Renungan Harian
  • Percaya dan Patuh

    Mazmur 105:1-11, 37-45

    Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku keputusan-Nya. la ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang ditetapkan-Nya bagi seribu generasi. (Mazmur 105:7-8)

    Seseorang disebut layak dipercaya salah satunya adalah apabila ia memegang teguh perkataannya. Apa yang ia ucapkan selalu diwujudkan dalam tindakan atau perbuatan. Itu berarti ia tidak pernah ingkar janji. Atau dengan kata lain, ia adalah orang yang setia.

    Demikian pula Allah. Ia tidak pernah melupakan apa yang la firmankan. Karena la juga berkuasa, maka segala ketetapan dan keputusan-Nya berlaku untuk segala bangsa di seluruh muka bumi ini. Ia setia pada perjanjian yang telah dibuat-Nya dengan manusia. Bahkan firman yang ditetapkan-Nya berlaku bagi seribu generasi. Kata “seribu” tidak perlu kita pahami secara matematis. Karena penyebutan angka itu mengandung makna “banyak sekali” bahkan “tak terbatas”. Firman-Nya berlaku bagi seluruh generasi, sampai selama-lamanya. Maka kesetiaan Allah tidak perlu diragukan lagi. Itulah keyakinan yang pemazmur bagikan kepada kita, supaya kita pun mengamini keyakinan tersebut.

    Baiklah kita mengingat bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang setia. Apa yang Ia firmankan, baik itu keputusan-Nya maupun janji-Nya, tidak akan pernah la ingkari atau lupakan. Mari kita menjalani kehidupan ini dengan penuh percaya, karena janji penyertaan dan pemeliharaan-Nya akan selalu ditepati oleh Allah. Sekaligus kita juga dipanggil untuk taat kepada perintah dan ketetapan-Nya. Karena setiap ketetapan-Nya tetap berlaku sampai selama-lamanya. [Pdt. Mungki A. Sasmita]

    DOA:
    Ajarkan kami untuk selalu percaya dan setia kepada-Mu ya Tuhan, karena Engkau sungguh Allah yang setia selamanya. Amin.

    Ayat Pendukung: Yer. 30:12-22; Mzm. 105:1-11, 37-45; Yoh. 12:36-43
    Bahan: Wasiat, renungan keluarga.

Khotbah Minggu
  • Lepaskanlah Kepentingan Diri

    Kejadian 17:1-7, 15-16 / Mazmur 22:24-32 / Roma 4:13-25 / Markus 8:31-38

    Markus menyajikan perbandingan antara pandangan manusia yang cenderung memprioritaskan diri sendiri dan sikap Yesus Kristus yang rela menderita demi kepentingan orang banyak. Penderitaan seringkali dihindari oleh manusia, seperti yang ditunjukkan oleh reaksi Petrus yang mencoba menegur Yesus ketika Ia mengumumkan penderitaan yang akan Ia hadapi. Sikap ini mencerminkan naluri manusia untuk mencari kenyamanan dan keamanan bagi dirinya sendiri.

    Namun, sikap Yesus sangatlah berbeda. Dia dengan tegas menyatakan kesiapannya untuk menderita dan bahkan mati, kemudian bangkit kembali. Tidak ada upaya untuk menghindari atau menjauhi penderitaan yang akan datang, melainkan Ia menerima dan mempersiapkan diri dengan tulus. Sikap ini menjadi panggilan bagi setiap kita untuk melepaskan egoisme demi melayani sesama dan menghadirkan kehidupan bagi sesama.

    Dalam kehidupan sehari-hari, melepaskan diri dari kepentingan pribadi dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk, seperti memberikan waktu, tenaga, atau sumber daya kita untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Ini juga bisa berarti mengalahkan ego dan kesombongan kita untuk memperbaiki hubungan yang rusak atau mengakui kesalahan kita kepada orang lain. Bahkan, bisa juga berarti mengorbankan kesenangan atau kenyamanan pribadi demi melayani kepentingan yang lebih besar, seperti memperjuangkan keadilan sosial atau hak-hak orang yang tertindas.

    Pertanyaannya, apakah kita berani melepaskan sikap egois dan egosentris demi kepentingan orang banyak dan dunia yang lebih besar? Apakah kita siap mengikuti teladan Yesus Kristus yang mengorbankan diri-Nya demi keselamatan banyak orang? (KT)

Antar Kita
  • Mata Air Kasih-Nya
    Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...
  • KELAS KATEKISASI BERIBADAH Dl GEREJA BEDA AZAS
    “Beribadah di Gereja beda azas? Untuk apa?” Mungkin ada yang bertanya seperti itu. Tapi rnemang kegiatan tersebut merupakan salah satu kegiatan yang ada dalam Kurikulum Katekisasi di GKI Pondok Indah. Dengan adanya lebih dari 45.000 denominasi gereja di seluruh...
  • BELAJAR MELAYANI SEDARI KECIL
    Ibadah Anak/Sekolah Minggu sudah selesai, tapi masih banyak Adik adik Sekolah Minggu yang belum beranjak meninggalkan sekolah Tirta Marta – BPK Penabur Pondok Indah. Setelah selesai mengikuti Ibadah Anak, ASM banyak juga yang terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan...
Video GKIPI
Teologis
Pelayanan yang Panjang
Kisah Para Rasul 19:1-41
Kisah Para Rasul merupakan buku kedua yang dituliskan oleh Lukas kepada Teofilus, dengan tujuan mencatat apa yang dilakukan oleh murid-murid Yesus di masa setelah...
Puasa: Laku Spiritual di Masa Prapaska
Dalam perjalanan hidup sebagai seorang Kristen, pernahkah kita berpuasa? Meskipun puasa sudah tidak asing dipraktikkan oleh umat Allah pada masa lalu, tetapi tak jarang...
KASIH PERSAHABATAN
Kasih adalah salah satu tema terpenling di da/am kekristenan. Di dalam 1 Korinlus 13:13, Paulus menegaskan bahwa dari seluruh kerumitan hidup Kristiani, hanya tinggal...
Pastoralia
KAMI BERTANYA
KAKAK PENDETA MENJAWAB
Kak, kenapa kalau saya disuruh ikut doa sama papa mama kok ngantuk terus nggak konsentrasi, apalagi kalau doanya lama? Waaaah kakak Pendeta juga suka...
Yesus yang Sulung
Bapak Pendeta yang baik, Mohon pencerahan dari Bapak perihal kebangkitan orang mati. Dalam Kolose 1:18 dikatakan bahwa: Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang...
Kerajaan Surga vs Kerajaan Allah?
Bapak Pendeta yang baik, 1. Apakah sebenarnya yang disebut dengan Kerajaan Allah itu? Samakah ia dengan Kerajaan Surga? Saya sering mendapat penjelasan yang berbeda-beda...
Humanis
Kasih-Nya Mengalir
Namanya Helen Jayanti, biasa dipanggil Helen. Saat ini sedang menjalani Praktek Jemaat 1 di GKI Pondok Indah. Lulusan dari UKDW Yogyakarta dan asal gerejanya...
THE ART OF LISTENING
Menjadi pendengar yang baik? Ah, semua juga bisa! Tapi apakah sekadar mendengar bisa disamakan dengan menjadi pendengar yang baik? Komunikasi secara sederhana dapat diartikan...
MINDFUL EATING
Alasan terutama untuk menjadi mindful adalah dengan menyadari bahwa tubuh ini adalah bait Allah yang perlu kita syukuri dan jaga untuk dapat terus mengerjakan...
Kontemplasi
Belas Kasihan vs Kasihan (Compassion vs Pity)
Belas kasihan menjadi tema yang banyak digaungkan dalam ruang ruang berkomunitas. Tanpa kecuali, Gereja juga sering mendiskusikannya dalam perannya sebagai misi Allah di tengah...
MENCINTA DENGAN SEDERHANA
Aku Ingin Aku ingin mencintaimu ciengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:...
SULUNG DALAM PALUNGAN
Persekutuan Perempuan Jumat, 9 Desember yang lalu, temanya adalah “Cinta dalam Kesederhanaan”. Saya jadi ingat puisi Sapardi Djoko Damono, seorang sastrawan Indonesia yang berjudul,...
Artikel Lepas
Kami Juga Ingin Belajar
Di zaman ini, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat, manusia justru diperhadapkan dengan berbagai macam masalah sosial seperti kesenjangan, kemiskinan, pengangguran,...
KESAHAJAAN
Dalam sebuah kesempatan perjumpaan saya dengan Pdt. Joas Adiprasetya di sebuah seminar beberapa tahun lalu, ia menyebutkan pernyataan menarik yang dikembangkannya dari kata-kata Henry...
Tidak Pernah SELESAI
Dalam kehidupan ini, banyak pekerjaan yang tidak pernah selesai, mulai dari pekerjaan yang sederhana sampai pekerjaan rumit seperti mengurus negara. Pekerjaan domestik rumah tangga...