Ibadah Online
Renungan Harian
-
Lalu Musa turun dari Gunung Sinai dengan kedua loh hukum di tangannya. Ketika turun dari gunung itu, ia tidak menyadari bahwa kulit wajahnya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN. (Keluaran 34:29)
Ada orang tertentu yang membuat kita senang memandangnya. Wajah mereka memancarkan sukacita sehingga kita pun turut merasakannya. Wajah yang memancarkan kebaikan membuat kita merasa damai berada di dekatnya. Sebaliknya, ada juga orang-orang yang membuat kita enggan mendekat karena wajahnya memancarkan kebencian, iri hati, kemarahan, atau hal-hal yang negatif.
Musa naik ke Gunung Sinai dan berada di sana selama empat puluh hari empat puluh malam bersama Tuhan. Ia menuliskan Kesepuluh Firman pada kedua loh batu untuk menggantikan loh batu yang telah dihancurkannya ketika ia melihat orang Israel menyembah patung anak lembu emas. Ketika Musa turun dengan membawa kedua loh batu yang baru, wajahnya bercahaya karena ia telah berada bersama TUHAN dan berbicara dengan-Nya secara berhadapan muka. Bacaan hari ini mencatat bahwa orang-orang Israel tidak tahan melihat cahaya kemuliaan TUHAN yang terpancar dari wajah Musa. Oleh karena itu, Musa mengenakan selubung pada wajahnya.
Sesungguhnya, kita memang tidak sanggup memandang cahaya kemuliaan Tuhan. Namun, kita tidak boleh menutupi kasih dan kebaikan Tuhan untuk terpancar dari wajah kita. Sebaliknya, kita dipanggil untuk dengan tulus memancarkan kasih dan kebaikan Tuhan melalui wajah, perkataan, dan perbuatan kita, sehingga orang lain dapat mengalami perjumpaan dengan Tuhan. [Pdt. Em. Ronny Nathanael]
DOA: Ya Tuhan, mampukan kami untuk memancarkan kasih dan kebaikan-Mu agar orang-orang di sekeliling kami mengalami perjumpaan dengan-Mu. Amin.
Ayat Pendukung: Kel. 34:29-35; Mzm. 119:41-48; Yak. 2:14-26
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Dalam bacaan ini, Yesus menghadapi pertanyaan dari orang-orang Farisi dan kemudian bertanya tentang identitas Mesias. Percakapan tersebut mengajak kita melihat lebih dalam hubungan antara perkataan, pemahaman iman, dan ketulusan hati di hadapan Tuhan.
Dalam konteks penutupan bulan keluarga, firman ini dapat menjadi ajakan untuk tidak menggunakan alasan untuk menghindari inti persoalan, melainkan belajar mengasihi Tuhan dan sesama dengan sungguh-sungguh.
Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi anggota keluarga kita atau hanya pandai berbicara tentang kasih? Apakah kita bersedia meminta maaf, mendengarkan, mengampuni dan memperbaiki hubungan atau justru menyalahkan pasangan, anak, orang tua dan keadaan?
Tema minggu ini, Rumah Tanpa Alibi bukanlah rumah yang tidak pernah salah, melainkan rumah yang tidak sibuk mencari alasan untuk membenarkan kesalahan. Di rumah itu, setiap orang belajar berkata jujur, berani bertanggung jawab, dan bersedia memperbaiki diri dalam kasih Tuhan/’
Sebab, keluarga yang sehat bukan keluarga yang selalu benar, melainkan keluarga yang mau bertumbuh dalam kebenaran dan kasih.
Pertanyaan refleksi: Apakah di rumah kita lebih sering mencari alasan untuk membela diri, atau berani mengakui kesalahan dan memperbaiki hubungan? (LS)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...




