Masa Depan: Cemerlang atau Suram? Iman atau Takut?

Bilangan 13:25-14:4

Belum ada komentar 80 Views

Apakah pernah terlintas dalam pikiran Saudara bahwa pekerjaan orang lain lebih mudah dan lebih nyaman dari pekerjaan Saudara? Mungkin kita sering berpikir demikian, sehingga kita bersungut-sungut dan tidak menikmati pekerjaan kita. Namun ketika kita mendalami pekerjaan orang lain, kita baru tahu bahwa pekerjaan yang menurut kita lebih mudah dan lebih nyaman itu, ternyata tidak seperti yang kita bayangkan. Di sisi lain, sering kali kita ingin mengubah kehidupan kita, tetapi kita tidak berani melangkah. Kita mengeluh betapa beratnya beban kita. Kita memiliki banyak alasan: susah, mustahil, saya tidak bisa, terlalu berat, saya takut, dan seterusnya. Manusia memang pintar mencari alasan.

Sebenarnya, cukup dua tahun perjalanan, bangsa Israel sudah bisa memasuki Tanah Perjanjian, tetapi karena ketakutan mereka, maka perjalanan tersebut tertunda 38 tahun. Kita mungkin cenderung berpikir bahwa bangsa Israel berputar-putar di padang gurun karena tidak menemukan jalan, padahal sebenarnya mereka berhenti di Kadesh Barnea selama hampir 38 tahun karena tidak percaya pada Tuhan. Kitab Ibrani mencatat, “Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka” (Ibr. 3:19).

Mari kita perhatikan sekilas perjalanan bangsa Israel:

  • Dari Malam Paska hingga Penyeberangan Laut Merah pada tanggal 14 bulan Nisan (hari ke-25)
  • Tiba di padang gurun Sin (hari ke-32)
  • Tiba di Gunung Sinai (hari ke 61)
  • Pengerjaan Kemah Suci (hari ke-348)
  • Meninggalkan Gunung Sinai (hari ke-397)
  • Perjalanan ke Kadesh Barnea (hari ke-708)
  • Tinggal di Kadesh Barnea (37,75 tahun)
  • Tiba di Tanah Perjanjian (20,3 bulan)

PERJALANAN IMAN YANG TIDAK NYAMAN

Bangsa Israel menemukan bahwa ternyata mengikuti Tuhan tidaklah semudah dan senyaman yang mereka bayangkan. Ada kesulitan padang gurun, ada tantangan di Tanah Perjanjian. Tanpa iman, perjalanan mengikuti Tuhan menuju masa depan cemerlang ini mustahil dijalani.

Setelah dua tahun meninggalkan Mesir, bangsa Israel tiba di Kadesh Barnea. Kadesh Barnea adalah batas di mana Israel akan memasuki Tanah Perjanjian. Di sinilah mereka melihat ke depan dan mengambil keputusan penting dalam hidup ini. Miriam meninggal di sana (Bil. 20:1), demikian juga Harun (Bil. 20:22). Israel berkemah cukup lama di tempat itu (Ul. 1:46). Dua peristiwa besar terjadi di sana: (1) Musa mengirim 12 pengintai untuk mengintai Tanah Perjanjian. Bangsa Israel tidak percaya pada perkataan TUHAN sehingga mereka harus mengembara selama 40 tahun di padang gurun (Bil. 13-14); (2) Musa tidak menaati perintah TUHAN sehingga ia tidak diperkenankan memasuki Kanaan (Bil. 27:14).

MEMORY TRAVEL

Atas perintah TUHAN, Musa mengutus 12 pengintai untuk menyelidiki Tanah Perjanjian (Bil. 13). Bukankah sebelum kuliah, sebelum memulai bisnis baru atau menekuni sebuah profesi, kita juga melakukan riset terlebih dahulu?

“Mereka pergi… mengintai negeri itu… mulai dari padang gurun Zin… ke Hebron.” Saya ingin Saudara memerhatikan kalimat keterangan yang dimaksudkan oleh Musa, “Hebron didirikan 7 tahun lebih dahulu dari Soan di Mesir” (Bil. 13:21-22).

Soan adalah tempat yang tersembunyi. Hanya keluarga Firaun yang mengetahui tempat ini, karena Soan adalah resor tersembunyi untuk Firaun dan keluarganya sehingga dirahasiakan dari umum. Kota Soan juga dikenal dengan nama Tanis, yang muncul dalam film Indiana Jones. Setelah penggalian selama puluhan tahun, Pierre Montet, seorang arkeolog Prancis mengumumkan adanya tempat ini pada tahun 1939. Ada banyak barang berharga yang ditemukan di sana. Menarik, bukan?

Lorna Sakes menulis:

“Ancient Egyptians of all walks of life loved jewelry. From the earliest days of Egyptian history there is evidence of gold-working and the use of semi-precious stones such as amethyst, carnelian, and turquoise in jewelry making. Much has been found in tombs, as the Egyptians took the jewelry they had worn during their earthly life with them to the Afterlife. They also had some jewelry made specially for the tomb. The jewelry found in Tanis is full of religious imagery and significance. Worked into the designs are many amulet-like devices to enable the king and his high officials to journey safely through the Underworld and become united with Osiris and the sun god in the Afterlife. The jewelry from the Tanis tombs are the most important evidence found so far concerning royal funerary equipment in the Third Intermediate Period.” (“Orang Mesir kuno dari segala lapisan masyarakat menyukai perhiasan. Dari awal sejarah Mesir, emas dan batu semimulia seperti amethyst, carnelian, dan pirus digunakan untuk membuat perhiasan. Banyak yang telah ditemukan di kuburan, karena orang Mesir membawa perhiasan yang telah mereka kenakan selama hidup mereka di dunia, ke akhirat. Mereka juga membuatkan beberapa perhiasan khusus untuk makam. Perhiasan yang ditemukan di Tanis penuh dengan gambar dan makna religius. Banyak perangkat yang menyerupai jimat dibuat untuk memungkinkan raja dan para pejabat tingginya melakukan perjalanan dengan aman melalui neraka dan dipersatukan dengan Osiris dan dewa matahari di akhirat. Perhiasan dari makam-makam Tanis merupakan bukti paling penting yang ditemukan sejauh ini tentang peralatan penguburan kerajaan di Periode Menengah Ketiga.”).

PANDANGAN 2 ORANG: MASA DEPAN YANG CEMERLANG

Ketika mereka sampai ke lembah Eskol, dipotong merekalah di sana suatu cabang dengan setandan buah anggurnya, lalu berdualah mereka menggandarnya; juga mereka membawa beberapa buah delima dan buah ara (Bil. 13:23)

Kaleb dan Hosea (Dia menolong), yang dipanggil Yosua (Yahweh menolong) oleh Musa, melihat janji Tuhan. Mereka melihat masa depan cemerlang yang akan Tuhan berikan kepada mereka. Karena melihat janji dan penyertaan-Nya, persoalan besar di hadapan mereka menjadi kecil dan tidak lagi menakutkan bagi mereka.

PANDANGAN 10 ORANG: MASA DEPAN YANG SURAM

Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan MEMANG negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. HANYA, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan” (Bil. 13:27-29).

Pengaruh dari 10 orang yang berpandangan negatif pada orang banyak:

Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu MENANGIS pada malam itu. Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! (Bil. 14:1-2)

Laporan 10 pengintai yang tidak beriman membuat seluruh bangsa menangis dengan suara nyaring. Tidak beriman tidak saja berpengaruh buruk dan menghancurkan masa depan kita sendiri, tetapi juga berpotensi menghancurkan masa depan orang banyak.

Hati-hati dengan apa yang Saudara ucapkan! Karena ucapan Saudara berasal dari pikiran Saudara dan memengaruhi pikiran Saudara. Firman Tuhan mengatakan, Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya (Amsal 18:21). Karena mereka berkata, “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!” Maka terjadilah sesuai dengan perkataan mereka, yakni mereka harus mati di padang gurun. Kita mungkin mengatakan, “Sekiranya masa depan kami yang cemerlang mati bersama kami.”

Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan istri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?” Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: “Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.” (Bil. 14:2-4)

Mereka meragukan Tuhan, sehingga bertanya, “Mengapakah Tuhan membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas?” Mereka memandang-Nya sebagai pembunuh yang sadis, yang membebaskan mereka demi membunuh mereka.

Mereka berfokus pada Tanah Perjanjian dan bukan pada si Pemberi Tanah Perjanjian. Orang-orang ini ingin mendapatkan Tanah Perjanjian tanpa Tuhan. Mereka tidak memandang Tanah Perjanjian sebagai pemberian-Nya, tetapi sebagai sesuatu yang mustahil. Mereka tidak lagi percaya kepada-Nya.

Seseorang berkata kepada saya, “Saya telah mencari banyak pendeta untuk menyembuhkan penyakit saya. Saya diikuti oleh banyak roh jahat, tetapi tidak ada pendeta yang berhasil mengusirnya sampai saya bertemu dengan Bapak.” Saya katakan kepada yang bersangkutan, “Tuhan yang menolongmu, bukan saya. Jika Dia tidak berkenan menolongmu, saya juga tidak dapat berbuat apa-apa. Jangan bersandar pada saya, juga jangan membangun iman pada diri saya, tetapi berimanlah kepada Tuhan yang telah menolongmu.”

KE MANA MATA KITA TERTUJU? MASALAH ATAU TUHAN?

Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (Bil. 13:27-30)

Kaleb berusaha meyakinkan orang banyak untuk mengarahkan pandangan mereka pada Tuhan dan bukan pada kesulitan. Namun, bangsa Israel memilih pendapat mayoritas, yakni laporan 10 orang yang tidak beriman tersebut.

Apakah orang banyak selalu benar? Dalam pengambilan keputusan, kita selalu menganut prinsip pilihan mayoritas sebagai pilihan terbaik. Sungguhkah demikian? Mungkin ini menjadi alasan mengapa Yosua di kemudian hari hanya mengirim 2 pengintai ke Yeriko. Mungkin Yosua berpikir, “Untuk apa saya kirim 12 orang yang kemudian malah berpengaruh buruk, mending saya kirim 2 orang yang beriman.”

Bangsa Israel yang berada di Kadesh Barnea sangat ketakutan pada orang-orang Kanaan. Ironisnya, orang-orang Kanaan juga sangat ketakutan ketika mendengar bahwa orang Israel akan menempati Tanah Kanaan. Perhatikan perkataan Rahab di Yeriko:

“Aku tahu, bahwa Tuhan telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa Tuhan telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas. Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab Tuhan, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah (Yos. 2:9-11).

Mungkin setiap kali kita membaca tentang kekerasan hati bangsa Israel, kita bertanya-tanya mengapa mereka seperti itu. Namun jika direnungkan, bukankah kita seperti bangsa Israel yang selalu bersungut-sungut, yang meskipun sudah bebas dari permasalahan, memilih kembali pada permasalahan kita? Sebenarnya, bukan kita tidak dapat memperbaiki kehidupan kita, tetapi kita takut melangkah. Kita ingin memasuki masa depan yang baik, tetapi kita takut pada padang gurun, kita takut pada kesulitan di Tanah Perjanjian. Do we withdraw in fear or face our future in faith?

>> Pdt. Lan Yong Xing

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • kudus
    Kudus
    Pengikut Kristus selalu dikaitkan dengan keselamatan, anugerah, kasih, kepedulian, dsb. Juga hidup kudus, meski yang satu ini sering dilupakan...
  • ditolak
    Ditolak Oleh Pengenalan
    “tidak ada nabi yang diterima di negerinya sendiri”
    Pada umumnya, seseorang tak akan menyampaikan penghargaan kepada orang lain kalau tidak mengetahui, mengenal, atau pernah berbagi pengalaman dengannya....
  • persahabatan
    Persahabatan
    Ayat panduan kita diambil dari 3 Yohanes 15. Surat yang amat pendek, karena hanya terdiri atas satu pasal. Kita...
  • Berdoa
    Belajar Berdoa Dari Yesus
    Murid-murid memerhatikan Yesus yang sedang berdoa (Luk. 11:1a). Saya percaya murid-murid memerhatikan dengan seksama, tidak berani bergerak, tidak berani...
  • Pilihanku, Pilihanmu, Pilihan-Nya
    Hidup adalah Pilihan Pendapat tersebut sering kali kita dengar dalam banyak situasi. Misalnya dalam kehidupan sehari-hari, kita harus memilih...
Kegiatan