WHAT WENT WRONG?

Yosua 7-8

Belum ada komentar 36 Views

Seandainya Anda mengalami kegagalan, akankah Anda berdiam diri dan bertanya, “Apa yang salah?” Setelah kemenangan di Yerikho dengan sangat mudah, Israel mengalami kegagalan di Ai.

Mari kita perhatikan kata penghubung Yosua pasal 6 dan pasal 7:

Dan TUHAN menyertai Yosua dan terdengarlah kabar tentang dia di seluruh negeri itu (6:27). Tetapi orang Israel berubah setia (7:1a)

Kata “tetapi” menunjukkan sebuah kontras. Berita baiknya adalah “Tuhan menyertai Yosua” dan berita buruknya adalah bahwa di tengah umat Tuhan ada yang telah “berubah setia”. Sebuah kejadian di balik layar telah membuat Tuhan murka.

Strategi perang yang Yosua terapkan adalah menyerang dari tengah. Sebuah peperangan dengan membelah wilayah Kanaan menjadi dua. Yosua tidak berfokus menyerang dari samping terlebih dulu, misalnya, berfokus dalam menaklukkan Yerusalem, tetapi ia mengambil jalur tengah, langsung menuju Ai.

Yosua memerintahkan para pengintai untuk mencari tahu tentang kota Ai. Ini merupakan hal penting dalam sebuah strategi perang. Panglima perang tidak akan mengutus pasukannya ke medan perang tanpa perhitungan. Begitu juga dengan kehidupan kita. Kita tidak mengerjakan sesuatu secara buta sekalipun kita dipimpin oleh Roh Kudus. Tuhan menuntut kita untuk mempelajari dengan teliti. Dia menuntut kita untuk merencanakan dengan matang. Yesus pernah berkata, “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? (Lukas 14:28). Nah, “Kemudian kembalilah mereka kepada Yosua dan berkata kepadanya: ‘Tidak usah seluruh bangsa itu pergi, biarlah hanya kira-kira dua atau tiga ribu orang pergi untuk menggempur Ai itu; janganlah kaususahkan seluruh bangsa itu dengan berjalan ke sana, sebab orang-orang di sana sedikit saja’” (7:3).

Kemenangan yang mudah di Yerikho telah mmembuat mereka “over confident” alias terlalu percaya diri. Mereka berubah setia, karena bersandar pada pengalaman mereka dan bukan pada Tuhan. Kesuksesan berpotensi membuat kita sombong dan lengah karena mengira keberhasilan kita merupakan pencapaian kita.

Sangat disayangkan, Yosua kurang peka dalam membaca kesombongan hati orang-orang yang dipimpinnya. Dengan mudah ia terbujuk oleh niat baik. Jika bisa menang dengan 3.000 orang, mengapa harus mengirim 30.000 orang? Yosua kurang peka dalam membaca sinyal kecil yang telah Tuhan tunjukkan, yakni kesombongan hati orang-orang yang dipimpinnya. Spiritual sensitivity is crucial in leadership. Kepekaan spiritual sangat penting dalam kepemimpinan.

Saya percaya bahwa Anda dapat menebak hasilnya. Peperangan yang dihadapi dengan “over-confident” (kepercayaan diri yang berlebihan) ini berakhir dengan kekalahan yang sangat memalukan. Tiga puluh enam orang tewas dan sisanya melarikan diri. Kemungkinan besar 36 orang ini termasuk orang gagah perkasa atau pahlawan yang sangat diandalkan, sehingga kematian mereka membuat 2900-an orang kocar-kacir. Mereka menjadi “tawar hati” (7:5). Padahal sebelumnya orang-orang Kanaan yang tawar hati menghadapi pasukan Yosua, tetapi kini giliran bangsa Israel yang tawar hati. Ironis, bukan?

Hal seperti ini sebenarnya sudah pernah Tuhan peringatkan kepada bangsa Israel.

“Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN… (Ul. 28:15a).
TUHAN akan membiarkan engkau terpukul kalah… (Ul. 28:25a).

Jika dilihat dari respons bangsa Israel ketika hendak menyerang Ai, tampaknya Ai termasuk kota kecil, bahkan jauh lebih kecil daripada Yerikho. Namun ternyata mereka kalah. Peristiwa tersebut mengajarkan kita, “Tanpa Tuhan, masalah kecil menjadi besar.” Without God, small problem becomes BIG PROBLEM.

Hal pertama yang Yosua lakukan setelah mengalami kegagalan:

  • Bukan Menyusun strategi baru,
  • Bukan Melakukan pembalasan,
  • Bukan Mencari Aliansi.

Dia berdoa! (Yosua 7:7-9)

Dan berkatalah Yosua: “Ah, Tuhanku ALLAH, mengapa Engkau menyuruh bangsa ini menyeberangi sungai Yordan? supaya kami diserahkan kepada orang Amori untuk dibinasakan? Lebih baik kalau kami putuskan tadinya untuk tinggal di seberang sungai Yordan itu! O Tuhan, apakah yang akan kukatakan, setelah orang Israel lari membelakangi musuhnya? Apabila hal itu terdengar oleh orang Kanaan dan seluruh penduduk negeri ini, maka mereka akan mengepung kami dan melenyapkan nama kami dari bumi ini. Dan apakah yang akan Kaulakukan untuk memulihkan nama-Mu yang besar itu?

We are too busy doing life, and forget living life. Seseorang pernah mengatakan bahwa kata “Busy” merupakan singkatan dari “Bent under Satan’s Yoke” (dibelenggu di bawah kuk Setan). Mencari keheningan Tuhan di dalam doa menenangkan hati kita. Kita akan memperoleh ketenangan hati ketika berada di dalam hati Allah yang tenang. Seeking the silence of God in prayer quiets the soul. Untuk itu, kita perlu menyediakan “intentional time” to be alone with the Creator.

Kalimat terakhir dalam doa Yosua sangat menarik perhatian saya. Yosua bertanya, “Apakah yang akan Kaulakukan untuk memulihkan nama-Mu yang besar itu?” (7:9). What will you do for Your great name? “What are you going to do, God? Are you going to do nothing? Yosua bagaikan berkata, “Tuhan, selesaikanlah masalah-Mu sendiri.”

Sering kali kita terlalu sibuk memikul masalah sehingga kita tidak melemparkan masalah kita kepada Tuhan. Sering kali kita menjadikan masalah Tuhan sebagai masalah kita. Kegagalan di Ai bukan masalah Yosua, tetapi masalah Tuhan karena menyangkut misi-Nya dan kebesaran nama-Nya. Yosua melemparkan masalah tersebut kepada Tuhan. Yosua bagaikan berkata, “Kami adalah masalah-Mu. Selesaikanlah masalah-Mu.”

Kita tidak tahu berapa lama Yosua berdoa. Yang pasti Yosua sangat sedih karena dia mengoyakkan jubahnya dan berdoa hingga petang (7:6). Respons Tuhan terhadap doa Yosua sungguh menarik. Dia berkata, “Bangunlah! Mengapa engkau sujud demikian?” (7:10). Dengan kata lain, Tuhan berkata, “Get up! What are you doing? Why are you like this? Tuhan menyuruh Yosua untuk berhenti berseru dan bangun dari tempatnya. Dia memanggil Yosua untuk FOKUS!

Tuhan menjelaskan alasan kekalahan mereka. “Orang Israel telah berbuat dosa, mereka melanggar perjanjian-Ku yang Kuperintahkan kepada mereka, mereka mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu, mereka mencurinya, mereka menyembunyikannya dan mereka menaruhnya di antara barang barangnya” (7:11).

Yosua harus membereskan persoalan ini sebelum Tuhan berkenan menyertainya. Tuhan menegaskan, “Aku tidak akan menyertai kamu lagi jika (I will be with you no more unless…) barang-barang yang dikhususkan itu tidak kamu punahkan dari tengah-tengahmu” (7:12b).

We won’t know what went wrong in ministry unless we seek the Lord. Kita tidak akan mengetahui apa yang salah dalam pelayanan kecuali kita mencari Tuhan.

Tuhan tidak langsung memberitahu Yosua siapa di antara mereka yang telah melanggar perjanjian-Nya. Dia menyampaikan bahwa Dia akan menunjukkan siapa orang tersebut pada hari berikutnya. Karena perbuatannya, mereka dikhususkan untuk ditumpas. Sering kali, Tuhan tidak memberitahu kita segala sesuatu sekaligus. Dia memberitahu kita secara bertahap.

