Yesus & Yohanes Pembaptis

Pandangan Penulis Injil Lukas

Belum ada komentar 117 Views

Persaingan Kelompok? Ada dugaan bahwa ketika Yesus memulai pelayanan dan memilih murid-murid Nya, kelompok ini menjadi ‘saingan’ bagi kelompok Yohanes Pembaptis dan murid-muridnya. Pada saat itu Yohanes Pembaptis cukup populer, bahkan pada mulanya lebih populer dibandingkan Yesus.

Dugaan selanjutnya adalah Yohanes Pembaptis benar-benar membaptis Yesus. Dengan kata lain, Yesus pernah menjadi murid Yohanes Pembaptis. Yesus kemudian keluar dari kelompok Yohanes Pembaptis dan membentuk kelompok sendiri. Sebagian murid Yesus tampaknya direkrut dari kelompok Yohanes Pembaptis (Yoh. 1:35-37): Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus.

Jika semua dugaan itu benar atau fakta nyata pada zaman Yesus, Yohanes Pembaptis dan kelompoknya kemungkinan besar menjadi ‘masalah’ bagi kelompok Yesus. Semua dugaan itu antara lain didasarkan pada ‘jejak-jejak’ persaingan keduanya, sebagaimana masih tampak di Injil injil kanonik.

Pembaptisan Yesus

Sebagai contoh, misalnya perihal pembaptisan Yesus. Hal itu tertulis dalam Injil Markus 1:9-11, Matius 3:13-17, dan Lukas 3:21-22. Semua umat saat ini meyakini bahwa Yesus dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis, karena Matius dan Markus secara eksplisit menuturkan demikian. Markus 1:9 – Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Sedangkan Matius 3:13 menyaksikan – Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Matius bahkan merasa perlu menyampaikan alasan mengapa Yesus bersedia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Matius 3:15 – Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menuruti-Nya.

Siapa Pembaptis Yesus

Namun jika kita perhatikan Injil Lukas, di sana tidak disebutkan siapa yang membaptis Yesus. Dikatakan bahwa Yesus dibaptis. Namun oleh siapa? Dan jika diperhatikan secara kronologis, pada saat itu Yohanes sudah ditangkap dan dipenjarakan oleh Herodes.

Dalam upaya memahami Injil Lukas, orang memang bisa mengandaikan atau menduga-duga bahwa pembaptis Yesus adalah Yohanes Pembaptis. Namun, itu hanya pengandaian atau dugaan, sebab penulis Injil Lukas tampaknya sengaja mengaburkan hal itu. Selain tidak menyebutkan siapa yang membaptis Yesus, Injil Lukas juga menceritakan lebih dulu bahwa Yohanes Pembaptis sudah dipenjara (Luk. 3:20). Jadi, urutan penceritaannya: Yohanes Pembaptis dipenjara (20), sesudah itu Yesus dibaptis (21-22). Jika Yohanes Pembaptis sudah dipenjara di ayat 20, siapa yang membaptis Yesus di ayat 21-22?

Orang boleh saja menduga-duga bahwa apa yang diceritakan di ayat 21- 22 adalah kilas-balik (flash back) dari peristiwa yang terjadi sebelum ayat 20. Artinya, sebelum Yohanes Pembaptis dipenjara, ia sempat membaptis Yesus.

Penulis Injil Yohanes bertindak lebih ekstrim daripada penulis Injil Lukas. Penulis Injil Yohanes sama sekali menghapus cerita pembaptisan Yesus. Sebaliknya, ada pernyataan bahwa Yesus juga membaptis di Yudea (Yoh. 3:22, 26; 4:1) sekalipun pernyataan itu kemudian dibantah oleh penulis kedua atau editor Injil Yohanes di Yohanes 4:2. Penulis Injil Yohanes juga membuat tokoh Yohanes Pembaptis berkata tentang Yesus: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30).Ucapan yang sarat dengan nada persaingan itu mencerminkan konkurensi antara kelompok murid Yohanes Pembaptis dan kelompok murid Yesus.

Apakah Yesus sendiri memang ingin bersaing dengan Yohanes Pembaptis? Atau apakah Yohanes Pembaptis sendiri merasa disaingi Yesus? Kemungkinan besar tidak. Persaingan antar kelompok mungkin baru terjadi sesudah kedua pemimpin kelompok itu tiada dan sesudah kelompok Yesus makin besar atau makin kuat.

Yohanes Pembaptis di Injil Lukas

Dalam Injil Lukas dijelaskan bahwa Yohanes Pembaptis adalah:

Anak imam yang dilahirkan secara mukjizat. Ayah Yohanes Pembaptis adalah imam Zakaria. Ibunya adalah Elisabet, keturunan imam Harun. Yohanes Pembaptis dikandung Elisabet secara mukjizat sebab ia sebenarnya mandul dan usia suami istri itu sudah tua (Luk. 1:7).

Hidup penuh Roh Kudus dan menjalani hidup ‘askese’. Yohanes Pembaptis hidup kudus karena ia dipenuhi Roh Kudus sejak dari kandungan ibunya (Luk. 1:15). Ia tidak makan roti dan tidak minum anggur atau minuman keras (Luk. 1:15 ; 7:33). Ia suka berpuasa dan berdoa (Luk. 5:33). Ia tinggal di padang gurun (Luk. 3:2; 7:24). Sama seperti Yesus, Yohanes Pembaptis juga memiliki murid tetapi ia mengajarkan jalan hidup askese (‘mati raga’, menolak kenikmatan jasmaniah).

Nabi PL terakhir dan terbesar. Yohanes Pembaptis adalah nabi PL terakhir. Yohanes Pembaptis dipahami sebagai ‘Nabi Elia yang akan datang kembali di zaman akhir’ sebagaimana dinubuatkan Nabi Maleakhi (Mal. 4:5-6), seperti yang dikatakan malaikat kepada Imam Zakaria pada Lukas 1:17. Yohanes Pembaptis lebih besar daripada nabi PL sebelumnya sebab ia juga menjadi pembuka jalan bagi Sang Mesias, seperti yang disaksikan Yesus dalam Lukas 7:26-27.

Mati sebagai martir pemberita Injil. Sesudah mengecam perbuatan dosa Raja Herodes, Yohanes Pembaptis dipenjara dan dipenggal (Luk. 9:9). Hal itu terjadi karena Yohanes menjalankan fungsinya sebagai Pemberita Injil yang bukan saja mengenai pengampunan Allah terhadap orang berdosa yang bertobat, melainkan juga berisi kecaman terhadap perbuatan dosa.

— Dalam arti tertentu, Yohanes Pembaptis mati sebagai martir pemberita Injil. Namun, penulis Injil Lukas tampaknya tidak ingin menekankan kematian Yohanes Pembaptis sebagai martir, sehingga tampaknya ia sengaja menghapus cerita pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis sebagaimana yang dibacanya di Injil Markus 6:14-29 secara detail. Lukas hanya memberi informasi tentang hal itu dalam satu ayat saja (9:9). Itu pun dalam (bentuk) ucapan tokoh cerita saja (Herodes) yang bahkan sebenarnya sedang berbicara tentang Yesus (Luk. 9:7-9).

Pembaptis Yesus? Berbeda dari Markus dan Matius, Lukas tidak menceritakan pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Dalam kronologi Injil Lukas, pembaptisan Yesus (Luk. 3:21) diceritakan sesudah Yohanes Pembaptis dipenjara (ay. 20).

Kronologi itu memang dapat ditafsirkan secara positif, bahwa Penulis Injil Lukas sekadar ingin menekankan bahwa akhir dari pelayanan Yohanes Pembaptis (akhir dari zaman nabi-nabi PL) adalah awal dari pelayanan Yesus, Sang Anak Allah, Sang Mesias (bdk. Luk. 16:16). Kronologi itu sesuai dengan fungsi Yohanes Pembaptis sebagai sang pembuka jalan bagi Tuhan. Titik akhir karya Yohanes Pembaptis menjadi titik awal karya Yesus. Namun, kronologi itu juga bisa ditafsirkan negatif, yakni bahwa Penulis Injil Lukas tidak ingin menekankan fakta bahwa Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Lebih dari itu, hal yang lebih penting dari pembaptisan Yesus bukanlah Yohanes Pembaptisnya, melainkan Yesus dan Roh Kudus. Dalam pembaptisan Yesus, hal yang lebih penting adalah Yesus berdoa dan Roh Kudus turun (Luk. 3:21-22). Penulis Injil Lukas memang punya perhatian khusus terhadap doa dan Roh Kudus.

