Pdt (Em) Purboyo W. Susilaradeya, yang pernah kukenal dan yang akan selalu kukenang

Belum ada komentar 117 Views

Perkenalan Awal
Sore itu jam sudah hampir menunjukkan pukul 16.00. Beberapa peserta katekisasi yang sedianya dipimpin oleh Pdt. Abednego sudah hadir mengisi bangku bangku di ruang sisi kanan gereja. Sepertinya ada beberapa peserta yang baru. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 dan Pdt. Abednego belum tiba juga, tiba-tiba salah seorang yang tadinya duduk di bangku peserta maju ke depan dan menempati kursi Pdt. Abednego. Tanpa berlama-lama ia langsung membuka percakapan: “Selamat sore, saya yang akan memimpin katekisasi sore ini.” Beberapa orang sontak tertawa terbahak-bahak mendengar kelakarnya.

Tidak demikian dengan saya. Saya menganggap guyonan ini tidak lucu sama sekali. Berani-beraninya dia melakukannya. Orang baru yang kurus dengan rambut sedikit ini bahkan tidak menunjukkan tampang lucu sama sekali. Kalau diamat-amati wajahnya hampir mirip dengan Freddy Mercury (Queen), tapi dia kelihatan lebih lusuh dengan celana biru dan kaos warna krem. “Maunya apa orang ini guyon pada tempat yang tidak semestinya,” batin saya sambil menatapnya tajam. Saya masih kelas 2 SMA kala itu.

“Saya Tua-tua Tugas Khusus (TTKh) Purboyo Wirjawan Susilaradeya, dan itu istri saya Lisa. Kami baru tiba di rumah Pastori tadi pagi,” lanjutnya memperkenalkan diri. Mereka yang tertawa langsung terdiam dan memasang wajah serius. Weeeiiiitzz…! Rupanya beliau adalah calon pendeta yang ditunggu-tunggu itu. “Ahhh… kok enggak ngawaki blas,” pikir saya. Setelah lama berbicara mengurai materi katekisasi, kelihatan bahwa beliau sangat cerdas, mumpuni, dan pantas duduk di kursinya itu. Hmmm… calon pendeta idaman. Barulah kemudian saya bisa berdamai dengan hati saya. Saya menundukkan hati dan pikiran di bawah pengajarannya.

Itulah awal perkenalan saya dengan Pdt. Purboyo, yang kemudian hari lebih akrab kami panggil Mas Pungky. Dengan segala keberadaannya, nama Mas Pungky segera merebak harum di kalangan Jemaat GKI Malang kala itu. Mas Pungky sangat rajin dan hampir tidak pernah menolak permintaan pelayanan kepada anggota jemaat yang tersebar luas di seputar kota Malang waktu itu. Hanya karena begitu sibuk dan padatnya melayani anggota jemaat senior di kota Malang, beberapa anggota jemaat di pos atau bakal jemaat agak merasa kurang mendapat perhatiannya.

Penahbisan Pendeta
Kami sangat bersukacita manakala tiba waktunya, 18 Juli 1984, TTKh. Purboyo dan TTKh. Andi Sudjono ditahbiskan menjadi Pendeta GKI Malang. Saya berkesempatan melayaninya (sebagai seksi acara) dengan mengerahkan Pemuda membawa panji-panji gereja memeriahkan acara penahbisan mereka. Dalam kesehariannya, Pdt. Purboyo sangat kompeten dalam bidang strategi dan perencanaan. Hal ini sangat klop dengan Pdt. Abednego yang selalu bergerak di bidang itu. Namun hal itu juga menjadi excuse bagi Pdt. Abednego yang sangat sibuk—sebagai Ketua Moderamen Sinode Am GKI—untuk mendelegasikan sebagian besar pekerjaan Perencanaan dan Strategi Pengembangan Jemaat GKI Malang kepada Pdt. Purboyo. Tinggalan skema yang dibuat oleh Pdt. Purboyo itu tetap tersimpan di bawah kaca meja kantor gereja GKI Bromo Malang hingga sekarang dan terus menginspirasi para perencana program pelayanan di sana. Adik saya—Sutrisno— adalah katekisan Pdt. Purboyo dan dibaptiskan oleh beliau pada tanggal 21 September 1988.

Sekolah ke Belanda
Dengan penuh sukacita sekaligus disertai kehilangan, kami melepas Pdt. Purboyo beserta istri menempuh pendidikan lanjutan ke Belanda. Kehilangan itu dirasakan karena belum terlalu lama dalam kebersamaan yang menyenangkan, tapi sudah harus berpisah karena studi tersebut. Kami berharap beliau segera menyelesaikan studinya di Belanda dan kembali lagi di tengah kami dengan pelayanan yang lebih tajam dan mendalam. Hanya dari penuturan Pdt. Abednego—dan beberapa rekan yang sempat bertemu dengan keluarga Pdt. Purboyo di Belanda, serta surat Pdt. Purboyo kepada Majelis Jemaat—saya mendengar cerita tentang keluarga Pdt. Purboyo di Belanda, baik tentang studinya dan kelahiran putrinya yang diberi nama Damar, dan kemudian adiknya, Dian. Masalah kesehatan anaknya serta beberapa hal dalam studinya memaksa Pdt. Purboyo dan keluarga tinggal lebih lama di Belanda. Beberapa oknum di GKI Malang mempermasalahkan persoalan ini dan kami berupaya memberikan pengertian dan argumen-argumen yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan dan keberatan mereka.

Diteguhkan di Pondok Indah
Entah bagaimana isi dan keputusan pembicaraan dengan Sinode, tiba tiba saya mendengar kabar bahwa Pdt. Purboyo diteguhkan menjadi pendeta di GKI Pondok Indah, Jakarta. Meskipun sempat sedih karena harapan untuk berjumpa lagi sepulang Pdt. Purboyo dari Belanda tak terpenuhi, tapi saya bersyukur bisa mendengar dan mendapat kepastian bahwa beliau sudah kembali dari Belanda dan kini melayani di Jakarta. Jarak yang jauh lebih mungkin ditempuh untuk menjumpainya daripada harus ke Kampen, Belanda. Namun demikian—meskipun saya kemudian bertahun-tahun bekerja dan menetap di Jakarta—saya tidak pernah bertemu dengannya karena saya selalu bertempat tinggal di Jakarta Pusat yang jauh dari GKI Pondok Indah. Selama itu saya berjemaat di GKI Kwitang.

Peluncuran Buku Pdt. Abednego
Hingga suatu kali, ketika saya bertugas di Sukabumi, saya mendapat undangan dari Pdt. (Em) Abednego untuk menghadiri acara peluncuran buku beliau di GKI Pondok Indah, Jakarta. Maka berangkatlah saya dari Sukabumi ke Jakarta untuk hadir dalam acara tersebut. Ternyata Pdt. Purboyolah yang memfasilitasi acara ini sehingga bisa diselenggarakan di sana. Itu kali pertama saya bertemu kembali dengannya. Penampilannya kini sudah lain. Badannya benar benar berisi, gagah, dan tampak lebih berwibawa. Kami sempat mengobrol berdua seusai acara peluncuran buku itu. Beliau bertanya apakah saya akan kembali lagi ke Jakarta. Saya menjawab belum tentu dalam waktu dekat ini, tapi suatu saat saya pasti akan dikembalikan tugas di Jakarta karena base penerimaan saya Jakarta. Pdt. Purboyo mengundang saya untuk berjemaat di GKI Pondok Indah jika saya kembali ke Jakarta. Saya hanya mengiyakan dengan enteng tanpa bisa memastikannya.

Kelahiran Krishna
Suatu saat, ketika saya di Bandung sedang mempersiapkan Ujian Akhir Semester program Magister Manajemen yang saya tempuh di Universitas Pajajaran Bandung, saya mendapat kabar bahwa istri saya akan melahirkan malam itu. Dia berpesan bahwa saya harus membereskan ujian dulu baru boleh pulang. Saya menelepon Pdt. Budiono AW—rekan Pdt. Purboyo yang melayani di GKI Maulana Yusuf, Bandung—untuk meminta didoakan bagi persiapan kelahiran anak saya. Beliau menginformasikan bahwa ‘Mas Pungky’ sedang melayani di GKI Sukabumi. “Teleponlah dia juga,”sarannya. Akhirnya saya menelepon Pdt. Purboyo dan menceritakan perihal kelahiran anak saya, sedang saya masih ujian di Bandung. Beliau sangat senang mendengar berita itu. Dan tak dinyana, dalam jeda waktu pelayanannya di GKI Sukabumi itu, Pdt. Purboyo bersama Ibu Elisabeth menyempatkan diri menengok istri dan bayi saya di rumah sakit. Istri saya merasa sangat terberkati dan mengucap syukur atas perhatian mereka.

Ketika akhirnya saya dan istri memutuskan untuk beralih profesi menjadi konsultan sumber daya manusia dan keluar meninggalkan pekerjaan yang selama ini saya tekuni, saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Di Jakarta, saya langsung merapat ke GKI Pondok Indah untuk berjemaat di sana. Betapa kagumnya saya dengan GKI Pondok Indah yang begitu besar jemaatnya serta lengkap pelayanannya. Agak berbeda dengan GKI-GKI lain yang saya kunjungi, GKI Pondok Indah lebih mirip kantor, dengan para pegawai profesionalnya. Saya bahkan melihat beberapa pejabat negara yang menjadi anggota jemaat di sana, ada juga artis dan olahragawan nasional, juga politikus kondang. Setelah beberapa kali mengikuti kebaktian dan mencoba bercengkerama dengan jemaat di usai kebaktian, saya menjumpai Pdt. Purboyo. Meskipun rencananya saya akan atestasi ke GKI Pondok Indah, tapi saya merasa harus mencari gereja yang lebih kecil, di sekitar tempat tinggal saya di Cibubur sana, untuk bisa membantu pelayanannya. “GKI Pondok Indah sudah kelebihan orang yang bisa melayani,” kata saya. Pdt. Purboyo seperti biasa hanya tersenyum, tepatnya tertawa atau tergelak mendengar penuturan saya. Beliau mempersilakan saya untuk menentukan dan mengambil sikap yang bisa mendatangkan damai sejahtera bagi saya. Beliau berpesan, jika ada yang bisa dibantu oleh GKI Pondok Indah, nantinya silakan disampaikan saja. Sekali lagi saya hanya mengiyakan dengan enteng.

Berjemaat di GKI Pondok Indah
Jadilah kami bergereja di dekat tempat tinggal kami. Namun karena kebutuhan anak-anak untuk Sekolah Minggu dan program parenting yang kami ikuti, serta program-program lain yang berguna bagi pengembangan pelayanan di GKI Pondok Indah, maka akhirnya kami meminta izin untuk atestasi keluar dari gereja sebelumnya (gereja yang kami pilih untuk atestasi masuk dari Sukabumi, sebagai ganti GKI PI pada rencana sebelumnya) agar memudahkan kami melayani dan juga mendapat pelayanan. Maka berjemaatlah kami sekeluarga di GKI Pondok Indah. Pdt. Purboyo menyambut kami dengan gembira. Meskipun pada akhirnya kami aktif melayani di sana, tapi kami jarang berjumpa dan melakukan pelayanan bersama atau di bawah tanggung jawab beliau. Hal ini disebabkan perbedaan fokus pelayanan yang kami lakukan dan hal-hal yang menjadi tanggung jawab Pdt. Purboyo. Kami lebih banyak berkutat di Family Ministry sedangkan beliau—seperti sebelum-sebelumnya—lebih aktif di bidang perencanaan, visi, dan hal hal yang berkaitan dengan strategi pengembangan pelayanan GKI PI. Di samping itu, beliau juga aktif di area pelayanan yang lebih luas, yakni di Sinode GKI. Namun demikian, interaksi di antara kami berjalan dengan baik karena hubungan kami melibatkan seluruh anggota keluarga kami masing-masing. Secara khusus, anak kami Krishna—yang kelahirannya ditengok Pdt. Purboyo—merasa sangat dekat dan akrab dengan beliau sejak kecil hingga remaja.

Emeritasi Pdt. Budiono AW
Suatu hari saya mendapat pemberitahuan dari Pdt. Budiono AW (GKI MY Bandung) bahwa beliau akan memasuki masa emeritasinya, dan lucunya proses emeritasi itu akan dilayani oleh Pdt.Purboyo. Pdt. Budiono adalah salah satu pendeta yang menahbiskan Pdt. Purboyo di Malang dan kini emeritasinya akan dilayani oleh Pdt. Purboyo. Sungguh sebuah peristiwa antar-mengantar yang mengharukan. Itulah uniknya pertemanan mereka. Saya menghadiri proses emeritasi Pdt. Budiono AW di Bandung. Kami tertawa-tawa bertiga sesudah acara itu sambil mengenang kebersamaan kami di Malang dulu. Meskipun banyak rekan lain yang hadir, tapi tak menghalangi kegembiraan kami bertiga yang punya bahan guyonan tersendiri.

Gagasan PATIBULUM
Pada suatu kesempatan, saya berbincang dengan Pdt. Purboyo di jeda waktu khotbah Minggunya yang berturut-turut itu. Saya melayani sebagai Penatua Pengantar Pendeta di jam kebaktian berikutnya. Saya menceritakan kerinduan saya untuk menyelenggarakan sebuah kelas pemahaman Alkitab untuk Umum di GKI PI. Beliau menyambut baik gagasan itu. Disampaikannya, bahwa dirinya pernah menggagas dan bahkan sempat melaksanakan kelas Pemahaman Alkitab itu, tapi dirasanya kurang berhasil. Beliau merasa kurang mendapat dukungan dan mungkin juga karena tidak terlalu banyak anggota jemaat yang terdorong untuk menyediakan waktu mengikuti pemahaman Alkitab tersebut. Beliau berpesan kepada saya, jika bermaksud melaksanakan hal itu agar menyusun konsep dan rencana pelaksanaannya yang matang. Setelah itu harus ada yang menjadi pandega yang bertanggung jawab penuh atas pelaksanaannya. Pandega yang mempunyai passion, bertanggung jawab, dan berkomitmen penuh pada penyelenggaraannya. Jangan terlalu banyak tergantung pada orang lain, meskipun jangan tidak melibatkan orang lain sama sekali. Bekerja sama dengan para pendeta. Melakukan sosialisasi dan publikasi yang terus-menerus. Doakan dan minta pertolongan Tuhan untuk segala sesuatunya. Selebihnya Tuhan akan mengaruniai niat baik ini dengan respons yang sesuai. Ketika waktu pelayanan menjelang dan kami harus berdoa bersama, pembicaraan kami berakhir dengan bekal penguat yang memenuhi hati saya. Saya ingin segera mengomunikasikan ide ini kepada rekan-rekan di majelis bidang Pembinaan Umum untuk mendengarkan komentar dan mendapatkan tanggapan mereka. Thanks a lot, Mas Pungky.

Emeritasi Pdt. Purboyo WS
Kami berkesempatan mengundang Pdt. Purboyo untuk memimpin Kebaktian Natal POUK di perumahan kami pada tanggal 21 Januari 2017. Dalam kesibukannya, beliau berkenan mengabulkan permohonan kami. Kami sungguh sangat terberkati dengan perkenan dan khotbah Natal bertema: “Dia tetap Datang meskipun Dunia menolak-Nya” yang disampaikannya. Pada akhirnya, saya menjadi saksi pula pada proses emeritasi beliau pada tanggal 27 November 2017, yang bersamaan dengan peneguhan Pdt. Bonnie Andreas sebagai Pendeta GKI Pondok Indah. Sekali lagi saya, Pdt. (Em) Purboyo WS, dan Pdt. (Em) Budiono AW berkelakar bertiga menanggapi momen ini. Saya membanggakan diri sebagai satu satunya di antara kami bertiga yang tidak akan pernah menyandang gelar Emeritus. “Emeritus dari kehidupan juga kau nantinya,“ gurau Pdt. (Em) Purboyo. Kami kembali tergelak-gelak hingga para pendeta harus menuju ke tempat kumpul dengan keluarga untuk makan malam. Saya kembali bertugas melayani para tamu yang datang malam itu untuk menikmati makan malam yang disediakan.

Berpulang
Tepat di hari ulang tahunnya yang ke- 65, 15 November 2020, Pdt. Purboyo dikabarkan masuk rumah sakit. Dan pada tanggal 19 November 2020, Tuhan yang telah dilayaninya dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budinya berkenan menjemput dan menerima kepulangan beliau ke Rumah-Nya di Surga mulia. Pdt. Purboyo pergi setelah menyelesaikan ‘pertandingan’ yang dimenangkannya. Surgalah di tangannya dan Tuhanlah di sisinya …

|SUJARWO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
  • Siapa Ingin Kehilangan?
    Tak bisa dimungkiri, kematian adalah realitas kehidupan. Meski semua orang mengetahuinya, tetap saja kita tak mengharapkan kematian menghampiri orang...
  • I AM HERE FOR YOU
    Persekutuan Gabungan GKI Pondok Indah
    Mengatasi Kesendirian Majelis Bidang Persekutuan menggelar Persekutuan Gabungan dengan tema: (I) Am Here for You yang dipandu oleh Pdt....
  • SAFE: Safe (to be) Autenthic For Everyone
    Kebersamaan Pendeta, Penatua, Pengerja Gereja, Dan Calon Pendeta Gki Pondok Indah
    Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditetapkan Pemerintah dalam mencegah dan menghambat penyebaran pandemi virus COVID ini telah menyebabkan...
  • 35 Tahun Pelayanan Paduan Suara Gracia
    Pada tanggal 16 September 2020, Paduan Suara Gracia merayakan ulang tahunnya yang ke-35 secara virtual. Para anggota paduan suara...