Terima Kasih

Terima Kasih

Belum ada komentar 12 Views

“Tas ransel hitam itu, Mbak,” kataku sambil menunjuk tas yang kumaksud dan menyodorkan kartu penitipan tas kepada perempuan berkerudung hitam di depanku. Mungkin usianya lima tahun di atasku. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia bekerja di toko swalayan ini. Yang jelas, sejak aku sering berbelanja di toko itu selama hampir setahun, aku sering melihatnya.

Dia dengan segera mengambil tas yang kutunjuk lalu menyerahkannya kepadaku. “Terima kasih,” kataku sambil tersenyum sekilas. Dia diam saja. Hampir selalu begitu. Rasa-rasanya aku tak ingat apakah dia pernah membalas
ucapan terima kasihku atau tidak. Bibirnya yang bergincu merah semu oranye itu jarang mengulaskan senyum. Mimik mukanya datar-datar saja, bahkan rasanya cenderung agak galak. Tak jarang sorot matanya menunjukkan kelelahan.

Aku tahu, berdiri hampir sepanjang hari sambil menerima dan mengangsurkan tas-tas para pelanggan toko ini memang tak mudah. Maksudku, mungkin ini bukan pekerjaan yang menyenangkan. Kurasa ini juga bukan pekerjaan yang diimpikan banyak orang. Aku sangat maklum jika dia tak membalas senyumanku atau ucapan terima kasihku.

Terima kasih adalah dua kata yang dijejalkan di kepalaku selama lima tahun saat aku tinggal di asrama Syantikara, Jogja. Ketika pertama kali masuk ke sana, ucapan terima kasih itu ditekankan untuk kami ucapkan kepada siapa pun yang telah membantu kami–bahkan untuk hal yang sangat sepele dan sepertinya sangat wajar. Misalnya, kami harus mengucapkannya setelah kami sama-sama mencuci piring usai makan bersama.

Awalnya agak janggal bagiku karena toh kami mencuci piring bersama. Ada yang bagian menyabun, ada yang membilas, dan ada yang mengelap piring-piring serta sendok yang masih basah. Pertama-tama aku bingung, kenapa mesti mengucapkan terima kasih dan mengapa aku perlu mendapatkan ucapan itu dari teman-teman yang lain? Tetapi aku sadar bahwa kami semua telah bekerja dan saling membantu, walaupun itu pekerjaan yang sederhana. Ucapan terima kasih adalah “upah” paling sederhana yang bisa diungkapkan kepada teman-teman. Jadi, usai mencuci piring, kami biasanya akan beramai-ramai mengucapkan “terima kasih” dengan menyebut nama semua teman yang ada. Ramai kan? Dan memang biasanya tempat cuci piring di kafe (tempat makan bersama kami) akan riuh dengan ucapan terima kasih itu.

Ucapan terima kasih ini saking sering diucapkan kadang membuat kami jadi latah. Dulu, jika ada yang mau berbelanja ke toko–seringnya ke Mirota Kampus–tak jarang akan woro-woro: “Aku mau ke Mirota, nih! Ada yang mau titip nggak?” Biasanya ada saja yang titip, entah titip pasta gigi, tisu, sabun, jajanan, dan sebagainya. Tentunya si penitip menyebutkan barang titipannya sambil menyerahkan uang. Yang unik, orang yang dititipi belanja itulah yang justru akan langsung mengucapkan “terima kasih” setelah menerima uang, hi… hi… hi… Lha wong dia yang repot belanja, malah dia yang langsung berterima kasih. Mungkin karena kesannya dia diberi uang, lalu dia langsung mengucapkan kata-kata wajib itu.

Menurutku, mengucapkan terima kasih itu adalah hal yang perlu. Bukankah kepada seorang anak kecil kita juga menanamkan ungkapan tersebut? Tetapi memang sepertinya saat ini ucapan terima kasih agak jarang kudengar di tempat umum. Bahkan sepertinya, ucapan itu hanya berupa tulisan di depan kasir, di pintu keluar sebuah toko, dan lain-lain. Tulisan itu dianggap sudah mengandung ketulusan suatu ungkapan. Tetapi tak jarang pula, ucapan itu hanya seperti pemanis bibir, tidak benar-benar keluar dari hati.

Sekarang setelah 10 tahun aku meninggalkan asrama, aku masih berusaha mengingatkan diriku sendiri untuk mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh kepada orang-orang yang kujumpai, mulai dari sopir angkot sampai petugas keamanan yang mengecek tasku ketika akan memasuki suatu gedung. Orang rata-rata membalas dengan ucapan “sama-sama” sambil tersenyum. Rasanya yang hampir tak pernah tersenyum ya cuma perempuan berkerudung, penjaga bagian titipan barang di toko swalayan langgananku itu tadi. Entah kenapa ia begitu, mungkin sedang sakit gigi.

blognyakrismariana.wordpress.com

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Edukasi
  • THE ART OF LISTENING
    Menjadi pendengar yang baik? Ah, semua juga bisa! Tapi apakah sekadar mendengar bisa disamakan dengan menjadi pendengar yang baik?...
  • To infinity and beyond!
    Saya salah satu penggemar petualangan seru dan epik dari Buzz Lightyear dan Woody, sahabatnya (Film: Toy Story 1995). Buzz...
  • Antara Si Badu & Akhir Tahun
    Antara Si Badu & Akhir Tahun
    Selamat pagi, siang, sore, dan malam. Menjalani setiap hari dengan rutinitas yang sama, sampai tiba saatnya Natal dan Tahun...
  • WOMEN ON FIRE
    Perempuan Warga Kelas Dua Sepertinya dari dulu perempuan cenderung ditempatkan sebagai warga kelas dua dalam status sosial. Hal ini...
  • Doketisme
    Doketisme
    doktrin keilahian yang kebablasan
    Fanatisme Spiritualitas Fanatisme sebuah spiritualitas yang secara berlebihan menekankan hal-hal tertentu dan kurang menganggap penting hal-hal lain, sering kali...