Ibadah Online
Renungan Harian
-
Malam itulah TUHAN berjaga-jaga untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Itulah juga malam untuk semua orang Israel turun temurun berjaga-jaga bagi TUHAN. (Keluaran 12:42)
Kita hidup di dunia yang menawarkan segala sesuatu serba cepat. Instan. Semakin cepat sesuatu, semakin tinggi pula nilai jualnya. Keahlian pun dijual dengan iming-iming dapat diperoleh dalam waktu singkat. Tanpa kita sadari, akhirnya kita dibentuk menjadi manusia yang menginginkan segala sesuatu serba cepat. Kita menjadi orang-orang yang kurang sabar.
Kali ini kita membaca perikop yang berbicara tentang tulah ke-10, yaitu kematian anak sulung dari bangsa Mesir. Tulah ini merupakan tulah terakhir, dan pada akhirnya, setelah 430 tahun orang Israel tinggal di Mesir, mereka dapat keluar dan berjalan menuju Tanah Perjanjian. Menarik untuk mencermati bagaimana TUHAN tidak menempuh jalan instan untuk mengeluarkan bangsa Israel. TUHAN memberikan tulah-tulah kepada bangsa Mesir. TUHAN menyatakan karya-Nya melalui seluruh proses tersebut. Keluarnya bangsa Israel melewati sebuah proses yang panjang. TUHAN memakai Musa untuk bernegosiasi dengan Firaun. TUHAN memberikan tulah-tulah kepada bangsa Mesir. TUHAN tidak membebaskan bangsa Israel dengan cara yang cepat. TUHAN memberi waktu untuk berproses, tidak instan.
Di tengah dunia yang menggiring kita untuk terbiasa pada hal yang serba instan dan lebih berorientasi pada hasil, mari kita belajar untuk tidak hanya terpaku pada durasi yang singkat. Mari kita belajar memberi ruang dan menghargai proses. [Pdt. Cordelia Gunawan]
REFLEKSI:
Hargailah setiap proses, jangan hanya mau cepat. Sabar dan belajarlah menikmati proses. Jangan buru-buru.Ayat Pendukung: Kel. 12:14-28; Mzm. 121; 1 Ptr. 2:11-17
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Menegur seseorang sebagai saudara sepersekutuan sangat berbeda dengan menegur seorang rekan kerja di kantor. Di kantor, dengan mudah dapat mengacu kepada aturan yang berlaku yang tertulis dan sudah ditanda tangani oleh yang bersangkutan. Tujuan peneguran yang dilakukanpun biasanya semata hanya untuk membuat pekerjaan tetap dapat berjalan dengan baik. Orang yang ditegur karena tindakannya yang salah dengan melanggar peraturan juga biasanya lebih mudah memahami, menerima konsekuensi, dan melanjutkan pekerjaannya. Tidak demikian halnya saat di gereja. Saat seseorang ditegur, penegur perlu memiliki ‘hati’ yang penuh kasih saat melakukannya. Bahkan sekalipun sudah dilakukan dengan ‘hati’ yang penuh kasih plus ‘hati-hati’ seringkali hasilnya tidak sesuai harapan. Hati retak Gereja retak.
Injil Matius memberikan pengajaran tentang menjaga keharmonisan suatu relasi, antar individu dalam jemaat, tanpa membiarkan sesuatu yang salah terus berjalan. Pertama, seseorang yang mengetahui sesuatu yang salah, perlu memiliki kematangan di dalam menanganinya. la bisa memanggil dan berbicara empat mata dengan yang bersangkutan dengan tujuan pertobatan. Akhir yang diharapkan adalah engkau mendapatkannya kembali. Kalau tidak berhasil, jangan membicarakannya di luar tujuan awal. Melainkan dibahas di ruang terbatas, dua atau tiga orang, supaya kesalahan itu nyata bukan hanya di mata satu orang, sembari menjaga muka orang tersebut. Tahap ini memang bisa jadi makin tidak nyaman, sebab bisa jadi menimbulkan perasaan seolah diadili, apalagi kalau sudah ke tahap akhir, melibatkan jemaat -misalnya pengurus atau majelis- di dalam menyampaikan teguran. Sampai tahap inipun, Matius memberikan kemungkinan terpahit, bahwa seseorang itu tak berubah. Saat itulah biasanya ada perasaan yang membuat semua gelisah. Urusan memperbaiki yang salah, bisa melebar sampai kemana-mana, dan keutuhan persekutuan dipertaruhkan.
Tentu kita selalu berharap, kasih Kristus cukup. Cukup untuk membuat yang menegur dan yang ditegur bahkan orang-orang lainnya memiliki kerendahan hati dan cinta kasih yang memulihkan. Memulihkan hati saudaranya dan hatinya yang terluka. Dalam proses ini, hati yang retak sangat mungkin dialami oleh penegur dan yang ditegur, apalagi sampai ada perkataan-perkataan yang saling melukai. Di tiap gereja, hal ini sangat mungkin terjadi. Bersiaplah memliki hati yang betul-betul murni, di posisi apa pun kita.
Matius 18:20 dengan sangat manis, menuliskan sebuah keadaan yang baik, yakni “Sebab, dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Mengapa ini terdengar manis? Saya membayangkan, orang yang bersitegang itu menaruh egonya dan mengadakan perjumpaan, percakapan yang sulit itu, tegur menegur itu, di dalam nama Tuhan Yesus. Jika itu yang kita lakukan, kata-kata kita pasti terjaga, dan kalaupun terlanjur terluka dan melukai, hati yang retak, gereja yang retak, dibawa kepada-Nya. Tuhan sangat mampu pulihkan. Saya bahkan membayangkan, konflik itu malah mentransformasi relasi sebelumnya, mengubahkan semakin baik. Semakin saling mengenal. Semakin saling mendoakan. Semakin saling peduli. Sebab teguran dan pemulihan, semua dilakukan di dalam nama-Nya.
Dalam persekutuan, dalam kerjasama dengan saudara sepelayanan, menegur dan ditegur adalah hal yang biasa, lakukanlah di dalam nama-Nya dengan penuh kasih. Tuhan memberkati anak-anak-Nya, Tuhan memberkati gereja-Nya. Amin (DM)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



