Ibadah Online
Renungan Harian
-
“Aku tidak akan lagi menyembunyikan wajah-Ku dari mereka, karena Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas kaum Israel, demikianlah firman Tuhan ALLAH” (Yehezkiel 39:29)
Pagi itu, Rina terdiam menatap genangan kopi di cangkirnya. Rasanya, setiap tetes cairan hitam itu menyimpan bayangan kegagalan kemarin: proyek kantor yang berantakan, salah paham dengan rekan kerja, bahkan janji pada diri sendiri untuk berolahraga pun tidak tertunaikan. Hela napas berat lolos dari bibirnya. Rina tahu, ada penyesalan yang mengendap di dasar hati. Namun, di balik awan mendung perasaannya, secercah pikiran melintas: “Apakah hari ini juga akan berakhir sama?”
Ketegasan Allah terhadap dosa adalah jelas. Namun, belas kasihan Allah untuk pemulihan pascapertobatan juga tegas. Allah tidak terus-menerus tinggal dalam murka. Dia berkenan pada rekonsiliasi yang mendamaikan. Bagi Allah, kegagalan bukan akhir segalanya. Pertobatan adalah berbenah diri demi masa depan yang lebih baik. Tindakan anugerah ini ditempuh Allah sebagai upaya menjadikan Israel sebagai teladan. Bagi Allah yang terbaik bagi dunia ini adalah perbaikan bukan kehancuran.
Setiap hari, kita diundang untuk membuka diri pada karya Roh Kudus. Hati kita menjadi lembut untuk mengakui kesalahan dan berani berubah. Setiap upaya perubahan hidup terjadi bukan dengan kekuatan kita sendiri, tetapi oleh Allah sendiri melalui Roh-Nya yang menguduskan kita. Bentukan Allah bagi diri kita akan menjadi kesaksian bagi orang lain. Ingatlah, Dia adalah Allah yang tidak menyembunyikan wajah-Nya. [Pdt. Essy Eisen]
REFLEKSI:
Bentukan apa yang sedang Allah buat bagi diri kita saat ini?Ayat Pendukung: Yeh. 39:21-29; Mzm. 139:1-12, 23-24; Ibr. 6:13-20
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.
Khotbah Minggu
-
Minggu, 12 Juli 2026
MENDENGAR YANG MENGUBAH
Kejadian 25:19-34;Mazmur 119:105-112; Roma 8:1-11;Matius 13:1-9,18-23
Setiap hari kita mendengar begitu banyak hal: berita, percakapan, nasihat, bahkan firman Tuhan. Namun, tidak semua yang kita dengar mengubah hidup kita. Ada yang hanya lewat di telinga, ada yang kita simpan sesaat, lalu terlupakan. Ada pula firman yang benar-benar mengubah cara kita memandang Allah,diri sendiri dan sesama.
Pelayanan Yesus memperlihatkan kenyataan itu. Banyak orang mendengar pengajaran-Nya, menyaksikan mukjizat-Nya, bahkan melihat kuasa Allah bekerja secara nyata. Namun, tidak semua percaya. Orang Farisi memiliki pengetahuan yang luas tentang Kitab Suci, tetapi ketika Allah bekerja di luar cara yang mereka bayangkan, mereka justru menolak-Nya. Masalah mereka bukan kurang mendengar, melainkan mendengar untuk mempertahankan pemikiran sendiri.
Karena itu Yesus mulai mengajar melalui perumpamaan. Perumpamaan bukan sekadar cerita yang menarik. Melalui cerita, Yesus mengajak setiap orang berhenti sejenak, memeriksa hati dan bertanya: Apakah aku sungguh mau mendengarkan Allah atau hanya mencari pembenaran bagi pikiranku sendiri?
Perumpamaan tentang penabur menunjukkan bahwa benih yang ditaburkan selalu sama. Yang berbeda adalah tanah tempat benih itu jatuh. Demikian pula firman Tuhan. Firman-Nya tetap hidup dan penuh kuasa, tetapi respons setiap orang dapat berbeda. Ada yang menolaknya, ada yang menerimanya sebentar, ada yang membiarkan firman itu terhimpit oleh kekhawatiran hidup, dan ada yang memeliharanya hingga menghasilkan buah.
Kabar baiknya, Allah tidak pernah berhenti menabur. Kasih-Nya tidak bergantung pada kualitas tanah. Dengan kesetiaan-Nya, la terus berbicara, mengundang, dan memberi kesempatan kepada setiap orang untuk mendengar serta mengalami pembaruan hidup.
Karena itu, pertanyaan bagi kita bukanlah, “Apakah saya sudah mendengar firman Tuhan?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah saya bersedia membiarkan firman itu mengubah cara saya memandang Allah, diri saya dan dunia?”
Kiranya setiap kali kita membaca Alkitab, mengikuti ibadah, atau mendengar firman Tuhan, kita tidak berhenti pada pengetahuan baru. Sebaliknya, kita memberi ruang bagi Roh Kudus untuk membentuk hati yang rendah, terbuka, dan siap diubah sehingga hidup kita semakin menghasilkan buah bagi kemuliaan Tuhan. Amin (DVA)
Antar Kita
-
WEP adalah singkatan dari Weekend Pasangan Suami Istri, suatu program belajar bersama selama 3 hari 2 malam untuk pasangan suami istri baik yang baru menikah atau sudah beberapa waktu menjalani pernikahan. Fokus pembelajaran adalah mengenai bagaimana meningkatkan kualitas berkomunikasi...
-
GKI ORCHESTRA: Kidung Pengharapan
Selasa, 12 Maret 2024Sekilas tentang GKI Orchestra GKI Orchestra merupakan ruang bagi remaja-pemuda dari seluruh GKI untuk memberikan talenta dan kerinduannya dalam melayani Tuhan melalui bidang musik. Terbentuk pada tahun 2017 silam, mereka menamai dirinya sebagai “GKI Orchestra” pada pelayanan perdananya di... -
Mata Air Kasih-Nya
Rabu, 21 Juni 2023Yesus adalah Raja, ya benar, tetapi Ia berbeda dari raja yang lain. Sebuah Kerajaan, memiliki bendera, apapun modelnya, bahkan sesederhana selembar kain. Bendera ini membangkitkan kesetiaan emosional dan mendorong mereka yang tergabung di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Bendera itu,...



