Aku mencari wajah-mu, Tuhan…

Kesaksian Dapot Parulian Pandjaitan

Belum ada komentar 5 Views

Berharga di mata Tuhan (kematian) semua orang yang dikasihi-Nya (Mazmur 116:15)

Oops… Kematian? Suatu kata yang sering dihindari orang untuk dibicarakan karena tetap masih menjadi misteri. Suatu hari di awal Desember 2022, seorang pendeta GKI Pondok Indah bertanya kepada saya apakah saya siap menghadapi kematian di esok hari akibat penyakit kanker usus saya yang sudah stadium lanjut. Spontan saya menjawab “Saya siap, ibu pendeta”. Tapi benarkah?

Belajar Menerima Realitas
Teman baik saya baru menjalani 2 kali kemoterapi di rumah sakit di Singapore di semester pertama tahun 2022. Dia tidak kuat menjalani proses kemoterapi untuk penyakit kanker di daerah pencernaannya dan Tuhan telah memanggilnya ke dalam rangkulan-Nya. Oh..berarti saya juga harus siap mengalami hal yang sama, bukan?

Heal me, Oh Lord… and I will be healed… Save me… and I will be saved… Heal me, Oh Lord… and I will be healed For You are the One I praise…

Nyanyian Don Moen selalu berulangkali menjadi pembuka renungan pagi saya, memohon pertolongan Tuhan untuk memberikan kekuatan dan sekaligus pengharapan akan kesembuhan atas penyakit kanker saya. Namun seringkali di hati kecil ini, masih ada perasaan belum bisa menerima kenyataan ini. Mengapa Tuhan membiarkan saya menderita penyakit ini padahal saya telah bersedia melayani Tuhan sebagai penatua di gereja saya? Kenapa penyakit ini baru diketahui tahun 2022, padahal 3 tahun sebelumnya saat saya melakukan medical check-up tahunan dengan pemeriksaan colonoscopy (melalui anus) terhadap usus besar saya, serta selanjutnya dilakukan biopsy – sudah menginformasikan adanya pertumbuhan sel kanker ganas?

Saya akhirnya dihadapkan pada realita di bulan Oktober 2022, Tumor Marker (CeA: Carcino Embryonic Antigen) saya sudah mencapai hampir 2000 (normalnya 4.8 ng/mL). Sudah mengindikasi bahwa sel kanker sudah menjadi liar dan menyebar ke organ-organ lain dalam organ tubuh. Saya melakukan colonoscopy ulang disaksikan oleh adik dan ipar saya yang berprofesi sebagai dokter untuk membuktikan bahwa polip yang ada dalam usus besar sudah menjelma menjadi tumor ganas. Dokter onkologi di rumah sakit Jakarta sudah langsung menyarankan operasi pemotongan usus besar yang terkena sel kanker dengan pertimbangan sudah penuh oleh tumor kanker. Namun Istri saya mengambil keputusan mencari second opinion ke rumah sakit di Singapore dengan segala konsekuensinya.

Awal November 2022, kami berhasil membuat jadwal bertemu dengan Prof. Emile Tan KWi, seorang ahli penyakit pencernaan termasuk kanker usus di RS Singapore General Hospital (SGH). Dan setelah mempelajari dokumen kesehatan dari rumah sakit di Indonesia, Prof. Emile memberikan pilihan kepada saya apakah saya bersedia menjalani tindakan operasi pemotongan sebagian usus besar yang terkena sel kanker seperti usulan dokter di RS Jakarta atau memilih menjalani kemoterapi terlebih dahulu. Pilihan yang sulit dijawab. Saya tertunduk sambil berdoa mohon Tuhan memberikan kemampuan saya memilih yang terbaik. Bersyukur di dalam ruangan saya ditemani oleh adik ipar saya, seorang dokter yang turut mendengar dan memberi pendapat. Setelah saya berdoa dan yakin akan petunjuk Tuhan, maka saya memilih opsi dilakukan kemoterapi terlebih dahulu. Atas keputusan saya, Prof. Emile meminta saya melakukan screening ulang secara menyeluruh mulai dari pemeriksaan darah, rontgen contrast, CT-Scan contrast, MRI contrast. Proses ini berlangsung selama 12 hari dan sangat melelahkan karena menggunakan cairan contrast untuk memastikan penyebaran sel kanker. Ternyata dari hasil screening di RS SGH, Tumor Marker saya justru sudah naik drastis menjadi 3.939 dan sudah ada penyebaran di hati (liver) dengan diameter 15 cm serta ada indikasi penyebaran di pankreas dan paru-paru. Oh Tuhan… apakah ini yang disebut kanker stadium lanjut?

Siapkah Dibentuk Tuhan?
Setelah saya menyatakan siap menjalani kemoterapi di SGH, maka penanganan terapi saya diserahkan kepada Prof. Iain Tan Bee Huat, seorang dokter onkologi bidang pencernaan termasuk kanker usus (colon).

Perjalanan panjang melakukan kemoterapi tidak terasa sudah berlangsung 20 kali sampai saat ini dengan injeksi regimen (obat cairan) kemoterapi melalui implant port (akses masuk ditanam di dada) yang langsung masuk ke pembuluh darah arteri utama. Setiap 2 minggu sekali, saya dengan istri terbang ke Singapore untuk melakukannya.

Puji Tuhan selama 20 kali kemoterapi, saya tidak mengalami kendala yang cukup berarti karena pihak dokter dan perawat sudah memasukkan obat anti muntah, anti diare dan anti limbung. Namun efek samping dari kemoterapi ini yang saya rasakan dari waktu ke waktu semakin berat karena akumulasinya. Mulai dari kulit kering, hidung berdarah, sudut-sudut kuku tangan dan kaki berdarah yang berbulan-bulan sembuhnya. Rash (bintik-bintik di sekujur tubuh depan belakang yang disertai gatal setiap saat dan sering terjadi di malam hari sehingga saya merasa kurang tidur. Fisik yang tidak prima lagi dan mudah capek serta banyak hal-hal baru sebagai efek samping kemoterapi. Yang juga tak kalah merepotkan, saya harus menggunakan stoma bag (kantong faeces) karena usus besar diistirahatkan supaya tumor kanker awal mula berasal diharapkan mati karena tidak ada asupan makanan. Tuhan mengizinkan saya untuk dibentuk melalui penderitaan ini supaya saya tetap berharap mendapat kekuatan dari Tuhan.

Siapkah Terus Melayani Tuhan?
Oh Tuhan… imunitas saya dalam masa kemoterapi selalu dalam posisi marginal. Pemeriksaan darah mengonfirmasi kondisi ini. Saya sangat rentan terinfeksi berbagai penyakit. Oleh karena itu, saya disarankan untuk menghindari kerumunan orang, harus menggunakan masker dan menjauhi sinar matahari langsung karena membahayakan kulit muka dan badan. Oh Tuhan, berarti saya tidak bisa melayani di gereja lagi, ya?

Sungguh Tuhan menjawab dengan luar biasa. Rapat PMJ (Persidangan Majelis Jemaat) selama saya diterapi masih saya bisa ikuti dengan Zoom (on-line). Memang seringkali di tengah jalannya rapat PMJ saya jatuh tertidur karena kelelahan fisik dan mata yang mengering akibat proses kemo. Untuk tugas pelayanan penanganan pemeliharaan gedung gereja dan pastori, saya sangat bersyukur dibantu oleh Pnt. Shinta Monterie dan teman-teman karyawan kantor gereja. Beberapa kali dengan prokes yang ketat, saya masih sempat menjalankan tugas sebagai Koordinator Kebaktian (KK) atau Penatua Pewarta (PP).

Bersyukur atas berkat dan pemeliharaan Tuhan
Menerima kenyataan bahwa saya menderita penyakit kanker usus memang membuat saya shock (terkejut). Ditambah dengan kondisi terlambat diterapi selama 3 tahun. Pikiran saya terus bertanya-tanya, apakah saya bisa sembuh dengan rangkaian terapi yang saya jalani? Oh Tuhan… Bisnis saya di bidang pengembang perumahan di Kota Serang belum pulih paska pandemi COVID. Bagaimana saya membayar biaya rumah sakit karena asuransi saya tidak membayar biaya pengobatan penyakit kritis seperti kanker ini.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku (Mazmur 23:4a)

Karena itu, Aku berkata kepadamu: … janganlah khawatir tentang tubuhmu… (Matius 6:25a)

Tuhan mulai menjawab atas doa-doa yang dipanjatkan para pendeta saya, teman-teman seiman di gereja dan semua kerabat saya.

Setelah kemoterapi ke-15, Tumor Marker saya turun secara terjun bebas dari awal 3.939 menjadi 2.4 (normalnya 4.8) dan sudah bertahan stabil 3 bulan. Sel kanker di liver menyusut secara signifikan 60% dan tinggal berdiameter sekitar 6 cm dari sebelumnya 14.9 cm. Amazing grace, my Lord!

