Pelayanan yang belajar dari Spiritualitas Perjanjian Lama

Pelayanan yang belajar dari Spiritualitas Perjanjian Lama

Belum ada komentar 364 Views

Pandangan orang tentang Perjanjian Lama (PL) biasanya dipenuhi dengan kesan yang tidak terlalu baik. Tidak jarang orang mengatakan (mengikuti pendapat Marcion, seorang tokoh gereja di abad ke-2 M) bahwa PL penuh dengan kekerasan, sementara Perjanjian Baru (PB) justru sebaliknya, banyak berisi perihal kasih.

Selain itu, ada lagi pendapat bahwa PL dipenuhi dengan hukum-hukum yang begitu ketat sehingga membuat orang takut dan tertekan. Bukankah kita (orang Kristen) tidak perlu lagi tunduk terhadap hukum dan aturan yang macam-macam itu?

Belum lagi aturan-aturan mengenai ibadah dan korban. Seakan-akan memberikan potret tentang sebuah zaman yang belum maju, yang masih primitif. Kadang-kadang disebutkan juga kesan negatif lainnya, bahwa PL tidak melarang poligami…

Tetapi di balik semua kesan tersebut, ada yang seringkali terlewatkan, yaitu nilai-nilai spiritual yang sangat berkaitan dengan kehidupan kita.

Keistimewaan PL adalah tidak hanya pada cerita-ceritanya yang begitu banyak dan panjang-panjang, tetapi juga di dalam cerita-cerita itu manusia seringkali digambarkan secara apa adanya.

Tokoh-tokoh besar yang sering kita jadikan panutan, diceritakan dengan jujur perjalanan hidupnya, sehingga kitapun dapat melihat tidak hanya kisah-kisah suksesnya saja, tetapi juga saat-saat yang kurang menggembirakan dari tokoh-tokoh tersebut. Justru dengan kejujuran tersebut kita bisa merasakan kedekatan mereka dengan pengalaman kita sendiri.

Maka jika kita berbicara tentang spiritualitas orang-orang PL, kita tidak akan mendapati uraian yang muluk-muluk dan abstrak. Spiritualitas adalah apa yang dilakukan oleh para tokoh PL itu dalam menanggapi berbagai peristiwa. Agar kita dapat memahaminya, tidak ada jalan lain selain mengikuti langkah-langkah yang diambil oleh para tokoh tersebut.

Meski demikian, pada akhirnya kita dapat memperoleh refleksi-refleksi dari berbagai pengalaman dan tindakan para tokoh tersebut. Sebagaimana yang akan kita lakukan berikut ini dengan melihat pengalaman dan tindakan dua orang tokoh, yaitu Abraham dan Daniel.

ABRAHAM: “Pergi dan menjadi berkat”
Kitab Kejadian 12 mengisahkan awal perjalanan Abraham sebagai orang yang dipanggil oleh Tuhan untuk keluar dari rumah ayah dan keluarganya. Panggilan itu ditunjukkan lewat kata “pergilah” (Ibr. lek-leka). Sebuah kata perintah yang sarat makna.

Pertama, Abraham dengan menuruti panggilan itu, akan meninggalkan rumah dan keluarganya (perhatikan kata-kata yang amat detil: negeri, sanak saudara dan rumah bapamu). Kepergian dari rumah orang tua acapkali ditafsirkan sebagai peristiwa yang sama dengan kematian.

Kedua, Abraham akan menjalani suatu kehidupan yang baru sama sekali, tetapi apa itu? Ia belum dapat mengetahuinya di depan. Ia bagaikan orang yang berjalan tanpa arah yang jelas. Ketiga, Abraham diperhadapkan pada pilihan yang menuntut sebuah komitmen, yang jika sudah diambilnya, segala risiko harus ia tanggung.

Artinya, sekali pergi tetap pergi dan tidak bisa mundur lagi. Begitu pentingnya kata “pergilah” ini, sampai-sampai dalam kamus Yudaisme, kata ini menjadi salah satu kosa-kata teologis utama yang harus diperhatikan oleh umat.

Memang Abraham tidak sekadar pergi saja. Masih ada kelanjutan perintah Tuhan itu. Ia diminta pergi ke suatu negeri. Namun negeri yang mana yang dimaksud tidak dijelaskan. Baru kemudian (ayat 7) Tuhan mulai mengindikasikan bahwa negeri itu adalah tanah yang didiami orang Kanaan.

Ketika negeri itu mulai diungkap, ternyata bukan tanpa masalah. Negeri itu bukan negeri yang kosong. Di situ sudah ada penduduk aslinya. Jadi Abraham tidak akan menjadi penduduk asli, tetapi pendatang. Persoalan ini menjadi lebih jelas pada saat Israel masuk ke tanah Kanaan di zaman Josua. Tetapi persoalan itu terus berlanjut hingga zaman Kerajaan dan sesudahnya.

Di tengah panggilan tadi, Tuhan memberikan pula janji: bangsa besar dan nama masyhur. Namun janji tersebut diikuti dengan sebuah kondisi: olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (ayat 3). Kondisi ini dapat disebut sebagai tujuan akhir dari kepergian Abraham.

Sekalipun Ia sendiri akan menjadi besar tetapi pada akhirnya Ia akan menjadi saluran berkat bagi semua kaum. Hanya saja, janji menjadi bangsa yang besar itu harus berhadapan dengan ketidak-mungkinan yang ada pada waktu itu, yaitu Sarai mandul (*Kej. 1;30).

Gema dari persoalan ini terus terdengar pada kisah-kisah selanjutnya. Persoalan lain yang segera menghadang Abraham adalah sebagaimana diberitakan oleh ayat 10: kelaparan yang membuat Abraham harus mengungsi. Kembali kita mendapati sebuah persoalan yang tidak hanya terjadi sekali, tetapi setidaknya dua kali dalam hidup Abraham, di mana persoalan serupa di kemudian hari juga dialami oleh anak-cucu Abraham.

Pengalaman Abraham dapat dikatakan sebagai pengalaman universal yang nantinya juga dialami oleh bangsa Israel. Bukankah Israel berkali-kali mengalami kesulitan-kesulitan sebagaimana Abraham?

Demikianlah, dari gambaran tersebut kita mendapati kesan kuat bahwa kisah Abraham bukanlah sekadar dimaksudkan sebagai kisah hidup Abraham semata, tetapi kisah hidup Israel secara lebih luas. Bahkan bisa pula dimengerti sebagai sebuah gambaran tentang kisah hidup orang beriman secara lebih luas lagi.

DANIEL: “Menjadi berkat di negeri asing.”
Berikutnya, Daniel 1:1-2 membuka kisah hidup Daniel dan kawan-kawannya dengan berita yang kurang sedap: Yerusalem, kota suci dan utama Israel itu dihancurkan oleh bangsa asing. Bahkan simbol-simbol keagamaan Israel disita dan diletakkan di kuil-kuil dewa asing. Jelas ini suatu keadaan yang sangat terhina dan rendah.

Tetapi apakah selanjutnya kita mendapati perlawanan Israel? Tidak! Sebaliknya kita justru mendapati kisah Daniel dan kawan-kawannya yang bisa bekerja sebagai pegawai yang baik dari Nebukadnezar, raja bangsa penjajah itu.

Seperti yang dapat kita ketahui dalam Pasal 1, Daniel dan kawan-kawan mendapatkan nama yang baru dari petinggi istana (ayat 7). Nama mereka disesuaikan dengan bahasa dan kebiasaan orang Babel. Karena kesan yang baik, nama yang mereka peroleh tidak sembarangan. Nama mereka mengandung nama dewa Babel yang hanya dikenakan pada orang-orang yang dianggap istimewa saja.

Daniel dan kawan-kawan memiliki sikap yang menyenangkan sehingga mereka dikasihi oleh kepala rumah-tangga istana (ayat 9). Dan karena mereka dapat menjalankan pekerjaan dengan baik, maka rajapun juga terkesan oleh mereka (ayat 20).

Tetapi sekalipun sikap Daniel dan kawan-kawan tersebut nampak kooperatif, mereka tetap berdiri pada posisi yang tegas dalam soal keyakinan (ayat 8). Demikian juga ketika Daniel harus memberitakan isi mimpi raja yang sebenarnya kurang sedap, ia tetap bersikap apa adanya (Dan 2:31-49).

Kejujuran Daniel tersebut bukannya membuat raja marah, namun sebaliknya, raja justru menyembah Daniel serta menganugerahkan posisi yang lebih tinggi lagi (ayat 46-49).

Berada di negeri asing tidak membuat Daniel dan kawan-kawan memposisikan dirinya sebagai orang lain, yang tidak menyatu dengan lingkungannya. Mereka juga tidak segan-segan membagikan kemampuan mereka kepada pemerintah asing yang sebenarnya telah menghancur-luluhkan negeri mereka.

