Mempersiapkan Hari Esok dengan Menjadikan Hidup Hari Ini Bermakna

Mempersiapkan Hari Esok dengan Menjadikan Hidup Hari Ini Bermakna

1 Komentar 116 Views

Ketika berusia 7 tahun, Thomas Alva Edison pernah dikeluarkan dari sekolah, karena ayah dan guru-gurunya berpendapat bahwa ia kelewat bodoh. “Anak ini sangat bodoh, kepalanya kosong tak dapat diajar!” kata gurunya. Kata-kata itu sangat menusuk perasaan Edison, namun membangkitkan semangatnya untuk berprestasi.

Beruntung ia mempunyai ibu kandung mantan guru yang sangat mencintainya. Di rumah ia diajar membaca, menulis dan berhitung. Ibunya mendorong Edison melakukan banyak eksperimen.

Pada usia 10 tahun, Edison tertarik ilmu pengetahuan tentang kue, di kereta api.
Pada usia 14 tahun, kondektur kereta api menampar kepalanya sampai tuli.
Pada usia 16 tahun, ia menjadi petugas telegram.
Pada usia 23 tahun, ia membuat telegraf dan mendirikan pabrik kecil di New Ark, New Jersey.
Pada usia 29 tahun, ia mendirikan laboratorium riset, yang merupakan fondasi bagi industri modern.
Pada usia 30 tahun, ia menemukan fonograf, tanpa gagal terlebih dulu.
Pada usia 32 tahun, ia berhasil membuat lampu listrik yang mutunya lebih baik dari lampu listrik tenaga ciptaan Swan.
Pada usia 33 tahun, ia membuat lok listrik eksperimental.
Pada usia 35 tahun, ia membuat pusat listrik tenaga uap di London dan New York.
Pada usia 41 tahun, ia membuat kamera film dan proyektor film.
Pada usia 84 tahun, ia tutup usia.

Ketika orang bertanya kepadanya,”Apakah jenius itu?” ia menjawab, “Jenius adalah 1% bakat, 99% keringat.”

Edison sering mengalami kegagalan, tapi tak kenal putus asa. Untuk menemukan kawat pijar, ia mengalami kegagalan 9.000 kali. Untuk menemukan aki, 10.000 kali kegagalan. Rajin belajar, giat bekerja, gemar berpikir, itulah Thomas Alva Edison. Kita ikut memetik hasil kerja kerasnya, antara lain: cahaya listrik, bioskop, telepon, radio, televisi, tape recorder, dan lain sebagainya.

Menarik Untuk Diteladani

Membaca pengalaman Edison memang mendatangkan rasa kagum. Kita merasa kagum dan bersyukur atas penemuan-penemuannya yang sampai hari ini dapat kita nikmati. Tapi juga sikapnya terhadap penolakan, bahkan serangan yang telah mendatangkan kegagalan dalam hidupnya. Semua itu hanyalah kegagalan yang semu, kegagalan sementara, bahkan keberhasilan yang tertunda. Sebab penolakan yang kadang-kadang ditandai serangan (pemukulan kepala oleh kondektur kereta api), justru menjadi pemacu dan pemicu untuk lebih bersungguh-sungguh meraih keberhasilan. Saya juga pernah membaca tentang Edison, yang tatkala dikatakan mengalami sekian kali kegagalan, sama sekali tidak menandainya sebagai kegagalan, sebab ia tidak mau melakukan hal yang sama, yang kini sudah terbukti tidak cocok atau gagal itu. Itu berarti bahwa semakin banyak ia mengalami “kegagalan,” semakin banyak pula ia mengetahui jalan yang tak perlu dilaluinya untuk menuju keberhasilan.

Seseorang yang sukses menjalankan bisnis MLM juga mesti mengalami bermacam-macam “kegagalan” ketika ajakan dan tawarannya ditolak orang. Juga ketika tak ada yang memenuhi janji menghadiri pertemuan yang membicarakan produk serta jaringan. Tetapi semua “kegagalan” itu memang sudah termasuk dalam perhitungannya sebagai anak tangga untuk tiba di puncak sukses. Mereka bilang bahwa kegagalan adalah makanan sehari-hari mereka, dan tidak ada keberhasilan tanpa didahului dengan kegagalan.

Hidup Amos yang Berat

  1. Amos hanya seorang peternak domba dari Tekoa (Amos 1:1). Di ayat ini dengan sengaja diinformasikan profesinya hanya sebagai peternak, bukan gembala, yang kemungkinan menggembalakan manusia itu. Dengan latar belakang peternak, tentu sangat sulit ketika ia tiba-tiba memunculkan diri di tengah-tengah umat yang religius itu, dan berbicara tentang Tuhan serta kerohanian.
  2. Amos dipanggil Tuhan untuk menegur bangsanya yang sedang tersesat sebab mereka mengharapkan Hari Tuhan, yaitu saat Tuhan akan menghukum musuh-musuh Israel, padahal mereka sendiri sedang memusuhi Tuhan dengan segala upacara keagamaan yang palsu dan memuakkan hati-Nya. Jadi, tugas Amos sangat berat sebab ia tidak diminta Tuhan untuk menyampaikan janji-janji ilahi yang mendatangkan sukacita, tapi teguran yang menyengat tak terduga dan menuntut pertobatan yang menyerang harga diri itu.
  3. Amos yang tiba-tiba muncul dengan penampilan yang tentunya kurang meyakinkan itu, harus berhadapan dengan semua lapisan masyarakat, dan juga harus berani menegur para pemimpin rohani, para petinggi pemerintahan dan raja. Apakah peternak domba yang belum banyak dikenal orang sebagai nabi Tuhan itu tidak akan segera menelan sejumlah kegagalan?

Amos tampil sebagai seorang hamba Tuhan yang mempersiapkan hari esok bagi seluruh bangsanya, dengan cara menjadikan hari ini bermakna. Hampir dapat dipastikan bahwa orang seperti Amos itu tidak mempersoalkan kegagalan, sebab ia menjalankan tugasnya tidak dengan setengah hati. Ia mengalir bersama Tuhan, menyatukan hatinya dengan Tuhan. Yang seperti itu sungguh sangat perlu kita coba, kita latih dan kita lakukan terus-menerus sepanjang hidup ini. Mari kita berupaya menyelami perasaan Tuhan berdasarkan pengenalan kita kepada-Nya, sehingga penyampaian firman Tuhan atas situasi tertentu yang kita hadapi akan dapat lebih mengena. Kita bukan sekadar mau menjadi corong Tuhan, tetapi corong yang hidup dari hati dan firman-Nya.

Nah, semua ini akan membuat hidup kita lebih bermakna, sehingga pantas sebagai persiapan untuk hari esok.

Berjaga-jagalah

Ini nasihat yang penting karena belum ada keterlanjuran. Juga penting sebab merindukan kemenangan kita atas kemalasan dalam diri kita, yaitu kemalasan berjaga-jaga mempersiapkan hari esok, khususnya menghadapi akhir zaman.

Jangan sampai kita menjadi seperti lima gadis bodoh dalam perumpamaan Tuhan tadi. Kebodohan mereka karena tidak menyediakan minyak yang cukup dan ikut-ikutan tidur meskipun belum mempersiapkan diri menghadapi sukacita mendatang.

Kepada istri, saya sering bercanda, “Sudah tua kok pelupa!” Kelihatannya terbalik, tapi ada satu kebenaran yang tersembunyi, yaitu bahwa semakin tua seharusnya kita bisa menjadi semakin arif. Salah satu kearifan yang patut kita miliki adalah ini: Jangan tersandung pada batu yang sama! Mengapa kita mengulang-ulang terus kesalahan yang sama, yaitu malas berjaga-jaga, malas mempersiapkan tugas (pelayanan). Saya bilang kepada istri dan diri sendiri, “Awas, jika abai maka kita akan menerima hukuman!” Maksud saya, barang siapa tidak mau berjaga-jaga maka akan rugi sendiri, tidak bakal memperoleh yang terbaik. Hari esok pasti akan tiba, sambutlah dengan persiapan yang memadai dan bahkan dengan hidup yang bermakna. Apakah itu menyangkut persoalan rumah tangga, bisnis, maupun yang lebih mulia, yaitu keselamatan kita!