Atas perintah-Nya, setiap orang harus menguduskan diri dan berkumpul. Akhan masih belum berniat untuk mengakui perbuatannya. Tuhan menunjukkan suku Yehuda, kaum Zerah, Zabdi (kakek Akhan), Akhan (7:16-18).

Yosua bertanya kepada Akhan, “Anakku, hormatilah TUHAN, Allah Israel, dan mengakulah di hadapan Nya; katakanlah kepadaku apa yang kauperbuat, jangan sembunyikan kepadaku” (7:19). Akhan menjawab Yosua, “Benar, akulah yang berbuat dosa terhadap TUHAN, Allah Israel, sebab beginilah perbuatanku: aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil; semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali” (7:20-21).

Saya percaya jika Akhan mengaku dosanya langsung setelah kekalahan terjadi, maka kisah tersebut pasti akan berubah. Akhan baru mengakui kesalahannya setelah dia tidak bisa mengelak lagi. Artinya, Akhan bukan mengaku karena merasa bersalah, tetapi karena terpaksa.

Hal serupa sebenarnya terjadi beberapa kali. Setiap kali Tuhan menghukum mati orang yang menodai kekudusan Nya berkaitan dengan permulaan hal baru. Ketika bangsa Israel baru memulai ibadah di kemah suci, Tuhan menghukum mati Nadab dan Abihu yang tidak menghormati kekudusan-Nya (Imamat 10). Ketika gereja mula-mula baru dimulai, Tuhan menghukum mati Ananias dan Safira (Kis. 5). Tampaknya, ketegasan Tuhan dalam memulai sebuah hal baru bertujuan untuk meninggalkan pelajaran penting bagi orang-orang di kemudian hari.

Peristiwa tersebut mengingatkan bahwa dosa satu orang berpotensi merusak satu komunitas. “Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan” (Gal. 5:9). Sedikit pemikiran yang tidak berkenan bagi Tuhan dapat membuat kehidupan kita tidak berkenan bagi-Nya.

Pertanyaan yang kerap kali muncul adalah mengapa Tuhan tidak menghukum orang fasik di zaman sekarang seperti Dia menghukum Akhan dan keluarganya? Mengapa Dia malah memberkati orang-orang fasik? Pemazmur mengingatkan, “Apabila orang-orang fasik bertunas seperti tumbuh-tumbuhan, dan orang-orang yang melakukan kejahatan berkembang, ialah supaya mereka dipunahkan untuk selama-lamanya” (Mazmur 92:8).

Setelah masalah Akhan diselesaikan, Tuhan berfirman kepada Yosua. Yosua 8:1-2, “Janganlah takut dan janganlah tawar hati; bawalah seluruh tentara dan bersiaplah, majulah ke Ai. Ketahuilah, Aku serahkan kepadamu raja negeri Ai, rakyatnya, kotanya dan negerinya, dan haruslah kaulakukan kepada Ai dan rajanya, seperti yang kaulakukan kepada Yerikho dan rajanya; hanya barang barangnya dan ternaknya boleh kamu jarah. Suruhlah orang bersembunyi di belakang kota itu.”

Kali ini Tuhan mengubah kebijakan Nya. Mereka diperbolehkan mengambil barang-barang dari orang Ai. Hal tersebut menunjukkan bahwa Tuhan bisa menguji kita dengan sesuatu. Setelah kita lulus ujian, maka Dia mengubah kebijakan-Nya untuk kita. Menarik, bukan?

Tidak hanya itu, Tuhan juga mengajar Yosua strategi perang, yakni mengirim sebagian orang untuk bersembunyi di balik kota itu. Kali ini Yosua lebih berhati-hati. Dia mengirim 30.000 orang, bukan 3.000. Dia menerapkan strategi yang Tuhan ajarkan kepadanya, yakni mengutus 5.000 orang untuk bersembunyi di antara Betel dan Ai. Strategi perang ini menggunakan taktik memancing orang-orang Ai menggunakan kemenangan dan kesombongan mereka. Karena mereka telah menang sebelumnya, maka kali ini mereka akan terpancing oleh kesombongan mereka.

Ketamakan dan kesombongan merupakan musuh besar kehidupan kita. Berapa sering kita tergoda seperti Akhan? Berapa sering kita berkata di dalam hati kita, “Tidak apa-apa, tidak ada yang melihat?” Ketika kita berkata, “Tidak apa-apa, tidak ada yang melihat”, kita lupa bahwa Tuhan melihat. Berapa sering kita tergoda oleh kesombongan kita? Keyakinan diri berlebih (over confident) sungguh berbahaya bagi kehidupan kita. Yang sangat menarik adalah kisah tersebut diakhiri dengan kembali kepada firman Tuhan. Yosua melakukan tepat seperti yang diperintahkan Musa, hamba Tuhan.

seperti yang diperintahkan Musa, hamba TUHAN, kepada orang Israel, menurut apa yang tertulis dalam kitab hukum Musa” (Yos. 8:31a).

seperti yang dahulu diperintahkan oleh Musa, hamba TUHAN, apabila orang memberkati bangsa Israel (8:33b).

Ul. 11:28 Jadi apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke negeri, yang engkau masuki untuk mendudukinya, maka haruslah engkau mengucapkan berkat di atas gunung Gerizim dan kutuk di atas gunung Ebal.

Ul. 27:11-13 Pada hari itu Musa memberi perintah kepada bangsa itu: “Sesudah kamu menyeberangi sungai Yordan, maka mereka inilah yang harus berdiri di gunung Gerizim untuk memberkati bangsa itu, yakni suku Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, Yusuf dan Benyamin. Dan mereka inilah yang harus berdiri di gunung Ebal untuk mengutuki, yakni suku Ruben, Gad, Asyer, Zebulon, Dan serta Naftali.

Setiap hukum yang Tuhan berikan kepada Musa juga harus disalin menggunakan batu. “Dan di sanalah di atas batu-batu itu, dituliskan Yosua salinan hukum Musa, yang dituliskannya di depan orang Israel” (Yos. 8:32). Mereka pasti menghabiskan banyak waktu untuk membuat salinan hukum Musa di atas batu-batu. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah.

Setelah selesai, mereka melakukan pembacaan firman (Yos 8:34-35)

Sesudah itu DIBACAKANNYALAH segala perkataan hukum Taurat, berkatnya dan kutuknya, sesuai dengan segala apa yang tertulis dalam kitab hukum. Tidak ada sepatah katapun dari segala apa yang diperintahkan Musa yang tidak DIBACAKAN oleh Yosua kepada seluruh jemaah Israel a dan kepada perempuan-perempuan dan anak-anak dan kepada pendatang yang ikut serta.

Singkat kata, Yosua menaati firman Tuhan, “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung (1:8).

Summary: D-PCR

  1. Develop Spiritual Sensitivity
    Without seeking God, we won’t notice the root of the problems in ministry
  2. Pray. Bring problem to God
    Without God, small problem becomes BIG
  3. Cleanse: Clean our heart from our own Achan
    Without cleansing our heart, the Lord won’t be with us
  4. Return to the word Without the word,
    we only do life but we won’t live life.

|PDT. LAN YONG XING

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Menghidupkan Semangat Dan Hati
    Yesaya 57:15
    Seseorang gadis berusia 18 tahun dan berpenampilan menarik berjalan masuk ke dalam ruang konseling. Dia sering menjuarai berbagai kompetisi...
  • Dosa, Celaka, Dan Pertobatan
    sebuah upaya meluruskan pemahaaman penyebab datangnya hukuman & murka Allah
    Membangun Terowongan Air Pada masa pemerintahannya sebagai prefek (gubernur) atau wakil pemerintahan Romawi untuk wilayah Yudea, Pontius Pilatus menghadapi...
  • Yesus & Yohanes Pembaptis
    Pandangan Penulis Injil Lukas
    Persaingan Kelompok? Ada dugaan bahwa ketika Yesus memulai pelayanan dan memilih murid-murid Nya, kelompok ini menjadi ‘saingan’ bagi kelompok...
  • Perihal Pemanggilan 12 Murid/Rasul Yesus
    dipanggil untuk belajar dan dipersiapkan bagi sebuah pengutusan
    Mengapa kisah Yesus memanggil murid-murid-Nya dianggap perlu dan penting sehingga keempat kitab Injil membahasnya secara khusus, meskipun beberapa mengisahkannya...
  • Sekte Jubah Mukjizat
    upaya menelaah dan memahami alasan larangan Yesus
    Larangan Memberitakan Sungguh merupakan hal yang menarik untuk membahas pesan—atau tepatnya larangan—yang disampaikan Yesus kepada orang-orang yang baru saja...