Menghadapi Pandemi Dengan Bersehati Mencari Tuhan

Menghadapi Pandemi Dengan Bersehati Mencari Tuhan

Belum ada komentar 14 Views

Keluarga merupakan hadiah dari Allah, tempat pertama kita belajar mengasihi, mengampuni, dan mengayomi. Tidak sedikit keluarga yang mengalami krisis relasi di tengah pandemi SARS COV- 2 yang berkepanjangan ini. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah, menyebabkan banyak anggota keluarga bergumul berat. Ternyata, apabila sebuah keluarga mengalami pemudaran kasih dan komunikasi, maka keluarga tersebut bagaikan orang-orang asing yang tinggal dalam satu penginapan. Relasi yang menjauh dan menjadi kering tidak terasa di tengah kesibukan masing-masing. Namun ketika pandemi COVID-19 memaksa keluarga untuk berada di rumah untuk jangka waktu yang lama, segala permasalahan bermunculan. Bahkan terlontar perkataan, “Aku muak melihat kamu terus di rumah ini.”

Apabila relasi di dalam keluarga terancam, maka spiritualitas pun berada di ujung tanduk. Firman Tuhan menasihatkan, “Hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang” (1 Pet. 3:7). Yesus berkata, “Tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat. 5:24). Doa kita terhalang apabila relasi dalam keluarga berada dalam konflik. Spiritualitas kita terhambat apabila relasi kita bermasalah.

Relasi bersifat fundamental dalam kekristenan. Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat. 5:9). Bahkan Tuhan memperkenalkan Diri-Nya sebagai Allah yang berelasi—Bapa, Anak dan Roh Kudus. Yesus menyebut kita, “sahabat-Nya” (Yoh. 15:14). Kita juga disebut sebagai “anak-anak Allah” (Yoh.1:12).

Ketika diajak berdoa oleh istrinya, seorang suami berespons, “Bukankah sudah cukup kalau kamu berdoa buat saya? Mengapa saya masih harus berdoa?” Mungkinkah kita menitipkan spiritualitas kita kepada orang lain? Kita tidak bisa datang menghadap Tuhan dengan berkata, “Tuhan, saya sudah melakukan penginjilan dan pelayanan kemanusiaan. Tuhan, saya sudah mengusir banyak roh jahat dalam nama-Mu. Tuhan, doa saya sudah menyembuhkan banyak orang dari penyakitnya.” Jika kita memandang kekristenan sekadar sebuah “to do list”, tetapi secara pribadi tidak menjalin relasi dengan Tuhan, maka kita telah salah menempatkan fondasi iman kita. Seluruh aktivitas kita (doa, pelayanan kemanusiaan, dan seterusnya) harus bertumpu pada relasi kita dengan Tuhan.

Dalam Matius 7:22-23, Yesus berkata, “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: ‘Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga?’ Pada waktu itulah Aku akan berkata: ‘Aku tidak pernah mengenal kamu!’” Perkataan, “Aku tidak pernah mengenal kamu!” mengandung arti, “Kita tidak pernah berelasi!” atau “Tidak ada relasi antara Aku dan kamu!”

Dalam relasi dengan Tuhan, kita harus “melekat erat” kepada Tuhan, bagaikan ranting yang melekat pada pokok anggur (Yoh. 15:5). Ketika Yesus berkata tentang mengikut Dia, Yesus tidak berkata, “Ikutlah Aku sesekali!” atau “Ikutlah Aku ketika kamu membutuhkannya.” Namun Yesus menegaskan, “Ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya SETIAP HARI dan mengikut Aku” (Luk. 9:23). Dengan kata lain, relasi kita dengan Tuhan dijalin dalam kehidupan kita setiap hari. Memikul salib setiap hari berarti kita menyalibkan ego kita setiap hari. Dengan kata lain, sebelum kita menjadi taman Tuhan (Yes. 51:3), tanah atau hati kita perlu digemburkan terlebih dulu. Tuhan berfirman, “Bukalah bagimu tanah baru, dan janganlah menabur di tempat duri bertumbuh. Sunatlah hatimu bagi Tuhan” (Yer. 4:3-4a). Untuk menjadikan kita tanah baru, hal pertama yang Tuhan lakukan adalah membereskan duri dalam hati kita. Itulah ego kita! Oleh sebab itu, dikatakan “Sunatlah hatimu!” Nah, berdoa bersama sebagai keluarga dengan hati yang sungguh-sungguh mencari Tuhan (mendengarkan suara Nya dan menaati-Nya), maka Roh Kudus akan mengurus (menginsafkan) kita akan kerapuhan kita (brokenness) sehingga relasi kita dalam keluarga menjadi autentik dan harmonis. Doa bersama sebagai keluarga mendesak kita membuka “cadar ego” dan merubuhkan “tembok keegoisan.”

Kita tidak dapat menyeret anggota keluarga kita untuk tekun mencari Tuhan setiap hari. Relasi yang autentik terjalin melalui kasih. Tanpa mengasihi Tuhan, doa hanyalah sebuah “pelaporan”. Apa yang kita kemukakan di dalam doa kita? Apakah permintaan kita atau relasi kita dengan Tuhan? Apakah relasi kita dengan Tuhan hanya sebatas jawaban doa? Atau sekalipun kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, kita tetap berelasi dengan Tuhan karena buat kita, Dialah segalanya. Sebab Dialah tujuan hidup kita. Dialah makna hidup kita.

Sejak pandemi COVID-19, saya mengalokasikan waktu satu jam setiap hari untuk berdoa bersama istri saya. Kami memulai dengan membaca Alkitab bersama dan dilanjutkan dengan doa. Istri saya memiliki metode doanya sendiri, sedangkan saya suka menggunakan metode Lectio Divina untuk mendengarkan suara Tuhan dalam meditasi saya. Setiap bersaat teduh di pagi hari, saya menyediakan Alkitab (buku, bukan elektronik), jurnal spiritual saya, sebuah pena, dan secangkir kopi. Melalui media youtube, saya mencari musik alam dan memutarnya.

Saya menemukan bahwa bagian tersulit dalam doa adalah meneduhkan hati. Saya makin memahami mengapa untuk mengenal Tuhan, kita harus bisa berdiam diri (Mazmur 46:11). Terkadang, saya menemukan pikiran saya bagaikan badai besar, goncangan gempa, api besar, atau ombak yang menderu. Dalam situasi demikian, saya tidak dapat mendengarkan suara Tuhan. Untuk bisa mendengarkan suara-Nya, saya harus terlebih dulu mendiamkan hati dan pikiran saya.

Ketika kita berdiam diri di hadapan Tuhan, terkadang Dia mengajukan pertanyaan untuk menolong kita menyelidiki hati kita. Saya pernah menerima pertanyaan-Nya seperti, “Anak-Ku, mengapa kamu marah? Mengapa hatimu kesal? Mengapa hatimu gelisah? Mengapa kamu mengkhawatirkan banyak perkara? Mengapa kamu takut? Apakah Aku prioritas hidupmu?” Tidak mudah menjawab pertanyaan Tuhan, bukan? Pertanyaan-Nya bertujuan untuk memeriksa hati kita.

Pernah ketika saya berkata, “Bapa, saya tidak sanggup mengerjakan tugas yang Engkau percayakan kepadaku. Tugas tersebut terlalu berat, ya Tuhan.” Lalu Dia menjawab saya, “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku” (Zak. 4:6). Saya juga pernah berdoa, “Tuhan, mengapa sepertinya pelayanan yang saya kerjakan tidak membuahkan hasil?” Tuhan menjawab saya, “Maukah kamu mengatakan: Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku” (Hab. 3:17-18)?”

Berelasi dengan Tuhan berarti doa, bukan pelaporan tentang apa yang kita kerjakan atau yang terjadi di dunia ini. Doa juga bukan meminta Tuhan menyetujui pemikiran dan keinginan kita. Doa yang bersifat relasional adalah doa yang bersedia menerima pengajaran dari Tuhan. Singkat kata, spiritualitas keluarga berarti bersedia belajar dan tunduk pada pimpinan Nya. Bersedia memperbaiki diri dan ditransformasi oleh Roh Tuhan.

Tuhan tidak menyeret kita untuk men jalin relasi dengan-Nya. Kita mungkin menolak undangannya karena berbagai kesibukan kita (Luk. 14:15-24). Dia mengetuk pintu hati kita, tetapi kita mungkin menolak membuka pintu bagi-Nya (Why. 3:20). Tuhan mengajak kita berdoa secara pribadi, alias me nutup pintu (Mat. 6:6), karena Dia tidak mengunci kita dalam kamar agar kita berdoa kepada-Nya. Hal ini berarti, kita juga tidak bisa menyeret anggota keluarga kita untuk bersama-sama men cari Tuhan dengan tekun setiap hari.

Tuhan menghendaki setiap keluarga berdoa bersama dan tekun mencari Nya. Bukan berdoa sendiri-sendiri, melainkan bersehati menghampiri Nya sebagai suami istri dulu, baru dengan anak-anak. Kuncinya adalah kesehatian suami-istri terlebih dulu. Taat dan setia adalah ibadah yang harum. Bersehati mencari-Nya setiap hari merupakan upaya untuk mengerti kehendak-Nya (Ef. 5:17). “Jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah” (Ef. 5:1).•

| PDT. LAN YONG XING

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Imago Dei
    Imago Dei
    Hakikat Manusia Kita sering mendengar orang menyampaikan pernyataan- pernyataan seperti berikut: “Ahh… saya bisa apa???” atau, “… Yaa begitulah,...
  • simul iustus et peccator
    ‘simul iustus et peccator’
    sudah dibenarkan tetapi sekaligus tetap berdosa
    Percaya Saja Banyak orang Kristen yang hanya berhenti pada percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamat mereka lalu menganggap tugas...
  • Damai Sejahtera Bagimu
    Damai Sejahtera Bagimu
    Perkataan Tuhan Yesus, “Aku haus” dan “Sudah selesai” yang terekam di telinga penulis pada saat mempersiapkan ibadah “Jumat Agung”,...
  • Stop, Rest, & ReFresh
    Stop, Rest, & ReFresh
    Kejadian 2:1-3; Matius 11:28-29
    Kehidupan ini bisa terasa begitu melelahkan, sehingga seseorang berkata, “tired, then buried”, alias lelah dan kemudian dikuburkan. Salomo berkata,...
  • lakukan
    Apa Yang Anda Lakukan Kala Sakit Hati?
    1 Samuel 1:1-28
    “Pa, pakaian anak kita hilang lagi, pasti diambil Hana,” teriak Penina. Elkana berusaha menenangkannya, “Ma, tidak usah mengada ngada,...
Kegiatan