Keluarga Sebagai Komunitas Rohani

Keluarga Sebagai Komunitas Rohani

Belum ada komentar 622 Views

Merasa tidak senang dengan teguran ibunya, Sandy menuliskan curahan hatinya di jejaring sosial Facebook. Walaupun tidak bermaksud menyebarkan impresi buruk tentang ibunya, itulah yang akhrinya terjadi; seribu teman Facebook Sandy mendapat berita tentang apa yang terjadi antara Sandy dan ibunya, dan tentunya dari sisi Sandy. Ibu dari anak remaja ini tentu saja bertambah marah. Konflik antara ibu dan “ABG” (Anak Baru Gede) ini berakhir dengan perang dingin.

Sandy merajuk serta menolak untuk diajak bicara. Melihat kondisi seperti ini, maka ayah dan semua saudara kandungnya bersepakat untuk mendukung sang ibu. Selama beberapa hari Sandy mengalami situasi yang sangat tidak nyaman karena mendadak seluruh anggota keluarga membisu. Sandy mulai merasa tidak nyaman karena ia tidak punya teman bicara di rumah, tidak ada yang menemaninya ke mal, tidak ada yang mengantar ke sekolah.

Namun, semua anggota keluarga sesungguhnya mengamati terus perilaku Sandy. Tidak lama setelah itu, maka satu per satu anggota keluarga mulai mendekatinya. Mulai dari kakak yang paling dekat dengannya, kemudian adik, bahkan kakak iparnya. Hati Sandy mulai mencair, melalui peristiwa tersebut Sandy menyadari bahwa keluarga adalah anugerah Allah yang sangat berharga. Keluarga adalah kesatuan, jika satu anggota sakit maka seluruh tubuh menjadi sakit. Melalui pendekatan ayah dan kakak-kakaknya, Sandy mau berdamai kembali dan berjanji untuk menghormati ibunya.

Dalam kisah Daniel, teman-temannya, yaitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego merupakan komunitas yang saling menguatkan. Mereka sudah tidak mempunyai keluarga yang setiap sore berkumpul untuk berdoa, makan bersama, merenungkan Taurat dan menari bersama-sama seperti layaknya tradisi orang Yahudi. Di dalam tempat pembuangan di Babylon, mereka membangun sendiri keluarga orang beriman. Dengan bayang-bayang memori masa kecil bersama keluarga mereka, mereka melanjutkan komunitas rohani di antara mereka. Pola keluarga yang mempunyai komitmen disiplin rohani telah membentuk pola komunitas rohani dalam diri pemuda-pemuda ini, sehingga sekalipun mereka berada di lingkungan asing yang tidak seiman, mereka tetap dapat memelihara apa yang selama ini mereka percaya.

Di zaman sekarang, pola keluarga sudah sangat bervariasi. Individualisme, independensi dan egoisme telah merusak sendi-sendi keluarga Kristen. Sekularisme dan materialisme menghancurkan ikatan-ikatan dan memecah belah anggota keluarga menjadi bagian yang terpisah-pisah. Alkitab memberikan suatu prinsip yang jelas bahwa keluarga adalah kesatuan. Setiap anggota keluarga berhubungan satu dengan yang lain, saling memperhatikan, saling menasihati dan saling mengajar. Keluarga adalah komunitas rohani dalam unit yang terkecil yang merupakan rancangan Allah dalam melaksanakan maksud dan rencana-Nya.

Individualisme bukanlah konsep Allah. Komunitas rohani sudah dibentuk oleh Allah sejak awal Penciptaan. Adam dikaruniakan Hawa sebagai partner dalam komunitas terkecil; Kain dikaruniakan Habel untuk saling mengasah dan mempertumbuhkan; Nuh diberikan keluarga untuk melaksanakan misi penyelamatan dunia; Abraham melakukan petualangan ketaatan bersama dengan istri dan keponakannya; Musa diberikan Harun untuk menemainya menjalankan misi pembebasan bangsa Israel; Tuhan Yesus memilih 12 murid untuk menyertai-Nya dalam pelayanan; Paulus senantiasa bekerja bersama rekan dalam perjalanan misinya. Firman Tuhan mengatakan: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Allah tidak pernah melaksanakan misinya dengan konsep “individualisme”. Keluarga adalah komunitas rohani terkecil yang Allah anugerahkan kepada kita untuk menjalankan rencana-Nya. Allah mengaruniakan keluarga untuk saling berinteraksi satu dengan yang lain.

Independensi bukanlah konsep Allah. Salah satu ciri komunitas adalah “saling” terkait satu dengan yang lain. Komunitas adalah sekelompok orang yang saling bergantung satu dengan yang lain, saling memperhatikan dan saling melayani. Kebergantungan sepihak (dependensi) juga bukan rancangan Allah. Ketidakbergantungan (independensi) pun, bukanlah rancangan Allah. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang saling bergantung dan relasi interdependensi. Firman Tuhan mengatakan, “Daripadanyalah seluruh tubuh, – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota, yaitu menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih” (Efesus 4:16). Interdependensi merupakan rancangan Allah yang indah. Naomi mengasihi Rut, Rut melayani Naomi; Mordekhai mendukung Ester, Ester berjuang untuk Mordekhai; Daniel menguatkan iman Sadrakh, Mesakh, Abednego, tiga sekawan ini mendoakan Daniel di saat-saat sulit. Interdependensi dalam keluarga hanya dapat terjadi jikalau ada kasih yang mengikat satu dengan yang lain, Hanya dengan adanya interdependensi, maka kesatuan keluarga dapat terpelihara dengan indah.

Berpusat kepada diri (self-centered) bukanlah rancangan Allah. Komunitas rohani adalah sekelompok orang yang menyangkal diri, rela mengorbankan kepentingan diri untuk melayani kepentingan yang lain. Rancangan Allah dalam relasi keluarga adalah berpusat kepada Kristus. Anggota keluarga sanggup menerima, mengaku dosa dan mengampuni hanya jikalau mereka berpusat kepada Kristus. Abraham tidak akan dapat menyelesaikan persoalan-persoalan dalam keluarganya kalau ia tidak rela melepaskan haknya dan mendahulukan kepentingan orang lain (Lot, misalnya); Yusuf tidak akan pernah menemukan kembali ayah dan saudara-saudaranya jikalau ia berpusat kepada dirinya sendiri; Musa tidak akan mungkin dapat melanjutkan kepemimpinannya menghadapi bangsa yang tegar tengkuk jikalau ia terus mempertahankan emosinya; Kristus sebagai puncak teladan manusia yang menyangkal diri, memikul salib dan mati bagi manusia yang dikasihi-Nya. Paulus menasihatkan: “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, … telah mengosongkan diri-Nya sendiri ….” (Filipi 2:4-5).

Kita harus terus menyadari bahwa dosa individualisme, independensi dan berpusat kepada diri sendiri merupakan dosa yang paling mungkin menyerang setiap keluarga Kristen. Penyakit yang seolah ringan ini merupakan penyakit yang menggerogoti secara perlahan dan membunuh pada akhirnya.

Akar masalah dan kenakalan anak, kriminalitas dan seksualitas pada remaja tidak jauh dari masalah ini. Ketika anggota keluarga tampak sudah begitu mandiri dan tidak peduli satu dengan yang lain; ketika anggota keluarga yang diam di satu atap hanya mengurusi urusannya, kepentingannya dan bahkan pelayanannya sendiri; ketika anggota keluarga sudah tidak mampu menerima, mengaku kesalahan dan mengampuni, maka bahaya perusakan moral pada generasi selanjutnya akan berlangsung.

Kristus datang bukan untuk diri kita sendiri secara individu. Kristus datang untuk menyembuhkan kembali sendi-sendi kasih yang sudah rusak dalam relasi keluarga. Ketika Kristus bertahta di tengah-tengah keluarga kita, maka barulah komunitas keluarga kristiani dapat terbentuk sebagaimana seharusnya: komunitas yang saling melayani, saling bergantung dan saling memperhatikan satu dengan yang lain.

Sebenarnya untuk memulai suatu transformasi komunitas keluarga sangatlah mudah, yaitu cukup dengan cara “turun dari takhta”. Jika seluruh anggota mau “saling” menyangkal diri dan memberikan perhatian dan kepedulian kepada anggota lain, maka banyak masalah akan dapat diatasi dan kesatuan tetap dapat terpelihara.

Saya menyadari bahwa anak-anak saya menghormati ayahnya bukan karena keberhasilan ayahnya dalam pekerjaan atau karena ayahnya dihormati oleh banyak orang di luar. Anak-anak menghormati ayahnya karena mereka melihat bagaimana ayahnya berusaha memelihara kesautuan keluarga dengan menjaga supaya gelombang individualisme, independensi dan pemusatan diri sendiri tidak bertakhta dalam keluarga kami. Hal sederhana yang sering ia lakukan misalnya, mengajarkan kami berbagi makanan, menanti untuk makan bersama, meringankan tangan untuk saling membantu dan tidak segan-segan meminta bantuan jika dibutuhkan. Saling mendoakan dan berbagi beban untuk didoakan juga merupakan hal rohani yang mengikatkan kami sebagai satu tubuh yang saling membutuhkan.

Semoga, ketika anak-anak besar dan hidup di lingkungan mereka masing-masing, pola kesatuan tubuh ini melekat dan menolong mereka membentuk sendiri komunitas orang beriman dengan teman-teman dan lingkungannya.

 

Ev. Anne Kartawijaya, M.Div. (dikutip dari Buletin Eunike edisi 22, terbitan II/2011)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan