Sekte Jubah Mukjizat

upaya menelaah dan memahami alasan larangan Yesus

Belum ada komentar 0 View

Larangan Memberitakan

Sungguh merupakan hal yang menarik untuk membahas pesan—atau tepatnya larangan—yang disampaikan Yesus kepada orang-orang yang baru saja mengalami mukjizat atau peristiwa penting bersama-Nya: “Jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun.”

Hal itu tersurat di dalam Injil pada peristiwa-peristiwa: orang kusta disembuhkan (Matius 8:4, Markus 1:44, Lukas 5:14), dua orang buta disembuhkan (Matius 9:30), banyak orang disembuhkan (Matius 12:16, Markus 3:12), pengakuan Petrus tentang Kemesiasan Yesus (Matius 16:20, Markus 8:30, Lukas 9:21), anak Yairus dihidupkan kembali (Markus 5:43, Lukas 8:56), orang tuli disembuhkan (Markus 7:36), orang buta di Betsaida disembuhkan (Markus 8:26), dan sesaat setelah momen transfigurasi (Matius 17:9, Markus 9:9, Lukas 9:36). Dan mungkin masih banyak lagi pesan serupa pada peristiwa-peristiwa yang lain.

Yang menjadi pertanyaan: mengapa Yesus melakukan/ memerintahkan hal itu? Bukankah baik apabila makin banyak orang mengetahui bahwa Dia punya kuasa dahsyat? Bukankah akan makin mudah dan lebih cepat Dia menghadapi dan meyakinkan orang-orang yang harus mendengarkan kabar baik yang dibawa-Nya? Bukankah hal itu akan memberikan credit point tertentu bagi-Nya di hadapan Orang Farisi, para Ahli Taurat, dan para pemuka agama lain yang juga perlu melihat kenyataan itu serta mendengar penuturan dari orang-orang banyak yang sudah menyaksikannya terlebih dulu?

Waktu Allah ≠ Waktu Manusia

Banyak pembahasan mengenai hal ini yang masing-masing memberikan argumen yang meyakinkan. Yang paling sering mengemuka adalah seperti yang Yesus katakan kepada Maria pada perkawinan di Kana, sebagaimana tertulis dalam Yohanes 2:4: “Saat-Ku belum tiba.” Banyak orang beranggapan bahwa saat yang dimaksud Yesus adalah saat permulaan Dia harus melakukan pekerjaan-Nya. Namun bukankah ketika peristiwa di Kana itu Yesus sudah dibaptis oleh Yohanes dan menerima pencobaan di gurun? Permulaan yang mana lagi yang dimaksudkan? Yang bisa dikatakan sebagai argumen adalah bahwa Yesus/ Allah punya waktu sendiri. Dia tidak bisa didikte oleh manusia—bahkan ibunya sendiri—untuk melakukan sesuatu menurut kehendak manusia.

Allah bekerja menurut waktu-Nya sendiri. Dia punya waktu untuk melaksanakan kehendak-Nya dan menggenapi firman-Nya. Sering kali waktu-Nya tidak sama dengan waktu manusia. Meskipun cukup memberi jawaban, tapi jelas bahwa argumen ini tidak menjawab keseluruhan larangan yang disampaikan oleh Yesus dalam berbagai perisitiwa itu.

Popularitas yang Mengganggu

Hal lain yang sering diungkapkan untuk menjawab pertanyaan itu adalah Yesus menghindari publisitas yang akan membuat-Nya terus dikerubuti orang banyak sehingga kesulitan melakukan pekerjaan-Nya. Kekhawatiran dicurigai sebagai oknum yang membahayakan keamanan juga akan mengundang tentara Romawi untuk terus mengawasi dan memburu-Nya. Jika hal itu terjadi, maka Yesus tidak akan dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota dan mengabarkan berita baiknya di kota-kota yang lain, melainkan harus tinggal di luar kota, di tempat-tempat yang sepi. Lalu, bagaimana Dia akan melakukan pemberitaan dan pekerjaan-Nya?

Fokus Yang Bergeser

Argumen yang lebih dalam mengatakan bahwa Yesus mungkin khawatir bahwa publisitas mukjizat tersebut dapat menghalangi misi-Nya dan mengalihkan perhatian massa dari pesan yang disampaikan-Nya. Mereka mencari Yesus hanya karena mukjizat itu, tanpa pernah paham pada hal/ alasan di balik terjadinya mukjizat itu. Yesus bukan tukang membuat mukjizat, melainkan melalui setiap mukjizat yang dibuat Nya, selalu ada tujuan utama, yakni Nama Allah dimuliakan melalui peristiwa itu. Yesus tidak menginginkan orang orang berfokus pada mukjizat yang dilakukan-Nya, tapi pada pesan yang diberitakan-Nya.

Menemukan Relasi Personal

Ada juga anggapan bahwa Yesus tidak ingin seseorang memberitakan tentang Dia dengan menggunakan versi dan persepsinya sendiri. Yesus berharap bahwa semua orang dalam perjalanan di kota-kota yang dituju Nya akan dapat melihat, bertemu, dan mendapatkan pengalaman iman pribadi dengan-Nya. Pengetahuan tentang Yesus tidak cukup hanya berasal dari orang lain, karena akan menyentuh sisi pengetahuan atau intelektual saja. Pengenalan akan Yesus harus lebih mendalam dari itu, sebab harus sampai pada pengalaman dan relasi personal dengan-Nya.

Menolak Peran Iblis

Yesus juga melarang orang banyak untuk memberitakan siapa diri-Nya melalui kebenaran yang diungkapkan oleh roh-roh jahat, sebab roh-roh jahat adalah bala tentara Iblis. Meskipun dalam pengakuan akan Yesus mereka mengatakan kebenaran, tapi pada hakikatnya mereka adalah penipu dan pembohong. Saat Iblis diberi kesempatan berbicara lebih banyak memaparkan firman Allah, hasilnya malah membuat manusia berbuat dosa dan menuai kematian (ingat: kejadian Adam dan Hawa di taman Eden). Mereka berkata-kata bukan dengan tujuan untuk bersaksi atau menyelamatkan manusia, melainkan ingin membinasakan manusia dengan tipu daya. Akan sangat mudah bagi Iblis dan roh-roh jahatnya membuat kebohongan dengan menceritakan kebenaran pada saat dan situasi ketika kebenaran itu mudah disalahartikan. Tuhan Yesus melarang keras roh roh jahat itu berbicara walau yang dikatakan mereka itu benar, “supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya.” – 2Korintus 2:11.

Alasan Yang Diperintahkan

Namun tidak pada semua peristiwa Yesus melarang orang memberitahukan kejadian yang berkaitan dengan mukjizat-Nya. Dalam beberapa kejadian Dia malah memerintahkan orang untuk memberitakan kepada banyak orang lainnya. Dalam peristiwa dibebaskannya seseorang yang dirasuk dan dikuasai roh jahat di Gerasa (Markus 5:14, Lukas 8:39), dengan jelas dan tegas Yesus malah memerintahkannya untuk memberitahukan kejadian tersebut kepada orang-orang sekampungnya: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!”

Orang itu pun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala hal yang telah diperbuat Yesus atas dirinya. Mengapa demikian? Hampir semua orang di Gerasa dan sekitarnya telah tahu bahwa ia sudah lama dirasuk roh jahat dan duduk di daerah pekuburan. Yesus telah memperkirakan bahwa Dia tidak akan mengunjungi Gerasa dan sekitarnya dalam perjalanan berikutnya. Namun karena penting memberitakan bagaimana kasih karunia Allah juga sampai di Gerasa dan sekitarnya, maka Dia mengizinkan orang itu menyampaikan kesaksiannya. Bukan hanya dengan kata-kata, melainkan juga dengan fakta yang bisa dilihat semua orang: dia yang tadinya dirasuk dan dikuasai roh jahat sehingga harus diasingkan di tempat yang sepi dan jauh, sekarang sudah dipulihkan dan bisa tinggal di kampungnya lagi.

