Ibadah Online
Renungan Harian
  • BAHAYA KEDENGKIAN

    Matius 27:11-54

    Ia sudah mengetahui bahwa mereka menyerahkan Yesus karena dengki. (Matius 27:18)

    Seorang sahabat membagikan kisah pilu. Ia dijatuhkan oleh temannya sendiri karena rasa dengki. Dalam relasi, hal semacam ini memang sering terjadi, terlebih di dunia kerja yang sarat dengan kompetisi. Di tempat kerja, ada orang- orang tertentu yang tidak senang melihat orang lain lebih dari dirinya. Orang yang narsisistik biasanya demikian.

    Yesus diarak dan dihukum karena orang lain iri hati kepada-Nya. Padahal, Yesus tidak bersalah sedikit pun. Pilatus pun sebenarnya tahu bahwa orang banyak, bersama para pemuka agama, mendengki Yesus. Namun, ironisnya, Pilatus tidak berani menegakkan kebenaran. Ia memilih jalan aman. Mungkin Pilatus juga merasa iri kepada Yesus, sebab ia tidak mampu seperti Yesus, yang tetap tenang dan kokoh memegang kebenaran. Kedengkian memang membuat akal sehat tidak berfungsi dengan baik. Kedengkian membuat orang menghalalkan segala cara demi ambisi. Dalam bentuk ekstrem, kedengkian bisa mematikan. Seperti yang dialami Yesus: Ia menjadi korban kedengkian massa, para pemuka agama, dan politisi.

    Sahabat, dengki adalah penyakit hati. Kedengkian akan merusak diri sendiri sekaligus orang lain. Berbahagialah atas kesuksesan orang lain. Tak perlu iri hati atau dengki. Tumbuhkan budaya apresiatif, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Yesus telah memberikan diri-Nya sebagai kurban bagi kita, supaya tidak ada lagi korban- korban kedengkian yang baru. [Pdt. Hariman A. Pattianakotta]

    REFLEKSI:
    Menyadari bahaya kedengkian menjadi langkah awal untuk kita memutusnya dan menggantikannya dengan budaya apresiasi.

    Ayat Pendukung: Yes. 50 :4-9a; Mzm. 31:9-16; Flp. 2:5-11; Mat. 27:11-54
    Bahan: Wasiat, renungan keluarga.

Khotbah Minggu
  • Kristus: Rumah yang Dituju

    Matius 21:1–11; Mazmur 118

    Orang banyak menghamparkan jubah. Mereka memotong ranting. Mereka berseru, “Hosana!” Suasananya riuh. Penuh harapan. Seperti seseorang yang akhirnya melihat pemimpin yang ditunggu-tunggu datang memasuki kota.

    Namun Yesus memilih keledai. Bukan kuda perang. Bukan arak-arakan kemenangan seperti yang mungkin mereka bayangkan. Ada ketegangan di sana. Antara ekspektasi dan cara Allah bekerja.

    Beberapa hari kemudian, Yesus masuk ke Bait Allah dan membalikkan meja-meja penukar uang. Tindakan itu keras. Tidak sopan menurut ukuran tertentu. Tetapi Ia sedang menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. Rumah Allah telah dipenuhi suara yang bukan suara doa. Tempat perjumpaan berubah menjadi ruang transaksi.

    Saya sering bertanya dalam hati, kalau Yesus masuk ke “bait” hidup saya, meja apa yang mungkin Ia balik? Aktivitas rohani bisa berjalan. Liturgi bisa tertata. Namun hati pelan-pelan sibuk dengan hal lain.

    Injil Yohanes kelak menyebut bahwa Yesus sendiri adalah Bait itu. Bukan bangunan yang menjadi pusat, melainkan pribadi-Nya. Di dalam Dia, manusia dan Allah bertemu tanpa perantara meja apa pun.

    Minggu Palma selalu terasa seperti gerbang. Orang-orang bersorak, tetapi kita tahu jalan di depan-Nya menuju salib.

    Mungkin pulang bukan sekadar menyambut Dia dengan daun palma. Mungkin pulang berarti membiarkan Dia menata ulang rumah batin kita, meski itu membuat tidak nyaman. Jika Kristus benar-benar adalah rumah yang Anda tuju, bagian mana dari hidup Anda yang perlu Ia bersihkan agar Anda sungguh-sungguh tinggal di dalam-Nya? (ASC)

Antar Kita
  • WEEKEND PASUTRI
    WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
  • GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
    Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di...
  • Mata Air Kasih-Nya
    Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...
Video GKIPI
Teologis
Allah yang Menghadirkan Diri
Kehadiran sesama dalam hidup kita merupakan faktor yang sangat berharga, karena setiap orang penting bagi yang lain, baik dalam skala kecil maupun luas. Interaksi...
Pelayanan yang Panjang
Kisah Para Rasul 19:1-41
Kisah Para Rasul merupakan buku kedua yang dituliskan oleh Lukas kepada Teofilus, dengan tujuan mencatat apa yang dilakukan oleh murid-murid Yesus di masa setelah...
Puasa: Laku Spiritual di Masa Prapaska
Dalam perjalanan hidup sebagai seorang Kristen, pernahkah kita berpuasa? Meskipun puasa sudah tidak asing dipraktikkan oleh umat Allah pada masa lalu, tetapi tak jarang...
Pastoralia
KAMI BERTANYA
KAKAK PENDETA MENJAWAB
Kak, kenapa kalau saya disuruh ikut doa sama papa mama kok ngantuk terus nggak konsentrasi, apalagi kalau doanya lama? Waaaah kakak Pendeta juga suka...
Yesus yang Sulung
Bapak Pendeta yang baik, Mohon pencerahan dari Bapak perihal kebangkitan orang mati. Dalam Kolose 1:18 dikatakan bahwa: Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang...
Kerajaan Surga vs Kerajaan Allah?
Bapak Pendeta yang baik, 1. Apakah sebenarnya yang disebut dengan Kerajaan Allah itu? Samakah ia dengan Kerajaan Surga? Saya sering mendapat penjelasan yang berbeda-beda...
Humanis
Aku mencari wajah-mu, Tuhan…
Kesaksian Dapot Parulian Pandjaitan
Berharga di mata Tuhan (kematian) semua orang yang dikasihi-Nya (Mazmur 116:15) Oops… Kematian? Suatu kata yang sering dihindari orang untuk dibicarakan karena tetap masih...
Kasih-Nya Mengalir
Namanya Helen Jayanti, biasa dipanggil Helen. Saat ini sedang menjalani Praktek Jemaat 1 di GKI Pondok Indah. Lulusan dari UKDW Yogyakarta dan asal gerejanya...
THE ART OF LISTENING
Menjadi pendengar yang baik? Ah, semua juga bisa! Tapi apakah sekadar mendengar bisa disamakan dengan menjadi pendengar yang baik? Komunikasi secara sederhana dapat diartikan...
Kontemplasi
Allah hadir bagi kita
Biarkanlah, biarkanlah itu datang, ya Tuhan. Kami berdoa pada-Mu, biarkanlah hujan berkat turun. Kami menanti, kami menanti. Oh hidupkanlah kembali hati semua orang. (Refrein:...
Belas Kasihan vs Kasihan (Compassion vs Pity)
Belas kasihan menjadi tema yang banyak digaungkan dalam ruang ruang berkomunitas. Tanpa kecuali, Gereja juga sering mendiskusikannya dalam perannya sebagai misi Allah di tengah...
MENCINTA DENGAN SEDERHANA
Aku Ingin Aku ingin mencintaimu ciengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:...
Artikel Lepas
Kami Juga Ingin Belajar
Di zaman ini, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat, manusia justru diperhadapkan dengan berbagai macam masalah sosial seperti kesenjangan, kemiskinan, pengangguran,...
KESAHAJAAN
Dalam sebuah kesempatan perjumpaan saya dengan Pdt. Joas Adiprasetya di sebuah seminar beberapa tahun lalu, ia menyebutkan pernyataan menarik yang dikembangkannya dari kata-kata Henry...
Tidak Pernah SELESAI
Dalam kehidupan ini, banyak pekerjaan yang tidak pernah selesai, mulai dari pekerjaan yang sederhana sampai pekerjaan rumit seperti mengurus negara. Pekerjaan domestik rumah tangga...