Ibadah Online
Renungan Harian
-
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai Kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang benar. (Matius 23:29)
Munafik dalam KBBI berarti orang yang berpura-pura percaya atau setia pada suatu agama atau keyakinan tertentu, tetapi sebenarnya tidak dalam hatinya, serta sering mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya; dengan kata lain, bermuka dua.
Bagian Alkitab yang kita baca merupakan sebagian dari kecaman terhadap orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Orang Farisi dan para ahli Taurat kerap dikategorikan sebagai orang munafik. Mereka memahami Taurat dengan baik, menafsirkan, mengajar, dan menerapkan hukum Yahudi serta Taurat secara ketat. Keketatan dan ketaatan pada Taurat cenderung membuat mereka merasa benar dan menghakimi orang lain. Mereka merasa sebagai pihak yang paling saleh dan paling setia menjalankan hukum. Namun, dalam kenyataannya mereka tidak menjadi berkat; sebaliknya mereka menjadi batu sandungan bagi orang percaya pada saat itu. Sungguh sangat miris.
Kita sering merasa dan menunjukkan betapa salehnya kita. Kita bahkan dapat menyalahkan orang lain dan menganggap diri kita yang paling benar. Hal itu membawa kita pada kemunafikan. Wajah kemunafikan lainnya adalah ketika kita menyembunyikan kejahatan kita di balik bahasa-bahasa iman. Kita membungkus pikiran-pikiran negatif dengan kesalehan-kesalehan yang tampak. Kiranya kita mau belajar untuk tidak terjebak dalam kemunafikan dan tidak mengenakan topeng kesalehan. Mari belajar terus menjadi anak-anak Tuhan yang otentik. [Pdt. Cordelia Gunawan]
REFLEKSI:
Biarlah yang terpancar dalam keseharian kita bukanlah topeng, melainkan diri kita yang sesungguhnya.Ayat Pendukung: Yeh. 33:1-6; Mzm. 119:33-40; Mat. 23:29-36
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Petrus baru saja mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Namun ketika Yesus mulai menjelaskan bahwa la harus pergi ke Yerusalem, menderita, dibunuh, dan dibangkitkan, Petrus menarik-Nya ke samping dan menegur-Nya. la menerima gelar Mesias, tetapi menolak jalan yang akan ditempuh Sang Mesias.
Jawaban Yesus terdengar sangat keras: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku.” Namun ada detail yang mudah terlewat. Secara harfiah Yesus berkata, “Pergilah ke belakang-Ku.” Sesudah itu la berkata kepada para murid, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Ungkapan “di bclakang-Ku” muncul kembali.
Petrus telah berpindah tempat.Seorang murid semestinya berjalan di belakang gurunya, tetapi Petrus maju ke depan dan mencoba menentukan jalan bagi Yesus. la menginginkan kemuliaan tanpa penderitaan, kemenangan tanpa penyerahan diri. Yesus menyuruhnya kembali ke tempat seorang murid: di belakang Sang Guru.
Di sanalah makna menyangkal diri mulai terlihat. Yesus tidak mengajarkan kebencian terhadap diri sendiri. la meminta para murid melepaskan tuntutan untuk mengendalikan jalan-Nya dan menjadikan keselamatan diri sebagai ukuran tertinggi. Salib pada masa itu juga bukan sebutan bagi setiap kesulitan kecil. Salib adalah alat kekuasaan Romawi untuk mempermalukan dan mematikan. Memikul salib berarti tetap setia kepada jalan Kristus sekalipun kesetiaan itu menuntut harga.
Karena itu, teks ini tidak boleh dipakai untuk menyuruh korban kekerasan bertahan dalam penindasan. Salib bukan pembenaran bagi penderitaan yang dipaksakan orang lain. Salib adalah bentuk kehidupan yang mengikuti Yesus: berani kehilangan keuntungan, status, atau rasa aman demi kasih dan kebenaran Allah.
Kita biasanya meminta Yesus memberkati jalan yang sudah kita pilih. Dalam perikop ini, Yesus memanggil kita kembali ke belakang-Nya. Kita mungkin tidak melihat seluruh jalan dan tidak memperoleh jalan pintas. Namun kita mengikuti Dia yang berjalan menuju salib dan kebangkitan. Di belakang-Nya, kehilangan bukan kata terakhir. (ASC)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...