Ada lagi alasan yang menjelaskan mengapa Yesus melarang orang banyak yang mengikut-Nya untuk memberitakan kesembuhan yang mereka alami, seperti yang tertulis dalam Matius 12:19, yakni supaya dalam melakukan pekerjaan dan pengajaran-Nya—menggenapi firman yang disampaikan oleh Yesaya—Dia tidak perlu melayani perbantahan yang tidak perlu. Dia menghindari teriakan, dan juga agar suara-Nya tidak didengarkan orang-orang di jalan jalan.

Juga ada alasan khusus mengenai larangan kepada murid-murid-Nya untuk memberitakan hal-hal tertentu sebelum Dia dibangkitkan dari antara orang mati (pada peristiwa setelah transfigurasi). Hal ini sepertinya ditujukan agar rencana keselamatan Allah melalui pengorbanan-Nya di kayu salib dapat terlaksana tanpa mengalami gangguan yang berarti, di tengah harapan bangsa Yahudi yang ingin menjadikannya raja dan terbebas dari penjajahan Romawi.

Pemahaman via Gelar Perkara

Dari sekian banyak alasan yang bisa dikemukakan mengapa Yesus melarang orang-orang untuk memberitahukan mukjizat yang telah diperbuat-Nya, ada satu kisah yang cukup menarik untuk ditelaah. Kisah dimaksud adalah kesembuhan seorang perempuan yang sudah 12 tahun menderita sakit pendarahan, seperti yang dikisahkan di Matius 9:20-22, Markus 5: 25-34 dan Lukas 8:43-48. Melalui kisah ini dapat didalami sebuah telaah yang cukup menarik tentang kekhawatiran Yesus menghadapi persepsi dan akibat yang ditimbulkannya. Apalagi apabila persepsi itu diolah sendiri oleh orang orang yang mendengar cerita itu dari orang lain—bahkan pelakunya sendiri—jika ia tidak mendapatkan penjelasan dari Yesus.

Mengapa Yesus tiba-tiba mengadakan ‘gelar perkara’ mengenai ‘kuasa’ yang keluar dari diri-Nya di tengah banyaknya kerumunan manusia yang ada di situ? Yesus tiba-tiba berseru: “siapa yang menjamah jubah-Ku!” Satu hal yang kontan membuat murid-murid-Nya merasa keki, jengkel, dan mungkin agak marah. Di tengah kerumunan seperti itu, Yesus bertanya siapa yang menjamah jubah-Nya? Bisa siapa saja! Sebab berjalan bebas di tengah kerumunan padat seperti itu adalah sebuah kemewahan, kalau tidak ingin dikatakan sebagai kemustahilan, tidak tersentuh oleh orang lain. Namun Yesus mengatakan bahwa Dia tidak mengada-ada sebab ada ‘kuasa’ yang keluar dari diri Nya. Yang lain tidak terlalu merasa terhubung dan terlibat secara emosional dengan peristiwa dan pertanyaan itu. Namun di sudut sana seorang perempuan setengah tua, yang tengah menikmati syukurnya, tertunduk ketakutan dan merasa tertuduh dengan pertanyaan itu.

Akhirnya ia menunjukkan diri, dan sambil tersungkur di depan Yesus mengaku bahwa dialah yang menjamah jubah-Nya. Semua orang menjadi tahu bahwa dialah pelakunya. Semua orang jadi mengerti mengapa Yesus bertanya demikian. Ada kuasa yang keluar dari diri-Nya yang menyembuhkan perempuan itu. Perkaranya menjadi jelas bahwa ada seorang perempuan yang telah sakit pendarahan 12 tahun disembuhkan karena telah menjamah jubah Yesus. Gelar perkara itu memberi kesempatan kepada perempuan itu dan orang-orang yang menyaksikan di sana untuk melihat dengan jelas dan tegas Yesus mengatakan kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”

Kekhawatiran Penyimpangan

Kira-kira apa alasannya Yesus melakukan ‘gelar perkara’ itu? Bisakah dibayangkan kemungkinan yang akan terjadi jika hal itu tidak dilakukan Nya dengan sengaja? Perempuan itu mengawali pemikirannya dengan “asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Dan itulah yang terjadi. Tanpa gelar perkara yang dilakukan Yesus, mungkin perempuan itu akan memiliki pemahaman yang berbeda. Ketika ia bersyukur karena sempat menjamah jubah itu dan beroleh kesembuhan, sangat mungkin ia menganggap bahwa jubah itu (sendiri) punya kuasa. Dengan demikian siapa yang bisa menjamin bahwa perempuan itu tidak membangun imannya dan berfokus pada ‘jubah Yesus’? Jika hal itu terjadi, apakah ada jaminan bahwa perempuan itu tidak menjadi pemuja ‘jubah’, sehingga sangat mungkin membangun dan mengembangkan ‘sekte jubah mukjizat’ yang mengajarkan pengikutnya untuk memuja jubah bertuah. Ini tentu akan menimbulkan kemusyrikan dan bidat yang justru menjauh dari rasa syukur serta iman percaya kepada Allah. Ini risikonya!

Perlu bukti akan kekhawatiran Yesus ini? Apa yang tertulis dalam Matius 14:34-36 setidaknya memberikan sedikit gambaran tentang pemahaman tersebut: Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret. Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya. Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh. Apakah persis seperti itu kepastian pemahaman iman mereka? Bisa jadi juga tidak, namun kekhawatiran itu bukannya tidak beralasan, bukan?

Alasan Gelar Perkara

Karenanya Yesus sengaja—bahkan secara demonstratif— melakukan gelar perkara agar jelas bagi semua bahwa yang menyembuhkan perempuan itu adalah Tuhan, bukan jubah. Karena imannya, Tuhan berkenan memberikan kesembuhan kepadanya, yang menjadi tujuan dan fokus dari peristiwa mukjizat itu. Jadi bukan mukjizat itu sendiri yang penting, tapi apa yang ada di balik kejadian itu. Mukjizat hanya sarana untuk mendemonstrasikan pencurahan kasih Allah kepada umat-Nya. Namun dengan memperoleh pemahaman atas apa yang terjadi di balik kejadian mukjizat itu, orang-orang yang menyaksikannya dapat bersyukur dan memuliakan Allah. Itulah tujuan dari semua kejadian mukjizat yang dilakukan Yesus, yakni supaya Nama Allah dimuliakan. Amin.•

|PNT. SUJARWO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Parousia, Kedatangan Kristus yang kedua kali
    Parousia (/ pəˈruːziə /; Yunani: παρουσία) adalah kata Yunani kuno yang berarti kehadiran, kedatangan, atau kunjungan resmi. Dalam Catholic...
  • lambang pengampunan dan pemulihan dari pagutan dosa
  • Maju dengan Sepenuh Hati
    Maju dengan Sepenuh Hati
    Markus 6:14-29
    Tidak diragukan lagi bahwa kita masingmasing ingin maju, tetapi belum tentu sedang bergerak maju. Kita mungkin merasa bahwa kita...
  • Kitab Pengkhotbah
    Kitab Pengkhotbah
    kesia-siaan hidup yang tidak dinikmati dan diberi makna dalam anugerah Tuhan
    Tentang Penulisnya Sudah menjadi anggapan umum bahwa Kitab Pengkhotbah ditulis oleh Salomo (sekitar 935 SM), karena itu kaum tradisional...