Perbandingan Yesus dan Yohanes Pembaptis

Berbeda dari Injil lainnya, Injil Lukas menceritakan kisah kelahiran Yohanes Pembaptis yang paralel dengan kisah kelahiran Yesus, bahkan kisah kelahiran Yohanes Pembaptis diceritakan lebih dulu. Pertanyaannya: apakah kesamaan dan perbedaan antara Yohanes Pembaptis dan Yesus?

Kesamaan

— Keduanya dikandung karena kuasa Allah atau mukjizat (Luk. 1:5- 25; 1:26-35) sehingga orangtua keduanya sama-sama memuliakan Allah (Luk. 1:46-56; 1:57-80).

— Keduanya bersaudara sebab ibu mereka, Elisabet dan Maria, bersaudara (Luk. 1:36).

— Keduanya memberitakan Injil pengampunan Allah (Luk. 3:18; 4:43).

Perbedaan

— Yohanes Pembaptis dikandung secara alamiah (Luk. 1:24). Yesus dikandung secara tidak alamiah (“oleh Roh Kudus,” Luk. 1:35).

— Orangtua Yohanes Pembaptis keturunan imam (Harun, 1Taw. 24:10). Ayah Yesus keturunan raja (Daud).

— Gaya hidup Yohanes Pembaptis adalah bertarak (asketis; Luk. 1:15; 7:33), sering puasa dan doa (Luk. 5:33), hidup menyendiri di padang gurun, menjauhi masyarakat (Luk. 3:2; 7:24). Sedangkan gaya hidup Yesus lebih normal. Yesus hidup bergaul dengan siapa pun, bahkan dianggap ‘sahabat penungut cukai dan orang berdosa’—julukan yang bermakna negatif buat orang saleh pada zaman Yesus (Luk. 7:34).

— Yohanes adalah nabi PL seperti Elia (Luk. 1:16-17; 16:16). Yesus adalah nabi, Anak Allah, Mesias, dan Tuhan (Luk. 1:32, 35; 2:26; 3:38; 24:46; Kis. 2:36).

— Ditinjau dari 3 masa Sejarah Kerajaan Allah: Israel (Taurat dan Nabi-nabi), Yesus, dan Gereja, Yohanes Pembaptis masih masuk dalam masa Israel (PL; Luk. 16:16). Karyanya masih khusus untuk Israel. Yesus melanjutkan karya nabi-nabi PL secara baru: untuk semua bangsa di dunia (PB). Gereja (para rasul) melanjutkan karya Yesus sampai ke ujung bumi (Roma). “Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai pada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan ….” (Luk. 16:16).

Sumber Penulisan

Secara keseluruhan, ada 3 sumber yang digunakan penulis Injil Lukas untuk menulis kitabnya, yaitu Injil Markus, Q (Quelle, kumpulan ucapan Yesus), dan L (sumber khusus Lukas atau tulisan Lukas sendiri). Khusus untuk perikop Lukas 7:18-35, sumbernya adalah Q.

Bahan perikop Lukas itu tidak ada di Injil Markus, tetapi ada banyak kesamaan tekstual dengan Matius 11:2-19. Lukas dan Matius sama sama menggunakan sumber Q. Pada umumnya ucapan-ucapan Yesus di kitab Q adalah ucapan lepas tanpa konteks atau ‘panggung’ (setting) cerita.

Konteks cerita dibuat sendiri oleh Lukas dan Matius. Oleh karena itu, ucapan Yesus di Injil Lukas dan di Injil Matius bisa muncul dalam konteks cerita yang berbeda.

Konteks

Perikop Lukas 7:18-35 didominasi oleh ucapan-ucapan Yesus (sumber Q). Pada umumnya topiknya berbicara tentang Yohanes Pembaptis dan tentang Yesus sendiri. Perikop itu dibuka dengan keinginan Yohanes Pembaptis untuk memastikan bahwa Yesus adalah Mesias yang dinanti-nantikan bangsa Israel (Luk 7:18-19) setelah Yohanes mendapat kabar tentang ‘segala peristiwa itu.’ Pertanyaannya: ‘segala peristiwa itu’ apa saja? Ada empat kemungkinan untuk menjawab pertanyaan itu.

Pertama, segala peristiwa yang terjadi sejak Yohanes masuk penjara (Luk. 3:20). Jadi, segala peristiwa yang diceritakan dari Lukas 3:20 sampai Lukas 7:18.

Kedua, segala peristiwa yang terjadi hanya di dua perikop sebelum Lukas 7:18, yaitu Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum dan Yesus membangkitkan anak muda di Nain.

Ketiga, segala peristiwa yang terjadi sejak Yohanes masuk penjara, tetapi terutama, atau puncaknya, adalah dua peristiwa terakhir. Ibarat pelatuk yang sudah lama ditarik, dua peristiwa terakhir adalah pemicunya. Pemicu itu yang membuat Yohanes Pembaptis mengirimkan murid-muridnya kepada Yesus untuk bertanya langsung tentang diri Yesus.

Yang menjadi pertanyaan bagi Yohanes mengapa karya Yesus juga ditujukan kepada orang-orang kafir (pemahaman bagi orang non-Yahudi waktu itu), namun hal itu justru memberi pesan teologis bahwa Yesus Sang Mesias juga datang untuk orang non-Yahudi. Karya Allah juga berlaku bagi orang non-Yahudi sebab mereka memenuhi syaratnya, yakni mempunyai iman. (Penulis Injl Lukas adalah orang non Yahudi yang menulis Injilnya untuk orang non-Yahudi juga).

Jika di perikop sebelumnya, iman seorang non-Yahudi menjadi dasar dari karya Allah (penyembuhan), maka pada peristiwa anak muda yang dibangkitkan di Nain, belas kasihan (splagchnizomae) Yesus yang mendasari karya-Nya (kebangkitan). Dua hal penting yang dinyatakan secara eksplisit di akhir cerita adalah ‘Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita’ (Luk. 7:16) serta ‘Allah telah melawat umat-Nya’ (Luk. 7:16). Dan sesungguhnya ini adalah bagian terpenting atau inti dari pemberitaan Kabar baik yang ingin disampaikan melalui Injil Lukas.

Keempat, ‘segala peristiwa’ yang dimaksudkan di Lukas 7:18 itu hanya peristiwa yang dinyatakan di Lukas 7:21, yaitu Yesus menyembuhan banyak orang dari penyakit, penderitaan, dan roh jahat, serta memberikan penglihatan kepada banyak orang buta.

Harapan Yohanes Pembaptis

Yohanes Pembaptis tampaknya (digambarkan) memiliki pengharapan mengenai Yesus sebagai Mesias yang datang, bukan hanya untuk menyelamatkan, melainkan juga untuk menghukum (Luk. 3:16-17).

Ketika Yohanes mengatakan: “…. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api,” (16) sepertinya ia juga memberikan makna api itu sebagai simbol hukuman ketika di ayat 17 ia mengatakan: ”… tetapi debu jerami itu akan dibakar Nya dalam api yang tidak terpadamkan.”

Namun, ternyata Yesus tidak datang sebagai Mesias yang menghukum, melainkan Mesias yang menyelamatkan (saja). Lagi pula gaya hidup Yesus yang suka berpesta, bahkan bersama pemungut cukai dan orang berdosa, sangatlah berbeda dari Yohanes Pembaptis yang asketis (berpantang). Yesus dianggap ‘pelahap dan peminum’—tampaknya itu julukan negatif buat orang yang suka pesta. Padahal Yesus suka ‘pesta’ karena menghidupi pemahaman bahwa kemurahan dan pengampunan Allah atas orang berdosa patut dirayakan seperti merayakan pernikahan, seperti pesta atau perjamuan makan di masa kini yang juga menjadi simbol dari pesta atau perjamuan makan di Kerajaan Allah yang akan datang (Luk. 13:29).

Dengan perbedaan-perbedaan antara harapan dan kenyataan yang dilihat dan didengar oleh Yohanes mengenai Yesus, maka ada kemungkinan bahwa Yohanes Pembaptis dan kelompoknya termasuk orang-orang yang kecewa dan menolak Yesus.

Pertanyaan Yohanes

Sangat bisa jadi dari keraguan, keheranan, maupun penolakan itulah timbul pertanyaan Yohanes kepada Yesus apakah Ia adalah Mesias yang dijanjikan itu ataukah mereka harus menunggu yang lain? Dalam menjawab pertanyaan itu sepertinya Yesus tidak ingin berargumen apalagi berpolemik dengan Yohanes Pembaptis—yang diwakili murid-muridnya—dengan menjawab pertanyaan itu secara langsung untuk memberikan pembenaran pada tugas dan peran-Nya sebagai Mesias. Namun Yesus menunjukkan karya Kemesiasan-Nya melalui karya-karya yang hanya mampu dan mungkin dilakukan dengan kuasa yang datang dari Tuhan saja. Pada saat itu Yesus menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan dan dari roh-roh jahat, dan Ia mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta. Dan Yesus menjawab mereka: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” (Luk 7:21-23). Dan dengan demikian pertanyaan Yohanes Pembaptis terjawab.

Sudut Pandang Injil Lukas

Penulis Injil Lukas tampaknya tidak ingin menyejajarkan Yohanes Pembaptis dengan Yesus, agar fokus pembacanya tidak beralih dari pokok utama pemberitaan Injil, yakni bahwa Yesus adalah Mesias yang melakukan penebusan dosa dan membawa keselamatan kepada dunia. Yesus adalah fokus pemberitaannya, sedang Yohanes hanyalah pembuka jalan bagi pelayanan Yesus untuk berkarya.

Karena itu Penulis Injil Lukas memilih untuk mengaburkan beberapa penuturan yang akan menjurus pada penyejajaran itu. Mengikis dugaan dugaan di awal, maka Penulis Injil Lukas tidak mencantumkan siapa pembaptis Yesus, agar tidak ada anggapan bahwa Yesus berguru kepada Yohanes dan dalam ketertundukan, dibaptis oleh Yohanes. Demikian juga tentang kematian Yohanes Pembaptis. Dapat dikatakan bahwa baik Yohanes maupun Yesus mati sebagai martir. Jika fokusnya adalah mati sebagai martir— baik Yesus maupun Yohanes—maka tujuan dan lingkup pengaruh sesudah kematian Yesus bisa menjadi kabur di mata para pembaca Injil Lukas yang lebih menyoroti kemartiran.

Demikian juga Penulis Injil Lukas sangat menekankan apa yang dikatakan Yesus: “Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar daripada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar daripadanya” (Luk. 7:28) sebagai sebuah penegasan bahwa meskipun Yohanes mengajarkan pertobatan dan membaptis—bahkan menjadi pembuka jalan bagi pelayanan Mesias sehingga ia disebut sebagai manusia terbesar (di dunia)—tapi ia tidak pernah lebih besar daripada orang yang memahami keselamatan dan percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Sang Juru Selamat, dan melakukan perintah-perintah-Nya sehingga ia menjadi pewaris kerajaan Surga. Amin. •

# Terima kasih kepada kak Yessy Sutama yang telah memimpin sesi PATIBULUM ini.

|Sujarwo

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • WHAT WENT WRONG?
    Yosua 7-8
    Seandainya Anda mengalami kegagalan, akankah Anda berdiam diri dan bertanya, “Apa yang salah?” Setelah kemenangan di Yerikho dengan sangat...
  • Menghidupkan Semangat Dan Hati
    Yesaya 57:15
    Seseorang gadis berusia 18 tahun dan berpenampilan menarik berjalan masuk ke dalam ruang konseling. Dia sering menjuarai berbagai kompetisi...
  • Dosa, Celaka, Dan Pertobatan
    sebuah upaya meluruskan pemahaaman penyebab datangnya hukuman & murka Allah
    Membangun Terowongan Air Pada masa pemerintahannya sebagai prefek (gubernur) atau wakil pemerintahan Romawi untuk wilayah Yudea, Pontius Pilatus menghadapi...
  • Perihal Pemanggilan 12 Murid/Rasul Yesus
    dipanggil untuk belajar dan dipersiapkan bagi sebuah pengutusan
    Mengapa kisah Yesus memanggil murid-murid-Nya dianggap perlu dan penting sehingga keempat kitab Injil membahasnya secara khusus, meskipun beberapa mengisahkannya...
  • Sekte Jubah Mukjizat
    upaya menelaah dan memahami alasan larangan Yesus
    Larangan Memberitakan Sungguh merupakan hal yang menarik untuk membahas pesan—atau tepatnya larangan—yang disampaikan Yesus kepada orang-orang yang baru saja...