Perihal BERDOA

Belum ada komentar 2 Views

Bapak Pendeta yang baik, Saya ingin menyampaikan beberapa pernyataan, dan mengajukan beberapa pertanyaan, atau lebih tepatnya mohon izin berkonsultasi dengan Bapak Pendeta.

1. Saya tidak mengalami kesulitan dalam berdoa, bahkan untuk berdoa di muka umum. Artinya saya mampu merangkai kata-kata doa saya dengan baik dan pantas dalam setiap peristiwa di mana saya diminta untuk menaikkan doa. Namun saya hampir tidak pernah tertarik untuk berdoa pada saat tidak ada hal khusus yang harus saya doakan. Dan saya tidak responsif untuk menindaklanjuti hampir segala sesuatu dengan berdoa. Apakah saya bermasalah dengan hal itu?

2. Saya menghayati doa sebagai komunikasi/ungkapan perasaan kepada Tuhan yang dapat disampaikan dalam berbagai kesempatan, sehinggga saya menghayati waktu doa saya adalah menyatu dengan segala dinamika dan gerak hidup saya. Jika demikian apakah benar diperlukan waktu-waktu khusus untuk berdoa? Apakah jika saya tidak mempunyai waktu waktu khusus untuk berdoa itu Tuhan tidak akan berkenan pada kehidupan doa saya?

3. Sebaiknya bagaimana saya merancang kehidupan doa saya? Mohon saran, masukan, dan bimbingan dari Bapak Pendeta

4. Apakah benar jika Roh Kudus berkenan atas hidup dan doa doa kita, maka kita akan diberi kemampuan untuk berbahasa Roh dan mengartikan bahasa Roh? Bagaimana dengan orang-orang yang tidak pernah bisa berbahasa Roh atau mengartikan bahasa Roh, apakah dengan demikian berarti Roh Kudus tidak berkenan atas hidup dan doa doanya?

Demikian pertanyaan-pertanyaan saya, mohon pencerahan dan tuntunan Bapak.

Joachim Liauw

Jawab: Saudara Joachim Liauw yang baik,

Pemahaman Anda benar, bahwa doa adalah komunikasi/ungkapan perasaan kepada Tuhan. Yang perlu ditambahkan dalam pemahaman ini adalah bahwa sebuah komunikasi yang baik mesti terjadi dua arah. Pada satu sisi, kita sebagai anak-anak Bapa di Surga tentu bisa berkomunikasi/ mengungkapkan perasaan kita kepada Allah sebagai Bapa kita semua, dan pada lain sisi Allah sebagai Bapa tentu ingin berkomunikasi juga dengan kita, anak-anak-Nya. Karena itu kita harus membuka diri untuk mendengar komunikasi dari sang Bapa.

Dengan demikian, kehidupan doa pada hakikatnya adalah sebuah kehidupan yang terarah kepada Tuhan, mempunyai hubungan yang akrab dengan-Nya. Dalam kehidupan seperti ini, sejatinya hidup kita adalah doa. Respons kita atas berbagai peristiwa kehidupan tidak harus dalam bentuk doa, tapi apapun respons itu, lahir dari sebuah kehidupan yang terarah kepada Tuhan. Misalnya, ketika terjadi bencana, Anda merespons dengan pergi ke daerah bencana dan memberikan pertolongan. Sepanjang respons itu lahir dari hati/hidup yang terarah kepada-Nya, maka respons itu sudah menjadi bagian dari kehidupan doa Anda.

Nah, apakah perlu waktu khusus untuk berdoa? Perlu. Khususnya, ketika kita ingin mendengar komunikasi dari sang Bapa. Dalam kehidupan yang terarah kepada Tuhan, sang Bapa terus berkomunikasi dengan kita melalui Roh Kudus. Dari komunikasi itu lahirlah banyak respons kehidupan melalui diri kita. Namun sebagai manusia, kadang-kadang banyaknya kesibukan dalam kehidupan kita bisa mengaburkan komunikasi dari sang Bapa. Karena itu alangkah baiknya jika Anda bisa mempunyai ‘waktu khusus’ untuk bisa berkomunikasi secara akrab dengan sang Bapa, jauh dari gangguan keberisikan hidup ini. Bukankah Yesus sebagai Putera Tunggal Bapa di Surga, sudah memberikan keteladanan untuk menyisihkan waktu berkomunikasi secara khusus dengan sang Bapa di Surga? (Markus 1:35) Apa yang dilakukan di waktu khusus itu? Intinya, Anda membuka komunikasi dua arah dengan sang Bapa. Anda bisa berdoa, membaca firman-Nya, atau sekadar merenung dalam keheningan, mendengar lagu rohani, dan banyak lainnya.

Nah, sekarang soal ‘Bahasa Roh’. Itu adalah salah satu dari banyak karunia Roh yang Allah berikan kepada kita. Allah memberikan karunia ini secara khusus kepada setiap orang, jadi antara Anda dengan orang lain, karunianya bisa berbeda, tetapi itu berasal dari Roh yang sama (1 Korintus 12:11). Oleh karena itu, karunia bahasa Roh tidak bisa dijadikan ukuran untuk menilai kehidupan doa Anda. Kehidupan doa itu soal relasi dengan Tuhan. Kita bisa menilai kehidupan doa kita dari ‘rasa keakraban/kedekatan’ kita dengan Nya. Memang sifatnya subjektif, tetapi bukankah soal ‘keakraban’ memang selalu bersifat subjektif?

Nah, itu jawaban saya, semoga membantu pergumulan Anda ya? Jangan ragu akan kehidupan doa Anda, karena dengan bertanya saja, berarti Anda sangat serius dengan kehidupan doa. Tingkatkan saja kedekatan/ keakraban Anda dengan Tuhan. Nanti dengan sendirinya akan lahir doa-doa yang merupakan manifestasi relasi yang akrab dengan Tuhan. Jangan lupa juga, komunikasi mesti dua arah. Anda perlu menyatakan tetapi juga mendengar. Semoga kehidupan doa Anda makin baik.•

|PDT. EM. RUDIANTO DJAJAKARTIKA

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pastoralia
  • Menyikapi Kematian
    Bapak Pendeta yang baik, Bagaimana sebaiknya merespons dan menyikapi kematian? Saya berasal dari kepercayaan lain dan belum lama menjadi...
  • Lagi-lagi Soal Nikah Beda Agama
    Lagi-lagi Soal Nikah Beda Agama
    Pak Pendeta yang baik, Meskipun di rubrik ini sudah sering dijelaskan tentang menikah beda agama yang dilayani di GKI...
  • GKI Pondok Indah Tidak Memberi Wadah Konseling Bagi Permasalahan Keluarga?
  • Pekabaran Injil di GKI Sudah Redup?
    Pekabaran Injil di GKI Sudah Redup?
    Pak Pendeta yang baik, Saya bertemu dengan seseorang (GKI) yang selalu berkata bahwa jiwa Pekabaran Injil di GKI itu...
  • Alkitab Online
    Alkitab Online
    Bapak Pendeta Yth, Ada dua hal yang ingin saya tanyakan: Pertama, Dengan kemajuan teknologi dalam segalabidang, Alkitab kini tidak...