Maju dengan Sepenuh Hati

Maju dengan Sepenuh Hati

Markus 6:14-29

Belum ada komentar 43 Views

Tidak diragukan lagi bahwa kita masingmasing ingin maju, tetapi belum tentu sedang bergerak maju. Kita mungkin merasa bahwa kita sedang maju dalam hidup ini, padahal sebenarnya kita sedang mengejar kesia-siaan.

Yesus Kristus makin terkenal. Namun Dia sering menarik diri untuk berdoa, karena tidak ingin misi-Nya dijerat oleh kesuksesan. Kemudian muncullah berbagai pandangan tentang diri-Nya (Mark. 6:14-16). Jika kisah Markus 6:14-19 difilmkan, maka kita akan menyaksikan orang-orang berdialog tentang Yesus Kristus menurut pandangan mereka. Kemudian layar menampilkan kilas balik tentang kematian Yohanes Pembaptis pada hari ulang tahun Herodes.

Herodes yang dimaksud dalam kisah ini adalah Herodes Antipas (21 SM- 39 SM), putra Herodes Agung yang memerintahkan pembunuhan anak anak berusia di bawah 2 tahun di Betlehem. Yesus menyebutnya sebagai serigala (Luk. 13:32). Herodes Antipas menceraikan istrinya demi menikahi Herodias. Padahal Herodias adalah istri Herodes Filip, saudara laki-laki Herodes Antipas. Herodias juga cucu Herodes Agung. Dengan kata lain, Herodes Filip adalah paman Herodias. Hubungan keluarga ini sangat rumit, bukan?

Herodias sangat membenci Yohanes Pembaptis karena tegurannya terhadap pernikahannya. Oleh sebab itu, ia memengaruhi suami barunya (Herodes Antipas) untuk memenjarakan Yohanes Pembaptis. Hidup Herodias dikendalikan oleh kebencian.

1. Perhatikan Hatimu!
Tahukah Anda, kendala utama yang menyebabkan kita sulit maju dalam hidup? Sering kali, hati kitalah yang menghalanginya. Pada zaman hakim hakim, “Setiap kali mereka maju, tangan TUHAN melawan mereka” (Hak. 2:15). Mengapa demikian? Karena hati umat Israel tidak tertuju kepada Tuhan. Hati mereka jauh dari Nya. Jika seluruh hati kita tertuju pada diri kita sendiri, maka kita telah menjadi “berhala” bagi diri kita.

Herodes suka mendengarkan pengajaran Yohanes Pembaptis, tetapi ia tidak mau memperbaiki hidupnya. “Herod was greatly disturbed whenever he talked with John, but even so, he liked to listen to him” (Mark. 6:20 NLT). Pengajaran Yohanes membuatnya sakit hati, tetapi ia senang mendengarkannya. Herodes Antipas suka mendengarkan Injil Kerajaan Allah, tetapi tidak mau memperbaiki hidupnya. Sikapnyaserupa dengan istri Lot yang menoleh ke belakang ketika menyelamatkan diri (Kej. 19:26). Ia juga seperti Lot yang berlambat-lambat ketika dipanggil untuk meninggalkan Sodom dan Gomora (Kej. 19:16).

Kita mungkin senang mendengarkan khotbah yang menyenangkan hati kita, tapi menolak khotbah yang mengusik kita. Kita mungkin suka mendengarkan khotbah, tetapi menolak berubah. Kita mungkin suka mendengarkan firman Tuhan, tetapi menolak berbuah.

Tahukah Anda bahwa kita tidak dapat mengadopsi kebiasaan baru jika kita tidak mau melepaskan kebiasaan lama? Tahukah Anda bahwa kita tidak dapat melangkah maju dengan baik jika pandangan kita tertuju ke belakang? Tahukah Anda bahwa kita tidak dapat membangun kehidupan kita jika terus bersungut-sungut atas hidup kita?

Siapa yang paling sering kita pikirkan? Diri kita sendiri, bukan? Siapa orang yang paling sering kita ajak berbicara? Diri kita sendiri, bukan? Bukankah kita menjadikan diri kita sebagai yang paling penting di jagad raya ini? Jika kita menjadikan diri kita sebagai fokus utama dalam hidup ini, maka kita menjadikan diri kita sebagai jalan, kebenaran dan hidup.

Diri kita tidak dapat dijadikan sebagai jalan kehidupan, sebab kita bahkan tidak mengetahui hari esok kita. Diri kita tidak dapat dijadikan kebenaran, sebab pikiran kita sendiri mudah terombang-ambing. Hidup kita tidak dapat dijadikan pegangan, sebab kita tidak berkuasa atasnya. Sesungguhnya, kita tidak dapat maju dalam hidup ini dengan berfokus pada diri sendiri.

