFLEKSI:
Yang terbesar justru mereka yang tidak membesarkan atau mengutamakan dirinya.Ayat Pendukung: Bil. 11:1-9; Mzm. 119:97-104; Rm. 16:17-20
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Pada umumnya kita ingin mendapat lebih banyak dari orang lain, apalagi kita bekerja lebih lama, lebih berat dari yang lain. Itu sangat normal bukan? Tetapi di dalam perumpamaan tentang kerajaan surga yang diberikan di Matius 20 ini, Sang Pemberi upah terlihat sangat murah hati. Semua orang yang bekerja kepadanya, ia beri upah yang pantas. Bahkan kepada orang yang bekerja baru satu jam, ia tetap memberi upah sejumlah upah orang yang bekerja satu hari. Luar biasa murah hatinya. Tentu ini tak mengambil jatah pekerja lain. Upah itu berasal dari perbendaharaan pemilik kebun itu. Tetapi ternyata hal itu mengganggu perasaan orang yang merasa bekerja lebih berat. Ada rasa tidak rela orang lain mendapat anugerah sebesar itu. Hatinya mulai menilai, menghitung-hitung dan membuat kesimpulan, bahwa ia tak pantas mendapat upah setara dirinya.
Untuk menjawab keberatan itu, sang pemilik kebun itu menjelaskan dengan sabar dan hangat orang yang komplain itu. la menyebutnya, kawan. Sebutan itu menunjukkan pemilik kebun ini bahkan tak melihat pekerjanya sebagai pekerja semata, tetapi sebagai seseorang yang dekat, yakni seorang kawan. la tak ingin, pekerjanya itu memiliki pikiran yang salah. Lalu ia menjelaskan bahwa di dalam tindakannya itu tidak ada ketidakadilan, ia telah memberikan sesuai kesepakatan. la menegaskan juga supaya orang itu fokus saja kepada apa yang ia dapatkan, upahnya. Tanpa perlu meributkan upah yang didapat orang lain. Di akhir, pemilik kebun menegaskan tentang hak penuhnya untuk menggunakan miliknya sesuai kehendaknya, dan sifatnya yang murah hati.
Terkait keselamatan, banyak orang Kristen juga yang tak mau anugerah keselamatan itu dibagikan oleh Allah dengan murah hati. Mereka ingin, itu hanya untuk orang tertentu. Tetapi, melalui perumpamaan ini kita diajar, bahwa keselamatan itu bisa diberikan kepada siapa saja yang Allah perkenan, sungguh itu hak penuh Allah. Kita harus belajar mendidik diri kita memahami Allah itu murah hati dan tak terganggu dengan itu. (DM)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



