Ibadah Online
Renungan Harian
-
Ya Allah, Engkaulah AHahku, pagi-pagi aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku letih merindukan Engkau, seperti tanah yang kering dan kehausan, tiada berair. (Mazmur 63:2)
“Jika tidak berjumpa, rasanya ada yang kosong dalam hidup ini. Berpisah walau sebentar terasa sangat lama. Rindu ini seperti tak tertahankan. Rasanya ingin selalu bersama.” Saudara, pernahkah Anda memiliki perasaan seperti itu? Umumnya, dalam situasi apa perasaan itu muncul? Ya, betul—ketika kita sedang jatuh cinta.
Dalam Mazmur 63, pemazmur mengungkapkan kerinduannya kepada Allah. Cintanya kepada Allah mendorong dia untuk menjadikan Allah sebagai yang terutama. Allah menjadi prioritas utama bagi pemazmur. Hal itu tampak dari ungkapannya: “…pagi-pagi aku mencari Engkau.” Apa yang pertama kita cari ketika memasuki hari yang baru? Bagi pemazmur, Allah adalah Sumber Hidup sejati. “Jiwaku haus kepada-Mu,” demikian seruan pemazmur. Menurut ilmu kedokteran, tanpa asupan makanan manusia dapat bertahan hidup hingga satu bulan, bahkan sampai dua bulan. Namun, tanpa minum, manusia hanya dapat bertahan tiga sampai empat hari. Hanya di dalam Allah dapat ditemukan Air Hidup yang memuaskan dahaga jiwa. Tanpa kehadiran Allah dalam hidupnya, pemazmur menjadi letih, seperti tanah yang kering dan kehausan, tanpa air.
Ketika seseorang sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Allah dan merasakan kasih-Nya, hati dan pikirannya akan dipenuhi kerinduan untuk terus mencari Allah. Setiap hari akan selalu rindu berjumpa dengan-Nya. Tiada hari tanpa kehadiran Allah. [Pdt. Em. Ronny Nathanael]
DOA:
Bapa di surga, mampukan kami untuk terus menumbuhkan dan merawat kerinduan akan diri-Mu. Amin.Ayat Pendukung: Bil. 12:1-9; Mzm. 63:1-8; Why. 18:21-24
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Dalam Matius 22:15-22, orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus melalui pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Mereka memuji Yesus seolah-olah tulus, padahal memiliki niat tersembunyi. Yesus mengetahui kemunafikan mereka dan mengajak mereka melihat persoalan dengan benar. Kemunafikan terjadi ketika perkataan tidak sesuai dengan isi hati dan tindakan. Hal ini dapat terjadi di dalam rumah. Kita bisa terlihat sebagai keluarga yang harmonis di hadapan orang lain, tetapi menyimpan kemarahan, kepahitan, dan ketidakjujuran di antara anggota keluarga. Rumah tanpa kemunafikan bukanlah rumah yang tidak pernah mengalami konflik. Rumah tanpa kemunafikan adalah rumah yang berani berkata jujur, mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaiki diri dalam kasih. Yesus mengingatkan kita untuk hidup benar di hadapan Allah, bukan sekadar terlihat baik di hadapan manusia.
Refleksi: Apakah perkataan dan tindakan kita di rumah sudah mencerminkan kasih Kristus? (LS)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...