Dalam hidup ini, jika kita tidak maju dengan sepenuh hati, maka kita tidak mungkin maju. Dalam kekristenan, sebenarnya tidak ada yang namanya jalan di tempat. Jika kita tidak maju, berarti kita sedang mengalami kemunduran. Yesus berkata, “Ikutlah Aku.” Following Jesus means we are moving forward. Mengikuti Yesus berarti kita berjalan di belakang-Nya. Mengikuti Kristus berarti kita bergerak maju. Mengikuti Yesus berarti kita tidak mengizinkan hal-hal lain menghalangi kita untuk melihat-Nya. Mengikuti Yesus berarti kita memusatkan perhatian kita kepada-Nya, atau seperti perkataan Daud, “Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah” (Kis. 2:25).

2. Perhatikan Perkataanmu!
Selama tahun 2020, pernahkah Anda mengatakan sesuatu, lalu menyesalinya? Sering kali kita berbicara terlalu cepat, sehingga kita terjebak oleh kata-kata kita sendiri. Kita terlalu cepat berkata kata, sehingga kita melalukan hal-hal bodoh. Atau kita terlalu cepat dalam memberikan janji tanpa pertimbangan yang matang.

Herodes mengundang para pembesar untuk menghadiri perayaan ulang tahunnya. Hatinya sangat gembira. Anak tirinya, Salome—yang mungkin berusia 13-14 tahun— mempertunjukkan tarian eksotis di hadapan mereka. Orangtua mana yang mengizinkan putrinya mempertunjukkan tarian eksotis di depan kaum pria? Herodes bertanya kepada putri tirinya, “Minta daripadaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu! Lalu bersumpah kepadanya: “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” (Mrk. 6:22- 23). Jika seorang raja menawarkan setengah kerajaan, saya pikir bahwa hanya orang bodoh yang mengingini kematianlah yang berani memintanya. Lagi pula wilayah kekuasaan Herodes bukan miliknya, melainkan milik kaisar Romawi.

Ternyata, atas bisikan ibunya, Salome meminta kepala Yohanes Pembaptis. Permintaannya membuat Herodes sangat sedih (Mrk. 6:26 ). Gadis berusia 13-14 tahun itu diminta untuk menerima kepala Yohanes Pembaptis yang berdarah-darah di atas talam, seriously? Orangtua mana yang mengajarkan anaknya untuk meminta kepala orang? Salome “cepat-cepat” pergi ke Herodes, ayah tirinya, untuk meminta kepala Yohanes Pembaptis. Akankah Anda bergegas meminta kepala seseorang? Saya percaya bahwa kita tidak akan melakukannya, bukan?

Herodes memenjarakan Yohanes Pembaptis karena Herodias. Ia memerintahkan pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis karena tamu tamunya (Mrk. 6:26). Ia takut tidak dicintai Herodias. Ia takut diremehkan tamu-tamunya. Dengan kata lain, ketika Herodes hidup untuk dirinya sendiri, dia juga harus menyukakan hati orang lain. Tidak demikian dengan Yohanes Pembaptis. Dia hidup untuk Allah dan menyenangkan Nya. Dia hidup dalam kebenaran dan mengatakannya. Dia tidak takut ditolak demi kebenaran. Dia bahkan mati karena kebencian Herodias kepadanya.

Kita belajar pelajaran berharga, bahwa untuk mengikuti Kristus, kita harus maju dengan sepenuh hati. Jangan terburu-buru dalam berbicara, tetapi renungkanlah apa yang akan kita katakan, “supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman” (Filipi 1:25). Perhatikanlah hati dan perkataan kita! Apakah hati kita tertuju kepada Tuhan? Apakah kita berkonsultasi kepada-Nya sebelum bertindak dan berkata-kata? Apakah kita cenderung cepat dalam berkata-kata dan lambat dalam mendengarkan? Ingatlah nasihat firman Tuhan, “Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus“ (Yudas 1:20).

|PDT. LAN YONG XING

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • lambang pengampunan dan pemulihan dari pagutan dosa
  • Kitab Pengkhotbah
    Kitab Pengkhotbah
    kesia-siaan hidup yang tidak dinikmati dan diberi makna dalam anugerah Tuhan
    Tentang Penulisnya Sudah menjadi anggapan umum bahwa Kitab Pengkhotbah ditulis oleh Salomo (sekitar 935 SM), karena itu kaum tradisional...
  • Gembalakanlah Domba-dombaku
    Gembalakanlah Domba-dombaku
    bukan sekadar perintah sama yang diulang hingga tiga kali
    Pemahaman Terjemahan Bila kita membaca Yohanes 21:15-19 dari Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia, maka mungkin kita hanya akan menemukan...
  • Menghadapi Pandemi Dengan Bersehati Mencari Tuhan
  • Imago Dei
    Imago Dei
    Hakikat Manusia Kita sering mendengar orang menyampaikan pernyataan- pernyataan seperti berikut: “Ahh… saya bisa apa???” atau, “… Yaa begitulah,...