Ibadah Online
Renungan Harian
-
Kamulah saksi-saksi dari semuanya ini. (Lukas 24:48)
Banyak kisah pekabaran Injil yang membuat kita terkesima. Para penginjil rela meninggalkan kampung halaman dan sanak saudara, lalu pergi ke negeri yang jauh. Dari Eropa mereka datang ke Asia dan Indonesia. Para pendeta dan misionaris rela pergi dan tinggal di daerah pedalaman. Mereka adalah saksi yang hebat!
Seorang saksi tidak hanya berkata-kata tentang kebenaran, melainkan sungguh menghidupi kebenaran itu. Dengan matanya ia melihat kebenaran. Hatinya diisi oleh kebenaran, dan ia sudah mengalami indahnya tinggal di dalam kebenaran itu. Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Kamulah saksi-saksi dari semuanya ini.” Sebab mereka sudah mengetahui kesaksian Kitab Suci tentang Mesias. Mereka sendiri sudah melihat Yesus—bagaimana Ia melayani sampai mati di kayu salib dan bangkit pada hari yang ketiga. Karena itu, mereka harus pergi untuk memberitakan tentang pertobatan dan pengampunan di dalam Yesus Kristus. Bukan hanya kepada orang Israel di Yerusalem, tetapi segala bangsa.
Sahabat, menjadi saksi kebangkitan Kristus yang memberitakan pertobatan dan pengampunan adalah tanggung jawab kita. Mungkin kita tidak seperti misionaris yang harus meninggalkan kampung halaman dan sanak saudara. Namun, kita juga dipanggil menjadi saksi yang hebat, yaitu menghidupi dengan sungguh kebenaran yang kita kenal di dalam Kristus, agar orang lain dapat mengenal Kristus. [Pdt. Hariman A. Pattianakotta]
REFLEKSI:
Saksi kebangkitan Kristus memperlihatkan gaya hidup Kristus, yang tak sekadar tahu tentang kebenaran, tetapi menghidupinya dengan utuh.Ayat Pendukung: Yeh. 36:8-15; Mzm. 130; Luk. 24:44-53
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Ia buta sejak lahir. Itu kalimat pembuka yang terasa dingin. Seolah-olah hidupnya sudah ditentukan bahkan sebelum ia sempat memilih apa pun. Orang-orang di sekitarnya lebih tertarik pada sebabnya daripada dirinya. “Siapa yang berdosa?” Pertanyaan itu terdengar teologis, tetapi sebenarnya menyakitkan.
Yesus tidak menjawab sesuai arah diskusi mereka. Ia membuat lumpur, mengoleskannya ke mata orang itu, lalu menyuruhnya pergi ke kolam Siloam. Aneh. Tidak instan. Tidak dramatis. Ia harus berjalan dalam keadaan masih buta, dengan tanah basah menempel di wajahnya.
Saya sering membayangkan momen itu. Langkahnya pasti pelan. Mungkin ada yang menertawakan. Mungkin ada yang kasihan. Mujizat ternyata tidak langsung mengubah segalanya. Setelah ia melihat, masalahnya belum selesai. Ia diinterogasi. Diperdebatkan. Diusir. Perjalanan pulang memang jarang lurus. Orang itu memulai dengan menyebut Yesus “orang.” Lalu “nabi.” Lalu “datang dari Allah.” Dan akhirnya, ketika Yesus menemuinya lagi setelah ia dibuang, ia berkata, “Aku percaya.”
Ia diusir dari komunitasnya, tetapi justru di situlah ia menemukan siapa yang benar-benar menerimanya.
Saya tidak tahu di bagian mana Anda sedang berdiri hari ini. Masih menyebut Yesus “orang”? Atau sudah berani berkata “Aku percaya”? Jalan pulang itu mungkin lebih panjang dari yang kita harapkan. Namun di setiap tahapnya, Ia tidak pernah berhenti mencari kita. Di titik mana dalam perjalanan iman Anda hari ini, dan apakah Anda berani jujur mengakuinya di hadapan-Nya? (ASC)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...

