Ibadah Online
Renungan Harian
-
Engkaukah yang turun sampai ke sumber laut, atau berjalan-jalan di dasar samudra dalam? (Ayub 38:16)
Saat mengalami pergumulan, mungkin kita bertanya, “Mengapa begini, Tuhan?” atau “Di mana Engkau saat ini, Tuhan?” Ada pula yang bertanya, “Sampai kapan situasi ini harus aku tanggung?” Aneka pertanyaan tersebut lahir dari beratnya pergumulan yang dihadapi, sekaligus dari kebutuhan manusia untuk memperoleh jawaban. Ada kalanya Allah menjawab pertanyaan kita secara langsung. Namun, ada pula saat-saat ketika Allah tidak menjawab. Bahkan, la menjawab dengan cara yang tidak pernah kita perkirakan.
Ayub bukanlah orang fasik; ia adalah seorang yang saleh. Namun, Ayub mengalami penderitaan. Oleh sebab itu, Ayub mempertanyakan kondisinya kepada Allah. TUHAN akhirnya menjawab Ayub, tetapi bukan dengan jawaban yang ia harapkan. Sebaliknya, TUHAN justru mengajukan sejumlah pertanyaan untuk menyadarkan betapa terbatasnya pemahaman manusia di hadapan TUHAN. Ayub, yang semula ingin “mengadili” TUHAN atas penderitaannya, akhirnya diperhadapkan pada kenyataan bahwa pengetahuannya tidak sebanding dengan hikmat Allah.
Saudara, Tuhan tidak menjelaskan alasan mengapa Ayub menderita, tetapi la mengarahkan Ayub untuk melihat siapa yang mengendalikan segala sesuatu. Ketika menghadapi pergumulan, pikiran kita sering kali hanya berpusat pada masalah itu. Kita lupa bahwa di luar pergumulan, ada kemahakuasaan Allah atas seluruh ciptaan. Oleh karena itu, mari kita senantiasa mengarahkan hati kepada Tuhan. [Pdt. Natanael Setiadi]
REFLEKSI:
Iman bukanlah tentang memahami segala hal, tetapi tentang percaya kepada Dia yang mengendalikan segalanya.Ayat Pendukung: Ayb. 38:12-21; Mzm. 8; 2 Tim. 1:12b-14
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Minggu, 24 Mei 2026
Di Balik Pintu yang Terkunci
Kis. 2:1-21; Maz. 104:24-34,35b; I Kor. 12:3b-13; Yoh. 20:19-23
Rasa takut adalah sesuatu yang valid. Perasaan itu, semakin besar di dalam diri kita, semakin mencekam, dan membuat semakin tak berdaya untuk melakukan sesuatu. Itulah yang dirasakan para murid yang digambarkan dalam injil Yohanes 20. Mereka berada di suatu tempat dengan pintu- pintu terkunci, alasannya sangat bisa dipahami, yakni karena mereka takut kepada para pemuka agama Yahudi. Para pemuka agama Yahudi yang telah membawa Yesus ke hadapan Pilatus dan mendorong mengeksekusi Yesus melalui kekuasaannya di masyarakat saat itu. Kalau guru yang mereka ikuti saja, tersalib di bukit Golgota, maka hal yang sama juga mengancam nyawa mereka. Maka, mereka mengunci pintu – pintu itu untuk memastikan bahwa mereka aman dari ancaman di luar sana. Kita dapat memahami, mereka tak memiliki rasa aman, apalagi rasa damai sejahtera di hati mereka.
Saat mereka tak punya bayangan akan masa depan mereka sebagai murid Yesus, Yesus tiba – tiba datang begitu saja, tanpa mengetuk pintu yang terkunci rapat itu, dan berdiri di tengah – tengah mereka. Bukan di pinggir ruangan. Ia berdiri di pusat kumpulan itu, dan menyampaikan salam ”Damai sejahtera bagi kamu! ” Terkejut, tak percaya, di Injil Lukas, paralel dengan ini, dikatakan murid sempat ragu. Yesus juga memahami keraguan itu. Ia dengan tenang menunjukkan semua bekas lukanya saat disalibkan. Tangan dan lambung – Nya menjadi bukti tak terbantahkan, Ia hidup! Sungguh, terbayang betapa sukacita mereka meluap – luap, dan dalam sekejap rasa takut mereka tadi yang begitu mencekam, menguap begitu saja. Sebab, Yesus yang hadir di tengah mereka itu, sungguh memiliki bekas luka yang sama dengan Yesus yang mati dan dikuburkan. Bayangan akan para pemuka agama yang berkuasa itu, juga lenyap begitu saja.
Di balik pintu yang terkunci itu, para murid yang takut telah berubah drastis karena mengalami perjumpaan dengan Yesus. Pengalaman perjumpaan yang mengubah semua arah hidup mereka. Rasa takut yang berubah menjadi damai dan sukacita, tidak berhenti di ruang itu saja.
Di balik pintu yang terkunci, yang tadinya menjadi ruang sunyi, tempat bersembunyi, telah menjadi titik berangkat pengutusan ke tengah dunia. Yesus yang hadir di tengah mereka, telah menolong mereka membuka kembali pintu yang terkunci itu, untuk melangkah keluar memberitakan kabar baik, Kristus juru selamat dunia.
Di balik pintu yang terkunci itu, Kristus mengembusi mereka, menolong mereka menerima kuasa Roh Kudus, yang akan memampukan mereka berdiri di tengah – tengah bahaya sekalipun. Roh Kudus menemani mereka dalam perjalanan kehidupan, menguatkan dan memampukan, memperlengkapi dan meneguhkan. Rasa takut tak berkuasa lagi, diganti dengan keberanian, yang tercurah di dalam diri mereka. Selamat merayakan hari Pentakosta, Kristuspun menyatakan hal yang sama pada kita kini, ”Terimalah Roh Kudus! ” (DM)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



