Renungan Harian
  • Membangun dengan Hikmat

    1 Korintus 3:10-23

    Namun, tiap-tiap orang harus memperhatikan bagaimana ia harus membangun di atasnya. (1 Kor. 3:10b)

    Hidup harus terus dibangun. Bukan hanya membangun sarana fisik seperti rumah, gedung, dan jalan. Manusianya pun harus dibangun. Bukan hanya supaya mampu berpikiran maju, juga supaya mampu membina relasi dan berkontribusi positif. Karena itu, bagaimana membangun perlu mendapatkan perhatian serius.

    Paulus mengingatkan jemaat Korintus tentang bagaimana membangun itu dapat diperhatikan. Dasarnya sudah ada, yakni yang telah diletakkan Yesus Kristus. Di atas dasar Yesus Kristuslah jemaat dibangun. Tentu, jemaat yang dimaksudkan di sini adalah orang-orang beriman, bukan gedung. Jadi, hidup mereka sebagai orang percaya yang harus dibangun, supaya mereka maju dalam iman dan mampu berkontribusi bagi kehidupan luas. Pengikut Yesus itu disebut juga sebagai garam dan terang. Artinya, dengan kualitas hidup mereka harus berdampak. Maka, mereka harus membangun hidup dengan hikmat Allah. Mereka harus hidup dengan takut akan Tuhan dan menjadikan firman-Nya sebagai pedoman dalam membangun.

    Tanpa menyepelekan pembangunan fisik, pembangunan manusia adalah keutamaan. Manusia tentu butuh pasar, butuh jalan, butuh bangunan yang aman dan nyaman. Tetapi, kalau karakter dan ilmu tidak dimiliki, kalau moral dan spiritualitas tidak dipunyai, maka bangunan-bangunan itu akan menjadi sekadar artefak. Utamakanlah pembangunan manusia di atas dasar Kristus dan lakukanlah dengan hikmat Allah. [Pdt. Hariman Pattianakotta]

    REFLEKSI:
    Tidak jarang kita begitu mengutamakan pembangunan fisik. Namun, luput memperhatikan tentang membangun iman kita di dalam Kristus.

    Ayat Pendukung: 1 Raj. 6:1-4, 21-22; Mzm. 84; 1 Kor. 3:10-23
    Bahan: Wasiat, renungan keluarga.

Khotbah Minggu
  • Lepaskanlah Kepentingan Diri

    Kejadian 17:1-7, 15-16 / Mazmur 22:24-32 / Roma 4:13-25 / Markus 8:31-38

    Markus menyajikan perbandingan antara pandangan manusia yang cenderung memprioritaskan diri sendiri dan sikap Yesus Kristus yang rela menderita demi kepentingan orang banyak. Penderitaan seringkali dihindari oleh manusia, seperti yang ditunjukkan oleh reaksi Petrus yang mencoba menegur Yesus ketika Ia mengumumkan penderitaan yang akan Ia hadapi. Sikap ini mencerminkan naluri manusia untuk mencari kenyamanan dan keamanan bagi dirinya sendiri.

    Namun, sikap Yesus sangatlah berbeda. Dia dengan tegas menyatakan kesiapannya untuk menderita dan bahkan mati, kemudian bangkit kembali. Tidak ada upaya untuk menghindari atau menjauhi penderitaan yang akan datang, melainkan Ia menerima dan mempersiapkan diri dengan tulus. Sikap ini menjadi panggilan bagi setiap kita untuk melepaskan egoisme demi melayani sesama dan menghadirkan kehidupan bagi sesama.

    Dalam kehidupan sehari-hari, melepaskan diri dari kepentingan pribadi dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk, seperti memberikan waktu, tenaga, atau sumber daya kita untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Ini juga bisa berarti mengalahkan ego dan kesombongan kita untuk memperbaiki hubungan yang rusak atau mengakui kesalahan kita kepada orang lain. Bahkan, bisa juga berarti mengorbankan kesenangan atau kenyamanan pribadi demi melayani kepentingan yang lebih besar, seperti memperjuangkan keadilan sosial atau hak-hak orang yang tertindas.

    Pertanyaannya, apakah kita berani melepaskan sikap egois dan egosentris demi kepentingan orang banyak dan dunia yang lebih besar? Apakah kita siap mengikuti teladan Yesus Kristus yang mengorbankan diri-Nya demi keselamatan banyak orang? (KT)

Antar Kita
  • Mata Air Kasih-Nya
    Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...
  • KELAS KATEKISASI BERIBADAH Dl GEREJA BEDA AZAS
    “Beribadah di Gereja beda azas? Untuk apa?” Mungkin ada yang bertanya seperti itu. Tapi rnemang kegiatan tersebut merupakan salah satu kegiatan yang ada dalam Kurikulum Katekisasi di GKI Pondok Indah. Dengan adanya lebih dari 45.000 denominasi gereja di seluruh...
  • BELAJAR MELAYANI SEDARI KECIL
    Ibadah Anak/Sekolah Minggu sudah selesai, tapi masih banyak Adik adik Sekolah Minggu yang belum beranjak meninggalkan sekolah Tirta Marta – BPK Penabur Pondok Indah. Setelah selesai mengikuti Ibadah Anak, ASM banyak juga yang terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan...
Video GKIPI
Teologis
Pelayanan yang Panjang
Kisah Para Rasul 19:1-41
Kisah Para Rasul merupakan buku kedua yang dituliskan oleh Lukas kepada Teofilus, dengan tujuan mencatat apa yang dilakukan oleh murid-murid Yesus di masa setelah...
Puasa: Laku Spiritual di Masa Prapaska
Dalam perjalanan hidup sebagai seorang Kristen, pernahkah kita berpuasa? Meskipun puasa sudah tidak asing dipraktikkan oleh umat Allah pada masa lalu, tetapi tak jarang...
KASIH PERSAHABATAN
Kasih adalah salah satu tema terpenling di da/am kekristenan. Di dalam 1 Korinlus 13:13, Paulus menegaskan bahwa dari seluruh kerumitan hidup Kristiani, hanya tinggal...
Pastoralia
KAMI BERTANYA
KAKAK PENDETA MENJAWAB
Kak, kenapa kalau saya disuruh ikut doa sama papa mama kok ngantuk terus nggak konsentrasi, apalagi kalau doanya lama? Waaaah kakak Pendeta juga suka...
Yesus yang Sulung
Bapak Pendeta yang baik, Mohon pencerahan dari Bapak perihal kebangkitan orang mati. Dalam Kolose 1:18 dikatakan bahwa: Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang...
Kerajaan Surga vs Kerajaan Allah?
Bapak Pendeta yang baik, 1. Apakah sebenarnya yang disebut dengan Kerajaan Allah itu? Samakah ia dengan Kerajaan Surga? Saya sering mendapat penjelasan yang berbeda-beda...
Humanis
Kasih-Nya Mengalir
Namanya Helen Jayanti, biasa dipanggil Helen. Saat ini sedang menjalani Praktek Jemaat 1 di GKI Pondok Indah. Lulusan dari UKDW Yogyakarta dan asal gerejanya...
THE ART OF LISTENING
Menjadi pendengar yang baik? Ah, semua juga bisa! Tapi apakah sekadar mendengar bisa disamakan dengan menjadi pendengar yang baik? Komunikasi secara sederhana dapat diartikan...
MINDFUL EATING
Alasan terutama untuk menjadi mindful adalah dengan menyadari bahwa tubuh ini adalah bait Allah yang perlu kita syukuri dan jaga untuk dapat terus mengerjakan...
Kontemplasi
Belas Kasihan vs Kasihan (Compassion vs Pity)
Belas kasihan menjadi tema yang banyak digaungkan dalam ruang ruang berkomunitas. Tanpa kecuali, Gereja juga sering mendiskusikannya dalam perannya sebagai misi Allah di tengah...
MENCINTA DENGAN SEDERHANA
Aku Ingin Aku ingin mencintaimu ciengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:...
SULUNG DALAM PALUNGAN
Persekutuan Perempuan Jumat, 9 Desember yang lalu, temanya adalah “Cinta dalam Kesederhanaan”. Saya jadi ingat puisi Sapardi Djoko Damono, seorang sastrawan Indonesia yang berjudul,...
Artikel Lepas
Kami Juga Ingin Belajar
Di zaman ini, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat, manusia justru diperhadapkan dengan berbagai macam masalah sosial seperti kesenjangan, kemiskinan, pengangguran,...
KESAHAJAAN
Dalam sebuah kesempatan perjumpaan saya dengan Pdt. Joas Adiprasetya di sebuah seminar beberapa tahun lalu, ia menyebutkan pernyataan menarik yang dikembangkannya dari kata-kata Henry...
Tidak Pernah SELESAI
Dalam kehidupan ini, banyak pekerjaan yang tidak pernah selesai, mulai dari pekerjaan yang sederhana sampai pekerjaan rumit seperti mengurus negara. Pekerjaan domestik rumah tangga...