Kunjungan PDP ke Panti Jompo Karya Kasih GKI Kwitang

Belum ada komentar 6 Views

Salah satu agenda Persekutuan Doa Pagi (PDP) GKI PI—selain Persekutuan Doa setiap Sabtu pk. 5.30 pagi—adalah pelayanan keluar empat kali setahun. Pada tanggal 6 Juli  yang lalu, kami mengunjungi Panti Wreda Karya Kasih GKI Kwitang, yang lokasinya berada di belakang GKI Kwitang.

Menurut sejarahnya, pada tahun 1951, tiga orang pendeta membentuk suatu organisasi yang bernama “Cinta Sejati” untuk menolong orang-orang yang tidak mampu, di antaranya penghuni gedung bekas sekolah milik Gereja Gereformeerde Kerk Belanda yang sudah diserahkan ke GKI Kwitang. Pada tahun 1967, dengan bubarnya Cinta Sejati, dibangunlah STW Karya Kasih oleh GKI Kwitang.

Kami berangkat dari Plaza GKI PI pada pk. 9.00 dengan menggunakan beberapa kendaraan, dan tiba di Panti Jompo Karya Kasih pada pk. 10.05. Di sana para oma sudah menunggu dengan sabar di ruang pertemuan.  Kami—dari PDP—berjumlah sekitar 20 orang, dan para oma juga sekitar 20 orang (ada beberapa orang yang tidak hadir, mungkin karena sakit). Jumlah total penghuni yang diasuh Panti saat ini 30 orang, yang paling muda berumur 66 tahun dan yang paling tua 90 tahun. Kami langsung mulai ibadah dengan menyanyikan beberapa pujian yang dengan semangat dilantunkan bersama para oma yang memang senang menyanyi. Ibu Damelia memimpin liturgi dan Sdr. Harapan—mahasiswa STFT, Jl. Proklamasi, Jakarta Pusat—menyampaikan renungan dengan tema “Mengenal Kehendak-Nya, Baru Meminta” yang antara lain mengatakan bahwa manusia sering kali meminta, tapi kurang mendengar kehendak Allah. Manusia sering berdoa mengucapkan keluh kesahnya, bercerita tentang kebutuhan dan keinginannya, tapi jarang mengajukan pertanyaan untuk mengetahui suara Allah bagi hidupnya. Sebelum renungan, Pak Manurung membacakan puisi. Setelah itu, kami dibagi dalam kelompok-kelompok 6-8 orang, Sebelum berdoa, masing-masing kelompok mengobrol santai dengan para oma dan memperoleh beragam cerita tentang perjalanan hidup mereka dan nasihat-nasihat yang berharga. Mereka sangat senang menerima kedatangan kami, karena kunjungan semacam ini merupakan variasi dari kegiatan rutin mereka yang mungkin menjemukan. Pengurus Panti juga terus menanamkan motivasi yang baik dan luhur kepada mereka bahwa hidup itu sangat bernilai. Firman Tuhan dalam ibadah dan persekutuan yang rutin diadakan di Panti memberi semangat kepada mereka untuk mempertahankan dan merawat kehidupan yang penuh dengan keindahan.

Puji syukur, GKI Kwitang telah mempunyai Yayasan/Panti ini yang merupakan salah satu tugas diakonia. Walau lingkungan keluarga adalah sarana yang paling tepat untuk memberikan kasih sayang dan merawat orang lanjut usia, tapi dalam keadaan tertentu keberadaan Panti Jompo seperti ini sangat diperlukan oleh keluarga yang memang benar-benar tidak mampu merawat anggota keluarga mereka yang telah lanjut usia. Beberapa gereja lain mengelola rumah sakit/klinik, panti anak yatim piatu, panti bagi para difabel dan banyak bentuk pelayanan diakonia lainnya. Apakah GKI Pondok Indah juga mempunyai kerinduan yang sama untuk memiliki pelayanan serupa?

Kembali kepada kunjungan kami di Panti ini, di kelompok saya ada 2 orang oma, yang satu berumur hampir 80 tahun asal Maluku yang terlihat masih cantik dan sudah sekitar 5 tahun tinggal di sana, dan yang lain berumur sekitar 66 tahun, tidak menikah, asal dari Jakarta, dan baru sekitar setahun menjadi penghuni panti. Kami mengobrol dengan suara agak keras, demikian pula kelompok-kelompok lainnya, karena rata-rata pendengaran para oma dan warga senior PDP sudah berkurang, sehingga ruang pertemuan yang tidak terlalu luas itu terdengar berisik, dan baru mereda ketika doa syafaat dimulai.

Seusai ibadah, Sdr. Harapan mengadakan Kuis Alkitab berhadiah, dan para oma yang rajin membaca Alkitab ini berebut menjawabnya dengan penuh semangat. Mereka yang berhasil menjawab dengan tepat mendapat hadiah, sedangkan mereka yang tidak memperoleh hadiah, juga tetap mendapat kenang-kenangan dari PDP berupa botol minum dan handuk kecil di dalam tas khas PDP.

Setelah itu kami makan siang bersama sambil mengobrol santai dengan beberapa oma, karena yang lain membawa makanan mereka ke kamar masing-masing. Suasana terasa akrab, penuh canda dan tawa. Kami juga tidak lupa menyampaikan tanda kasih berupa sembako kepada pengurus yayasan. Beberapa dari kami juga sempat berbelanja taplak meja hasil sulaman para oma.

Sepulang dari Panti, badan terasa penat, tetapi suka cita kami mengalahkan kelelahan itu. Dari setiap pelayanan keluar seperti ini, hati nurani kami makin terasah untuk memerhatikan orang lain yang membutuhkan, tidak saja materi, tapi juga perhatian kita. Kami pun bisa mengintrospeksi diri agar tidak selalu memikirkan diri sendiri, tetapi juga memedulikan orang lain.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
  • Mauleum
    Mauleum Merdeka
    Upacara peringatan hari Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2019 di Desa Mauleum (kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah...
  • perjuangan
    Iman, Perjuangan Dan Impian
    Jarak antara impian dan kenyataan adalah tindakan.” (Julianto Eka Saputra) Apakah Anda pernah mendengar cerita tentang Peter Pan, anak...
  • ke jogya
    Pswpi Ke Jogja
    …terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu nikmati bersama suasana Jogja…. (Kla Project) Pada tanggal 1 Maret...
Kegiatan