Ibadah Online
Renungan Harian
-
“Tetapi, engkau harus pergi ke negeri asalku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang istri bagi Ishak, anakku.” (Kejadian 24:4)
Di tengah dunia yang serba instan dan kompromistis, memilih pasangan atau mengambil keputusan sering kali didasarkan pada hal yang mudah atau cocok di mata sendiri. Namun, bagaimana jika Tuhan menuntut kita untuk tetap berpegang pada nilai-nilai iman?
Kejadian 24 mencatat kisah pencarian istri untuk Ishak. Abraham ingin memastikan bahwa masa depan anaknya tetap dalam jalur perjanjian Allah. Abraham memilih untuk tidak mengambil istri dari perempuan Kanaan. Bukan karena rasisme, tetapi karena iman. Ia tahu bahwa bangsa Kanaan menyembah ilah lain. Ia mengutus hambanya untuk kembali ke sanak saudaranya, tempat di mana nilai-nilai iman yang sama masih hidup. Tindakan ini menunjukkan bahwa bagi Abraham, perjanjian dan kesetiaan kepada Allah amat penting. Kesetiaan kepada TUHAN harus melandasi setiap keputusan hidup termasuk dalam hal relasi dan masa depan. Jalan iman kadang lebih jauh, tetapi selalu mengarah pada janji TUHAN.
Saat ini kita hidup di tengah zaman yang cenderung kompromistis. Nilai-nilai iman bisa tergeser oleh kenikmatan sesaat atau desakan sosial. Oleh karenanya, saat memilih pasangan, pekerjaan, atau mengambil keputusan penting lainnya, janganlah hanya menimbang apa yang paling mudah, tetapi apa yang paling sesuai dengan nilai-nilai iman kita. Ingatlah, hidup bukan soal memilih apa yang populer, melainkan apa yang benar di hadapan Tuhan. [Pdt. Sri Agus Patnaningsih]
DOA:
Ya Tuhan, tuntun kami berani memilih sesuai kehendak dan nilai-Mu. Ajari kami setia meski jalan tidak mudah. Amin.Ayat Pendukung: Kej. 24:1-9; Mzm. 116:1-2, 12-19; Kis. 7:35-43
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Matius 9 berisi kumpulan peristiwa perjumpaan Yesus dan banyak orang. Ada tiga kisah yang menjadi bacaan kita, yaitu pemanggilan Matius (penulis Injil pertama) dan penyembuhan ganda anak kepala rumah ibadat serta perempuan yang sakit pendarahan. Seluruhnya memuncak pada dua pelajaran penting dari pasal ini, yang tercatat di dalam ayat 36-38. Pertama, Kerajaan Allah yang dihadirkan oleh Yesus menampilkan kehidupan yang diwarnai oleh belas kasihan; kedua, Kerajaan Allah mengundang orang-orang yang percaya untuk mengikuti Yesus sebagai murid-murid-Nya, yang harus memberlakukan apa yang diberlakukan Yesus. Tiga kisah yang disajikan di dalam bacaan minggu ini menampilkan kedua sisi tersebut secara unik … dan “mengganggu ”!
Matius yang telah hidup nyaman dan sejahtera sebagai seorang pemungut cukai diundang untuk keluar dari kenyamanannya dan menjadi murid Kristus. Panggilan Yesus kepadanya menjadi sebuah gangguan yang justru mengubah hidup Matius sepenuhnya. Lantas, seorang perempuan yang sakit pendarahan —sebuah penyakit yang dianggap najis —menerima kesembuhan. Tidak ada yang tak layak di mata Yesus yang penuh belas kasihan. Gangguan berikutnya muncul di dalam peristiwa Yesus yang membangkitkan anak kepala rumah ibadat. Semua orang menertawakan Yesus, ketika Ia berkata bahwa anak yang telah mati itu hanyalah tidur. Tawa mereka segera berubah menjadi takjub ketika menyaksikan kebangkitan kembali anak itu.
Injil selalu mengganggu kita. Ia mengganggu logika hidup nyaman, logika kepantasan, dan logika mati-hidup. Injil semacam itu mewartakan Kristus sebagai pusat Kerajaan Allah, yang hadir dalam hidup manusia dengan belas kasihan, serta mengundang kita untuk mengikuti Yesus melalui gangguan demi gangguan tersebut, sebagai murid-murid-Nya. (JA) Matius 9 berisi kumpulan peristiwa perjumpaan Yesus dan banyak orang. Ada tiga kisah yang menjadi bacaan kita, yaitu pemanggilan Matius (penulis Injil pertama) dan penyembuhan ganda anak kepala rumah ibadat serta perempuan yang sakit pendarahan. Seluruhnya memuncak pada dua pelajaran penting dari pasal ini, yang tercatat di dalam ayat 36-38. Pertama, Kerajaan Allah yang dihadirkan oleh Yesus menampilkan kehidupan yang diwarnai oleh belas kasihan; kedua, Kerajaan Allah mengundang orang-orang yang percaya untuk mengikuti Yesus sebagai murid-murid-Nya, yang harus memberlakukan apa yang diberlakukan Yesus.
Tiga kisah yang disajikan di dalam bacaan minggu ini menampilkan kedua sisi tersebut secara unik … dan “ mengganggu”! Matius yang telah hidup nyaman dan sejahtera sebagai seorang pemungut cukai diundang untuk keluar dari kenyamanannya dan menjadi murid Kristus. Panggilan Yesus kepadanya menjadi sebuah gangguan yang justru mengubah hidup Matius sepenuhnya. Lantas, seorang perempuan yang sakit pendarahan— sebuah penyakit yang dianggap najis— menerima kesembuhan. Tidak ada yang tak layak di mata Yesus yang penuh belas kasihan. Gangguan berikutnya muncul di dalam peristiwa Yesus yang membangkitkan anak kepala rumah ibadat. Semua orang menertawakan Yesus, ketika la berkata bahwa anak yang telah mati itu hanyalah tidur. Tawa mereka segera berubah menjadi takjub ketika menyaksikan kebangkitan kembali anak itu.
Injil selalu mengganggu kita. la mengganggu logika hidup nyaman, logika kepantasan, dan logika mati-hidup. Injil semacam itu mewartakan Kristus sebagai pusat Kerajaan Allah, yang hadir dalam hidup manusia dengan belas kasihan, serta mengundang kita untuk mengikuti Yesus melalui gangguan demi gangguan tersebut, sebagai murid-murid-Nya. (JA)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



