Ibadah Online
Renungan Harian
-
Jawab Yesus, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia.” (Yohanes 9:3)
Kegagalan, sakit penyakit, dan penderitaan kerap dipandang sebagai upah dosa. Pemahaman semacam ini sama sekali tidak menolong, malah membebani manusia. Menarik untuk direnungkan, Yesus ternyata menentang pemahaman itu.
Ketika berhadapan dengan seorang yang buta sejak lahir, Yesus ditanya oleh para murid-Nya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, dia sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” “Bukan dia, bukan pula orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan,” jawab Yesus. Jawaban ini memperlihatkan ajakan Yesus untuk tidak menghakimi dan tidak menambahkan beban, seperti yang dilakukan orang-orang Farisi. Sebaliknya, Yesus sedang mengajak mereka untuk menghadirkan solusi. Mata yang buta mesti dicelikkan supaya manusia dapat melihat, menjadi berdaya, dan berkarya menghadirkan kebaikan. Itulah yang dilakukan Allah. Di dalam Kristus, Allah menghadirkan pembebasan dan pemberdayaan. Spirit inilah yang semestinya dihidupi.
Orang percaya dan gereja yang hidup pada masa kini sudah seharusnya menjadi bagian dari solusi. Pandangan-pandangan teologis yang tidak konstruktif sebagaimana disebutkan di atas harus ditransformasi. Sikap fanatik seperti orang Farisi harus ditinggalkan. Berkaryalah seperti Kristus: hadirkan pembebasan dan pemberdayaan, supaya kasih dan damai sejahtera Allah dapat dirasakan oleh manusia. [Pdt. Hariman A. Pattianakotta]
REFLEKSI:
Masalah membutuhkan solusi, bukan fanatisme yang tidak berarti. Maka, jadilah bagian dari solusi di tengah masalah yang terjadi.Ayat Pendukung: 1 Sam. 16:1-13; Mzm. 23; Ef. 5:8-14; Yoh. 9:1-41
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Ia buta sejak lahir. Itu kalimat pembuka yang terasa dingin. Seolah-olah hidupnya sudah ditentukan bahkan sebelum ia sempat memilih apa pun. Orang-orang di sekitarnya lebih tertarik pada sebabnya daripada dirinya. “Siapa yang berdosa?” Pertanyaan itu terdengar teologis, tetapi sebenarnya menyakitkan.
Yesus tidak menjawab sesuai arah diskusi mereka. Ia membuat lumpur, mengoleskannya ke mata orang itu, lalu menyuruhnya pergi ke kolam Siloam. Aneh. Tidak instan. Tidak dramatis. Ia harus berjalan dalam keadaan masih buta, dengan tanah basah menempel di wajahnya.
Saya sering membayangkan momen itu. Langkahnya pasti pelan. Mungkin ada yang menertawakan. Mungkin ada yang kasihan. Mujizat ternyata tidak langsung mengubah segalanya. Setelah ia melihat, masalahnya belum selesai. Ia diinterogasi. Diperdebatkan. Diusir. Perjalanan pulang memang jarang lurus. Orang itu memulai dengan menyebut Yesus “orang.” Lalu “nabi.” Lalu “datang dari Allah.” Dan akhirnya, ketika Yesus menemuinya lagi setelah ia dibuang, ia berkata, “Aku percaya.”
Ia diusir dari komunitasnya, tetapi justru di situlah ia menemukan siapa yang benar-benar menerimanya.
Saya tidak tahu di bagian mana Anda sedang berdiri hari ini. Masih menyebut Yesus “orang”? Atau sudah berani berkata “Aku percaya”? Jalan pulang itu mungkin lebih panjang dari yang kita harapkan. Namun di setiap tahapnya, Ia tidak pernah berhenti mencari kita. Di titik mana dalam perjalanan iman Anda hari ini, dan apakah Anda berani jujur mengakuinya di hadapan-Nya? (ASC)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...


