Kitab Pengkhotbah

Kitab Pengkhotbah

kesia-siaan hidup yang tidak dinikmati dan diberi makna dalam anugerah Tuhan

Belum ada komentar 160 Views

Tentang Penulisnya
Sudah menjadi anggapan umum bahwa Kitab Pengkhotbah ditulis oleh Salomo (sekitar 935 SM), karena itu kaum tradisional mengelompokkan kitab ini— bersama Kitab Amsal dan Kidung Agung— dalam Kitab-kitab Hikmat Salomo. Meskipun demikian, pihak tradisional tersebut meyakini bahwa karya Salomo ini dikumpulkan, dituliskan dan disusun oleh orang lain.

Menurut tradisi Yahudi, Salomo menulis Kidung Agung ketika masih muda usia, kitab Amsal pada usia setengah tua, dan kitab Pengkhotbah pada tahun-tahun akhir hidupnya. Pengaruh yang bertumpuk dari kemerosotan rohani, penyembahan berhala, dan pemuasan diri, akhirnya membuat Salomo kecewa pada kesenangan dan materialisme sebagai cara untuk mencapai kebahagiaan.

Kitab Pengkhotbah mencatat renungan-renungan sinisnya tentang kesia-siaan dan kehampaan usaha menemukan kebahagiaan hidup terlepas dari Allah dan firman Nya. Ia telah mengalami kekayaan, kuasa, kehormatan, ketenaran, dan kesenangan seksual—semua secara melimpah—tapi semua itu akhirnya merupakan kehampaan dan kekecewaan saja, “Kesia-siaan belaka! Kesia-siaan belaka! Segala sesuatu adalah sia-sia” (Pengkh. 1:2).

Tujuan utama menulis Kitab Pengkhotbah mungkin adalah untuk menyampaikan semua penyesalan dan kesaksiannya kepada orang lain sebelum ia wafat—khususnya kepada kaum muda—supaya mereka tidak melakukan kesalahan sama seperti dirinya. Sekalipun orang muda harus menikmati masa muda mereka, tapi lebih penting bagi mereka untuk mengabdikan diri kepada Sang Pencipta dan membulatkan tekad untuk takut akan Allah dan berpegang pada perintah-perintah-Nya; itulah satu-satunya jalan untuk menemukan makna hidup ini.

Sebenarnya kitab Pengkhotbah ini memiliki kontradiksi-kontradiksi dengan ortodoksi Yahudi saat itu. Karena itulah ada tafsiran yang mengatakan bahwa pasal 12:12-14 merupakan tambahan yang bertujuan mengarahkan kitab ini ke arah ortodoksi, yaitu penerapan hukum Yudaisme. Tampaknya kitab ini berhasil masuk kanon Yahudi karena dianggap berasal dari Salomo.

Fakta Lain
Di sisi lain, pihak modernis yang mendasarkan penelitiannya pada pendekatan historis dan sastra dengan mengacu pada teks-teks Pengkhotbah itu sendiri, mengambil kesimpulan bahwa Kitab Pengkhotbah bukan dikarang oleh Salomo. Salah satu alasannya adalah karena nama Salomo tidak disebut secara eksplisit seperti layaknya dalam tradisi tulis lainnya.

Dari segi bahasa diketahui bahwa bahasa Ibrani yang dipergunakan berasal dari waktu beberapa abad setelah masa Salomo. Di dalamnya terkandung banyak kata-kata Persia, juga ungkapan yang dipengaruhi bahasa Aram. Padahal pengaruh bahasa Aram pada bahasa Ibrani dianggap baru dimulai menjelang zaman pembuangan (587 SM) hingga menjadi dominan pada masa sesudah pembuangan (538 SM), dan akhirnya dipakai bersama bahasa Ibrani sebagai bahasa pergaulan untuk penduduk Palestina pada zaman Yesus. Selain itu, ungkapan-ungkapan kitab ini juga memiliki banyak kemiripan dengan ungkapan dalam Mishna, yaitu kumpulan hukum lisan Yahudi, dan penulisan Mishna tidak mungkin berdekatan dengan masa Salomo.

Yang lebih menguatkan anggapan ini adalah pendapat para pakar bahwa gaya bahasa penulis Kitab Pengkhotbah tidak berbicara seperti seorang raja, tetapi lebih sebagai seorang bawahan. Secara kritis-sastra, dapat diketahui bahwa ada perubahan narator dalam kitab ini. Pada pasal 1-2 narator seolah olah mengidentikkan diri dengan Salomo, tapi setelah itu ia seakan-akan menjadi tokoh tua yang sudah sangat lama hidup serta amat berpengalaman menjalani dan mengenyam kehidupan. (penjelasan: Salomo wafat pada usia sekitar 55 tahun)

Secara kritis-historis dapat ditemukan bahwa gaya menokohkan tokoh kerajaan yang terkenal merupakan peniruan terhadap seni sastra Mesir kuno yang selalu merujuk pada kata-kata bijaksana seorang raja termashyur pada masa lalu.

Dari segi pemikiran memang tidak dapat disangkal bahwa tulisan ini dipengaruhi tradisi hikmat Israel kuno, tetapi penuh dengan kekritisan terhadap hikmat tersebut. Ada gaya pemikiran Yunani/ Helenistik yang tampak di sana-sini.

Ada konsensus di antara sejumlah ahli bahwa waktu penulisan

Kitab Pengkhotbah berkisar antara tahun 400-200 SM. Alasannya, kitab ini ditulis setelah pembuangan dan juga setelah mendapat pengaruh filsafat Yunani, sehingga diperkirakan ditulis setelah tahun 400 SM. Sedangkan alasan mengapa tidak mungkin melewati tahun 200 M adalah karena adanya acuan terhadap kitab ini dari Kitab Sirakh (ditulis kira-kira 180 SM.), dan ditemukannya bagian dari kitab ini di antara Gulungan Laut Mati yang umurnya diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-2 SM. Kitab Pengkhotbah Kitab ini dinamai Pengkhotbah lebih karena penuturnya menyebut dirinya Qohelet (Ibrani: ),תלהוקdari kata dasar Qahal (Ibr: ),להקyang berarti ‘perhimpunan’ (yang menyiratkan kegiatan keagamaan). Karenanya, arti kata qohelet adalah penyelenggara, pemimpin, pembicara, pendoa, guru pada pertemuan itu, yang kemudian secara harfiah diartikan sebagai seseorang yang berkhotbah pada pertemuan tersebut. Itulah alasan mengapa kata qohelet diterjemahkan menjadi ‘Pengkhotbah.’ Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), kata qohelet dalam teks diterjemahkan menjadi ‘Sang Pemikir’. Arti qohelet yang dirasa lebih tepat berdasar konteks masa itu adalah filsuf atau pemikir, karena ia memikirkan betul kehidupan secara mendalam, luas, dan mendetail.

Dalam bahasa Inggris, kitab ini disebut Ecclesiastes yang berasal dari bahasa Yunani dalam kitab Septuaginta (LXX): Εκκλησιαστής, dari kata: Εκκλησία (gereja/jemaat), artinya: ‘seseorang yang berkhotbah pada sebuah pertemuan.’

Kitab Pengkhotbah berbicara banyak tentang waktu dalam tema sentralnya. Beberapa ayat yang sering dikutip untuk mengingatkan bahwa Allah sangat berkuasa atas waktu dan masa (kronos dan kairos) dalam kehidupan manusia sehingga banyak diingat, adalah ayat-ayat berikut:

  • Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari – Pkh. 1:9
  • Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya – Pkh. 3:1
  • Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak anak manusia untuk melelahkan dirinya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. – Pkh. 3:10-11
  • Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! – Pkh. 11:9
  • Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” – Pkh. 12:1

Tema Sentral: Kesia-siaan
Apa yang disampaikan dalam Peng khotbah 1:2 dan diulang kembali dalam Pengkhotbah 12: 8, yakni: “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu ada lah sia-sia” adalah tema sentral yang ingin disampaikan dalam Kitab ini.

Ketika Pengkhotbah membicarakan ‘kesia-siaan’ maka yang dimaksudkan di sini bukanlah sesuatu yang berkaitan dengan soal manfaat, melainkan soal singkat/ cepatnya waktu berlalu. Kesementaraan atau kefanaan, jika tidak dimaknai dengan benar, akan berlalu begitu saja dan menghasilkan emptiness (kekosongan) atau useless (ketidakbergunaan). ,

םיִלָבֲה לֵבֲה, havel havalim, frasa yang berarti ‘sampah’ ini adalah gaya superlatif dari ungkapan yang menjelaskan secara tepat makna sia sia yang dimaksudkan, yakni, kesia siaan dari yang paling sia-sia, kesia siaan tertinggi dari suatu kesia-siaan. Memahami sia-sia (havel) berarti memahami napas (havel). Sia-sia itu digambarkan seperti napas pada musim dingin yang tampak sebentar keluar dari mulut dan tiba-tiba hilang begitu saja. Havel juga mengingatkan pada Habel yang hidupnya sebentar seperti embusan napas di musim dingin tadi. Ungkapan dalam bahasa Jawa yang mengiaskan kesementaraan hidup adalah: Urip mung saderma mampir ngombe (Jawa) – hidup itu ibarat sekadar/sejenak mampir minum saja.

Kesementaraan/kefanaan bisa membuat apa pun yang dibuat orang menjadi tidak berarti atau bermakna baginya. Kejayaan yang dibangun saat ini akan begitu saja dilupakan oleh generasi ketiga atau keempat setelah yang bersangkutan mati. Demikian juga dengan roh yang mendiami tubuh manusia. Pada waktunya ia akan keluar meninggalkan tubuh dan kembali kepada Sang Penciptanya.

Kesia-siaan juga berarti kerapuhan yang dialami dan disandang oleh segenap anasir utama pembentuk kehidupan dan alam semesta ini, seperti: matahari, api, air, tanah, angin, dll.

Adalah kesia-siaan menganggap matahari perkasa dan berharap kekuatan serta pertolongan darinya, apalagi sampai menyembah dan menuhankannya. Dikatakan: Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Terburu-buru yang disebutkan di situ bukan berarti tergesa-gesa mengejar sesuatu karena akan ketinggalan, melainkan merupakan terjemahan dari bahasa aslinya syo’ef yang sebenarnya lebih berarti terengah-engah atau ngos-ngosan. Hal ini menunjukkan kerapuhan dan ketidakberdayaan matahari menjalani siklusnya. Ia— yang biasanya menyimbolkan sumber kehidupan dan semangat—dilukiskan sebagai sosok yang loyo. Bahkan sang matahari pun terbatas dan rapuh.

Menepis Kesia-siaan
Melihat dan memahami bahwa kenyataannya bukan hanya manusia yang sia sia, melainkan juga seluruh alam semesta sia-sia jika tidak diberi makna dan didasarkan pada iman pada Allah, maka tugas kitalah untuk memberi makna—dengan anugerah Tuhan—pada tujuan, cara, dan praktik kehidupan kita agar semuanya itu tidak sia-sia.

Apa gunanya umur panjang, bahkan dua kali seribu tahun? Apa manfaatnya memiliki 100 anak? Apa gunanya memiliki dan menguasai banyak hal sehingga tidak berkekurangan … tapi tidak diberi kuasa untuk menikmatnya?

Buat apa berjerih payah dan mendapatkan semua itu? Apa jaminannya bahwa semua itu akan mendatangkan kebahagiaan? Apa gunanya menjadi kaya raya dan bahkan memiliki dunia … jika hanya untuk dinikmati orang lain setelah mati?

Kekayaan benar-benar bisa menjadi sia-sia apabila dikumpulkan untuk dinikmati sendiri. Keterbatasan usia, tenaga, dan kesehatan manusia membuatnya tidak bisa lagi menikmati kekayaan itu. Entahkah akan habis oleh penderitaan, penyakit, bangkrut, dirampok, biaya hukum, dan sebagainya. Atau ujung-ujungnya cuma dinikmati keturunannya.

Sikap dan respons terhadap kekayaan lebih penting daripada kekayaan itu sendiri. Sikap dan respons itulah yang akan menjadikan kekayaan yang dimiliki menjadi hal yang menyenangkan dan patut disyukuri, atau menjadi hal sia-sia dan hanya patut disesali. Semuanya benar-benar sia-sia dan hanya merupakan kesia-siaan belaka, baik itu umur panjang, kekayaan, kemuliaan, maupun keturunan. Hidup adalah kesia-siaan. Ya …. semua adalah kesia-siaan belaka jika kita tidak dapat menikmatinya. Hidup singkat yang mampu dinikmati lebih berarti daripada hidup panjang yang berlalu dengan sia-sia.

Mengenai bagaimana orang menggunakan kekayaannya agar tidak menjadi sia-sia dikatakan oleh firman Tuhan: “Muliakan Allah dengan hartamu.” Kekayaan menjadi sarana yang mendatangkan syukur, baik bagi kita sendiri, maupun bagi orang yang kita libatkan dalam ‘proyek’ kebaikan dan pemeliharaan Tuhan.

Yang menabur kekayaan dan justru bertambah kaya, adalah karena yang bersangkutan mampu mensyukuri berkat yang diberikan Tuhan kepadanya, sehingga berkat itu ditambah-tambahkan kepadanya.

Pesan Kehidupan
Bagi Kohelet, hidup ini singkat tetapi justru karena itu berharga. Jika tak mampu memahami dan memanfaatkan kehidupan yang singkat itu, maka dia adalah manusia merugi yang menyia nyiakan hidupnya di dunia. Manusia harus mampu mengupayakan dan menikmati kesenangan/kegembiraan (heleq) setelah berusaha dan berjerih payah dalam kehidupan yang singkat itu. Apalagi yang bisa diupayakan, dirasakan, dan disyukuri ketika sudah mati? Manakala semuanya sudah berlalu seperti embusan napas di musim dingin itu.

