Konsisten & Bertahan

Konsisten & Bertahan

Belum ada komentar 503 Views

Model faithful presence tampak-nya dapat menyeimbangkan dua tuntutan utama orang Kristen, yaitu “berada di dalam dunia” dan “bukan dari dunia.” Di satu sisi, “berada di dalam dunia” mengandaikan kita berelasi dengan dunia dan semua pihak yang men-diami rumah-dunia yang sama. Di sisi lain, “bukan dari dunia” menegaskan identitas Kristen kita yang berbeda dari orang lain di dalam dunia yang satu dan sama. Menekankan berlebihan yang pertama, dengan ongkos yang kedua, akan memunculkan orang-orang Kristen yang hanya mau relevan dengan dunia namun tanpa sadar melebur dan lenyap identitasnya. Sebaliknya, menekankan berlebihan yang kedua, dengan ongkos yang pertama, hanya akan memunculkan orang-orang Kristen yang secara sangat kontras berbeda dari orang lain, namun mandul dalam karyanya ikut menata dan memperbarui dunia ini.

Pada sesi ini, kita akan membahas bersama apa artinya hadir di tengah dunia dengan kesetiaan yang langgeng dan konsisten. Dimensi-dimensi spiritualitas apakah yang kita perlu kembangkan dan rawat untuk tetap setia hadir di tengah dunia yang Allah kasihi ini?

1. KETABAHAN

Ketabahan atau ketekunan di dalam Alkitab (Yunani: hupomone) menunjuk pada kemampuan dan kemauan untuk terus bertahan. Kita memahami bahwa ketabahan bukan hanya terjadi karena tekad dan itikad batin, namun juga karena tempaan persoalan yang berat dari luar (Rm. 5:3; Yak. 1:3). Seluruh pengalaman buruk itu secara kreatif dimanfaatkan untuk memperkuat iman dan menumbuhkan keyakinan.

Seorang bapa gereja bernama Chrysostom menjelaskan ketabahan atau hupomone sebagai “sebuah akar dari semua kebaikan, ibu dari kesalehan, buah yang tak pernah layu, benteng pertahanan yang tak pernah dikalahkan, sebuah dermaga yang tak pernah hancur diterpa badai … ratu dari semua kebajikan, dasar dari tindakan-tindakan luhur, damai-sejahtera di tengah peperangan, keteduhan di dalam badai.”

Dari semua gambaran yang terdapat di dalam Kitab Suci tentang ketabah-an, yang paling banyak justru menunjukkan bahwa ketabahan senantiasa terkait dengan sebuah harapan akan masa depan yang penuh kemuliaan (Luk. 21:19; Rm. 2:7; Ibr. 10:36; 12:1; 2Tim. 2:10, 12; Yak. 1:12; 5:11, dll.)

2. LIGHTEN YOUR BACKPACK

Jika kehidupan spiritual kita pahami sebagai sebuah kembara tanpa henti, maka menjadi sangat penting untuk melihat apakah beban yang kita bawa dapat mempersulit atau sungguh membantu kembara kita. Di dalam Kitab Suci, beban tersebut kerap berbentuk dua hal. Pertama, beban dosa yang memberatkan atau bahkan menahan kita untuk melangkah menuju Allah. Kedua, beban lain yang tidak penting bagi hidup iman kita. Soal yang pertama tentulah kita semua sudah paham, bahkan berpengalaman, Soal yang kedua yang tampaknya paling sering mengganggu … tanpa kita sadari. Hidup kita kerap disibukkan oleh banyak urusan yang sama sekali tidak penting, hingga kita justru lupa mengurusi apa yang sungguh-sungguh penting. Di dalam kategori ini kita bisa melihat bahwa “kekayaan” menjadi beban yang paling berat, walau tampak paling menyenangkan dan menggiurkan. Beban kekayaan tersebutlah yang membuat seekor unta tidak dapat masuk ke dalam gerbang kota Yerusalem yang bernama gerbang “Lubang Jarum” (Mrk. 10:25). Karena itu, kemiskinan memang kerap menjadi beban yang luar biasa bagi seseorang, namun kekayaan ternyata jauh lebih membebani manusia.

