Ibadah Online
Renungan Harian
-
“… Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Yunus” (Matius 16:4b)
Apa yang salah ketika seseorang meminta bukti, bukan sekadar janji? Tidak ada yang salah. Di dunia yang marak penipuan, janji kerap menjadi strategi ampuh untuk menjerat korban. Oleh karena itu, pembuktian atas sebuah janji menjadi hal yang penting.
Lalu, adakah yang salah ketika kelompok Farisi dan Saduki meminta Yesus membuktikan kemesiasan-Nya? Secara prinsip, tidak ada yang salah. Namun, persoalannya terletak pada sikap mereka yang tidak mau melihat karya-karya Yesus sebagai tanda kemesiasan-Nya. Bukankah sebelumnya Yesus telah menyembuhkan banyak orang sakit dan memberi makan ribuan orang? Semua itu terjadi di depan mata mereka. Bukankah itu merupakan tanda atau bukti bahwa Yesus adalah Mesias?
Tuntutan kepada Yesus untuk memberikan tanda tambahan justru merupakan sikap yang mengada-ada. Karena itu, wajar jika Yesus menolak tuntutan tersebut. Sebaliknya, la memberikan pengajaran tentang tanda Yunus. Yunus adalah seorang utusan Allah bagi kota Niniwe. Namun, Yunus sempat menghindari panggilan itu hingga akhirnya berada di perut ikan selama 3 hari.
Tanda Yunus melambangkan pertobatan dan keselamatan. Yunus yang keluar dari perut ikan menjadi simbol pertobatan, sedangkan Yesus yang bangkit dari kematian menjadi sumber keselamatan bagi manusia. Melalui tanda Yunus, Yesus mengingatkan kita untuk bertobat dan percaya kepada-Nya, seperti penduduk Niniwe yang bertobat dan diselamatkan. [Pdt. Nanang]
DOA:
Ya Tuhan, ajarlah kami untuk dapat melihat tanda-tanda karya-Mu agar kami mampu mengucap syukur dan bertobat. Amin.Ayat Pendukung: 1 Raj. 18:41-46; Mzm. 85:8-13; Mat. 16:1-4
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Matius 14 menempatkan dua perjamuan berdekatan. Yang pertama berlangsung di istana Herodes. Hidangannya berlimpah, para tamunya orang-orang penting, dan sang raja memiliki kuasa. Namun pesta itu berakhir dengan kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah talam. Herodes menyelamatkan muka dengan mengorbankan nyawa orang lain.
Perjamuan berikutnya berlangsung di tempat sunyi. Tidak ada istana, persediaan makanan nyaris tidak ada, dan tamunya orang banyak yang lapar. Ketika hari mulai malam, para murid mengusulkan jalan keluar yang masuk akal: “Suruhlah orang banyak itu pergi.” Keterbatasan segera menjadi alasan untuk menyingkirkan mereka.
Jawaban Yesus mengejutkan: ‘Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Yesus tidak menyangkal bahwa lima roti dan dua ikan terlalu sedikit. la meminta para murid membawa yang sedikit itu kepada-Nya. Roti tersebut la berkati dan pecah-pecahkan, lalu la kembalikan ke tangan para murid untuk dibagikan. Semua orang makan sampai kenyang.
Di sini tema “Allah yang mencukupi, bukan memanjakan” memperoleh artinya. Anugerah Allah tidak menjadikan para murid penonton yang menunggu mukjizat. Yesus melibatkan tangan mereka dalam pemeliharaan-Nya. Kecukupan lahir sebagai roti yang diterima, dipecah, lalu berpindah dari tangan ke tangan sampai semua mendapat bagian.
Kontras kedua meja itu mencapai puncaknya di dalam Kristus. Di meja Herodes, orang lain kehilangan nyawa agar sang raja tetap aman. Di meja Perjamuan Kudus, Sang Raja memberikan tubuh-Nya sendiri agar dunia memperoleh kehidupan. Roti yang kita terima memang kecil, tetapi menunjuk kepada pemberian yang tak terukur: Kristus memberikan diri-Nya.
Kita datang ke meja Tuhan sebagai orang-orang yang membutuhkan anugerah. Sesudahnya, kita diutus sebagai tubuh Kristus yang memberi tempat dan membagikan kehidupan. Kristus mencukupi kita agar keterbatasan tidak menjadi alasan untuk menyingkirkan sesama. (ASC)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...


