Mengingat Kasur Berumput Hijau  di Kamar Tidurku

Mengingat Kasur Berumput Hijau di Kamar Tidurku

Belum ada komentar 67 Views

Lagu “Tangan Tuhan Sedang Merenda” mengingatkanku akan hidup yang selalu ada di dalam rencana Tuhan yang kokoh dan tidak tergoyahkan. Lagu itu berkisah tentang penghiburan kepada mereka yang tidak mengerti apa yang terjadi saat ini, dan merasa bahwa cita-cita mereka menjauh dan tidak teraih, karena hidup yang penuh derita dan perjuangan yang mereka alami. Seperti renda yang kokoh namun terlihat mudah terkoyak karena belum selesai dirajut, masa depan tak tampak memberikan kepastian dan harapan untuk dijalani langkah demi langkah, dari hari ke hari.

Akan halnya “rencana” kita, setelah masa depan sudah baik tertata: apa yang harus kita lakukan ketika mendapati bahwa rencana kita tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan?

Di dalam bertemu dan mewawancarai banyak kandidat pencari kerja dan bertanya tentang rencana mereka 5 tahun ke depan, aku bertemu paling tidak dengan dua jenis orang: Orang yang tidak merasa memiliki rencana pasti di dalam hidupnya 5 tahun ke depan, dan orang yang sangat yakin akan rencananya dalam kurun waktu tersebut. Keduanya berbeda di dalam cara pandang mereka: yang satu berkata “ya dijalani saja” meskipun rencana masa depannya tidak jelas, yang lain mantap merincikan masa depan tersebut: apa bidang pekerjaannya, apa jabatannya atau di mana ia mau mengambil studi lanjut sambil bekerja.

Bagiku, orang yang memiliki rencana terinci di masa depan, sama sulitnya dengan orang yang tidak memiliki rencana di dalam hidup mereka. Dua-duanya sama-sama tidak tahu apa yang terjadi di depan mereka, sepasti ketidaktahuan mereka akan apa yang terjadi minggu, bulan dan tahun yang akan datang. Aku kurang sependapat dengan orang-orang yang mengatakan bahwa ketika halangan menghadang rencana kita, kita harus maju menghadapinya dan pantang menyerah. Tantangan di depan kita tidak boleh membuat kita putus asa. Jalan terus, berjuang mewujudkan rencana kita. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan “semangat yang pantang menyerah”. Pertanyaan pertama yang harus dipikirkan adalah, apakah rencana ke depan itu tetap harus dipertahankan? Atau harus dipertanyakan? Apakah rencana tersebut harus berubah, atau kita bertahan dan maju terus dengan rencana kita?

Di dalam hidupku sendiri, beberapa kali rencana berbalik arah dengan kenyataan. Waktu kecil aku berencana jadi pendeta, tapi setelah remaja baru kusadari bahwa untuk bicara di depan umum saja aku tidak berani, hingga kuputuskan untuk kerja saja sambil melayani di gereja. Rencananya menjadi pimpinan puncak perusahaan setelah 10 tahun kerja, tapi sampai sekarang belum pernah punya usaha sendiri. Yang lebih serius lagi: Aku bercita-cita bekerja di luar negeri supaya anak-anak bisa belajar di negara lain; itu sebabnya aku selalu bekerja rajin di perusahaan multi-nasional agar bisa dikirim bekerja di luar negeri. Namun, sampai sekarang kesempatan itu belum kunjung datang.

Persoalannya bukan apakah kita punya rencana hebat atau tidak, dan bukan apakah kita yakin rencana kita merupakan rencana yang patut diwujudkan, tetapi apa pun rencana kita, sudahkah kita mengikutsertakan Tuhan di dalamnya.

Membaca buku-buku tulisan Philip Yancey menyebabkan aku berpikir ulang tentang perspektif membuat rencana dan bagaimana orang Kristen berencana. Karena keinginan kita belum tentu sama dengan keinginan Allah, maka rencanaku juga tidak berarti selalu sejalan dengan rencana-Nya. Otomatis, di dalam doa permintaanku agar Allah menggenapkan rencana dan masa depanku, tidaklah akan pernah 100% rencanaku selalu terwujud.

Melalui tokoh-tokoh rohani di Alkitab aku belajar melihat bahwa mereka yang melewati hari-hari mereka bersama Tuhan juga punya banyak keinginan dan doa yang tidak berjawab. Musa berencana masuk ke tanah Kanaan, ia minta Tuhan beberapa kali di dalam doanya, tapi Tuhan berkata ‘tidak’. Samuel berniat mengurapi Eliab, Abinadab atau Syama, anak-anak Obed, untuk menggantikan Saul, raja yang meninggalkan Sang Raja di atas segala raja, namun Tuhan berkata bahwa Daudlah yang dipilih-Nya. Elia berencana (dan bahkan hampir berhasil dilakukan) untuk memberantas Baal ketika 450 nabi Baal disembelih, namun akhirnya ia lari terbirit-birit karena Izebel bersumpah untuk membalas dan membunuhnya. Murid-murid Yesus ingin menjadi besar dan minta agar mereka dapat duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus kelak, tapi Yesus berkata agar mereka menjadi pelayan. Bahkan Yesus sendiri minta kepada Bapa untuk tidak meminum cawan yang diberikan, tapi keinginan-Nya tidak pernah terkabulkan.

Aku bersyukur karena sebagai orang Kristen kita selalu bisa meletakkan 1) masa lalu, 2) masa mendatang, dan 3) masa kini, di dalam perspektif berencana. Ini berarti menata dan menjalani masa depan tidak lagi menjadi pekerjaan sulit yang harus dilakukan; menata dan menjalani masa depan bagi orang Kristen, dapat tetap dijalani dengan kepastian bersama Tuhan.

[1]

Dalam menata dan menjalani rencana, biarlah kita terus mengingat masa lalu yang kita alami bersama dengan Tuhan. Sama seperti bangsa Israel yang setiap kali merayakan Paska, mengenang masa-masa sulit keluar dari tanah Mesir, demikian juga kita harus terus mengingat masa lalu dan menghitung berkat yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Melihat masa lalu yang berat dan dilalui bersama Tuhan seperti melihat Betel, ketika Yakub berkata bahwa tugu ini adalah rumah Allah dan Tuhan akan menjadi Allahnya. Ketika kita mengalami jawaban Tuhan di dalam pergumulan kita, dan ketika pada masa sulit kita merasakan tangan Tuhan yang kuat, di sanalah pengalaman iman menjadi kekuatan dahsyat yang mengingatkan kita. Sudahkah kita sendiri menemukan Betel, “tugu” hidup di dalam pergumulan kita? Jika belum, berdoalah dan minta Tuhan menyapa kita.

[2]

Dalam menata dan menjalani rencana, semoga masa depan kita menjadi rencana yang tersinkronisasi dengan rencana Tuhan. Ketika kita memulai sebuah rencana dan keinginan yang baik untuk diri, keluarga dan pelayanan kita, baiklah kita mengingat bahwa Tuhan juga punya rencana dan keinginan yang lebih baik untuk kita, bahkan terbaik. Rencana kita bisa sangat detail, sedetail perencanaan keuangan dan jadwal rapat kantor untuk satu bulan ke depan, namun rencana hidup kita, akan selalu terkoreksi untuk menjadi lebih baik, ketika kita meletakkannya di dalam tangan Tuhan. Sehingga meskipun kita punya segudang rencana, biarlah Tuhan sendiri yang merendanya untuk kita.

[3]

Dalam menata dan menjalani rencana, akhirnya, masa kini dapat dijalani dengan penuh keyakinan iman. Saat langkah kaki menjadi goyah dan masalah membuat kita bertanya-tanya di manakah Tuhan, saat itulah kita tahu bahwa Tuhan sedang berjalan di samping kita. Meskipun gelap dan kita tidak tahu lagi apa yang harus kita lakukan, kita dapat mengingat masa lalu yang indah, di mana Tuhan menuntun kita keluar dari kesukaran dan membawa kita kepada kemenangan. Dan ketika rencana kita seolah-olah tidak lagi dapat terlaksana, hati kita dapat legawa dan percaya bahwa rencana Tuhan jauh lebih besar dan lebih bermakna.

Maka akhirnya hari ini menjadi indah meskipun situasi tidak lagi menyenangkan. Dari pengalaman hidupku yang sulit, yang tengah kuhadapi, Firman Tuhan mengingatkanku kepada Dia yang menjadi Gembala, dan karenanya, aku tidak ingin apa-apa (Tuhan adalah gembalaku, aku tidak ingin apa-apa, Mazmur 23:1, terjemahan King James Version). Karena Tuhan sudah begitu banyak memberi kepadaku, sekarang aku tidak mau apa-apa lagi.

Setiap kali masalah itu datang dan merusak rencana yang telah kurenda di depan, saat itulah Tuhan mengingatkanku pada Daud yang dibaringkan oleh-Nya di padang yang berumput hijau (Mazmur 23:2) dan dibimbing-Nya ke air yang tenang. Di sanalah aku dapat membaringkan diri sambil membayangkan kasurku seperti “padang berumput hijau”, sampai akhirnya aku tertidur pulas dan nyaman di dalam kamar tidurku, hingga pagi.

THOMAS SUHARDJA

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan