lambang pengampunan dan pemulihan dari pagutan dosa

NEHUSTAN, lambang pengampunan dan pemulihan dari pagutan dosa

Belum ada komentar 0 View

Bangsa Kecil yang Diberkati
Bilangan pasal 21 adalah cerita sukses penaklukan-penaklukan akhir bangsa Israel sebelum memasuki Tanah Perjanjian. Meskipun terdapat banyak kontroversi di sana sini, terutama tentang sikap dan respons mereka terhadap penyertaan Tuhan, tapi cerita ular tembagalah yang paling menarik untuk dibahas.

Saat itu mereka sedang berada dalam tuntunan tangan Tuhan yang perkasa. Bangsa nomaden ini tidak seberapa eksistensinya, baik secara jumlah, kekuatan, maupun pertahanannya. Mereka bukanlah sekumpulan pasukan yang terlatih secara militer dalam berperang. Mereka tidak mempunyai kubu pertahanan atau benteng yang kuat. Mereka bahkan hanya memiliki persenjataan yang sederhana, tidak memiliki artileri medan yang berarti. Namun mereka diberi kemampuan untuk mengalahkan bangsa-bangsa yang diserahkan kepada mereka dalam perjalanan mereka menuju Tanah Perjanjian.

Untuk memperkirakan jumlah orang Israel waktu itu dapat digunakan referensi sensus kedua mereka di Moab. Disebutkan bahwa jumlah orang Israel adalah 601.730 orang, ditambah kaum Lewi 23.000 orang, sehingga keseluruhannya adalah 624.730 orang. Apa yang akan dikedepankan dengan jumlah orang Israel itu? Pemeliharaan Tuhan! Bayangkan, orang sebanyak itu tanpa hubungan diplomatik dengan bangsa-bangsa lain sangat mustahil mendapatkan dukungan logistik bagi kebutuhan sehari-hari mereka. Mereka adalah bangsa nomaden yang cenderung terus berjalan, jadi tidak ada kesempatan untuk bertani atau berladang yang hasilnya mampu menyediakan kebutuhan makan mereka, meskipun mungkin mereka tetap beternak. Mereka tidak mungkin membeli makanan dari negeri-negeri yang mereka lalui. Namun apa yang terjadi? Tuhan mencukupkan makanan mereka. Tuhan memelihara mereka. Mereka tidak pernah kekurangan makanan. Selama 40 tahun perjalanan mereka di padang gurun, Tuhan memberi mereka makan ‘manna’, roti dari langit, yang rasanya seperti kue madu (Kel. 16:14,31; Bil. 11:9). Pasokan ‘manna’ baru berhenti ketika bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian dan ketika sudah tersedia makanan lain bagi mereka (Yos. 5:12).

Keinginan Memiliki Lebih
Namun apa respons mereka terhadap kebaikan, kasih, dan pemeliharaan Tuhan itu? Mereka bersungut-sungut. Mereka kesal dan merasa bosan. “… di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak” (5b). Mereka muak. Mereka menginginkan yang lain, yakni roti. Roti yang memang lebih bercitarasa daripada ‘manna’. Apakah benar ‘manna’ hambar? Tidak, karena rasanya seperti kue madu. Jadi sebenarnya bukan soal rasa, tetapi mereka ingin yang lain, mereka ingin lebih. Apa yang sebenarnya harus disyukuri malah diingkari hanya karena kurang selera. Bukan tidak enak, melainkan hanya kurang dari yang diinginkan. Manusia yang selalu menginginkan lebih, suka lupa dan kurang peka pada sumber kebaikan yang dialaminya. Sepertinya ia juga sering kali dihinggapi rasa dan keinginan seperti bangsa Israel waktu itu. Menginginkan roti, meskipun sudah diberi ‘manna’. Melecehkan rasa ‘manna’, hanya untuk menemukan alasan mendapatkan roti yang lebih bercitarasa. Mengingkari kasih Tuhan dan mengentengkan cengkeraman dosa untuk memenuhi keinginannya.

Ketika dikatakan bahwa manusia adalah Imago Dei, maka ia adalah ciptaan yang sempurna karena dibuat menurut rupa dan gambar Allah. Kekurangsempurnaan yang dialami beberapa orang tidaklah menghilangkan arti Imago Dei itu sendiri pada dirinya. Dalam banyak kasus, sepertinya bukan tanpa maksud Tuhan mengizinkan kekurangsempurnaan itu terjadi pada orang-orang tertentu, yakni: ”… karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” demikian jawab Yesus ketika murid-murid-Nya menyoal siapakah yang berdosa ketika melihat orang yang buta sejak lahirnya. Namun dengan benar-benar menyampingkan kenyataan yang ditemui seperti itu, banyak orang bukannya mensyukuri kondisi mereka yang sempurna dan tidak bercacat cela, melainkan malah mempunyai standar tersendiri tentang mata yang cantik, misalnya. Kriteria itu dibuat bukan berdasarkan fungsinya, yakni untuk melihat dan mengenali kondisi sekitarnya, melainkan mata cantik adalah yang belok (besar dan lebar), lensa korneanya berwarna biru, bulu matanya lentik, dan alisnya seperti bulan yang nanggal sepisan, awal bulan baru. Lalu demi standar itu beramai-ramailah orang mencabuti rambut asli alisnya yang tebal dan menggantinya dengan tato alis palsu yang merepresentasikan bentuk bulan nanggal sepisan tadi. Fungsi alis untuk menahan keringat agar tidak masuk ke mata menjadi hilang. Namun, siapa yang peduli? Yang penting kelihatan baik dan memenuhi kriteria sempurna tadi.

Tidak sampai di situ, bahkan banyak juga yang melakukan operasi mata untuk membuatnya belok. Tidak ada salahnya berusaha memperbaiki penampilan menjadi lebih bagus dan elok, tapi apa yang dilakukan sebenarnya bukanlah untuk meningkatkan fungsi utama indra itu, hanya untuk membuat mata kelihatan lebih indah menurut standar dan kriteria mereka sendiri, bahkan terkadang tanpa alasan. Padahal, meskipun akhirnya mereka kelihatan cantik, tapi aneh rasanya menyaksikan orang Inuit bermata belok. Tuhan mengaruniai mereka mata sipit bukan karena Dia tidak menyukai mereka sehingga dibuat kurang elok, tapi itulah cara-Nya untuk membatasi dan mengurangi intensitas cahaya matahari atau pantulannya yang begitu terang dan menyengat di lingkungan mereka, padang es Kutub Utara. Dengan demikian, intensitas cahaya yang masuk ke mata tidak berlebihan sehingga dapat menyebabkan kebutaan. Sebenarnya yang dikejar melalui operasi mata itu bukanlah karena fungsi mata terganggu, tetapi lebih supaya punya penampilan yang ‘dianggap’ lebih.

Demikian juga dengan orang yang terobsesi, bahkan berkali-kali melakukan operasi wajah, operasi bibir, operasi dagu, operasi hidung, dan operasi-operasi plastik yang lain. Bukan karena organ-organ itu tidak layak dan kurang berfungsi, tetapi sekadar ingin lebih cantik atau tampan, lebih sensual, lebih seksi, lebih mancung, lebih tirus, dan sebagainya. Keinginan itu tidak pernah final. Setelah mendapat bentuk tertentu, selalu merasa ada yang perlu diubah lagi agar menjadi lebih senpurna. Keinginan untuk memperoleh lebih yang tak berujung. Lebih yang tidak pernah terdefinisi. Lebih yang terus bergerak.

Sering kali orang yang melakukan korupsi juga bukan karena ia tidak punya uang. Motivasinya lebih banyak didorong untuk memiliki lebih. Ada yang salah dengan keinginan memiliki lebih? Tentu saja tidak. Orang layak mendapatkan sesuai dengan upaya dan perjuangannya. Namun jika tidak memahami cara yang benar dalam memperolehnya, dan dengan gampang menghalalkan segala cara, maka itulah perwujudan nyata dari sebuah keinginan untuk memiliki secara lebih, bahkan berlebih lebihan tanpa melalui upaya dan perjuangan yang sepadan. Melakukan kejahatan hanya untuk memenuhi keinginan memiliki lebih.

Begitu pun dengan orang yang melakukan perselingkuhan. Bukan karena pasangannya tidak berfungsi atau tidak sayang kepadanya, bahkan bukan karena rumah tangganya tidak bahagia. Dan sering kali juga bukan karena pasangannya kurang elok dari selingkuhannya. Dalam banyak kasus ditemukan bahwa motivasi untuk berselingkuh ternyata hanya karena ingin memiliki pengalaman lebih. Melakukannya hanya untuk memperoleh kepuasan yang lebih saja: merasa lebih mendapatkan dan menikmati variasi, merasa lebih diakui dan diterima, merasa lebih hebat, dan merasa lebih lebih yang lain. Apakah benar selalu memperoleh kepuasan lebih? Tidak selalu. Namun sebelum datangnya efek buruk yang menerpa, semua itu hanya dinikmati sebagai perasaan lebih saja. Tidak berani bersikap secara bertanggung jawab karena alasan status sosial, citra di mata para kerabat dan keluarga, dsb. Ingin menikmati kesenangan tanpa berani mengambil risiko dan konsekuensinya. Ingin sekadar menikmati lebih.

Penyangkalan Atas Anugerah Tuhan
Belum selesai sampai pada pernyataan muak pada ‘manna’ dan menginginkan roti sebagai gantinya, orang Isreal malah berani berkata: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini?” sebuah pernyataan dan sekaligus pertanyaan yang menyangkali dan menentang Allah dan Musa. Dari sekian banyaknya sikap orang Israel yang tidak tahu diri dan keterlaluan, pernyataan inilah salah satu yang paling melampaui batas. Karena alasan bosan dan menginginkan variasi makanan yang lain, mereka mencampakkan arti penebusan, kemerdekaan, dan hidup bebas yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka melalui perjuangan Musa dan Harun. Tidak ada suatu hal yang lebih berarti bagi seorang budak kecuali kebebasannya untuk menjadi orang merdeka. Kehidupan perbudakan takkan pernah terbayangkan sakitnya, sekalipun tersedia makanan yang berlimpah. Sakit, tertekan, dan menderitanya jiwa yang tertawan takkan pernah bisa sebanding dengan kenikmatan makanan yang berlimpah. Namun apa yang dilakukan oleh bangsa budak yang sudah dianugerahi kemerdekaan ini?

Sepertinya Tuhan yang Maha Sabar pun merasa kesal dan ingin memberi pelajaran kepada mereka, sehingga “… Tuhan menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati” (16). Wahhh… hukumannya kok begitu berat ya? Sampai membawa kematian segala. Tuhan tidak memandang enteng sebuah pemberontakan. Dalam masa penggemblengan kepribadian bangsa itu, membiarkan sedikit penyimpangan prinsip bisa sangat berarti bagi pembentukannya. Melawan Tuhan jelas sebuah langkah melawan kehidupan, maka konsekuensinya adalah kematian, sebagai ganti kehidupan yang telah dikaruniakan sebelumnya.

Keinginan untuk memiliki dan merasakan secara lebih dan penyangkalan terhadap keberadaannya sering kali merupakan bentuk pemberontakan dan penyangkalan umat manusia terhadap kasih dan pemeliharaan Tuhan. Mereka menuduh Tuhan tak cukup menyenangkan dan memuaskan keinginan mereka. Yang penyangkalannya sudah sangat keterlaluan bahkan berani berkata: “Buat apa aku dilahirkan kalau hanya menerima hidup yang seperti ini?” atau “Betapa bahagianya si Polan itu bisa punya ini-itu, padahal ia tidak taat beribadah. Sedangkan aku yang sudah sibuk melayani Tuhan tetap saja tidak dikaruniai apa-apa. Bukankah lebih baik kalau aku tidak mengikut Tuhan saja seperti halnya si Polan?”

Dan yang tragis dari upaya untuk memiliki lebih dengan cara-cara tak semestinya—yang pasti mendukakan hati Tuhan—sering kali justru membawa efek buruk pada hasil yang didapatkannya. Namun demikian hal itu tak membuat manusia jera untuk terus-menerus mencari sensasi dari memiliki lebih. Betapa menderitanya masa tua orang-orang yang suka melakukan operasi plastik pada bagian tubuh mereka. Segala sesuatu yang tidak alami itu tidak mengikuti perkembangan atau perubahan yang terjadi secara alami pada tubuh mereka, sehingga menjadi aneh ketika muka mereka menjadi keriput hanya dagu mereka saja yang mulus, kaku, seperti barang tempelan di tempatnya. Bahkan banyak yang justru berubah menjadi manusia cacat permanen dalam upaya mereka untuk bisa tampil lebih baik dengan cara yang tak wajar itu. Tak jarang pula yang sampai harus mengalami kematian karena kegagalan operasi dalam upaya untuk bisa tampil lebih.

Banyak yang harus menghabiskan masa tua mereka dalam kehinaan penjara karena korupsi mereka ketahuan. Bahkan tak kurang yang pada akhirnya terlunta-lunta karena keluarga mereka jadi berantakan tidak karuan gara-gara perbuatan selingkuh mereka yang menghancurkan segalanya.

