Kekuatan Hidup Harmonis

Kej. 2:18-24; Mk. 10:2-16

Belum ada komentar 17 Views

Manusia itu makhluk yang aneh. Sudah jelas Allah berkata, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja,” atau dalam ungkapan lain, “Tidak bahagia kalau manusia itu seorang diri saja.” Nah, Tuhan sudah memberikan teman hidup, kok malah bertanya: “Bolehkah menceraikan istri?” Tuhan juga sudah memberikan teman hidup bagi anak anak, yaitu kakak atau adik. Kalau kakak atau adik baru pergi, di tunggu tunggu… kapan pulangnya? Namun ketika ia sudah pulang… kok malah diajak berantem? Hayooo…siapa punya pengalaman seperti itu?

Kenapa ya, sulit hidup harmonis? Nah… mari kita memahaminya. Latar belakang pertanyaan: “Bolehkah menceraikan istri,” adalah dominasi laki-laki atas perempuan yang mewujud pada relasi yang berdasarkan kekuasaan: suami atas istrinya, juga orang yang lebih tua terhadap anak anak (dalam kisah selanjutnya). Semua dominasi yang mewujud pada relasi yang berlandaskan kekuasaan, sangat mungkin berakhir pada konflik dan perceraian. Karena itu kata ‘perceraian’ tidak saja berarti perceraian dalam lembaga pernikahan, tetapi harus dipahami sebagai ‘bentuk relasi yang tidak harmonis,’ seperti ditunjukkan para murid ketika mereka memarahi orangtua yang membawa anak-anak kepada Yesus. Mari kita renungkan…bukankah konflik-konflik yang terjadi dalam hidup keseharian dan dalam keluarga, awalnya disebabkan kita merasa ‘lebih hebat’, lebih berkuasa, lebih pintar dari yang lain?

Ketika Yesus menghadapi pertanyaan: “Bolehkah menceraikan istri?,” Dia langsung mengingatkan apa yang sudah Allah tetapkan sejak awal. Allah memberikan kepada kita, suami/ istri, kakak/adik, orangtua/anak… untuk menjadi penolong. Perbedaan bukan untuk dipersoalkan, melainkan diletakkan dalam rangka menjadi penolong. Dari awal Allah sudah menetapkan bahwa relasi yang baik antar sesama manusia adalah relasi yang tidak mendominasi (setara) dan dilandasi kasih yang peduli untuk saling menolong. Dasarnya bukan kekuasaan, tetapi kasih! Dan muara dari relasi ini adalah: “keduanya menjadi satu” (ay. 24). Sebuah relasi yang harmonis. Manusia yang unik dan berbeda-beda itu tidak bercerai, tetapi menyatu layaknya nada-nada berbeda dalam sebuah lagu yang indah.

Beberapa waktu yang lalu kita merayakan Hari Kesaktian Pancasila, karena itu izinkan saya sedikit menyinggung kehidupan bernegara. Kalau negara ini ingin maju dan jauh dari konflik, maka kita semua harus menjaga agar tidak ada elemen bangsa yang mendominasi, yang merasa lebih hebat dari yang lain, termasuk agama! Yakini apa yang kita yakini, tetapi jangan sampai keyakinan itu membuat kita merasa lebih hebat dan lebih berkuasa dari yang lain. Pakailah model relasi yang berdasarkan kasih dan kepedulian kepada yang lain, yang bermuara pada sikap saling menolong dan menjadi penolong bagi yang lain.

Begitu juga dalam hidup berkeluarga, baik keluarga inti maupun keluarga besar, bahkan keluarga dalam arti persekutuan kita. Anggota keluarga harus menghayati kehadirannya sebagai penolong bagi yang lain. Dasar relasi yang kita kembangkan bukan kekuasaan atas yang lain, melainkan kepedulian dan kasih pada yang lain. Dengan model relasi semacam itu, maka kehidupan yang harmonis akan terwujud. Keluarga akan menjadi satu, utuh dan kuat, layaknya nada-nada yang mewujud dalam sebuah nyanyian indah.

Bukankah ‘nyanyian indah’ itu ingin kita munculkan melalui keluarga kita, gereja kita, dan bangsa kita? Dan jangan lupa, jika itu terjadi, maka “Ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat kehidupan selamanya” (Mz. 133:1-3). Mau diberkati Tuhan? Hiduplah harmonis! •

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
  • Menjembatani GAP Antar Generasi
    Friksi dalam Keluarga Di era pandemi ini banyak timbul gesekan di antara anggota keluarga. Apa yang tadinya tidak dianggap...
  • Keluarga Harta Paling Berharga
    “Harga dari segala sesuatu adalah sejumlah kehidupan yang kautukarkan dengannya.” ~Henry David Thoreau ~ Hal yang paling menarik untuk...
  • Tanggung Jawab
    Tanggung Jawab Tidak Dapat Diajarkan?
    “Saya ingin anak saya bertanggung jawab. Itu sebabnya saya mewajibkannya melakukan tugas tugas ini setiap hari. Kalau dia tidak...
  • Ministry
    Family Ministry
    dari keluarga ke gereja untuk bersaksi bagi dunia
    Fenomena Keresahan Sosial Masyarakat banyak mengeluhkan kondisi sosial yang memburuk di tengah kemajuan zaman. Peningkatan prestasi dalam peradaban manusia...