Sepuluh gadis menanti kedatangan mempelai laki-laki. Ternyata mempelai itu datang terlambat. Sejak awal, Yesus menyebut lima di antara mereka bodoh dan lima lainnya bijaksana. Namun, kesepuluhnya sama-sama tertidur dalam penantian. Jadi, ini bukan soal siapa yang lebih kuat begadang. Rupanya yang membedakan mereka adalah persediaan minyak. Ketika seruan tengah malam terdengar, semuanya bangun dan membereskan pelita. Pada saat itulah pelita lima gadis yang bodoh mulai padam, sementara lima gadis yang bijaksana dapat menyambut mempelai karena membawa minyak cadangan.
Sepintas, kelima gadis bijaksana itu tampak pelit karena tidak mau berbagi. Namun, penolakan itu justru menunjukkan bahwa ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak dapat dipinjamkan, misalnya karakter, kesetiaan, kebijaksanaan, atau relasi. Semua itu dibangun dan dirawat dengan tekun dalam waktu yang panjang, tetes demi tetes, dan tidak dapat diadakan secara mendadak pada detik terakhir. Di sinilah tanggung jawab kita: tidak ada orang lain yang dapat merawat minyak itu menggantikan kita.
Yesus menutup perumpamaan-Nya dengan nasihat untuk berjaga-jaga, bukan untuk begadang. Berjaga-jaga berarti hidup dalam keadaan siap sedia setiap saat. Kita mungkin letih dan membutuhkan istirahat. Namun, ketika beristirahat pun, kita tetap harus siap. Sebab, ketika saatnya tiba dan Kristus datang kembali, pelita kita harus menyala dengan minyak yang cukup. Minyak itu kita kumpulkan dalam hal-hal sederhana: doa yang setia, kejujuran dalam pekerjaan, kepedulian kepada sesama, kesediaan untuk mengampuni. Minyak apa yang hari ini Anda kumpulkan? (JA)




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.