Kesalehan yang Berbahaya

Belum ada komentar 3 Views

Sasaran kritik Yesus yang paling tajam bukanlah orang yang tidak beragama, melainkan orang beragama, tepatnya para pemimpin agama. Bacaan kita memperlihatkan bagaimana Yesus menegur para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus mengecam orang-orang yang sungguh saleh, bukan karena la tidak menyukai kesalehan. Ajaran yang muncul dari kesalehan sungguh penting. Yesus sendiri berujar, “lakukan dan peliharalah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu” (ay. 3a), tetapi la segera menambahkan, “tetapi jangan turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” (ay. 3b). Jadi, masalah kesalehan bukanlah terletak pada ajaran yang muncul dari dalamnya, melainkan pada kenyataan bahwa mereka yang mengaku diri saleh dan mengajarkan kesalehan ternyata tidak mempraktikkan apa yang mereka sendiri ajarkan. Kritik Yesus ini tentu berlaku juga untuk kita. Kita terlalu gemar mengatakan yang benar, tetapi terlalu jarang melakukan apa yang kita katakan. Tutur laku kita kerap tidak membenarkan dan malah berlawanan dengan apa yang menjadi tutur kata kita.

Kritik Yesus tidak berhenti pada inkonsistensi ajaran dan kehidupan para pemimpin agama itu. la melanjutkannya dengan kritik atas kesalehan yang dimanfaatkan untuk meraup kedudukan sosial yang lebih tinggi. Siapa yang tak suka dihormati? Siapa yang tak gembira ketika disanjung? Masalahnya, kesalehan yang dipertontonkan oleh para pemimpin agama itu justru mereka manfaatkan bukan untuk mempermuliakan Allah, melainkan untuk menyusun sebuah tangga yang menjulang, dan mereka menaiki tangga itu dengan pongah, sembari menginjak kepala sesama di bawahnya.

Sungguh, kesalehan yang tidak dihidupi dan yang menyengsarakan sesama adalah kesalehan yang berbahaya. Kita perlu memeriksa diri terus-menerus agar tidak terjatuh ke dalam kubangan yang sama. Sebab, jika itu terjadi, kita harus bersiap siap menerima kecaman Yesus. Lebih dari itu, mari menyambut sapaan Injil hari ini, yaitu menjadi saudara yang setara, yang bersama-sama memperjuangkan kesalehan yang benar. Kesalehan yang sejati tidak membangun tangga untuk naik, tetapi turun berlutut melayani. Di situlah iman menjadi sebentuk kerendahan hati yang membebaskan. (JA)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Rumah Tanpa Alibi
    Matius 22:34-46
    Dalam bacaan ini, Yesus menghadapi pertanyaan dari orang-orang Farisi dan kemudian bertanya tentang identitas Mesias. Percakapan tersebut mengajak kita...
  • RUMAH TANPA KEMUNAFIKAN
    Matius 22:15-22
    Dalam Matius 22:15-22, orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus melalui pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Mereka memuji Yesus seolah-olah tulus,...
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...
  • Taat, Butuh Satu Tekad
    Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32
    Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah...