Ibadah Online
Renungan Harian
-
Sebab itu, sebagai anak-anak yang terkasih, teladanilah Allah. (Efesus 5:1)
Seorang anak cenderung meniru perilaku orangtuanya. Proses ini dikenal dengan istilah imitasi. Hal ini merupakan bagian penting dalam tumbuh kembang anak. Melalui proses imitasi, anak menyerap berbagai aspek perilaku orangtuanya, termasuk gerak, cara bicara, dan kebiasaan lainnya.
Paulus menyapa orang-orang Kristen di Efesus sebagai anak-anak yang terkasih. Maksudnya, mereka adalah anak-anak yang sangat dikasihi Allah. Sebagai anak-anak Allah, mereka memiliki teladan, yaitu Yesus Kristus. Oleh karena itu, mereka diminta untuk meninggalkan cara hidup yang lama dan meneladani kehidupan Yesus yang telah mengasihi serta memberikan diri-Nya. Sebutan “anak-anak Tuhan” bagi para pengikut Kristus seharusnya memotivasi kita untuk mengalami proses imitasi, yaitu menyerap berbagai aspek perilaku yang diteladankan oleh Yesus. Dengan demikian, kita tidak lagi hidup dalam percabulan, segala bentuk kecemaran, maupun keserakahan. Jika Yesus menjadi teladan dalam hidup kita, tidak pantas lagi kita berkata-kata kotor, kasar, atau membual. Sebaliknya, kita menjadi pribadi yang gemar mengucap syukur dan rela berkorban seperti Yesus.
Marilah kita menguji diri masing-masing: apakah kita sungguh-sungguh telah menyerap perilaku dan karakter Yesus? Ataukah tabiat kita masih sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Tuhan? Jika demikian, masih layakkah kita disebut sebagai anak-anak Tuhan? [Pdt. Nanang]
DOA:
Ya Allah, ampunilah kami apabila belum berhasil meneladani Kristus, berilah kesempatan agar kami layak disebut anak-anak-Mu. Amin.Ayat Pendukung: Yer. 15:1-9; Mzm. 26:1-8; 2 Tes. 2:7-12
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Pada ulang tahun gereja, kata “pembaruan” mudah diterjemahkan sebagai program baru, tata kerja baru, atau cara pelayanan yang lebih relevan dengan zaman. Semua itu mungkin diperlukan. Namun Roma 12 membawa kita melihatnya lebih dalam. Paulus memulai nasihatnya dengan ungkapan “demi kemurahan Allah”. Sebelum berbicara tentang apa yang perlu dilakukan jemaat, ia menunjuk kepada belas kasih Allah yang telah menyelamatkan mereka.
Karena kemurahan itulah umat diminta mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup. Tubuh membawa ibadah keluar dari wilayah kata-kata dan perasaan. Waktu, tenaga, uang, kuasa, serta cara kita memperlakukan orang lain ikut diletakkan di hadapan Allah. Gereja mulai diperbarui ketika seluruh kehidupannya kembali menjadi milik Tuhan.
Lalu Paulus berkata, “Berubahlah oleh pembaruan budimu.” Menarik, kata kerjanya berbentuk pasif: umat diminta membiarkan dirinya diubah. Gereja tidak menciptakan dirinya kembali sesuka hati. la terus belajar melepaskan pola zaman yang membentuknya, lalu menimbang apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. Ukuran pembaruan bukan seberapa baru sesuatu terlihat, melainkan seberapa jernih gereja mengenali kehendak Allah.
Sesudah berbicara tentang budi yang diperbarui, Paulus segera membahas cara seseorang menilai dirinya. Jangan menganggap diri lebih tinggi daripada yang sepatutnya. Lalu ia berbicara tentang satu tubuh dengan banyak anggota dan karunia. Rupanya pembaruan pikiran memiliki bentuk yang sangat nyata: kerendahan hati. Karunia tidak lagi dipakai untuk meninggikan diri atau berebut tempat. Setiap pemberian Allah dipakai untuk melayani kehidupan bersama.
Di tengah perayaan HUT GKI dan Republik Indonesia, gereja dipanggil berkarya di negeri ini tanpa menyerap pola kesombongan, perebutan kuasa, dan kepentingan diri. Gereja perlu terus bertanya: Apakah kehidupan kita makin menyerupai Kristus? Karunia siapa yang belum mendapat tempat? Bagi siapa pelayanan kita sungguh menjadi kabar baik?
Bertambah usia adalah anugerah; menjadi dewasa adalah panggilan. Gereja yang terus membarui diri ialah gereja yang terus kembali kepada kemurahan Allah, membiarkan budinya diubah, dan menyerahkan seluruh karunianya bagi kehidupan dunia yang dikasihi-Nya. (ASC)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