Kesenangan-kesenangan adalah pemberian Tuhan. Kekayaan adalah pemberian Tuhan. Umur panjang adalah pemberian Tuhan. Keturunan adalah pemberian Tuhan. Karenanya, hidup harus dinikmati melalui kebersamaan yang dipenuhi kasih sayang bersama keluarga. Menikmati hidup melalui pekerjaan yang disyukuri sebagai rahmat dari Tuhan untuk menunjukkan eksistensi dan kekaryaan kita. Menikmati hidup melalui kesempatan melakukan pelayanan menjadi kepanjangan tangan Tuhan untuk menjadi garam dan terang bagi sesama.

Kenikmatan memang tidak terletak pada kekayaan, harta, kemuliaan, dan keturunan. Kenikmatan yang sesungguhnya terletak pada relasi yang benar dengan Allah. Menyadari bahwa semua berasal dari Allah dan harus diterima, disyukuri, dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemuliaan Allah melalui penambahan nilai diri dan pemberdayaan sesama. Menghadirkan kebesaran kasih Tuhan melalui hidup kita.

Pandangan Kohelet yang tidak terlalu optimis terhadap kehidupan yang dikritisinya, tanpa perlu kehilangan makna dan berputus asa (penjelasan: Kohelet menekankan bahwa di tengah pemahaman akan kesia-siaan itu kita harus tetap berupaya memberinya makna, yakni persekutuan yang benar dengan Tuhan, sehingga kita bisa menikmati hidup yang singkat ini agar tidak menjadi sia sia), tetap menyampaikan pesan bahwa meskipun hidup berlangsung sementara tapi berharga. Kekecewaan karena manusia gagal mewujudkan keadilan, mengingatkan bahwa seyogyanya manusia tidak pongah karena keberadaannya tidak lebih tinggi daripada binatang, dan semuanya ada di bawah bayang bayang maut. Namun demikian Kohelet masih punya optimisme dalam memandang kehidupan yang singkat ini. Ia memberikan penguatan dan cara menepis kesia-siaan itu, yakni dengan tetap bergembira di dalam jerih payah, berjuang dan terus berusaha, serta mengupayakan untuk bersikap adil, bijak, rendah hati dan bertanggung jawab, serta tidak melakukan eksploitasi terhadap ciptaan lain.

Kalau pun hidup tidak berjalan seperti yang diharapkan sehingga kekecewaan melambung, jangan pernah berhenti berjerih lelah dan bergembira. Masih ada yang dapat dilakukan dalam kesementaraan waktu ini.

Di luar itu, memang semuanya bisa berarti dan berakhir sia-sia…

Meskipun nadanya terkesan sangat negatif, tapi pesan Pengkhotbah sejalan dengan kearifan iman sepanjang masa:

  1. Jangan jumawa/sombong /tinggi hati;
  2. Ingatlah bahwa hidup itu singkat, mung saderma mampir ngombe. Semua hal akan lenyap;
  3. Ingatlah hari kematianmu (memento mori) untuk membuat hidup bermakna: Beri makna dalam setiap tindakan hidup. Berhati- hatilah.

Milikilah waktu untuk berefleksi tentang kehidupan yang sudah dilalui, kenangkanlah keindahan, sukacita, dan kegembiraan yang pernah ada, supaya tidak hanya terjebak memandang kehidupan sebagai suatu hal yang sia-sia. Tuhan memberkati ….

|SUJARWO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Maju dengan Sepenuh Hati
    Maju dengan Sepenuh Hati
    Markus 6:14-29
    Tidak diragukan lagi bahwa kita masingmasing ingin maju, tetapi belum tentu sedang bergerak maju. Kita mungkin merasa bahwa kita...
  • Gembalakanlah Domba-dombaku
    Gembalakanlah Domba-dombaku
    bukan sekadar perintah sama yang diulang hingga tiga kali
    Pemahaman Terjemahan Bila kita membaca Yohanes 21:15-19 dari Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia, maka mungkin kita hanya akan menemukan...
  • Menghadapi Pandemi Dengan Bersehati Mencari Tuhan
  • Imago Dei
    Imago Dei
    Hakikat Manusia Kita sering mendengar orang menyampaikan pernyataan- pernyataan seperti berikut: “Ahh… saya bisa apa???” atau, “… Yaa begitulah,...
  • simul iustus et peccator
    ‘simul iustus et peccator’
    sudah dibenarkan tetapi sekaligus tetap berdosa
    Percaya Saja Banyak orang Kristen yang hanya berhenti pada percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamat mereka lalu menganggap tugas...