Ibadah Online
Renungan Harian
-
Janganlah ada di antaramu Hah lain, dan janganlah engkau sujud menyembah ilah asing. (Mazmur 81:10)
FOMO, fear of missing out. Ungkapan ini sedang tren. FOMO menggambarkan perasaan takut ketinggalan sesuatu yang menarik dan baru, lalu memaksakan diri untuk memperoleh sesuatu yang bukan kebutuhan. Misalnya, membeli barang baru yang sedang viral walaupun harus terjerat pinjaman online.
Mazmur yang kita baca hari ini memperlihatkan kecenderungan Israel yang tidak mau ketinggalan, bahkan mereka ingin menjadi serupa dengan bangsa lain. Untuk itu, mereka rela menyembah ilah-ilah asing, sama seperti bangsa lain. Padahal, mata mereka telah melihat dengan jelas bahwa Allah Yakub-lah yang membawa mereka keluar dari Mesir. Karena itu, Allah-lah yang seharusnya mereka puji dan sembah, bukan ilah. Namun, Israel FOMO! Mereka mudah terpengaruh, tidak punya pendirian, dan kekurangan komitmen. Karena itulah Allah memperingatkan mereka: jangan ada di antara mereka ilah lain. Mereka harus setia pada Allah. Dalam kesetiaan itulah mereka akan hidup dengan penuh damai sejahtera.
Sahabat, ilah-ilah modern kini mengambil banyak rupa, seperti kekuasaan, harta, atau popularitas. Banyak orang terpikat dan berlomba untuk mengejarnya. Mereka digerakkan oleh roh FOMO, lalu menjadi sangat materialistis dan hedonis. Alhasil, nurani yang jujur mereka korbankan. Memilih untuk takut dan hormat pada Tuhan adalah jalan balik yang bijaksana dan cara terbaik untuk meninggalkan FOMO. [Pdt. Hariman A. Pattianakotta]
REFLEKSI:
Kalau kita ketinggalan tren, itu bukan masalah. Namun, kalau kita kehilangan rasa takut akan Tuhan, itu masalah terbesar dalam hidup.Ayat Pendukung: Kej. 24:1-27; Mzm. 81; 2 Yoh. 1:1-13
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Perempuan itu datang ke sumur ketika matahari sedang tinggi. Bukan waktu yang lazim. Biasanya orang mengambil air di pagi atau sore. Siang hari terlalu panas, terlalu menyengat. Mungkin ia memilih waktu itu supaya tidak bertemu siapa-siapa. Tidak perlu bertukar sapa. Tidak perlu menangkap tatapan yang terasa seperti penghakiman kecil yang sudah akrab ia terima setiap hari.
Saya membayangkan lorong hidupnya sudah cukup panjang. Lima kali gagal membangun relasi. Tinggal dengan seseorang yang bahkan tidak disebut suami. Kita sering membaca bagian itu dengan cepat, seolah-olah hanya data moral belaka. Padahal di baliknya pasti ada lelah. Ada kecewa. Ada rasa tidak cukup. Mungkin juga rasa gagal.
Tetapi menariknya, Yesus tidak memulai percakapan dengan ceramah panjang dan perintah pertobatan. Ia justru memulai dengan permintaan sederhana: “Berilah Aku minum.” Percakapan itu pelan-pelan masuk ke wilayah yang lebih dalam. Tentang air. Tentang haus. Tentang hidup yang tidak pernah benar-benar terpuaskan.
Lalu Yesus menyebut masa lalunya. Tidak dengan nada keras. Tidak dengan ancaman. Ia menyebutnya begitu saja, seperti seseorang yang tahu dan tetap tinggal. Lorong gelap itu tidak dihindari. Ia justru dilalui bersama.
Saya sering ingin Tuhan hanya mengambil bagian baik dalam hidup saya. Yang sudah rapi. Yang bisa dipresentasikan. Tetapi perempuan itu belajar sesuatu siang itu: Allah tidak takut pada sejarah kita. Ia masuk ke dalamnya.
Mungkin pulang bukan berarti masa lalu dihapus. Mungkin pulang berarti kita berani berdiri di hadapan-Nya, tanpa lagi bersembunyi di jam-jam sepi.
Adakah bagian hidup Anda yang selama ini Anda hindari, padahal mungkin justru di sanalah Yesus sedang menunggu untuk berbicara dengan Anda? (ASC)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