Tuhan juga memberi kecukupan bantuan finansial. Tahun 2022, saya diminta orang tua (mertua) menjual sebidang tanah di Bekasi Barat. Dengan bantuan kerabat, ada seorang developer perumahan ingin membeli tanah tersebut dengan mencicil 3 kali dimulai bulan Desember 2022. Sayang, transaksi ini batal di bulan November 2022 saat saya benar-benar membutuhkan. Tetapi sungguh ajaib, sepulang dari Singapore saat kemoterapi pertama, ada seseorang yang menelpon untuk membeli hanya separuh dari tanah dengan harga 30% lebih tinggi dan minta bertemu segera dengan membawa notaris. Setelah mendapat persetujuan keluarga besar, transaksi jual beli tanah berhasil dilakukan di akhir Desember 2022. Pada bulan Januari dan Februari 2023, datanglah pembeli ke-2 dan ke-3 untuk membeli tanah masing-masing seperempat bagian dengan harga 30% lebih tinggi juga. How Great Thou Are, my Lord!

Bagaimana mungkin ini terjadi, Tuhan? Saya sulit menjual rumah kecil di Serang, Banten selama tahun 2022. Tapi hanya dalam 3 bulan saya bisa menjual sebidang tanah di Bekasi. Betul, ini bukan karena kepintaran saya. Tetapi karena anugerah dan kasih Tuhan! Atas kemurahan orang tua saya, kenaikan 30% harga tanah diberikan kepada saya. Dan ini cukup dan pas untuk biaya screening dan kemoterapi selama 1 tahun terakhir.

Anak perempuan saya, Luna, masih sekolah di Amerika pada awal Desember 2022, secara diam-diam terbang ke Singapore untuk menengok saya. Dengan penuh kekagetan, saya melihat dia berdiri di muka pintu kamar. Dan kami saling bertangisan karena saya harus menderita penyakit ini. Tetapi seperti ada dorongan kuat, saya mengatakan kepadanya bahwa Tuhan mengizinkan saya untuk bisa menghadiri wisudanya pada bulan Mei 2023. Dan dengan penuh syukur, saya bisa membagi foto kebahagiaan kami.

Ada banyak lagi kebaikan Tuhan yang terus mengalir dalam diri saya selama masa pengobatan saya. Ucapan syukur terutama untuk perbuatan kasih istri saya, Ani Retno Rahmayani dan juga mertua Bapak/Ibu Wardijasa serta keluarga besar saya dari kedua belah pihak yang terus setia mendampingi, memberi dukungan, mendoakan untuk kesembuhan dan hal-hal terbaik lainnya.

Akhirnya, saya ingin mengakhiri kesaksian saya ini dengan suatu perenungan yang disampaikan pendeta kita, Joas Adiprasetya pada PMJ Sabtu 25 November 2023: Saat kita berusaha mencari ‘wajah Tuhan’, ternyata Tuhan sudah hadir dengan kasih-Nya dalam diri keluarga, saudara, teman, pendeta, teman sepelayanan dan banyak lagi yang Tuhan bisa pakai.

Selamat menikmati Kasih Tuhan dan bersiaplah menjadi ‘wajah Tuhan’ bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan sentuhan kasih.

Dapot Parulian Pandjaitan

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Kasih-Nya Mengalir
    Namanya Helen Jayanti, biasa dipanggil Helen. Saat ini sedang menjalani Praktek Jemaat 1 di GKI Pondok Indah. Lulusan dari...
  • Jalan Pagi Lagi di Antara Jiwa-Jiwa
    perjumpaan dengan inspirasi kehidupan lain yang juga mendatangkan syukur
    Upaya Menjaga Kebugaran Sungguh tak mudah memulai kembali sebuah rutinitas, terutama yang menyangkut fisik, apalagi kalau memang pada dasarnya...
  • Jalan Pagi di Antara Jiwa-Jiwa
    Perjumpaan-perjumpaan yang menginspirasi kehidupan dan mendatangkan syukur.
    Jalan Pagi Untuk menjaga kondisi dan kesehatan jasmani di masa yang menekan ini sehingga tidak banyak aktivitas yang bisa...
  • In-Memoriam: Pdt. (Em.) Timotius Setiawan Iskandar
    Bapak bagi banyak anak yang membutuhkan kasih: yang kukenal dan kukenang
    Mencari Tempat Kos Setelah memutuskan untuk mengambil kuliah Magister Manajemen pada kelas Eksekutif (kuliah pada hari Sabtu-Minggu) di Universitas...