Tujuan Hidup

Tujuan Hidup yang Membentuk Hidup Anda

Catatan Moderator Talkshow Komunitas Profesi GKI Pondok Indah

Belum ada komentar 25 Views

Waktu kita masih kanak-kanak, kita melambungkan cita-cita akan menjadi apa kelak. Lalu waktu berlalu, bahkan mungkin terasa terlalu cepat, hingga kita tiba pada salah satu persimpangan hidup yang penting, yaitu karier apa yang cocok.

“Ikuti passion-mu,” mungkin kalimat tersebut sudah sering kita dengar ketika galau dengan masa depan karier kita. Mengikut passion tampaknya tidak mudah. Bagaimana bekerja sesuai dengan passion kita? Bagaimana kita memilih passion dalam karier?

Pada hari Sabtu tanggal 3 Agustus yang lalu, Komunitas Profesi GKI PI berkumpul untuk membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tiga pembicara yang kompeten dan berpengalaman telah diundang untuk membagikan pengetahuan dan pengalaman mereka masing-masing. Mereka adalah Lala Tobing, Paul Tambunan, dan Mario Gultom.

Masing-masing menyampaikan pengalaman dan pengetahuan yang unik sesuai dengan latar belakang mereka. Lala Tobing sarat pengalaman berkarier dari level bawah hingga level manajer senior di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang bergerak dalam bisnis distribusi barang-barang konsumsi. Paul Tambunan, yang meniti karier sebagai insinyur pesawat terbang di IPTN, suatu waktu berpaling ke karier lain sebagai konsultan independen.

Mario Gultom, yang berusia jauh lebih muda, datang dengan kombinasi karier yang berbeda. Ia bekerja di bidang pemasaran pada perusahaan otomotif terkemuka di Indonesia. Sembari bekerja, ia membangun usaha kedai kopi, bernama “Kafe Sunyi”, sebagai kendaraan untuk menciptakan kesetaraan bagi kaum difabel. Ia menyisihkan penghasilannya dari bekerja untuk mengembangkan kedainya itu.

Galau dalam Karier

Terlepas dari keunikan ketiga pembicara tersebut, mereka mempunyai kesamaan, yaitu pernah galau dalam perjalanan karier mereka. Lala memulai karier di divisi marketing, di mana ia sangat berkembang dan berhasil. Di tengah keberhasilannya tersebut, ia dipindahkan ke divisi sales, yang membuatnya galau. Kegalauannya sangat beralasan, karena ia merasa sudah nyaman dengan keberhasilannya di posisi atau lini kariernya. Pindah ke divisi sales membuatnya pindah ke lini karier yang baru, jadi seperti mulai dari nol lagi. Ketika sedang membangun karier di divisi sales, ia kembali menghadapi kegalauan. Kali ini ia dipindahkan ke bagian SDM.

Namun di divisi SDM, ia makin mantap dengan passion-nya, yaitu menjadi saluran berkat bagi sesama dengan berbagi pengetahuan, pengembangan sumber daya manusia, dan coaching. Setelah pensiun dari perusahaan, ia menekuni profesinya sebagai coach.

Sama halnya dengan Paul. Sejak kecil, ia senang sekali dengan pesawat terbang dan bercita-cita untuk menjadi pembuat pesawat terbang. Ia mengejar cita-citanya dengan tekun hingga meraih beasiswa dari pemerintah untuk kuliah aerospace di Delft University, Belanda. Di universitas itu, ia berhasil meraih gelar S1 dan S2. Setelah lulus S2, ia kembali ke Indonesia dan bekerja di IPTN, di mana ia berpartisipasi dalam produksi pesawat-pesawat terbang nasional. Setiap kali ia melihat pesawat lepas landas, ia berkata dalam hatinya dengan penuh kebanggaan bahwa ia turut ambil bagian dalam pembuatan pesawat tersebut.

Ketika krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998, anggaran pembuatan pesawat dihentikan. Paul terkena dampaknya. Ia menganggur dan membuatnya bertanya-tanya apakah karier ini masih bagus untuknya. Dalam kegalauannya, ia bertemu dengan seorang sahabat yang akhirnya menjadi mentornya. Mentornya tersebut memberikan perspektif lain bagi perjalanan karier selanjutnya. Paul terkejut ketika mendengar mentornya menyarankan agar ia menjadi konsultan bisnis, yang merupakan profesi yang sebelumnya tak pernah dipikirkannya. Namun, ia mengambil kesempatan tersebut, meskipun ada risiko kegagalan.

Paul mengambil kuliah S2 Bisnis Administrasi di sekolah bisnis terkemuka di Jakarta. Setelah lulus, ia meniti karier di perusahaan konsultan ternama yaitu PwC. Saat ini ia menjadi konsultan independen di Bank Dunia. Terlepas dari perjalanan kariernya tersebut dan profesi yang dijalaninya, ia tetap mengikuti passion-nya, yaitu memberikan dampak baik bagi orang lain.

Selain Lala dan Paul, Mario yang berusia jauh lebih muda juga merasakan kegalauan dalam kariernya. Mengikuti passion-nya, ia ingin membuat perbedaan dengan hidupnya. Terinsipirasi dari sebuah award tentang kewirausahaan sosial di Singapura, ia ingin membangun usaha yang berorientasi pada pemecahan problem sosial.

Ia melihat bahwa kaum difabel kurang diperlakukan setara di Indonesia. Di samping itu, jumlah lapangan pekerjaan sangat terbatas bagi mereka. Ia mencetuskan ide bisnis kedai kopi bernama “Sunyi”, di mana seluruh karyawannya adalah kaum difabel. “Di kedai kopi Sunyi, tukang parkirnya adalah penyandang tuli, baristanya bertangan satu. Menu makanannya pakai huruf braille. Namun, mereka melayani dengan sepenuh hati,” tegasnya ketika berbicara di hadapan para peserta seminar.

Perjalanan untuk membangun kedai kopi Sunyi tidaklah mulus. Ia harus tetap bekerja supaya dapat menyisihkan uang untuk modal usaha kedai kopi tersebut. “Saya bekerja di bagian marketing salah satu perusahaan otomotif terbesar di Indonesia,” katanya.

Mario berkata bahwa membagi waktu antara bekerja dan menjalankan kafe Sunyi secara bersamaan merupakan pengalaman yang sangat berharga. “Awalnya saya galau, bagaimana menjalankan usaha Kafe Sunyi. Tak ada investor yang mau berinvestasi di usaha ini. Syukurlah, ada beberapa sahabat yang mau berinvestasi, ditambah lagi saya harus bekerja untuk ikut mengumpulkan modal.”

Kedai kopi Sunyi merupakan usaha mencari keuntungan supaya bisa berkelanjutan. Di atas usaha untuk menghasilkan keuntungan, kedai kopi ini memiliki konsep yang membawa pesan kesetaraan sosial bagi kaum difabel. Bisnis ini merupakan kendaraan untuk menyebar pesan tersebut kepada banyak orang.

Pelajaran untuk Dibawa Pulang

Dari ketiga pembicara tersebut, ada beberapa pelajaran yang menarik dalam menghadapi kegalauan terkait karier. Pertama, kita harus memiliki tujuan hidup yang menjadi landasan passion kita. Tujuan hidup yang dimaksud bukanlah sebuah kata benda, berupa profesi tertentu, misalnya dokter, pengusaha, pengacara, insinyur, melainkan sebuah kalimat aktif (subjek-predikat-objek) berupa visi dan misi.

Demi pencapaian visi dan misi itulah, kita menggunakan profesi atau jenis usaha (jika kita ingin menjadi pengusaha) sebagai kendaraan. Dengan demikian, meskipun di tengah jalan kita harus berganti profesi atau bisnis, hal itu tidak menjadi masalah yang berarti, karena kita dapat luwes dan cepat beradaptasi. Namun, ketika visi dan misi kita berubah, itu baru menimbulkan kegalauan. Kita harus solid dengan visi dan misi kita, namun luwes (agile) dengan profesi/bisnis kita.

Kedua, kita harus membuat perencanaan yang terintegrasi, meliputi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang untuk mencapai visi dan misi kita, bukan untuk membangun kenyamanan pada profesi tertentu. Kenyamanan selalu mempunyai efek samping yang sangat berbahaya, yaitu membuat kita enggan belajar dan tidak siap menghadapi perubahan.

Ketiga, kita harus memiliki mentor yang tepat. Perjalanan mencapai tujuan hidup kita bukanlah perjalanan solo, melainkan bersama-sama dan kolaboratif. Mentor kita harus benar-benar mengenal dan mengetahui tujuan hidup kita. Mentor yang tidak mengenal kita dengan baik malah dapat menimbulkan kebingungan karena memberikan arahan yang tidak tepat.

Keempat, kita harus memiliki iman kepada Tuhan. Perjalanan hidup kita, termasuk karier, merupakan wahana dari-Nya untuk bekerja bagi sesama. Hidup kita bukanlah tentang kita, melainkan tentang Dia yang mengasihi kita dan mempunyai rencana yang indah bagi hidup kita semua. Dia ingin agar kita senantiasa menyadarinya dalam setiap langkah hidup kita, walaupun dalam situasi yang penuh kegalauan.

| Ardo R. Dwitanto

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
Kegiatan