Ibadah Online
Renungan Harian
-
Di padang gurun itu segenap umat Israel bersungut-sungut kepada Musa dan Harun. (Keluaran 16:2)
Seorang ibu mengalami depresi akibat kesibukan kesehariannya. Setiap hari ia sibuk mengurus dua anak balitanya. Rumahnya terus berantakan. Ia juga sibuk mengurus semua keperluan suaminya. Ia sibuk mengurus rumahnya. Ia kesal, marah, dan lelah. Ia berada di titik depresi; ia merasa tidak kuat lagi. Ia merasa hidupnya hanyalah beban. Sampai suatu ketika, ia pergi ke seorang psikolog. Psikolog itu mengatakan kepadanya, “Sekarang bayangkan rumahmu. Bayangkan rumahmu rapi, tenang, dan damai. Kamu bisa melakukan banyak hal. Kamu bebas melakukan apa saja. Namun, coba bayangkan setiap sudut rumahmu, dan lihatlah: adakah orang di sana?” Dalam bayangannya, ia membayangkan rumah yang rapi, tenang, dan damai, tetapi tidak ada satu orang pun di sana. Ia mencari suaminya, mencari anak-anaknya, tetapi mereka semua tidak ada. Ia menangis dan berkata, “Seharusnya saya bersyukur. Seharusnya saya tidak sibuk mengeluh dan hanya melihat yang kurang.”
Bangsa Israel keluar dari Mesir, tetapi mereka sibuk bersungut-sungut. Mereka sibuk melihat hal-hal yang tidak menyenangkan, tidak bersyukur, dan hanya mengeluh.
Dalam kehidupan, jangan hanya melihat hal-hal yang tidak ideal. Jangan hanya bisa bersungut-sungut dan mengeluh. Jangan-jangan hal yang kita anggap sebagai beban sebenarnya adalah bagian dari anugerah Tuhan untuk kita. Masih banyak hal yang dapat kita syukuri. [Pdt. Cordelia Gunawan]
REFLEKSI:
Berhenti bersungut, belajarlah bersyukur.Ayat Pendukung: Kel. 16:1-21; Mzm. 105:1-6, 37-45; 2 Kor. 13:5-10
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
“Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Sebuah pertanyaan yang dilontarkan Petrus kepada Yesus, dan masih sering menjadi pergumulan banyak orang.
Tentang mengampuni. Mengampuni adalah satu tindakan yang tak mudah dilakukan, sebab melibatkan hati yang luka. Seberapa dalam luka yang diberikan dan seberapa sering ia melukai, menjadi pertimbangan seseorang memberikan pengampunan kepada mereka yang bersalah kepadanya. Saat Petrus mengajukan angka tujuh kali, itu angka yang cukup banyak bukan? Biasanya orang malah menghitung sampai angka tiga, lalu kalau sudah tiga kali, maka ia akan merasa percuma berelasi lagi dengan orang ini, sebab diampuni, berelasi, eh melakukan hal yang membuat luka lagi. Tetapi untuk menjawab Petrus, kita tahu Yesus menyodorkan sebuah angka yang menunjukkan pengampunan yang betul-betul tanpa kendali. Hati siapakah yang sanggup? Itu sungguh angka yang banyak, yang mau menunjukkan pengampunan jangan berhitung-hitung. Berikan saja kepada mereka yang bersalah kepadamu. What?!! Mana bisa begitu?
Belum sempat Petrus mendebat, Yesus melanjutkannya dengan sebuah perumpamaan tentang kerajaan surga yang dikaitkan dengan pengampunan yang diberikan tanpa kendali, tanpa perhitungan. Sang raja yang memberi hutang memutihkan begitu saja hutang yang bejibun banyaknya itu. Padahal si pemilik hutang datang dan memohonkan perpanjangan waktu, bukan diputihkan. Tetapi hati sang Raja yang itu tergerak oleh belas kasihan, maka ia mendapatkan pembebasan yang di luar dugaan. Lalu seperti kita sudah tahu, dia keluar, ternyata ada sesama hamba raja, yang berhutang kepadanya juga. Dia berhitung, utang 100 dinar itu tentu besar baginya dan sangat mampu menopang hidupnya yang sedang sulit itu. Perhitungannya membuatnya kehilangan belas kasih. Dia mencekik dan memenjarakan temannya tersebut. Hal ini membuat sang raja marah, dan kembali menimpakan jumlah hutang yang harus ia lunasi, bahkan melibatkan algojo-algojo untuk proses pembayarannya.
Berhitung tentang tiga kali, atau tujuh kali mengampuni seseorang sangatlah manusiawi. Tetapi pertanyaan singkat Petrus dijawab oleh Yesus dengan sebuah pengajaran bahwa dosa kita seluruhnya, sangat banyak, tetapi tak dihitung-hitung oleh-Nya, semua itu telah dihapuskan karena belas kasih Allah. Allah ingin, kita juga tak berhitung saat mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Yesus menutup penjelasannya dengan mengingatkan bahwa pengampunan yang kita berikan kepada saudara kita mestilah diberikan dengan segenap hati.
Saat belas kasih yang mengendalikan kita, maka pengampunan itu dapat diberikan dengan murah hati. Minggu lalu kita belajar menegur dan ditegur, minggu ini kita belajar sebagai yang terluka yang mengampuni. Maka, selamat mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Belas kasih Allah memenuhi hati kita!(DM)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...




