Ibadah Online
Renungan Harian
-
Sesudah itu, Yosua membacakan seluruh perkataan hukum, baik berkat maupun kutuk, tepat seperti yang tertulis dalam kitab Taurat itu. (Yosua 8:34)
Di masa modern ini, ada berbagai macam peralatan elektronik yang biasa kita gunakan sehari-hari, seperti telepon genggam, laptop, earphone, dan lain-lain. Kita sudah terbiasa memakainya, bahkan sangat bergantung padanya. Namun, semua itu tidak berguna apabila kita lupa mengisi ulang dayanya (recharge).
Yosua adalah pemimpin bangsa Israel pengganti Musa yang menuntun bangsa itu memasuki Negeri Perjanjian dengan terlebih dahulu mengalahkan musuh-musuhnya, yaitu penduduk kota Ai. Yosua percaya bahwa semua kemenangan yang dialami bangsa Israel merupakan anugerah TUHAN. Oleh karena itu, setelah merebut kota Ai, Yosua pertama- tama mendirikan mezbah bagi TUHAN di Gunung Ebal. Yosua mengajak umat Israel untuk mengisi ulang kehidupan rohani mereka, sebab relasi dengan TUHAN adalah kunci kemenangan mereka. Pertama, Yosua mempersembahkan kurban bakaran kepada TUHAN. Kemudian, Yosua menulis kembali salinan hukum Musa dan membacakan seluruh kitab Taurat, baik berkat maupun kutuk, di hadapan seluruh bangsa Israel.
Bagi kita sebagai anak-anak Tuhan, mengisi ulang kerohanian merupakan kebutuhan yang penting karena kita perlu memiliki kekuatan rohani untuk menghadapi berbagai tantangan dan godaan dunia ini. Tanpa relasi yang kuat dengan Tuhan, kehidupan rohani kita akan menjadi kering. Oleh karena itu, kita perlu memprioritaskan waktu setiap hari untuk membaca, merenungkan firman dan berdoa mohon pimpinan-Nya. [Pdt. Melani Ajub, S.Th., M.Pd.]
REFLEKSI:
Recharge rohani kita adalah syarat penting untuk dapat memiliki kekuatan dan ketahanan menghadapi hari esok.Ayat Pendukung: Yos. 8:30-35; Mzm. 78:1-7; Why. 1:13-21
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Sasaran kritik Yesus yang paling tajam bukanlah orang yang tidak beragama, melainkan orang beragama, tepatnya para pemimpin agama. Bacaan kita memperlihatkan bagaimana Yesus menegur para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus mengecam orang-orang yang sungguh saleh, bukan karena la tidak menyukai kesalehan. Ajaran yang muncul dari kesalehan sungguh penting. Yesus sendiri berujar, “lakukan dan peliharalah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu” (ay. 3a), tetapi la segera menambahkan, “tetapi jangan turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” (ay. 3b). Jadi, masalah kesalehan bukanlah terletak pada ajaran yang muncul dari dalamnya, melainkan pada kenyataan bahwa mereka yang mengaku diri saleh dan mengajarkan kesalehan ternyata tidak mempraktikkan apa yang mereka sendiri ajarkan. Kritik Yesus ini tentu berlaku juga untuk kita. Kita terlalu gemar mengatakan yang benar, tetapi terlalu jarang melakukan apa yang kita katakan. Tutur laku kita kerap tidak membenarkan dan malah berlawanan dengan apa yang menjadi tutur kata kita.
Kritik Yesus tidak berhenti pada inkonsistensi ajaran dan kehidupan para pemimpin agama itu. la melanjutkannya dengan kritik atas kesalehan yang dimanfaatkan untuk meraup kedudukan sosial yang lebih tinggi. Siapa yang tak suka dihormati? Siapa yang tak gembira ketika disanjung? Masalahnya, kesalehan yang dipertontonkan oleh para pemimpin agama itu justru mereka manfaatkan bukan untuk mempermuliakan Allah, melainkan untuk menyusun sebuah tangga yang menjulang, dan mereka menaiki tangga itu dengan pongah, sembari menginjak kepala sesama di bawahnya.
Sungguh, kesalehan yang tidak dihidupi dan yang menyengsarakan sesama adalah kesalehan yang berbahaya. Kita perlu memeriksa diri terus-menerus agar tidak terjatuh ke dalam kubangan yang sama. Sebab, jika itu terjadi, kita harus bersiap siap menerima kecaman Yesus. Lebih dari itu, mari menyambut sapaan Injil hari ini, yaitu menjadi saudara yang setara, yang bersama-sama memperjuangkan kesalehan yang benar. Kesalehan yang sejati tidak membangun tangga untuk naik, tetapi turun berlutut melayani. Di situlah iman menjadi sebentuk kerendahan hati yang membebaskan. (JA)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...