Ada Tiga Hal yang Menyakitkan Hati

Pertama, ketika gadis-gadis bodoh dalam perumpamaan tadi minta sedikit minyak dari teman-teman mereka, ternyata mereka telah ditolak dengan tegas tapi masuk akal. “Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu.”

Iman dan keselamatan memang seperti itu. Dapat kita nikmati dalam kebersamaan, bahkan dengan segenap keluarga, tapi pada akhirnya tetap harus secara pribadi. Tidak benar semboyan, “Swargo nunut neroko katut” (Masuk surga menumpang orang lain, masuk ke neraka terbawa orang lain).

Kedua, juga menyakitkan dan ditandai rasa kecewa yang besar tatkala mereka mengetahui bahwa pintu sudah ditutup. Dalam hal ini, pintu dapat disebut sebagai pintu kesempatan. Saya bayangkan, bagaimana jika ada orang yang selalu menolak Tuhan Yesus, lalu tiba-tiba di tengah perjalanan hidupnya mengalami kecelakaan kereta api sampai mati seketika. Padahal sudah berulang kali ia diajak mendekat pada gereja dan Tuhan Yesus, tapi jawabnya selalu: “Kapan-kapan saja.”

Ketiga, yang paling menyakitkan, jika seseorang di akhir hidupnya sampai ditolak oleh Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus yang selalu memanggil orang berdosa supaya bertobat itu, ternyata menolaknya. Yang bersangkutan merasa diri sangat layak diterima oleh-Nya, namun nyatanya tidak demikian. Dalam segala kebingungannya, setiap orang patut mengetahui satu hal yaitu: Tuhan Yesus berdaulat penuh untuk menerima atau menolak seseorang, berdasarkan pertimbangan-Nya sendiri yang pasti tepat dan sempurna. Kalau begitu, jaga-jaga kita yang pertama adalah mengetahui apa yang harus kita lakukan supaya tidak sampai ditolak oleh Tuhan Yesus, sekarang maupun nanti.

Semua Ada Waktunya

Jika ada yang lahir (belakangan) maka kita sambut dengan sukacita, kalau bisa dengan cucuran air mata sukacita. Tapi kalau ada yang meninggal dunia (lebih dulu) maka biasanya kita berdukacita, boleh saja dengan cucuran air mata, karena kita merasa kehilangan orang yang kita cintai dan yang mencintai kita. Tapi betapa pun besarnya dukacita kita, kita harus tetap beriman teguh bahwa suatu hari kelak kita bakal dikumpulkan kembali dalam sukacita surgawi.

Berdukacita secara duniawi adalah dukacita tanpa pengharapan seperti di atas tadi. Jika itu yang terjadi, berarti kita telah mencederai iman kita sendiri, yang selama ini sudah kita bangun dan siapkan dalam rangka mempersiapkan hari esok dan memaknai hari ini.

Mencari Tuhan

“Biarlah bergirang dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau.” (Mazmur 70:5a)
Sikap mencari Tuhan adalah sikap yang membutuhkan, merindukan dan mengasihi Tuhan. Jika itu yang kita lakukan sekarang, berarti kita telah mempersiapkan hari esok dengan benar, dan menjadikan hidup hari ini bermakna!

 

 

Pdt. Em. Daud Adiprasetya

1 Comment

  1. Jenny Karuh

    Hebaat P’Daud tetap aktif menulis, berbagi berkat refleksi firman Tuhan melalui tulisan. Saya selalu menyempatkan diri untuk membaca artikel atau refleksi firman Tuhan melalui renungan atau ringkasan khotbah. Sangat mudah dipahami dan mudah dimengerti. Thanks buat renungannya, mengingatkan, mencerahkan, dan menginspirasi. Tuhan senantiasa memberkati P’Daud karena Bp selalu membagi berkat rohani melalui tulisan-tulisannya buat kita semua.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan