Ibadah Online
Renungan Harian
-
Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan banyak sekali pembebasan dilakukan-Nya. (Mazmur 130:7)
Titik nadir terdalam kehidupan adalah suatu kondisi yang menggambarkan kehancuran, ketika berbagai persoalan datang bertubi-tubi, menimbulkan rasa sakit yang begitu mendalam. Dalam situasi seperti ini, apa yang dapat kita lakukan? Ya, berseru kepada Tuhan. Ketika kita berseru kepada-Nya dari kedalaman, Dia pasti mendengarkan. Corrie ten Boom menuliskan dalam bukunya, The Hiding Place, tentang pengalaman hidupnya yang mencekam ketika ia dikirim ke kamp konsentrasi Nazi pada masa Perang Dunia II, karena menyembunyikan orang-orang Yahudi di rumahnya. Ia menyatakan imannya melalui kalimat yang indah, “Tidak ada jurang yang begitu dalam, sehingga kasih Tuhan tidak lebih dalam lagi.”
Dalam situasi terendah, pemazmur pun mengajak umat Israel untuk berseru kepada TUHAN. Sejarah juga mencatat bahwa seperti bangsa Israel yang mengalami penindasan, bangsa kita pun pernah berada dalam “jurang” penjajahan. Perjuangan tanpa kenal lelah yang disertai doa yang tidak pernah berhenti, akhirnya berbuah manis: kemerdekaan. Namun, benarkah kita sudah sungguh-sungguh merdeka?
Jika kita jujur dan membuka mata lebar-lebar, masih banyak orang yang hidup dalam “jurang” penderitaan. Oleh karena itu, pengalaman iman—baik secara pribadi maupun sebagai bangsa—seharusnya mendorong kita untuk menjadi alat di tangan Tuhan. Mari, mengulurkan tangan menjadi jawaban atas doa-doa mereka yang sedang berada dalam jurang kehidupan yang dalam. [Pdt. Nanang]
DOA:
Ya Bapa, berilah kami keyakinan bahwa Engkau mendengarkan suara teriakan kami meminta tolong sekalipun kami berada dalam jurang yang dalam. Amin.Ayat Pendukung: Kej. 43:1-34; Mzm. 130; Kis. 15:1-21
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Sebelum berjumpa dengan perempuan Kanaan, Yesus baru saja berdebat tentang kenajisan. la menegaskan bahwa yang menajiskan manusia keluar dari hati. Segera sesudah itu, Matius membawa Yesus ke daerah Tirus dan Sidon. Di sana muncul seorang perempuan yang, menurut batas agama dan asal-usul, mudah dicap sebagai orang luar. Namun justru perempuan inilah yang berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud.” Sebutan “Anak Daud” menunjukkan bahwa ia melihat sesuatu yang belum dipahami banyak orang Israel. Anehnya, Yesus tidak menjawab sepatah kata pun. Para murid ingin ia disuruh pergi. Ketika percakapan akhirnya terjadi, perempuan itu mendengar kata kata yang keras tentang roti anak-anak dan anjing.
Kita tidak perlu buru-buru membuat bagian ini terdengar nyaman. Perempuan itu berada di hadapan batas yang sungguh terasa: kesunyian, penolakan para murid, serta gambaran yang menempatkannya di luar meja. Namun ia tidak pergi. la masuk ke dalam gambaran tersebut dan menemukan celah kemurahan di sana: “Benar, Tuhan. Namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”
Jawabannya tidak sopan menurut tata sosial yang mengharuskannya tahu diri dan diam. la berani berbicara lagi karena percaya bahwa kemurahan Sang Anak Daud lebih besar daripada batas yang menghalanginya. Bahkan remah dari meja itu cukup untuk memulihkan hidup anaknya.
Yesus kemudian berkata, “Hai ibu, besar imanmu.” Dalam Injil Matius, pujian sebesar ini justru diberikan kepada seorang perempuan Kanaan. Orang yang dianggap berada di luar tampil sebagai teladan iman. Kisah yang dimulai dengan batas berakhir dengan pemulihan, sekaligus mengarah ke ujung Injil ketika para murid kelak diutus kepada segala bangsa.
Namun ketekunan perempuan ini jangan dijadikan syarat bahwa orang terluka harus berjuang cukup keras sebelum layak ditolong. la tidak membeli belas kasih dengan kegigihannya. Imannya berpegang pada keyakinan bahwa kemurahan Tuhan selalu lebih limpah daripada batas yang dibuat manusia. Kadang iman terdengar tidak sopan karena ia menolak percaya bahwa kasih Allah hanya tersedia bagi mereka yang sudah duduk nyaman di meja. (ASC)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...