Gereja sebagai komunitas kembara (ecclesia viatorum atau ecclesia in via) juga kerap gagal menjalankan tugas utamanya, yaitu ikut-serta di dalam misi Allah, karena beban yang berlebihan yang justru terdapat pada “persiapan” melakukan misi tersebut: ibadah, sarana-prasarana, dan sebagainya. Tugas yang utama sangat minimal dilakukan; persiapan bagi tugas utama tersebut justru berlebihan dikerjakan. Tak heran jika kita tak tahan hingga garis akhir.

3. KAIROS

Rasa bosan adalah musuh terbesar dari konsistensi hidup yang hadir secara setia di tengah dunia. Rasa bosan ini kerap muncul karena ketidakmampuan kita untuk melihat bahwa sejarah hidup bukan hanya berisi rentetan detik yang itu-itu saja, namun juga curahan kesempatan dari Allah bagi kita. Rentetan detik itulah yang di dalam bahasa Yunani disebut kronos; sedang kesempatan adalah waktu khusus yang bermakna, yang disebut kairos.

Di dalam Efesus 5:16, Rasul Paulus menulis, “dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Kata waktu yang dipergunakan adalah kairos. Ia “jahat” sebab sekali ia datang sebagai sebuah kesempatan istimewa, ia tidak terus tersedia kapan pun kita mau. Kegembiraan hidup lantas bergantung pada kesediaan kita untuk menuruti nasihat Paulus, “perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup” (ay. 15), yaitu mengenali kairos yang Allah curahkan dan memakainya dengan bijaksana. Bayangkan, jika perjalanan hidup kita yang panjang diisi dengan kegembiraan mencari dan menemukan kairos itu, serta memanfaatkannya untuk kebaikan dunia ini. Maka, kita akan sampai pada sebuah titik kesadaran bahwa we are not journeying toward our home, tetapi the journey is our home. Atau, dalam kata-kata Teresa dari Avila, “The whole way to heaven is heaven itself.”

4. OIKOS: BUILDING A TENT AND CONTINUING THE JOURNEY

Kairos tanpa oikos bagaikan sebuah jiwa tanpa tubuh. Oikos yang berarti “rumah” adalah salah satu konsep paling penting di dalam iman Kristen. Ia bahkan menjadi kata dasar bagi banyak konsep kunci di dunia ini: ekonomi (oikos-nomos), ekologi (oikos-logos), oikoumene (oikos-menein), dan sebagainya. Agaknya konsistensi karya kita tidak hanya ditentukan dari kesediaan kita menangkap kairos namun juga memakai oikos kita. Untuk itu, sebuah refleksi dari kisah Stefanus (Kis. 6:14-7:53) menarik untuk disimak.

Kedua pasal ini menarik bagi saya karena variasi semantik yang dipergunakannya atas kata dasar oik- atau oikos dan bagaimana ia dimaknai dalam konteks perjumpaan antara aktor antagonis yang berusaha menancapkan hegemoni (Mahkamah Agama Yudais) dan aktor protagonis yang menjadi korban (Stefanus). Tuduhan palsu yang diajukan kepada Stefanus adalah bahwa ia “menghina tempat kudus … dan hukum Taurat” (6:14). Saya tidak akan membuat sebuah tafsiran lengkap dan hanya memaparkan bagaimana variasi semantik atas kata oikos menjadi berharga untuk kita renungkan sehubungan dengan tema kita.

Menghadapi tuduhan palsu yang ditujukan padanya, Stefanus menarasikan secara ringkas perjalanan Israel sebagai bangsa pengembara (paroikion, 7:6—para-oikos). Gaya hidup pengembaraan ini rupanya sudah dicirikan oleh Abraham, leluhur mereka yang semula “menetap” (katoikisen, 7:4—kata-oikos) di Haran. Namun Allah sendirilah yang “menyuruh dia pindah” (metoikizen,7:4—meta-oikos) dan “menetap” (katoikeite – 7:4) di tanah terjanji. Lantas, muncul kisah Yusuf yang dimarginalisasi dan ditolak oleh saudara-saudaranya, akhirnya justru menjadi pemuka Mesir, menjadi kuasa “atas seluruh istananya” (holon ton oikon autou – 7:10). Kemudian muncullah kisah Musa yang “diasuh di rumah ayahnya” (en to oiko tou patros – 7:20), namun yang kemudian harus lari dan di kemudian hari kembali untuk membebaskan Israel.

Variasi oikos lain muncul dalam fragmen ketidakpatuhan “kaum Israel” (oikos Israel – 7:42) pada Tuhan dan karenanya Tuhan membuang mereka ke Babel (metoikio – 7:43). Narasi berlanjut dengan kembali ke zaman Daud dan Salomo. Daud yang dikasihi Allah memohon agar boleh membangun “tempat kediaman” bagi Allah Yakub (to oiko Iakob – 7:46). Namun Salomolah yang akhirnya “mendirikan sebuah rumah” untuk Allah (oikodomesen auto oikon – 7:46).

Puncak pemaknaan oikos ini muncul pada 7:48-49 yang menyatakan bahwa Allah tidak “diam” (katoikei – 7:48) dalam rumah buatan manusia, karena:

Langit adalah takhta-Ku,
Dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku.
Rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, (poion oikon oikodomesete moi)
Demikian firman Tuhan,
Tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku? (7:49)

Dengan permainan kata oikos dan paronimnya ini (13x) Stefanus berusaha mengajukan kritik atas hegemoni pemimpin agama Israel. Dan karenanya ia dihukum mati!

Melalui variasi semantik ini penulis Kisah ingin menunjukkan bahwa ciri umat Allah adalah menjadi “pengembara” (paroikia), sehingga sekalipun leluhur mereka (Yusuf) sempat menjadi penguasa istana Mesir, Tuhan akhirnya mencerabut mereka dari rumah mereka (dehousing) dan kembali mereka kembali menjadi pengembara dan orang asing. Dalam teks ini Musa ditampilkan mengulang kisah Abraham yang semula tinggal di oikos tertentu namun kemudian dipakai Allah untuk keluar dari rumahnya (metoikizen). Juga, dehousing dialami kembali oleh Israel yang karena ketidakpatuhan mereka harus menjadi pengembara di Babel.

Kemudian, puncak narasi ini menunjukkan bahwa usaha dinasti Daud untuk merumahkan Allah ditolak mentah-mentah, karena dunia/semesta ini sesungguhnya adalah rumah Allah sendiri. Dan karena itu, jika manusia adalah umat Allah, maka sesungguhnya dunia inilah yang juga menjadi rumah mereka.

Tugas manusia di dalam oikos tou theou jelas menjadi oikonomos, penatalayan. Maka narasi Stefanus menjadi penting di sini. Haruslah dijaga ketegangan antara oikos dan paroikos, rumah dan pengembaraan; juga antara oikodome dan metoikizen, pembangunan rumah dan pencerabutan (dehousing). Identitas umat percaya adalah mendiami dan membangun (oikodome) dunia sebagai rumah Allah, namun dengan tetap menyadari bahwa mereka adalah umat perantau (paroikos) yang dicerabut oleh Tuhan dari kemapanan (metoikizen).

Maka, beriman berarti bersedia untuk diam dan untuk tetap bergerak, untuk mengaminkan walau dalam gelisah pada pernyataan Yesus sendiri, “di dalam dunia namun bukan dari dunia.” Status sebagai paroikos membuat kita berwawasan global; memandang seluruh semesta sebagai rumah Allah dan karenanya juga rumah kita. Namun tugas oikodome di sisi lain membuat kita menyadari identitas kita.

5. AGERE CONTRA

Mengapa kehidupan kita sebagai penghadir kasih Allah yang setia di dunia kerap kali menemui kegagalan? Ada dua sebab utamanya: pertama, kita terlalu sibuk mencari musuh dan memeranginya demi iman kita atau demi Allah itu sendiri; kedua, kita suka melupakan bahwa musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Rasul Paulus mengakui hal tersebut, “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (Rm. 7:15). Melakukan yang dibenci dan tidak melakukan yang dikehendaki.

Kesadaran yang sama tampaknya bersifat universal dan menjadi beban besar manusia untuk melangkah menemukan makna dan Allahnya. Itulah sebabnya di dalam tradisi Ignatian (yang melahirkan ordo Jesuit), dikenal sebuah praktik olah-batin yang disebut agere contra. Asli sederhananya adalah “bertindak melawan,” namun yang dilawan bukanlah orang lain melainkan diri sendiri. Kesalahan dunia tidak dengan mudah ditimpakan pada orang lain, apalagi kemudian orang lain tersebut distigmatisasi sebagai representasi si jahat dan kita melawan mereka atas nama dan dalam rangka membela Allah. Yang dilawan adalah diri kita, semua tendensi yang memenjara kita dari kerinduan menuju Allah.

6. SPIRITUALITAS KESEHARIAN

Tema yang keenam ini menjadi favorit saya belakangan, sebab saya semakin prihatin dengan kecenderungan kuat di kalangan Kristen untuk meremehkan hal-hal yang biasa dan rutin dan meninggikan apa yang dianggap “luar biasa.” Entah sejak kapan para motivator itu berhasil memengaruhi para warga gereja kita. Orang-orang berpenampilan menawan itu berhasil dengan sangat meyakinkan memotivasi warga jemaat kita untuk berteriak, “Luar biasa!” setiap kali kepada mereka diajukan pertanyaan, “Apa kabar?” Tentu saja, dengan sedikit penambahan religius, “Luar biasa!” tampak benar secara teologis. Bukankah Allah kita memang luar biasa dan Ia mengerjakan banyak hal yang luar biasa dalam hidup kita dan membuat hari-hari kita luar biasa?

Tentu, saya tak yakin dapat mengubah cara pandang warga jemaat kita itu. Cara menyahut yang sangat menyakinkan itu tampaknya begitu cocok dengan naluri iman kita pada Allah yang memang luar biasa itu. Namun, mungkin kita perlu meneliti lebih dalam lagi sahutan “Luar biasa!” tersebut dengan cara pandang yang lebih matang dan dewasa. Dan izinkan saya menawarkan cara pandang tersebut.

Hidup yang biasa (ordinary) sesungguhnya adalah hidup yang sudah tertata sebagaimana mustinya, sudah dengan tataan (order) yang teratur. Bukankah hidup secara itu baik dan indah? Bukankah setelah Allah menciptakan semesta dalam enam hari secara teratur, Ia berseru, “sungguh amat baik”? Singkatnya, keteraturan hidup adalah pantulan dari cara Allah menata dan memelihara semesta ini.

Apa jadinya jika orbit seluruh planet yang tertata rapi itu tiba-tiba berubah tidak seperti biasanya? Ada satu sebutan untuk itu: Luar biasa! Apa jadinya jika jantung yang berdetak ajek, dengan pola yang sama, tiba-tiba berdetak tak beraturan? Luar biasa! Soal jantung manusia, tahukah Anda serangkaian fakta berikut ini?

  • Jantung manusia normal memompa sekitar 60 liter darah setiap jam atau 1.440 liter per hari atau 518.400 liter per tahun. Jadi jika seseorang berusia 50 tahun, jantung orang itu secara teratur telah memompa 25.920.000 liter darah ke seluruh tubuhnya.
  • Jantung yang sama dalam setahun berdenyut 40 juta kali atau sekitar 2 milyar kali jika orang itu berusia 50 tahun.
  • Di dalam tubuh terdapat 50,000 to 100,000 mil pembuluh darah, padahal panjang keliling bumi adalah 24.900 mil. Itu berarti, panjang seluruh pembuluh darah kita, jika semua disambung, sekitar 2-4 kali panjang bumi.

Dan semua itu berjalan secara teratur, konstan dan “biasa.” Jika jantung semacam itu berdetak “luar biasa,” justru Anda harus cemas, sebab tentulah ada yang tak beres dengan jantung dan kesehatan Anda.

Keengganan sebagian orang untuk menjalani hidup yang rutin tampaknya muncul dari anggapan keliru bahwa yang rutin itu tidak bermakna. Membosankan dan menjemukan. Padahal, tahukah Anda bahwa rutinitas adalah cara kita menghargai keteraturan hidup dengan penuh ketekunan dan kesetiaan?

Kata “rutin” berasal dari kata “rute” (route), yang menunjuk pada jalan yang harus ditempuh. Hidup adalah sebuah perjalanan yang harus dilakoni setiap saat. Renungkan contoh berikut ini. Anda harus pergi dari Jakarta ke Yogyakarta, yang berjarak 560 km itu, dengan mengendarai sebuah mobil. Rute antara kedua kota itu baru bisa dijalani jika kita dengan penuh ketekunan melewati menit demi menit, kilometer demi kilometer. Dengan mudah kita menjadi bosan dan jemu. Tanpa kesabaran tak mungkin jarak sepanjang itu dilewati. Atau, pikirkan contoh ini. Jika Anda seorang pekerja pada sebuah pabrik, Anda harus melewati rute yang sama setiap hari untuk sampai ke pabrik; kemudian, Anda harus melakukan pekerjaan secara rutin sesuai dengan yang ditugaskan kepada Anda. Hanya dengan cara itu Anda mencari nafkah, menghidupi keluarga, dan bertanggung jawab atas kehidupan yang dipercayakan kepada Anda.

Kita lihat, rutinitas adalah cara ter-baik untuk dengan setia dan tekun melakoni kehidupan kita … sampai akhir. Ia memberikan kepastian kepada kita untuk merespons pemeliharaan Allah sesehari, bukan hanya sesekali. Ia adalah wahana bagi manusia, yang diciptakan oleh Allah sebagai bagian dari tata semesta yang tertib dan teratur, untuk memaknai kehidupannya.

Jika hidup yang biasa dan rutin itu baik maka kita perlu merayakannya sebagai bagian dari identitas kita sebagai manusia. Itu juga dapat berarti bahwa keinginan berlebihan untuk menjadi luar biasa, seperti yang dianjurkan oleh para motivator itu, dapat menyiratkan beberapa hal. Pertama, jangan-jangan kita tengah menolak kenyataan bahwa Allah memelihara seluruh semesta dalam tataan yang tertib dan teratur, yang biasa berlangsung, demi merawat kehidupan bersama seluruh semesta ini. Kedua, jangan-jangan kita tengah mengetengahkan keinginan menjadi lebih dari manusia, menjadi manusia super, yang lebih unggul dari ciptaan lainnya.

Jika demikian, apakah memang tak ada sama sekali yang luar biasa? Ada! Tentu saja ada! Yang luar biasa adalah Allah itu sendiri, bukan manusia. Mengatakan bahwa Allah luar biasa berarti mengakui bahwa Allah memang melampaui semua ciptaan yang biasa (ordinary) dan alami (natural). Dan itulah pesan kristiani yang selalu membuat hati saya tertawan, yaitu bahwa yang luar biasa (extra-ordinary) dan super natural itu ternyata memasuki kehidupan manusia yang biasa dan alami, bahkan mengambil hakikat kemanusiaan itu ke dalam diri-Nya sendiri. Kita menyebutnya inkarnasi (menjadi manusia), sebagaimana yang dituturkan oleh penulis Injil Yohanes, “Firman itu menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yoh. 1:14). Mengagumkan, bukan?

Jadi, jika Anda ditanya orang, “Apa kabar?” saran saya sederhana saja. Jawablah, “Seperti biasa, baik!” Dan jalani hidup Anda setekun, sesabar dan setabah mungkin, seperti biasanya, bersama Allah yang luar biasa itu.

 

Pdt. Joas Adiprasetya

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan