Khotbah Minggu
  • yesus

    Mengapa Kita Mengikut Yesus?

    Yohanes 6:24-35

    Setelah Yesus melakukan mukjizat memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, orang berbondong-bondong mengikuti Yesus. Bahkan ketika Yesus beserta murid-murid-Nya menyeberang dangan perahu, mereka menyusul Dia dan menemui-Nya di tempat Yesus mendarat. Namun alih-alih senang bahkan bangga, dengan sedih Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” (Yoh. 6:26). Pertanyaan Yesus yang tajam ini ini bisa kita kenakan dalam berbagai aspek kehidupan kita.

    Mengapa kita bersikap ramah dan baik kepada tetangga kiri-kanan kita? Apakah karena itu adalah hal yang sewajarnya kita lakukan, ataukah karena kita mengharapkan agar bila diperlukan kita dapat meminta pertolongan bahkan mengandalkan mereka? Mengapa kita bersahabat dengan si A dan si B? Apakah karena memang di antara kita bertiga terdapat kecocokan dan kehangatan yang indah, ataukah karena mereka berdua adalah sosok-sosok sosialita yang cukup mencuat? Mengapa kita menyekolahkan anak kita di sekolah yang amat mahal itu? Apakah karena kita memang yakin bahwa sekolah itu amat baik dan cocok bagi anak kita, ataukah sekadar demi gengsi kita orang tuanya?

    Dan di Bulan Budaya ini kita juga mestinya bertanya dalam terang itu: Mengapa kita (masih) tinggal di Indonesia ini? Apakah karena kita yakin bahwa ini bukan kebetulan, melainkan Tuhan yang menempatkan kita di sini agar kita turut membangun dan memajukannya? Ataukah sekadar karena tidak ada pilihan, atau karena (hingga saat ini) Indonesia masih lumayan sebagai tempat kita bekerja dan berusaha?

    Yesus berfirman: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu…” (Yoh. 6:27).

    Dalam hidup beriman dan bergereja, yang normatif adalah relasi dengan Sang Kristus, sang Roti Hidup. Dan atas dasar itu normatif pula relasi dengan saudara-saudara seiman, anggota Tubuh Kristus. Bukan semata-mata demi diri, kepentingan dan kesejahteraan kita sendiri.

    Pula atas dasar itu kiranya kita yakini pula: Dalam hidup bertetangga yang normatif adalah rukun tetangga. Dalam persahabatan yang normatif adalah relasi. Dalam pendidikan anak yang normatif adalah masa depan dan kepentingan anak. Dalam hidup berbangsa dan bernegara yang normatif adalah kewajiban dan tanggung jawab sebagai warga negara. Bukan semata-mata demi diri, kepentingan dan kesejahteraan kita sendiri.

    PWS

Teologi
  • teo13
    AMAZING GRACE: pemahaman mengenai keselamatan
    Sebuah pengantar ke dalam pemahaman mengenai keselamatan

    PERCAYA: TIGA DIMENSI Masa raya Paska merupakan puncak iman Kristen, saat Injil keselamatan diberitakan berkat kurban Yesus Kristus. Tulisan ini sendiri sesungguhnya ingin memberi dimensi kognitif dan rasional atas iman Paska yang menjadi jangkar hidup kita. Saya teringat pada pembedaan tiga dimensi iman atau percaya yang populer di kalangan Protestan, yaitu iman sebagai notitia, assensus, […]

  • teo12
    Kristus Berkarya Melalui Kita

    Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (Wahyu 21:5a) Lama berselang, sekumpulan pemusik keliling berkelana dari kota ke kota, mementaskan musik untuk mencari nafkah. Mereka tidak sukses secara finansial. Zaman sulit dan orang-orang awam tidak punya uang lebih untuk dihabiskan bagi hiburan. Pengunjung sepi. Suatu malam, kelompok pemusik […]

  • bt-09
    Menang

    Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. (Roma 8:37) Roma 8:37 merupakan sebuah proklamasi keyakinan iman Paulus, yang juga seharusnya menjadi proklamasi iman kita semua. Paulus berseru bahwa “kita lebih daripada orang-orang yang menang.” Dalam bahasa aslinya, dipergunakan kata hyper (melampaui) dan nikaō (menaklukkan). Tampaknya, Paulus […]

Kegiatan
Antar kita
  • Temu Raya Penatua & Pendeta 1984-2015
    DSC_0167
    Dalam rangka pelaksanaan program kerja Mabid. Persekutuan tahun anggaran 2015-2016, telah diselenggarakan Temu Raya Penatua dan Pendeta GKI Pondok Indah dari awal berdirinya gereja pada tahun 1984 sampai sekarang, yang jatuh pada hari Sabtu, 20 Juni 2015.Pelaksanaan acara ini...
  • POSYANDU, Salah Satu Pelayanan Rutin Komisi Dikkesra
    posyandu-1
    Saat ini ada lebih dari selusin posyandu yang dilayani oleh GKI Pondok Indah melalui Komisi Dikesra. Posyandu-posyandu tersebut terletak di berbagai daerah, seperti Tarogong, Bintaro, Pondok Pinang, dan Sawangan. Bantuan yang diberikan biasanya berupa makanan sehat, antara lain, kacang...
  • Baksos Katarak: Kegiatan Rutin?
    Baksos Katarak: Kegiatan Rutin?
    Kegiatan Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis bagi masyarakat yang tidak mampu sudah dilakukan oleh GKI Pondok Indah sejak tahun 2009, bekerja sama dengan PERDAMI (Persatuan Dokter Mata seluruh Indonesia). Setelah 5 tahun berturut-turut, apakah pelayanan ini menjadi kegiatan yang...
Pastoralia
pst06
Dosa itu tidak diperhitungkan – Roma 5:13
Pak Pendeta Yth., Apakah makna ayat Roma 5:13: “Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau...
pst07
Meletakkan semua pilihan kita dalam rencana-Nya
Pak Pendeta, Di dalam Roma 11:36 dikatakan, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”...
Intervensi Allah, Kitab Suci dan ke Gereja
Intervensi Allah, Kitab Suci dan ke Gereja
Pak Pendeta yang budiman, Kami berdua suka pada rubrik asuhan Bapak, karena sebagai warga jemaat yang awam terhadap teologi, pengetahuan kami diasah oleh jawaban...
Humanis
edu06
Pengorbanan
Sebuah refleksi memahami Yohanes 3:16
Kisah Pak Juari dan Samsul Pak Juari adalah seorang penjaga pintu perlintasan kereta api. Pintu perlintasan yang dijaganya adalah pintu perlintasan besar, yang menggunakan...
Pembentukan  Mental Anak
Pembentukan Mental Anak
Fungsi dan Peran Orangtua Dalam Mempersiapkan Lahannya
Sambil menangis sesenggukan Shanty bercerita bahwa ia baru memutuskan untuk berhenti bekerja dan memilih tinggal di rumah saja mengasuh sendiri anaknya. Dari penuturannya tersingkap...
Keep Moving, Moving and Moving
Keep Moving, Moving and Moving
Saat kampanye Pilpres yang baru lalu, salah satu Calon Wakil Presiden yang telah berusia 72 tahun harus menjelajahi kota-kota/desa-desa di 28 provinsi dalam waktu...
Kontemplasi
ren01
Gereja Dalam Zaman Yang Terus Berubah
Sesekali saya mendapatkan kiriman foto-foto lama di media sosial yang selalu membuat saya tersenyum, bahkan tertawa. Selain tubuh dan wajah saya saat ini ternyata...
ren05
Banyak Pilihan, Satu Keputusan
Suatu sore saya mengajak keponakan saya yang berusia lima tahun untuk membeli boneka, karena dia sangat menyukai boneka. Setiba di toko, ia sangat kegirangan...
sang-terang
Menjadi Saksi Bagi Sang Terang
Kegaduhan dalam menyiapkan sukacita Natal sudah terasa sejak memasuki masa penantian pada Adven pertama. Mal dan toko-toko sekitar perumahan, selain menawarkan berbagai pernak pernik...
Artikel Lepas
madah05
Musik Gereja Dengan Pendekatan Masa Kini
Salah satu “napas” dalam ibadah umat Kristen saat ini adalah musik dan nyanyian. Peran dari kedua hal tersebut sangat signifikan dalam menolong umat untuk...
Manusia Indonesia
Manusia Indonesia
Puncak kebajikan manusia adalah mereka yang menggunakan akal budinya dan kemudian mampu mengontrol hawa nafsu dan semangat. (Socrates) Ingar bingar kampanye untuk pemilihan presiden...
69 Tahun Indonesia Merdeka
69 Tahun Indonesia Merdeka
Hari Minggu 17 Agustus 2014, kita merayakan hari kemerdekaan bangsa dan hari ulang tahun negara kita Indonesia yang ke-69. Sebuah usia yang belum tergolong...