Mati Sebelum Kita Mati, Hidup Setelah Kita Mati

Roma 6:1-14

Belum ada komentar 4 Views

Ada seorang suami yang sangat pelit terhadap istrinya. Setiap pembelanjaan harus seizinnya, sekalipun hanya untuk membeli sebiji kentang. Ia mencatat semua pengeluaran itu dengan sangat terinci, dan bahkan berpesan, “Say, jika saya mati, seluruh uang saya harus kamu masukkan ke dalam peti mati saya.” Dan benar, suatu hari, dia pun meninggal dunia. Istrinya melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Melihat sang istri memasukkan sebuah kotak ke dalam peti mati, adiknya bertanya, “Kamu memasukkan semua uangnya ke dalam peti mati?” Istri tersebut menjawab, “Saya sudah memasukkan seluruh uang suami saya ke dalam rekening saya. Di dalam kotak ini ada cek yang saya tulis dan berisi total uang miliknya untuk dicairkan ke bank nanti.”

Saudara, kita harus mati sebelum kita mati. Dalam hal apa kita harus mati? Mati terhadap dosa (Roma 6: 2, 11) agar dosa tidak lagi berkuasa di dalam tubuh kita (Roma 6:12). Kita belum sungguh-sungguh hidup jika kita tidak terlebih dulu mati sebelum kita mati (Yoh. 12:24). Kekristenan pada hakikatnya adalah sebuah proses kematian sebelum kematian, sebab Yesus menegaskan bahwa setiap orang yang mau mengikuti-Nya harus memikul salib. Memikul salib berarti memikul kematian. Melalui kematian sebelum kita mati, kita berpindah dari status sebagai “hamba dosa” menjadi “hamba Allah” (Roma 6: 6). Apakah Anda seorang hamba Allah? Jika bukan, hamba siapakah Anda? Sebab jika kita tidak menjadi hamba Allah, kita akan menjadi hamba dosa.

Berbicara tentang kematian, Paulus menjelaskan, “Atau tidakkah kamu tahu, bahwa semua yang telah dibaptis ke dalam Yesus Kristus telah dibaptis ke dalam kematian-Nya? Karena itulah kita telah dikuburkan bersama Dia melalui baptisan ke dalam kematian” (Roma 6:3-5). Perlu digarisbawahi bahwa Paulus tidak sedang membahas tentang baptisan, melainkan tentang kematian dosa dan kehidupan baru. Ia tidak sedang membahas topik baptisan selam, melainkan sedang berfokus pada karya keselamatan Kristus.

Mungkin Anda sudah pernah mendengar tentang hypergrace. Menurut ajaran hypergrace, doa pengakuan dosa tidak diperlukan sebab Tuhan mengampuni dosa-dosa yang belum kita perbuat. Apa saja ciri-ciri ajaran itu? Menurut Dr. Roland Chia, ciri-ciri hypergrace, di antaranya:

– Menjadikan narasi Perjanjian Lama sebagai sekadar ilustrasi.
– Mengecilkan 10 Hukum dan Taurat Tuhan.
– Memiliki pemahaman yang salah tentang Allah, karena hypergrace hanya berfokus pada kasih, dan melalaikan kekudusan dan keadilan-Nya.
– Memiliki pemahaman yang salah tentang Kristus, yakni memandang karya keselamatan hanya pada kesengsaraan dan kematian Kristus, padahal seluruh kisah kehidupan Nya adalah karya keselamatan.
– Memiliki pemahaman yang salah tentang Roh Kudus, yakni mengajarkan bahwa Roh Kudus tidak menginsafkan orang-orang percaya terhadap dosa.
– Memiliki pemahaman yang salah terhadap ajaran Paulus. Mereka mengira bahwa Paulus hanya menekankan kasih karunia dan menolak hukum Taurat secara total. Padahal ia bukan menolak hukum Taurat (moral), melainkan menolak pemahaman yang beranggapan bahwa hukum Taurat dapat menyelamatkan manusia dari dosa.

Ada orang Kristen yang berpendapat bahwa tugas mereka adalah berbuat dosa, sedangkan tugas Tuhan adalah mengampuni dosa. Sebagian orang Kristen berpikir bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas dosa yang mereka lakukan dengan mengutip perkataan Paulus, “Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku” (Roma 7:20). Ayat ini sering dikutip untuk membela kebebasan dalam berbuat dosa dengan alasan, “bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang di dalam aku.” Mereka menganggap bahwa berada di dalam kasih karunia Kristus, berarti bebas melakukan apa saja yang mereka sukai karena tidak akan dihukum. Dengan kata lain, yang penting adalah bahwa seseorang percaya kepada Kristus, dan ia bebas melakukan apa saja sesuka hatinya. Benarkah Paulus mengizinkan perbuatan dosa? Dia justru menegaskan, “Apakah kita akan terus-menerus berdosa supaya anugerah itu makin bertambah? Tentu tidak” (Roma 6:1 MB). “Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!” (Roma 8:15 MB). Di dalam Roma 2:6, Paulus menegaskan, “Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Paulus bahkan mengatakan bahwa hukum Taurat itu rohani (Roma 7:14). Douglas J. Moo mengatakan, “The freedom of the Christians is not freedom to do what one wants, but freedom to obey God – willingly, joyfully, naturally” (The Letter to the Romans, Kindle, p. 425).

Bagaimana jika seseorang berkata, “Bukankah kita diselamatkan karena iman percaya kita? Bukankah cukup dengan percaya kepada Kristus?” Kita tidak dapat berkata bahwa kita percaya kepada Tuhan jika kita tidak percaya pada firman-Nya. Percaya kepada Tuhan berarti juga percaya pada firman-Nya. Izinkan saya menjawab pertanyaan tersebut dengan pertanyaan. Ketika berada di taman Eden, apakah Adam dan Hawa percaya kepada Tuhan? Tidak, mereka meragukan-Nya. Mereka meragukan kebaikan-Nya. Mereka meragukan karakter-Nya. Mereka meragukan kasih sayang-Nya. Mereka meragukan maksud baik-Nya dalam melarang mereka mengonsumsi buah pengetahuan baik dan jahat.

Izinkan saya menggunakan istilah “obedient-faith”. Iman pada hakikatnya adalah taat kepada Tuhan. If we really believe in something, we will act according to that belief. Paulus sendiri berkata,
– Serahkanlah dirimu kepada Allah (Roma 6:13).
– Serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah (Roma 6:13).
– Kita membutuhkan Roh Kristus (Roma 8:9).
– Pikirkanlah (Melatih diri untuk memikirkan) hal-hal yang dari roh (Roma 8:5).

Jadi bagaimana kita memahami panggilan untuk mati terhadap dosa? Anggap saja bahwa Anda mengundurkan diri dari pekerjaan karena sering mengalami penindasan dari bos Anda. Sekarang Anda sudah bekerja di tempat yang baru. Bos Anda yang baru sangat mengasihi Anda. Namun Anda masih sering pergi ke kantor lama Anda untuk menemui mantan bos Anda dan bekerja baginya. Ini merupakan contoh memperhambakan diri kepada dosa, meskipun sudah menerima pembebasan dari dosa.

Bukankah kita lemah dan tetap saja sering gagal? Ya, ada orang yang— ketika mengambil milik orang lain— tidak menyesali perbuatannya. Ada yang berkata-kata kasar kemudian menyesal dan marah terhadap dirinya, tetapi ada yang melakukan hal yang sama, tetapi tidak merasakan apa-apa. Apakah Anda pernah merasa tersiksa oleh dosa? Jika, “ya” berarti Anda sedang diinsafkan oleh Roh Kudus, sebab Roh Kudus pasti akan menegur kita tentang dosa kita, baik yang kita lakukan atau yang kita pikirkan.

Mungkinkah kita menjadi sempurna dalam membebaskan diri dari kuasa dosa? Roma 6:14 menggunakan future tense – “kamu tidak AKAN dikuasai lagi oleh dosa.” Artinya, kita berada dalam sebuah PROSES menuju pembebasan total dari kuasa dosa. Ini merupakan sebuah janji yang kita terima dari Tuhan ketika kita berada di dalam Dia. Kolose 3:10 menegaskan, “Mengenakan manusia baru yang SENANTIASA DIPERBAHARUI dalam pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya.” Oleh sebab itu, Jika kita mati sebelum kita mati, maka kita pasti hidup setelah kita mati.

Bagaimana agar kita dapat mati sebelum kita mati sehingga kita dapat hidup setelah kita mati? Kuncinya adalah kita harus hidup dipimpin oleh Roh Allah. “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika OLEH ROH kamu MEMATIKAN perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang DIPIMPIN Roh Allah, adalah anak Allah” (Roma 8:13-14). Berarti, kuncinya adalah bekerja sama dengan Roh Kudus yang memperbarui pikiran dan perasaan kita. Mematikan dosa berarti kita tidak menggunakan mata kita untuk melayani dosa, tidak menggunakan tangan kita untuk melayani dosa, tidak menggunakan kaki kita untuk melayani dosa (Roma 6:13). Ingatlah bahwa kesenangan dunia yang terkesan menyenangkan, justru memperbesar kekosongan dalam diri kita.

Tuhan pernah menegur para imam dengan keras. Nah, melalui Kristus, orang-orang percaya kini disebut sebagai imamat rajani, bukan? Tahukah Anda apa yang dikatakan firman Tuhan ketika kita tidak setia pada firman-Nya? Dia berkata, “Aku akan mengubah berkatmu menjadi kutuk” (Maleakhi 2:2). “Sesungguhnya, Aku akan mematahkan lenganmu dan akan melemparkan kotoran ke mukamu” (Maleakhi 2:3). Sebuah teguran yang sangat keras, bukan? Tuhan menambahkan, “Perjanjian Ku dengan dia pada satu pihak ialah kehidupan dan sejahtera dan itu Kuberikan kepadanya—pada pihak lain ketakutan—dan ia takut kepada Ku dan gentar terhadap nama-Ku” (Maleakhi 2:5). Jadi, kehidupan dan damai sejahtera dari Tuhan juga disertai dengan ketakutan dan kegentaran terhadap nama-Nya. Kita menerima kehidupan dan damai sejahtera dari Tuhan, dan pada saat yang bersamaan kita juga takut dan gentar terhadap nama-Nya. Apabila kita memelihara dosa, kita sedang merusak relasi dengan Tuhan. Kasih karunia-Nya akan memproses kita untuk menjadi anak-anak yang berkenan kepada-Nya. Charles Spurgeon berkata, “The grace that does not change my life will not save my soul.” Unless we die before we die, we cannot live after we die.”

|PDT. LAN YONG XING

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Parousia, Kedatangan Kristus yang kedua kali
    Parousia (/ pəˈruːziə /; Yunani: παρουσία) adalah kata Yunani kuno yang berarti kehadiran, kedatangan, atau kunjungan resmi. Dalam Catholic...
  • lambang pengampunan dan pemulihan dari pagutan dosa
  • Maju dengan Sepenuh Hati
    Maju dengan Sepenuh Hati
    Markus 6:14-29
    Tidak diragukan lagi bahwa kita masingmasing ingin maju, tetapi belum tentu sedang bergerak maju. Kita mungkin merasa bahwa kita...
  • Kitab Pengkhotbah
    Kitab Pengkhotbah
    kesia-siaan hidup yang tidak dinikmati dan diberi makna dalam anugerah Tuhan
    Tentang Penulisnya Sudah menjadi anggapan umum bahwa Kitab Pengkhotbah ditulis oleh Salomo (sekitar 935 SM), karena itu kaum tradisional...
  • Gembalakanlah Domba-dombaku
    Gembalakanlah Domba-dombaku
    bukan sekadar perintah sama yang diulang hingga tiga kali
    Pemahaman Terjemahan Bila kita membaca Yohanes 21:15-19 dari Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia, maka mungkin kita hanya akan menemukan...