Hospitality Ministry

Quo Vadis Hospitality Ministry GKIPI 2019

Belum ada komentar 50 Views

Menjelang perayaan Natal tahun 2019, tepatnya pada hari Sabtu, 30 November yang lalu, kembali Komisi Hospitality Ministry (Komisi HM) mengadakan pembinaan dan workshop (lokakarya) bagi para pegiatnya. Acara ini diberi tema “Quo Vadis Keramahan GKI Pondok Indah?” dan merupakan kelanjutan dari acara pelatihan ushering yang diadakan di Gedung GKPI Jemaat Khusus Rawamangun pada tanggal 19 Oktober, dengan narasumber Pdt. Joas Adiprasetya dan Komisi HM GKI PI.

Secara etimologi, kata quo vadis adalah kalimat dalam bahasa Latin yang berarti “Ke mana engkau pergi?” dan merupakan ungkapan kristiani yang — menurut tradisi gereja — dilontarkan kepada Tuhan Yesus oleh rasul Petrus ketika bertemu dengan-Nya saat ia hendak melarikan diri dari misinya yang berisiko disalibkan di kota Roma.

Tema lokakarya kali ini dimaksudkan sebagai refleksi iman dan spiritualitas jemaat GKI PI — khususnya para pengurus dan pegiat Komisi HM — untuk dapat melayani lebih baik lagi, dan mencerminkan kebangunan rohani sebagai “Kristus kecil” di dalam keluarga orang percaya di lingkup GKI PI. Meskipun demikian, terdapat beberapa peserta dari gereja lain yang ikut memperkaya sesi diskusi dan berbagi pengalaman.

Lokakarya kali ini terdiri atas dua sesi. Sesi pertama disampaikan oleh Pdt. Joas dengan fokus pembahasan pada aspek teologis yang mendasari prinsip dan pola pikir Hospitality Ministry, sedangkan sesi kedua disampaikan oleh Bpk. Victor Tobing yang menjabarkan penerapan aspek teologis dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap praktis guna membangun budaya keramahtamahan di GKI PI.

Sesi Pertama

Pada sesi ini, para peserta diberi pembekalan mengenai berbagai aspek teologis yang harus dipegang sebagai pengurus dan pegiat Komisi Hospitality Ministry.

Pembahasan diawali dengan kontradiksi yang kerap terjadi di gereja, di mana masih sering ditemukan stigma “orang dalam versus orang luar”, khususnya di gereja-gereja tradisional yang memberlakukan nomor keanggotaan kepada jemaatnya. Di sisi lain, konsep keramahtamahan dalam HM seharusnya menitikberatkan pada persahabatan dengan orang asing, sesuai dengan kata Yunani untuk keramahtamahan xenophilia (xenos— orang asing; philia—persahabatan). Karena itu, secara teologis gereja yang bersahabat dan dibangun sebagai sebuah komunitas persahabatan harus menjadi gereja yang juga menyahabati orang asing melalui hospitalitas.

Lebih jauh lagi dipaparkan bahwa penyebutan “orang dalam” dan “orang luar” merupakan suatu hal yang kompleks, dan tidak dapat ditentukan hanya dari daftar nama di dalam basis data jemaat. Kita perlu berhikmat dalam penyebutan status “orang dalam” dan “orang luar” ini, karena dapat memicu sikap pengasingan/othering kepada mereka yang diasosiasikan sebagai “orang luar” dan sikap penguasaan/belonging bagi mereka yang diasosiasikan sebagai “orang dalam”. Diperlukan pola pikir sebagai kesatuan jemaat melalui Kristus, agar kita dapat menerima orang asing sebagai saudara dengan penuh kehangatan (Ibrani 13:1-2).

Selanjutnya, Pdt. Joas memberi penekanan khusus pada tugas seorang usher yang menghantarkan seseorang memasuki dua dunia, yakni kehidupan di luar gereja dan dunia gerejawi. Pelayanan keramahtamahan harus dipandang serius, karena menjadi wajah pertama gereja dalam menyambut jiwa-jiwa yang penat mencari pencerahan, tapi sekaligus dapat menjadi alasan pertama dan utama seseorang untuk tidak mau lagi bergabung dengan jemaat tersebut! Ushering adalah sebuah karya diakonal yang mengantarai (go-between), sehingga dimensi spiritualitas memainkan peranan penting dalam pelayanan keramahtamahan di gereja.

Dalam aplikasinya, kita perlu mempelajari berbagai perspektif dari seorang first timer saat menghadiri kebaktian di gereja untuk pertama kali, agar karya penyambutan kita sungguh sungguh membuatnya tertarik untuk terus bergabung dalam komunitas jemaat kita. Banyak first timer yang sekaligus menjadi last timer: mereka tidak tertarik untuk datang kembali. Kita juga tidak dapat membayangkan berbagai kemungkinan orang-orang yang secara khusus datang ke gereja dengan ekspektasi tertentu terhadap penerimaan jemaat terhadap mereka, dan meyakinkan mereka untuk berkomitmen mengambil bagian dalam komunitas gereja kita. Singkatnya, para penyambut menjadi semacam “Kristus kecil” bagi orang lain melalui pelayanan keramahtamahan ini (C.S. Lewis, Martin Luther).

Pdt. Joas juga membagikan beberapa pedoman praktis dan usulan yang dapat dijadikan referensi untuk melakukan evaluasi kualitas pelayanan penyambutan Komisi Hospitality Ministry GKI PI dalam merepresentasikan suatu gereja persahabatan yang terbuka. Perhatian khusus terhadap detail karya penyambutan yang dipersiapkan secara seksama, merupakan kunci dari karya penyambutan yang luar biasa. Hal ini menuntut kehadiran sepenuhnya para pegiat bagi para tamu untuk mengomunikasikan hal yang besar kepada mereka (Jason Young, Jonathan Malm).

Sesi Kedua

Berikutnya acara dilanjutkan dengan sesi kedua dengan tema “Hospitable Communication & Body Language”, yang disampaikan oleh Bapak Victor ML Tobing. Beliau memaparkan berbagai aspek teknis yang diperlukan untuk menghadirkan karya penyambutan yang berkualitas. Sesi ini diawali dengan pembahasan mengenai penerapan hospitalitas dalam lingkungan sekuler, yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. Bagi pelaku bisnis, tidak ada pilihan lain kecuali menerapkan pelayanan prima untuk dapat bertahan dan sukses dalam kompetisi, sehingga mulai dari pimpinan puncak sampai lapisan terbawah dalam perusahaan menjadikannya sebagai budaya kerja, dengan prinsip reward and punishment.

Di sisi lain, untuk menjadikan keramah tamahan sebagai budaya di lingkungan gerejawi, keramahtamahan tersebut harus didorong oleh kasih Allah yang direfleksikan kepada sesama secara nyata. Hal ini sejalan dengan penjelasan Pdt. Joas pada sesi pertama, di mana dimensi spiritualitas memegang peranan penting dalam menghadirkan karya diakonal yang mengantarai (go-between), yakni seorang usher menjadi semacam “Kristus kecil” dalam menyambut sesamanya.

Selanjutnya, untuk membangun budaya keramahtamahan dalam gereja, terdapat tiga aspek kompetensi yang perlu dikembangkan untuk menentukan keberhasilan, yakni aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang perlu ditunjukkan oleh tim ushering dalam pelayanan. Dengan bersemangat Bpk. Victor membagikan pengetahuannya kepada para peserta guna mengembangkan ketiga aspek tersebut, termasuk di antaranya berbagai saran dan kiat yang dapat dipraktikkan untuk menciptakan keramahtamahan dalam berkomunikasi secara efektif, membina relasi, dan menghadapi individu yang unik dan menuntut.

Sesi kedua ini diakhiri dengan diskusi dalam kelompok kecil, di mana para peserta diminta untuk melakukan evaluasi terhadap pelayanan keramahtamahan yang telah dilakukan selama ini (antara lain di GKI PI), serta menggali berbagai masukan untuk pengembangan selanjutnya. Bapak Victor kembali menekankan pentingnya aspek spiritualitas dalam membangun budaya keramahtamahan dalam lingkungan gerejawi, dengan mengutip sebuah ayat Alkitab sebagai pedoman:

“Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.” (1 Yohanes 4:12)

#KomisiHMGKIPI

 

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
  • pandemi
    SPIRITUALITAS DI TENGAH PANDEMI
    WA Group saya belakangan flooded dengan banyak berita mengenai Coronavirus—Covid19. Dan saya yakin, Anda pun mengalaminya. Yang tidak kita...
  • pelayanan
  • family
    Family Ministry
    Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulangulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila...
  • pswpi
    PSWPI ke Bali
    Bali adalah sebuah pulau yang terkenal sebagai tempat wisata yang indah. Jumlah wisatawan asing dan domestik yang berkunjung ke...
  • Hari Anak
    “Hari Anak? Apa itu ya?” Pertanyaan seperti itu muncul beberapa kali ketika kami mempersiapkan para ASM (Anak Sekolah Minggu)...
Kegiatan