Sebuah konsekuensi yang tak berimbang antara keinginan dan akibat yang harus ditanggung. Sebuah risiko yang tak mampu menjawab pertanyaan: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26). Efek dari penyangkalan dan pelanggaran aturan, karunia, dan pemeliharaan Tuhan. Aturan yang dibuat sebagai pedoman agar manusia mampu mensyukuri implementasi rancangan damai sejahtera yang Tuhan persiapkan baginya melalui ketaatan dan rasa bahagianya menerima anugerah itu. Karunia yang mencukupkan dan melengkapi keberadaannya sebagai Imago Dei sehingga ia mampu menampilkan eksistensinya secara baik, layak, dan wajar dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab kehidupannya. Juga pemeliharaan Tuhan yang menjadi alasannya untuk selalu bisa bersyukur dalam segala hal seperti yang Tuhan kehendaki.

Pengampunan dan Keselamatan
Setelah mengalami efek buruk dari pemberontakan mereka, bangsa itu kemudian datang kepada Musa untuk menyesali perbuatan mereka dan memohon ampun kepada Tuhan: “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan Tuhan dan engkau; berdoalah kepada Tuhan, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami.” Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.” Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang, yang dalam budaya Israel kemudian disebut sebagai Nehustan; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang ular tembaga itu, ia tetap hidup.

Dosa akibat ketidaktaatan dan ketidakpercayaan umat Israel kepada Allah harus dibayar dengan harga mahal: kematian. Jalan keluar dari dosa hanya satu yaitu bertobat, berbalik dari dosa, dan percaya kepada Allah. Pertobatan mereka diterima Tuhan hanya ketika mereka memandang ular tembaga, tanpa mengusir ular-ular lain. Allah tidak main-main, tetapi bertindak tegas menghukum umat yang memberontak. Dan bagi yang taat serta percaya akan mendapatkan pemulihan dari pagutan ular tedung itu.

“Setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.” Prinsipnya, pertolongan Tuhan tidak berlaku otomatis. Hanya jika merespons firman Tuhan dengan iman yang taat, pertolongan Tuhan akan mereka terima. Hanya orang-orang yang percaya pada janji Allah saja yang akan bertindak demikian, yaitu memandang ular tembaga itu, sehingga tetap hidup (21:8). Sedangkan yang tahu, tapi tidak percaya dan tak acuh, serta tak hendak memandang ular tembaga itu, maka matilah dia. Kuasa ular tembaga untuk memberi hidup mendahului kematian Yesus Kristus sebagai korban yang ditinggikan di salib untuk memberi hidup kepada semua orang yang memandang dan percaya kepada-Nya. Jadi setiap orang yang berdosa diberi kesempatan oleh Allah untuk tetap bisa hidup jika ia mau memandang ‘ular tedung tembaga’ yang ditinggikan itu, Yesus Kristus yang mati di kayu salib sebagai korban tebusan bagi dosa manusia.

Anugerah keselamatan dari Allah dalam Tuhan Yesus Kristus tersedia bagi siapa saja yang menyadari bahwa dirinya berdosa. Anak Manusia telah ditinggikan di kayu salib supaya setiap orang yang ‘memandang’ dan percaya kepada-Nya beroleh hidup kekal (Yoh. 3:14-15): “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Mereka yang ingin dibebaskan dari dosa dan menerima keselamatan harus memalingkan hati mereka untuk percaya kepada firman Allah di dalam Kristus agar memperoleh pemulihan dari akibat pagutan dosa, kematian kekal itu.•

|PNT. SUJARWO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Parousia, Kedatangan Kristus yang kedua kali
    Parousia (/ pəˈruːziə /; Yunani: παρουσία) adalah kata Yunani kuno yang berarti kehadiran, kedatangan, atau kunjungan resmi. Dalam Catholic...
  • Maju dengan Sepenuh Hati
    Maju dengan Sepenuh Hati
    Markus 6:14-29
    Tidak diragukan lagi bahwa kita masingmasing ingin maju, tetapi belum tentu sedang bergerak maju. Kita mungkin merasa bahwa kita...
  • Kitab Pengkhotbah
    Kitab Pengkhotbah
    kesia-siaan hidup yang tidak dinikmati dan diberi makna dalam anugerah Tuhan
    Tentang Penulisnya Sudah menjadi anggapan umum bahwa Kitab Pengkhotbah ditulis oleh Salomo (sekitar 935 SM), karena itu kaum tradisional...
  • Gembalakanlah Domba-dombaku
    Gembalakanlah Domba-dombaku
    bukan sekadar perintah sama yang diulang hingga tiga kali
    Pemahaman Terjemahan Bila kita membaca Yohanes 21:15-19 dari Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia, maka mungkin kita hanya akan menemukan...