Namun ada hal-hal yang masih tetap mereka pertahankan, yaitu keyakinan serta kejujuran. Kepiawaian untuk berada dalam dua posisi: menyesuaikan diri dengan lingkungan yang asing dan mempertahankan kekhasan mereka, telah diperlihatkan dengan baik oleh Daniel dan kawan-kawan.

Kembali kisah Daniel ini menjadi sebuah gambaran tentang posisi yang perlu dihayati oleh Israel dan umat Tuhan secara luas. Sikap mereka mencerminkan spiritualitas mereka.

Berdasarkan refleksi atas pengalaman dan tindakan para tokoh tadi, kita patut merenungkan betapa hidup sebagai orang beriman ini membawa kita pada penghayatan bahwa kita ini bagaikan seseorang yang sedang memenuhi panggilan Tuhan untuk “pergi”.

Kita ini bagaikan pengembara yang diminta untuk meninggalkan segala sesuatu yang menjamin rasa mapan kita. Padahal kita sadar betapa pentingnya rasa mapan itu. Namun bukankah memang benar bahwa rasa mapan membuat orang tidak lagi bisa “pergi?” Rasa mapan membuat orang “berhenti”. Untuk “pergi” perlu kesediaan untuk menanggalkan rasa mapan.

Justru ketika itu terjadi, kita dapat menjadi pribadi yang terbuka. Terbuka terhadap segala kemungkinan. Bahwa segala sesuatu mungkin, itu nampak dari pengalaman para tokoh PL tadi.

Abraham dijanjikan keturunan, namun di tengah kemandulan isterinya. Daniel menjadi orang yang berhasil, namun di tengah istana raja yang menghancurkan bangsanya.

Menjaga kepercayaan dan harapan bahwa segala sesuatu mungkin tidak senantiasa mudah. Apalagi jika yang kita hadapi justru gejala-gejala yang membuktikan adanya ketidak-mungkinan. Namun di tengah pengembaraan, segala sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Tidak berlebihan pula jika dikatakan bahwa di tengah pengembaraan jika orang tidak lagi percaya terhadap segala kemungkinan, maka ia akan berhenti menjadi pengembara.

Namun menjadi pengembara tidak sama dengan menjadi orang yang permisif: apa saja boleh dilakukan asal selamat, asal hidup dapat terus berlangsung. Daniel dengan baik menunjukkannya. Menjadi orang yang diterima oleh lingkungan yang asing, tidak berarti menjadi bunglon, terutama untuk masalah yang mendasar.

Sampai di sini, baiklah kita merenungkan pengalaman-pengalaman kita sendiri dengan dua hal yang tidak bisa dihindari yaitu: dirinya sendiri dan lingkungannya. Kesuksesan dan kegagalan pelayanan ditentukan oleh dua hal tersebut. Maka menekankan pentingnya motivasi pribadi adalah penting. Tetapi penting juga untuk melihat bagaimana pengaruh lingkungan.

Bukan tidak mungkin terjadi, halangan pelayanan disebabkan bukan oleh motivasi diri, tetapi oleh lingkungan. Entah itu keluarga, kawan-kawan di gereja atau masyarakat. Oleh sebab itu, kegagalan sebuah pelayanan tidak harus dilihat sebagai kesalahan pribadi, tetapi perlu juga dilihat sebagai sesuatu yang bisa jadi disebabkan oleh faktor-faktor eksternal.

Teladan para tokoh PL di atas, memperlihatkan pentingnya menyadari bahwa pelayanan bukanlah soal pribadi saja. Adanya kesediaan diri untuk melayani memang penting, tetapi kesiapan untuk memasuki lingkungan yang keras juga amat dibutuhkan.

Kesediaan untuk melayani bila ditarik dari pengalaman para tokoh di atas, tidak bisa dibayangkan sebagai kesediaan untuk memasuki “sorga”. Sebaliknya, justru kesediaan untuk memasuki suatu tempat asing. Dan itupun bukan kejadian yang terjadi sekali saja, melainkan terus-menerus.

Pengembara tidak mengenal tempat akhir. Seperti juga yang pernah dikatakan oleh Tuhan Yesus: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Mat 8:20; Luk 9:58).

Tulisan ini adalah bahan ceramah dalam seri pembinaan untuk para anggota Majelis dan aktivis GKI Pondok Indah, yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Robert Setio dari Universitas Kristen Duta Wacana di Yogyakarta, 22 Maret 2003.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan