Antara Si Badu & Akhir Tahun

Antara Si Badu & Akhir Tahun

Belum ada komentar 14 Views

Selamat pagi, siang, sore, dan malam. Menjalani setiap hari dengan rutinitas yang sama, sampai tiba saatnya Natal dan Tahun Baru, dan kita mulai merenungkan perbuatan kasih apakah yang sudah kita lakukan tahun ini?

Dulu, pada awal tahun, kita berharap akan menjadi orang yang lebih baik. Dulu kita berkomitmen, bila pekerjaan kita berhasil, kita akan menyisihkan waktu dan tenaga untuk pelayanan. Tiba-tiba 2020 pandemi menyerang. Semua harapan, misi, dan komitmen buyar. Perubahan yang diharapkan tidak terjadi. Terkadang ada keinginan untuk mendengar suara Tuhan yang berbisik lembut, “Tenang, masih ada kesempatan tahun depan.” Namun hati terasa gundah, karena tampaknya setahun berlalu begitu saja tanpa perbaikan diri yang signifikan. Ketika berbicara perubahan yang baik, sebagian dari diri kita berharap mengalami perubahan yang drastis. Bagai kuncup bunga yang mekar. Bagai ulat menjadi kupu-kupu. Namun kenyataan berkata bahwa kita tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Badu mendaki gunung. Ia hendak bertemu seorang pertapa yang terkenal sangat bijaksana. Sampailah ia di sebuah dataran tinggi, dan di situ ada gua tempat pertapa tinggal. Ia bertemu pertapa tersebut dan bertanya, “Master, bagaimana supaya hidupku menjadi lebih baik?” Sang pertapa hanya diam menunduk, dan menutup mata. Ternyata ia sedang tidur. Badu pun membangunkannya dan mengulang pertanyaan yang sama, “Master, bagaimana supaya hidupku menjadi lebih baik?” Pertapa itu menjawab sambil terkantuk kantuk, “Tidak ada seorang yang kembali ke rumah yang sama. Tidak ada seorang yang menyeberangi sungai dua kali.” Dan seperti pertapa umumnya, ia tidak memberitahukan artinya. Badu harus mencarinya sendiri. Jadi ia turun gunung sambil memikirkan kata-kata pertapa tadi. Saat menuruni gunung, di depannya ada aliran sungai kecil. Aliran sungai itu dilewatinya saat berangkat. Ia menyeberanginya. Kata pertapa, ia tak bisa menyeberangi sungai yang sama dua kali. Badu masih belum mengerti. Setelah perjalanan jauh, ia sampai ke rumahnya. Ia kembali ke rumah tempat ia berangkat. Kata pertapa, tidak ada seorang pun yang kembali ke rumah yang sama. Namun ia kembali ke rumah di alamat yang sama.

Di dalam pikiran Badu, pertapa ini mungkin pertapa bohongan. Pura-pura bertapa dan membicarakan hal-hal yang terkesan bijak. Jangan-jangan itu jawaban yang sama untuk semua pertanyaan. Ia menyesal telah pergi jauh mendaki gunung untuk bertemu dengan pertapa tersebut. Ia berharap semua hal ini tidak pernah terjadi. Namun sudah terlanjur. Ia tidak bisa melupakan jawaban pertapa tersebut. Tiba tiba ia tersentak. “Aha!” serunya. Ia bukanlah Badu yang sama sebelum pergi dari rumah. Itulah arti “tidak bisa kembali ke rumah yang sama”. Ketika melangkah keluar rumah, apapun pengalamannya, pikiran kita sudah berubah. Sel-sel tubuh kita sudah berubah menghirup udara di luar rumah. Kita bisa kembali ke rumah yang sama, tapi kita bukanlah kita yang sama. Sama halnya dengan “tidak bisa menyeberangi sungai dua kali”. Setiap kali kita menyeberang, air sungainya bukanlah air yang sama. Plankton, alga, dan mineral yang ada dalam air sungai berbeda setiap kali arus melewati kita. Kita tidak akan bisa menyeberangi sungai yang persis sama.

Semua Tak Sama
Inilah realitas bahwa perubahan merupakan kepastian. Setiap momen kehidupan kita tidak mungkin dilalui tanpa perubahan. Ada perubahan yang kita sadari, misalnya lulus SMA, masuk dunia kerja, berpacaran, atau saat bertobat. Biasanya itu menjadi semacam pencapaian dalam hidup kita. Kita berharap mempunyai kisah perubahan yang nyata dalam hidup kita. Padahal ada perubahan yang mungkin tidak kita sadari. Terkadang untuk menyadarinya, kita lama merenung dan membandingkan setiap kejadian dalam hidup kita. Dan ketika akhir tahun, kita merasa bahwa kita tidak menjadi lebih baik, dan kita sering takut. Mazmur 139:23, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran pikiranku …” Pemazmur pun meminta Allah menyelidiki dirinya. Artinya, ia mengakui bahwa ia tidak sepenuhnya mengenal dirinya sendiri. Memang kita tidak sepenuhnya mampu menyadari segala perubahan dalam diri kita. Hanya Allah yang tahu. Pemazmur juga mengalami perasaan takut dan tidak nyaman tentang ketidakpastian ini. Ternyata persoalan ini cukup relevan di kehidupan orang beriman. Lucunya, kita bisa mencatat, menghitung, memeriksa ulang segala perubahan hidup kita dari hari ke hari. Namun semua diakhiri, bukan bagaimana kita memeriksa diri kita, tapi bagaimana Allah memeriksa diri kita. Karena bisa jadi kita sebagai manusia sering melewatkan karya Allah.

Mungkin kita menganggap bahwa kita tidak berguna, tapi ternyata Allah sedang memakai kita. Mungkin kita merasa hidup kita tidak punya tujuan, tapi ternyata Allah sedang mewujudkan tujuan-Nya lewat kita. Mungkin kita merasakan banyak kemalangan pada tahun ini, tapi ternyata Allah sedang menumbuhkan kita untuk menghargai berkat kecil yang membuat kita bertahan dan bersukacita. Dari situlah Pemazmur melanjutkan di ayat 24, “… lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Inilah penyerahan diri. Kita bersedia hidup kita diperiksa Allah, sekaligus kita juga mempersilakan Allah mengoreksinya. Inilah doa yang mungkin bisa kita ucapkan pada akhir tahun, terutama ketika kita merasa waktu berlalu begitu cepat. “Perasaan baru kemarin bulan Desember, kenapa sekarang sudah Desember lagi?” Hidup seperti jam pasir, selalu dikejar tenggat waktu pekerjaan, tenggat waktu pelayanan, dan tenggat waktu kehidupan sosial. Kita bahkan tidak punya kesempatan untuk merenungkan apakah kita sudah melakukan tugas kita dengan cukup baik tahun ini. Setidaknya malam Tahun Baru ini, luangkanlah waktu untuk menaikkan doa permohonan kepada Allah, untuk menyelidiki hati kita dan menuntun jalan kita.

Tak Pernah Sama
Kita berubah, orang lain berubah, sekitar kita terus berubah. Ketika kita merenungkan perubahan diri kita, pada saat yang sama, orang lain, lingkungan sekitar, dan dunia ini juga terus berubah. Setiap hari berita di televisi berubah. Perasaan teman yang kita kenal berubah. Tahun depan cobaan yang kita hadapi berubah. Orang lain dan lingkungan bisa memengaruhi kita. Saat Pemazmur menulis ayat 23 dan 24, dirinya sedang dikelilingi orang-orang munafik. Doa ini adalah permohonan pribadi agar Daud tidak mengkhianati janjinya. Ia tak ingin sampai mengecewakan Allah. Hidup kita juga bisa dikelilingi kejadian abu-abu yang tampaknya masuk akal, wajar, dan baik, tapi sebenarnya mementingkan diri sendiri. Mungkin kita sedang bekerja keras sambil melayani, tapi ternyata kita tak sadar sedang melupakan keluarga. Mungkin kita sedang membangun orang terpinggir agar lebih sejahtera, tapi kita sedang menjauhi persekutuan gereja. Mungkin kita sedang mengembangkan diri, tapi tanpa sengaja kita menginjak teman sejawat. Karena perubahan diri yang tak kita sadari ini bisa menuju arah yang lebih baik, tapi bisa juga sebaliknya. Bersyukur jika kita masih khawatir dan merefleksi diri pada akhir tahun ini, karena artinya kita masih sadar.

Tahun berganti, Badu sudah dewasa. Hidupnya sukses, kini ia menjadi konglomerat. Dan karena sudah memiliki segalanya, ia teringat pada pertapa yang pernah ditemuinya. Ia ingin pergi lagi mendaki gunung, tapi karena ia sudah cukup tua, ia dibantu helikopter. Ia sampai di gua tempat pertapa itu tinggal dan merasa sangat kaget karena pertapa itu sudah tiada. Badu sangat sedih karena ia tak sempat mengucapkan terima kasih. Ia lalu membuat keputusan ekstrem. Ia akan menggantikan pertapa. Ia tinggalkan segala kekayaannya dan hidup soliter. Mungkin pertapa sebelumnya juga konglomerat yang memilih hidup soliter dan menjadi pertapa. Mungkin Badu meneruskan siklus konglomerat itu dan menjadi pertapa. Namun coba bayangkan, Badu yang seorang konglomerat mengakhiri hidupnya menggantikan pertapa yang hanya ia temui sebentar sekali semasa hidupnya. Beberapa menit yang sangat berharga, dua kalimat yang bisa mengubah hidup seseorang. Ternyata, kita pun bisa memberi pengaruh pada lingkungan sekitar kita. Caranya cukup sederhana, dengan memberi kalimat bijaksana tentang alamat rumah dan sungai.•

|SAMUEL SEBASTIAN

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Edukasi
  • WOMEN ON FIRE
    Perempuan Warga Kelas Dua Sepertinya dari dulu perempuan cenderung ditempatkan sebagai warga kelas dua dalam status sosial. Hal ini...
  • Doketisme
    Doketisme
    doktrin keilahian yang kebablasan
    Fanatisme Spiritualitas Fanatisme sebuah spiritualitas yang secara berlebihan menekankan hal-hal tertentu dan kurang menganggap penting hal-hal lain, sering kali...
  • Become Our Best Selves
    meraih sukses tidak dengan menakhlukkan orang lain, …tapi menampilkan yang terbaik dari diri sendiri. Become Our Best Selves Tujuan...
  • media sosial
    Bijak Menggunakan Media Sosial
    Keberadaan Internet, yang pada mulanya berfungsi untuk menjelajah dan mengirim email, terus berkembang penggunaannya untuk saling berinteraksi di media...
  • Dendam Menutup Pengampunan
    Polisi Korea Selatan di Seoul menangkap Kim, yang berusia 37 tahun, karena dia menikam Song hingga tewas. Song adalah...