Ibadah Online
Renungan Harian
-
Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pemungut-pemungut cukai dan pelacur-pelacur mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. (Matius 21:31b)
Bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang ramah. Tentu saja ini merupakan hal yang positif. Namun, kita juga perlu mencermati bahwa bentuk negatif dari keramahan adalah basa-basi. Kita sering menanyakan kabar hanya sebagai basa-basi, bukan sungguh-sungguh ingin mengetahui keadaan. Kita juga memuji, tetapi ternyata tidak dilandasi ketulusan, melainkan sekadar basa-basi.
Yesus menceritakan perumpamaan tentang dua orang anak yang diminta ayah mereka untuk bekerja di kebun anggur. Anak pertama menolak, tetapi kemudian ia menyesal dan pergi. Anak kedua mengatakan “ya”, tetapi ternyata ia tidak pergi. Mungkin saja anak kedua itu sekadar menjawab sebagai basa-basi agar terlihat baik. Anak pertama merepresentasikan pelacur dan pemungut cukai yang berdosa, tetapi kemudian menyesal dan percaya. Anak kedua melambangkan mereka yang tidak sungguh-sungguh menyesal, bahkan tetap tidak percaya.
Hanya kita dan Tuhan yang mengetahui kadar ketulusan dalam diri kita. Hanya kita yang tahu apakah penyesalan yang kita ucapkan dalam doa hanyalah sekadar basa-basi atau sungguh-sungguh merupakan penyesalan atas kesalahan kita. Kita juga yang paling tahu apakah perkataan kita dalam relasi dengan sesama dilandasi ketulusan atau hanya basa-basi. Marilah, kita belajar untuk tidak terjebak dalam keramahan yang tidak tulus atau berkata sekadar karena tidak enak hati. [Pdt. Cordelia Gunawan]
REFLEKSI:
Belajarlah menjadi orang yang tulus dan bersungguh-sungguh dengan setiap kata yang keluar dari mulut kita.Ayat Pendukung: Yeh. 18:1-4, 25-32; Mzm. 25:1-9; Flp. 2:1-13; Mat. 21:23-32
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah bicara realita hidup, terutama terkait ekonomi dan bisnis, hukum dan aturan-aturan yang ada. Mungkin, kita bisa lebih mudah taat ketika itu ‘sekadar’ wilayah kesalehan pribadi yang kontrolnya ada di tangan kita. Sesuatu yang tak ada sangkut pautnya dengan usaha atau pekerjaan, tetapi kita menjadi nampak tak berdaya untuk bisa taat saat di dunia yang lebih luas. Kesalehan pribadi itu menjadi hambar, tak lagi menggarami hidup kita yang lain. Berat! Sungguh berat, memang! Maka itu, butuh satu tekad. Tekad yang kuat tentu saja.
Tentang tekad. Paulus mengajari Jemaat Filipi, untuk hidup sebagai manusia rohani yang menaruh pikiran dan perasaan yang ada dalam Kristus. la menggambarkan ketaatan Yesus, patronnya tidak tanggung-tanggung langsung merujuk ke ketaatan Yesus sampai misi selesai. Paulus mengisahkan lagi perjalanan Yesus, yang bisa saja mengelak, tetapi menjalani jalan derita itu dengan kerelaan hati, ketabahan, daya tahan yang lahir dari pengosongan diri, dan kesadaran penuh untuk melakukan kehendak-Nya. Berat, tetapi tekad kuat telah membuat Yesus mampu menuntaskan tugas-Nya di dunia ini, meski harus mengalami semua itu.
Bacaan injil kita hari ini, berkisah tentang si sulung, yang hanya punya ketaatan di permukaan dan sesaat saja. Di depan Sang Pemberi tugas, ia dengan manis berkata iya. Namun, la undur, tak jadi menghidupi omongannya sendiri saat akan eksekusi tugasnya. la tak cukup punya tekad, tak cukup mau berlelah-lelah, tak cukup mau menahan penderitaan. Dari sini kita melihat, tanpa satu tekad, maka iya hanyalah iya, yang mengambang di udara, untuk kemudian terbawa angin menjauh dari hidup kita.
Di dunia yang keras ini, di tengah konsekuensi ketaatan yang membuat kita menghadapi kesulitan, manakah yang akan saudara pilih? Kiranya, Tuhan memampukan kita menghidupi kesalehan pribadi kita di tengah-tengah ruang publik, saat hidup bersama dengan manusia-manusia lain, dalam segala urusan. Tidak mudah, maka mintalah Tuhan membersamai saudara melakukannya. Tuhan memberkati. Amin. (DM)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...




