Ibadah Online
Renungan Harian
-
Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama mereka…Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yohanes 20:26)
Sekelompok pendaki muda mencoba menaklukkan puncak gunung yang terjal. Di tengah perjalanan, badai besar datang. Rasa takut menguasai diri mereka, dan salah seorang pendaki merasa putus asa serta hampir menyerah. Namun, teman-temannya tidak membiarkan hal itu terjadi. Mereka saling berpegangan tangan, menyemangati, dan berbagi peralatan. Karena saling meneguhkan satu sama lain, akhirnya mereka berhasil mengatasi tantangan dan mencapai puncak gunung tersebut.
Hal serupa juga terjadi dalam teks Yohanes 20:19¬31. Setelah kematian Yesus, para murid ketakutan dan bersembunyi. Namun, di dalam komunitas itulah Yesus hadir, memberi damai, dan menguatkan iman mereka. Bahkan Tomas, yang sempat meragukan kebangkitan Yesus, diteguhkan kembali melalui kesaksian komunitas dan perjumpaannya dengan Yesus. Tidak ada seorang pun yang dilupakan atau terabaikan. Semuanya diperhatikan dan diteguhkan.
Dari kisah tersebut kita belajar bahwa iman kita dikuatkan dalam kebersamaan, dalam persekutuan, dalam komunitas yang bersedia meneguhkan satu sama lain. Di dalam komunitas yang saling meneguhkan, iman menemukan rumahnya, harapan menemukan suaranya, dan kasih menemukan kekuatannya. Mari kita bentuk komunitas kita—keluarga, gereja, dan sebagainya— sebagai tempat di mana iman, kasih, dan pengharapan tumbuh kuat karena Yesus hidup di tengah-tengah kita. [Pdt. Jotje H. Karuh]
DOA:
Tuhan, mampukan kami untuk menjadi bagian dari komunitas yang saling menguatkan, mendukung, dan membangun iman sesama kami. Amin.Ayat Pendukung: Kis. 2:14a, 22-32; Mzm. 16; 1 Ptr. 1:3-9; Yoh. 20:19-31
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Kita hidup di zaman yang penuh ketidakpastian. Berita tentang konflik, krisis ekonomi, tekanan hidup, hingga pergumulan pribadi sering membuat hati terasa cemas. Banyak orang tampak “baik-baik saja” di luar, tetapi di dalam penuh ketakutan. Takut gagal, takut kehilangan, takut masa depan yang tidak jelas.
Tidak sedikit juga yang hidup seperti murid-murid setelah kematian Yesus: bersembunyi, menutup diri, dan kehilangan arah. Pintu-pintu kehidupan seakan tertutup rapat karena rasa takut dan kecewa. Harapan terasa redup, bahkan hampir padam. Namun, di tengah kondisi seperti itu, firman Tuhan hari ini membawa kabar yang mengubah segalanya.
3 realitas kehadiran Kristus sebagai sumber pengharapan yang sejati:
- Kristus Hadir di Tengah Ketakutan para murid lalu berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” (19-23). Ucapan ini bukan sekedar salam tapi jaminan kehadiran Kristus, tanda bahwa pengharapan itu nyata.
- Kehadiran Kristus Memulihkan Iman yang Ragu (ayat 24-29) Tomas tidak percaya begitu saja. Ia berkata bahwa ia harus melihat dan menyentuh sendiri luka Yesus. Yesus tidak menolak Tomas. Ia datang kembali dan mengundangnya untuk melihat dan percaya. Keraguan bukan akhir dari iman. Kristus datang untuk memulihkan iman yang lemah.
- Kristus Memberi Pengharapan yang Menghidupkan (ayat 30-31)
Injil Yohanes ditulis supaya kita percaya bahwa Yesus adalah Mesias, dan oleh iman kita memperoleh hidup dalam nama-Nya. Pengharapan kita tidak bergantung pada situasi, tetapi pada Pribadi Kristus yang hidup. (LS)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...




