pelayanan

Pelayanan Keluar Komisi Pengabaran Injil, Februari 2020

Belum ada komentar 33 Views

Seminar Guru PAK
Sabtu, 15 Februari pk. 03.00 pagi, Tim KPI bergerak menuju bandara untuk berangkat ke Semarang, dan dilanjutkan ke Desa Diwak, Getasan, Salatiga.

Perjalanan ke Desa Diwak melalui jalan kecil berliku dan berbatu, dengan pepohonan dan rumput liar yang hampir setinggi badan manusia di kanan dan kiri jalan, sebelum kami sampai di gedung GKJTU Bukit Zaitun (GKJTU: Gereja Kristen Jawa Tengah Utara). Kami sudah dinantikan oleh Pdt. Sudaryono dan panitia penyelenggara seminar Guru PAK binaan tujuh gereja di Getasan (Tim7), karena seminar tersebut diadakan di sana. Mereka bersyukur karena GKI Pondok Indah mendukung penyelenggaraan seminar berkala setahun sekali ini, yang sudah untuk ketiga kalinya diadakan bagi mereka.

Tema seminar adalah “Tantangan PAK Generasi Milenia” dengan narasumber Prof. Dr. Ferdy Semuel Rondonuwu, M.Sc., dosen UKSW. Beliau menjelaskan bahwa saat ini seluruh dunia sudah terhubung satu sama lain dengan satu alat kecil yang bernama handphone, sehingga tidak heran bila murid sekolah yang jauh di Indonesia Timur pun sudah sangat melek teknologi. Guru PAK harus menyadari bahwa perubahan dalam digitalisasi dan otomatisasi ini sudah merasuki semua aspek kehidupan, dan tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Perkembangan teknologi digital ini memudahkan kita, sekaligus menjadi ancaman, karena segera akan ada banyak pekerjaan manusia yang diambil alih oleh sistem. Suatu saat nanti kendaraan umum tidak lagi membutuhkan pengemudi, jasa kurir digantikan oleh drone, dunia belajar-mengajar yang sekadar transfer ilmu pengetahuan akan ditinggalkan, karena informasi hanyalah sejauh jari, dan model belajar yang menumbuhkan proses berpikir, berkreasi, berinovasi dalam konteks pemecahan masalah dan berkarakter akan menjadi kebutuhan dunia pendidikan. Banyak lagi hal yang dijelaskan oleh Prof Ferdy selama 2,5 jam sesi pertama, tetapi terasa sangat sebentar, karena pemaparan materi yang disampaikannya begitu menarik.

Sesi kedua banyak diisi oleh simulasi dan permainan kelompok yang menunjukkan pentingnya kreativitas dalam mengajar dan pentingnya komunikasi yang baik dengan anak anak didik sekarang, karena mereka sedang dipersiapkan untuk mampu menguasai teknologi digital/ industri 4.0, mampu mengembangkan talenta, mampu membangun ketrampilan yang mereka miliki, dan siap untuk pekerjaan yang sekarang belum diciptakan. Prof, Ferdy menutup seminar dengan pesan bahwa mendidik anak yang pintar dan berbakat tidaklah istimewa, tetapi menjadikan murid biasa menjadi luar biasa, it’s doing something.

Para peserta seminar menyampaikan apresiasi mereka melalu WA, dan beberapa kami muat di sini:

[16:57, 2/15/2020] Maryani Waluyo: Syalom bpk ibu, Terima kasih utk kegiatan seminar hari ini, materi sangat bagus dan melalui permainan, kami byk menerima pembelajaran utk meningkatkan kualitas sbg seorg pendidik dan pendamping anak anak, doa kami utk ibu bpk, diberkati Tuhan dg kesht, kekuatan, jadi berkat bagi banyak orang, menjangkau banyak orang yg blm terjangkau. Terima kasih.

[18:47, 2/15/2020] Malam Pak. Seminar tadi sangat memberkati dan menambah wawasan untuk mengajar anak generasi milenial dan membuka cakrawala untuk kreatif dalam melayani anak melalui pendidikan, jadi saya secara pribadi berharap ada kelanjutannya. Terima kasih. Ismuhadi.

[14:56, 2/15/2020] Saya sangat senang karena banyak dibukakan hal-hal yg belum dimengerti sebelumnya dalam metode mengajar/memecahkan masalah dlm mengajar, dalam interaksi dengan siswa yg bermasalah dan interaksi dengan masyarakat. Sarannya: ke depan lebih banyak aktivitas /metode mengajar yg baik … Terima kasih banyak Pak. Dari bu Eni Kristiyaningsih, S.Pd..

[14:04, 2/18/2020] Pardi: Syalom, Kesan Saat Seminar 15-2-2020: 1. Terima kasih bahwa lewat kegiatan tersebut saya sangat diberkati. 2. Ada hal baru yang saya dapat dr materi tersebut, sebagai seorang guru hrs lebih kreatif. 3. Bulan Februari ini memang saya pribadi baru doa, meminta petunjuk kepada Tuhan krn ada panggilan untuk mengajar anak2 di daerah perbatasan. Melalui seminar tersebut saya sungguh dikuatkan bahwa hati saya terpanggil untuk anak2 di daerah perbatasan, walaupun hrs ada hal yg harus dikorbankan.

[21:38, 2/18/2020] Sy Yuli Aryanti, peserta seminar guru PAK Getasan. Sy sangat terberkati dgn acara seminar trsbt. Semoga terus diselenggarakan. Jk tim bbrp hr di Getasan, hr Minggunya dgn senang hati kami mau diberkati dengan Firman Tuhan di gereja kami oleh salah seorang dr tim GKI Jakarta. Trmksh.

Pelayanan Ibadah Minggu di GKJTU Bukit Zaitun
Minggu 16 Februari, pk 07.00 kami sudah berada kembali di gereja untuk pelayanan ibadah Minggu. Suasana pagi ini terasa agak berbeda dari kemarin, sangat sejuk, karena kebetulan lokasi gereja terletak di ketinggian kaki gunung Merbabu yang berdiri kokoh, seolah-olah menjaga kota Salatiga dan sekitarnya. Kami disambut dengan hangat oleh Jemaat dan Pdt. Sudaryono yang menjadi Gembala Gereja di sini. Kami berkenalan dengan Bpk. Hartono (usia 72 tahun) yang ternyata adalah ayah dari Pdt. Sudaryono. Ada hal yang sangat istimewa dari pria yang sudah berumur ini. Beliau adalah salah seorang penginjil di desa Diwak sejak tahun 1965. Buahnya sungguh sangat luar biasa, karena sekarang 99% penduduk Desa Diwak mengenal Tuhan Yesus. Puji Tuhan!

GKJTU bukit Zaitun memulai ibadah Minggu pada tahun 1979 di rumah Bapak Hartono. Namun karena makin bertambahnya jemaat, pada tahun 1985 mereka mengimani untuk membangun sebuah gedung gereja bagi tempat ibadah mereka, yang baru selesai pada tahun 1999. Sebuah perjalanan panjang. Setelah empat belas tahun, jemaat mencapai impian mereka untuk memiliki sebuah gedung gereja.

Tanggal 14 Februari 2009, tepat 11 tahun lalu, Jemaat GKJTU Bukit Zaitun memulai merenovasi gedung gereja ini menjadi 3 lantai: lantai 1 untuk ibadah, lantai 2 yang berupa balkon digunakan untuk Sekolah Minggu dan kantor Gereja, lantai 3 merupakan atap gereja yang terbuka.

Pelayanan Ibadah Minggu 16 Februari dilayani oleh Pdt. Luisye Sia, yang menyampaikan bahwa beliau hadir tidak untuk menanam benih Firman Tuhan buat jemaat—karena sudah ditanam oleh Bpk. Hartono dan Pdt. Sudaryono—tapi untuk menyiram benih Firman Tuhan yang sudah tumbuh subur di hati jemaat. Ibadah berjalan penuh semangat. Tim Pemusik dan Pemandu Pujian yang terdiri atas para remaja dan pemuda mengiringi dengan sangat baik, padahal mereka semuanya otodidak, tidak ada yang belajar di sekolah musik. Jemaat pun kadang-kadang mengiringi lagu dengan bertepuk tangan.

Tim KPI mempersembahkan lagu pujian, I will Serve Thee dalam bahasa Indonesia Aku Ingin Mengikut Yesus. Seusai ibadah, Pdt. Sudaryono bersama jemaat memberikan apresiasi kepada Tim KPI dan Pdt. Luisye, dengan tepuk tangan khusus yang sudah dilatih sebelumnya.

Selain pelayanan ibadah Minggu, Tim KPI juga menyampaikan sejumlah Alkitab dan dana yang berasal dari jemaat GKI PI, yang diterima Pdt. Sudaryono dan jemaat dengan penuh terima kasih atas kepedulian GKI PI kepada mereka.

Senin 17 Februari, kami kembali ke Jakarta dengan penuh sukacita, karena merasa sangat diberkati dalam pelayanan ini.•

 

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
Kegiatan