Pelayanan yang Panjang

Kisah Para Rasul 19:1-41

Belum ada komentar 99 Views

Kisah Para Rasul merupakan buku kedua yang dituliskan oleh Lukas kepada Teofilus, dengan tujuan mencatat apa yang dilakukan oleh murid-murid Yesus di masa setelah Yesus naik ke surga, dan bagaimana tindakan-tindakan mereka berkontribusi terhadap semakin luasnya jaringan orang-orang yang percaya kepada Yesus, atau yang pada masa itu dikenal sebagai pengikut “Jalan Tuhan”.

Masa yang tercakup dalam Kisah Para Rasul kurang lebih tiga puluh tahun perkembangan jemaat mula-mula. Mayoritas isi dari kitab ini adalah catatan perjalanan Paulus dalam misinya menyampaikan tentang Yesus di berbagai daerah. Sebagai sebuah catatan perjalanan, mungkin kita hanya membacanya secara sekilas, karena terkesan biasa-biasa saja. Namun, ternyata ada banyak detil-detil menarik dalam catatan-catatan Lukas ini.

Dalam Kisah Para Rasul 19:1-41, kita membaca tentang pelayanan Paulus di Efesus. Efesus merupakan salah satu kota yang penting di masa itu sebagai ibukota provinsi Asia dan salah satu kota terbesar dalam wilayah kerajaan Romawi. Efesus berperan sebagai pusat perdagangan, perkembangan budaya dan juga pusat ibadah, dengan adanya kuil Artemis yang dikenal luas di seluruh daerah tersebut. Karena posisinya yang strategis di tepi laut Aegea, Efesus merupakan kota yang banyak dilalui orang. Hal ini juga signifikan untuk penyebaran injil. Lukas mencatat bahwa Paulus tinggal di Efesus selama lebih dari dua tahun. Awalnya, Paulus berusaha untuk meyakinkan orang-orang yang datang di rumah ibadat, namun hal ini ternyata sangat sulit. Dapat kita bayangkan bahwa sekelompok orang yang sudah memiliki keyakinan yang mereka anggap paling benar, tentu sulit menerima pandangan baru yang berbeda dengan keyakinan mereka itu.

Akhirnya, Paulus berpindah tempat, yaitu ke ruang kuliah Tiranus. Tidak ada penjelasan yang pasti mengenai apa itu ruang kuliah Tiranus, namun kemungkinan besar ini merupakan sebuah ruang terbuka di mana orang-orang dapat berkumpul untuk mendengarkan pengajaran dan mengadakan diskusi-diskusi filosofis, yang merupakan suatu hal yang biasa dilakukan di jaman itu. Dengan posisi di ruang terbuka yang tidak terbatas pada satu kelompok tertentu, pesan yang disampaikan oleh Paulus justru tersebar dengan lebih luas, bahkan dikatakan bahwa selama dua tahun di Efesus, Paulus membuat semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan. Mungkin tidak secara literal, namun Lukas di sini hendak menyampaikan adanya pengaruh yang signifikan terhadap penyebaran injil di Asia kecil yang ditimbulkan oleh pengajaran Paulus di ruang terbuka ini, di mana bukan hanya penduduk Efesus melainkan juga orang-orang yang berkunjung ke Efesus yang mendengarkan pengajarannya. Namun, perlu diingat bahwa selain pengaruh tempat, waktu juga memegang peranan penting. Dua tahun yang dihabiskan Paulus di Efesus ini tercatat sebagai waktu terlama Paulus berdiam di satu kota dalam perjalanan misinya. Dalam hal ini kita dapat merefleksikan bagaimana pentingnya konsistensi dan kesabaran dalam sebuah pelayanan, selain juga keterbukaan untuk melakukan sesuatu yang baru. Seandainya Paulus menyerah setelah penolakan yang dihadapinya di rumah ibadat dan melanjutkan perjalanan ke kota lain, mungkin saja penyebaran firman Tuhan tidak seluas apa yang terjadi karena Paulus mengganti strategi pendekatannya.

Selain pengajaran dan diskusi yang dilakukan setiap harinya, tampaknya Paulus juga diberikan kuasa untuk melakukan mukjizat-mukjizat yang luar biasa (ayat 11), khususnya terkait penyembuhan orang-orang sakit dan pengusiran roh jahat. Mukjizat-mukjizat ini menunjukkan kepada kita, sebagaimana pada orang-orang yang mendengar dan melihat Paulus pada waktu itu, bahwa Tuhan sungguh menyertai pelayanan Paulus. Selain itu, tentunya kehadiran mukjizat-mukjizat ini membantu pekerjaan penyebaran injil yang dilakukan oleh Paulus, karena menjadi bukti nyata akan kuasa Tuhan Yesus yang diberitakan Paulus itu. Dalam hal ini, di ayat 13-17, Lukas mencatat sebuah peristiwa yang sangat dahsyat, yang diketahui oleh seluruh penduduk Efesus, yaitu peristiwa ketika roh jahat yang ada di dalam tubuh seseorang menyerang anak-anak dari seorang imam kepala Yahudi yang sok-sokan menggunakan nama Yesus untuk mengusir roh jahat tersebut, padahal mereka sendiri tampaknya bukanlah pengikut Kristus. Tujuh orang anak Skewa ini tampaknya terpesona oleh kuasa yang ditunjukkan oleh Paulus di dalam nama Yesus, dan kemudian menggunakan nama Yesus. Namun, roh jahat itu justru mempertanyakan identitas mereka sebelum akhirnya menyerang mereka. Di bagian ini kita mungkin diingatkan pentingnya tidak sekedar ikut-ikutan dalam ibadah, perkataan, tindakan dan perjalanan hidup kita sebagai orang Kristen, melainkan melakukan sesuatu karena kita sungguh-sungguh menghayatinya.

Menjelang akhir dari pelayanan Paulus yang panjang di Efesus, Lukas mencatat terjadinya suatu peristiwa huru-hara. Peristiwa ini terjadi setelah Paulus selesai mengatur rencana perjalanan selanjutnya, namun belum pergi meninggalkan Efesus. Tampaknya, kehadiran Paulus selama dua tahun di Efesus dan pengaruh berita injil yang disampaikannya menyebabkan kekhawatiran bagi Demetrius, seorang tukang perak yang mendapatkan banyak keuntungan dari penjualan “souvenir” kuil Dewi Artemis. Kuil Dewi Artemis di Efesus dianggap merupakan salah satu keajaiban dunia pada masa itu, dan dikunjungi oleh banyak orang baik yang memang memuja Dewi Artemis atau yang sekedar ingin melihat kemegahan kuil tersebut. Rupanya, pemberitaan Paulus telah perlahan mengurangi jumlah orang yang berkunjung ke kuil tersebut, dan tentu lebih sedikit lagi yang membeli replika yang dibuat oleh Demetrius dan tukang-tukangnya. Akibatnya, tentu Demetrius merasakan kekhawatiran akan masa depannya. Kekhawatiran yang sama tampaknya dimiliki juga oleh banyak orang, khususnya dari pedagang dan pekerja lokal, serta tentunya mereka yang bekerja di kuil Dewi Artemis dan yang memiliki kepercayaan terhadap Dewi Artemis. Oleh karena itulah, seruan Demetrius segera ditanggapi dengan keributan akibat kemarahan yang meluap-luap. Keributan ini berlangsung selama beberapa jam, dan Paulus sebetulnya ingin menghadapi mereka, namun dilarang oleh berbagai pihak. Huru-hara tersebut akhirnya berhasil dibubarkan oleh sekretaris kota Efesus.

Peristiwa huru-hara ini menjadi penting karena pertama-tama ia menunjukkan betapa besarnya Efesus ini terhadap dinamika kepercayaan di daerah Asia Kecil. Jumlah pengikut Yesus terus bertambah, bahkan sampai dianggap sebagai ancaman oleh pihak yang seharusnya sangat mapan mengingat sejarah kota Efesus sebagai pusat penyembahan Dewi Artemis.

Kedua, adanya peristiwa ini menjadi kekhawatiran bagi para pemimpin jemaat di Efesus karena bisa saja timbul huru-hara kembali di masa mendatang, yang mungkin tidak dapat dibendung, sekalipun Paulus sudah meninggalkan Efesus. Itulah sebabnya mengapa di pasal selanjutnya kita membaca bahwa Paulus memberikan penguatan kepada jemaat di Efesus sebelum melanjutkan perjalanannya. Dari peristiwa ini juga, kita dapat merefleksikan banyak hal, namun yang terutama adalah pengaruh pelayanan Paulus di bagaimana Tuhan dapat menggunakan siapa saja untuk membawa kebaikan. Dalam hal ini, kita meyakini bahwa Tuhan yang memberi kebijaksanaan dan menggerakkan sekretaris kota untuk dapat menyampaikan kata-kata yang menenangkan orang-orang yang tengah dipenuhi dengan emosi tersebut sehingga tidak terjadi hal-hal buruk pada Paulus maupun jemaat Kristen di Efesus. Demikian juga dalam hidup kita, Tuhan dapat menggunakan, memberi kebijaksanaan, dan menggerakkan berbagai pihak untuk mewujudkan rencana-Nya, meskipun terkadang mungkin kita tidak menyadari hal tersebut sampai waktu sesudahnya.•

Aiko Wididhana Sumichan

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • KASIH PERSAHABATAN
    Kasih adalah salah satu tema terpenling di da/am kekristenan. Di dalam 1 Korinlus 13:13, Paulus menegaskan bahwa dari seluruh...
  • WHAT WENT WRONG?
    Yosua 7-8
    Seandainya Anda mengalami kegagalan, akankah Anda berdiam diri dan bertanya, “Apa yang salah?” Setelah kemenangan di Yerikho dengan sangat...
  • Menghidupkan Semangat Dan Hati
    Yesaya 57:15
    Seseorang gadis berusia 18 tahun dan berpenampilan menarik berjalan masuk ke dalam ruang konseling. Dia sering menjuarai berbagai kompetisi...
  • Dosa, Celaka, Dan Pertobatan
    sebuah upaya meluruskan pemahaaman penyebab datangnya hukuman & murka Allah
    Membangun Terowongan Air Pada masa pemerintahannya sebagai prefek (gubernur) atau wakil pemerintahan Romawi untuk wilayah Yudea, Pontius Pilatus menghadapi...