KASUT, Bukan Hanya Sebuah Nama

Belum ada komentar 21 Views

Pesatnya kemajuan teknologi internet dan begitu derasnya arus informasi yang tak terbendung lagi mengakibatkan banyak media konvensional cetak seperti koran, tabloid, majalah dan lainnya terkena imbasnya. Mengalami penurunan peminat pembaca bahkan mulai ditinggalkan. Sebagian media komersial lainnya yang berusaha bertahan merangkak tertatih-tatih menghadapi kenyataan pahit ini—merugi dan pada akhirnya gulung tikar. Harus diakui hanya dalam beberapa dekade telah terjadi perubahan besar di mana budaya baca media cetak itu kini telah beralih ke media yang baru, yang ngetren dan mungkin lebih mengasyikkan. Lantas… bagaimana dengan media cetak empunya gereja?

Bagi Anda pembaca Kasut, tidak ada salahnya untuk kilas balik sejenak menengok ihwal apa, siapa dan bagaimana Majalah Kasut milik GKI Pondok Indah yang hingga artikel ini ditulis masih bertahan.

“Kasut”, yang terbit perdana pada awal tahun 1997, kini sudah memasuki tahun ke-26, sebuah perjalanan panjang untuk sebuah media cetak milik gereja.

Diawali dari pergumulan hidup di kota Jakarta yang hiruk-pikuk, macet di sana-sini, ditambah aktivitas padat yang membuat pikiran jenuh dan badan lelah, jemaat membutuhkan suasana rileks dengan bacaan yang menyegarkan. Model media apakah yang dapat mengatasi kejenuhanitu, terlebih ketika menghadapi kemacetan jalanan di Jakarta, atau mengisi waktu di saat rehat?

Dengan ide dan gagasan yang dimotori oleh Pdt. Joas Adiprasetya, didukung Bu Ming Sumichan, Bpk. Bert Sunaryo, Bpk. Jan Tanumihardja dkk, maka lahirlah “Kasut”, sebuah media cetak milik GKI Pondok Indah sebagai jawaban atas pergumulan tersebut.

Pemilihan Nama

Mengapa namanya Kasut? Kata ‘Kasut’ di dalam Alkitab bukan suatu hal yang asing. ‘Kasut’ adalah alas kaki atau terompah. Namun, pada zaman dulu kasut juga menunjukkan status sosial pemakainya, tergantung dari bahan dan kualitas kasut yang dikenakan. Bahan bisa dibuat dari kulit lembu, domba, kayu, bahkan hanya dari jerami, sedangkan fungsinya sangat vital bagi pemberitaan Injil, karena melambangkan kesiagaan dan kerelaan dalam melayani. Kasut atau terompah sangat membantu ketika melakukan pelayanan penginjilan. Bayangkan, berjalan di alam terbuka dan di tengah panas terik padang gersang tanpa menggunakan kasut sebagai alas kaki, bisa melepuh kaki kita.

Lambang Kasut

Logo Kasut di awal penerbitannya adalah tulisan KASUT dengan gambar sandal dan salib di sisi kirinya. Dalam perkembangan selanjutnya, secara perlahan gambar sandal berubah menjadi gambar yang samar dan akhirnya (mungkin modernisasi desain) gambar sketsa tersebut hilang sama sekali, dan logo yang tersisa hanya tulisan Kasut (s-nya separuh).

Moto

Frasa sebagai semboyan “Kasut” adalah Membina Iman – Melayani Tuhan. Maksudnya, “Kasut” sebagai media informasi yang menyajikan laporan kegiatan jemaat, juga menyediakan artikel-artikel yang menguatkan iman atau materi/makalah pembinaan bagi jemaat.

Tema Kasut

Tema setiap terbitan ditentukan melalui rapat redaksi (dulu namanya Tim Kasut) berdasarkan kalender gerejawi maupun isu-isu aktual yang berkembang saat itu, baik di internal gereja maupun di kancah nasional, bahkan dunia. Tema-tema umum yang pernah diangkat pada tahun-tahun awal yaitu mengenai, “Krisis Moneter” (sebelum Orde Baru jatuh), HIV/Aids, Aborsi, dll. Jadi, tema utama tidak terbatas pada tema-tema gerejawi.

Majalah Kasut memosisikan dirinya bukan sebagai media yang canggung, melainkan tegas sebagai pemihak kebenaran dan pembela bagi sesama yang terpinggirkan. Karena itu “Kasut” akan selalu menyampaikan suara kenabian.

Rubrikasi Kasut

Kasut menyajikan beragam rubrik dengan harapan agar para pembaca mendapatkan kebebasan dalam memilih bacaan. Media Kasut ibarat sebuah restoran yang menyajikan banyak menu makanan dan minuman. Pembaca diberikan peluang untuk memilih sesuai seleranya. Untuk diketahui, rubrik-rubrik yang ada tidak sama rasanya. Ibarat makanan dan minuman yang memiliki kekhasan rasa tertentu di setiap rubrik, ada bacaan yang terasa berat ketika membacanya, atau yang memerlukan permenungan dalam ranah spiritualitas dan panggilan hidup, tetapi juga bacaan ringan yang bisa membuat pembacanya tertawa lepas. Mengapa rubrik-rubrik itu perlu bervariasi? Dalam ilmu penjualan, itulah pentingnya diversifikasi produk. Hal ini merupakan usaha untuk menjaring segmen pembaca yang berbeda-beda dari sisi minat, selera, level usia, dan lain-lain.

Jadwal Terbit

Terbit dwi bulanan. Pernah terbit 8 kali dalam setahun, terdiri atas enam edisi rutin dan dua edisi khusus, yaitu Paska/Natal dan/atau Ulang Tahun GKI Pondok Indah pada setiap bulan Juni. Pada edisi khusus, biasanya tampil lebih wah, misalnya: materi isinya dominan mengenai peristiwa saat itu, halaman lebih tebal, terkadang full color (contoh edisi 65/ Tahun XIII/2009 bertepatan dengan Ulang Tahun GKI Pondok Indah ke- 25, total 120 halaman full color), tiras lebih banyak.

Kendala yang Dihadapi

• Banyak kendala di awal penerbitan. Dulu tidak memiliki desainer sendiri. Jika dihitung, ‘Kasut’ pernah di-layout oleh tujuh orang (tujuh nama layouter) untuk nomor penerbitan berbeda, secara tidak tetap dan berganti-ganti.

• Waktu itu banyak penulis yang mengirim naskah dengan tulisan tangan atau diketik dengan mesin ketik, sehingga sekretaris Kasut harus menyalin dengan mengetik ulang di PC (waktu itu masih generasi Pentium 1, masih menggunakan Ms. Windows 95, Ms. Ofice 97) agar naskah bisa berbentuk soft copy dan bisa diimpor di bidang layout Adobe Page Maker (aplikasi layout yang digunakan saat itu). Saat ini menggunakan Adobe InDesign CC.

• Internet saat itu masih sangat terbatas. ‘Kasut’ belum memiliki fasilitas internet. Semua naskah ditransfer melalui disket atau CD. USB belum ada. Desainer sulit mendapat ilustrasi untuk menghias halaman majalah. Kata olok-olok bagi majalah yang tidak ada ilustrasinya adalah ‘majalah lautan timah’.

• Pada tahun 1997, ketika krisis moneter melanda Indonesia dan negara-negara Asia, semua harga naik. Dengan memperhitungkan anggaran yang tersedia, percetakan menyiasati film yang menuju plat diganti dengan kertas kalkir.

• Beberapa kali pindah percetakan. Setidaknya lima kali perpindahan dengan pertimbangan mencari percetakan yang relatif murah/ terjangkau.

• Terasa sulit menerbitkan per edisi secara rutin dan tidak terputus. Juga tidak mudah mengumpulkan naskah dari penulis lingkungan gereja sendiri, meski tenggat waktu naskah sudah diberitahu sebelumnya. Kurang meratanya kesadaran masing-masing Mabid dalam melaporkan kegiatannya untuk dimasukkan dalam rubrik Sorotan. Karena itu, pengumpulan naskah bisa menjadi kendala utama dalam mengelola majalah.

Catatan: Sebuah media cetak, atau media apa pun, yang dirancang sebagus apa pun, jika tidak ada materi yang ajek sebagai bahan yang dimasak—ibarat sebuah restoran—hanya akan menjadi media kosong yang tidak ada isinya. Barangkali bisa terbit sekali, dua kali, setelah itu lenyap. Untuk itu, demi menjaga kontinuitas hakikat sebuah media dan memenuhi jadwal hari ‘H’ penerbitan, sangat dibutuhkan konsistensi.

Daftar Pemimpin Redaksi Kasut berdasarkan urutan waktu:

  1. Pdt. Joas Adiprasetya (1997-2001)
  2. Sindhu Sumargo (Okt 2001-Juli 2003)
  3. Tjuk Sumarsono (Ags 2003- 2004/2005)
  4. Singgih Tjahjono (Des 2005-2009)
  5. Nick Tobing (Jan 2010-2011)
  6. Singgih Tjahjono, masa pelayanan periode ke-2 (2012 s/d saat ini)

Apresiasi dari Berbagai Pihak

Beberapa kali redaksi Kasut dimintairesepnya, “Bagaimana Kasut sebagai majalah gereja bisa survive”. Mereka adalah (sebagian) pegiat GKI sekitar, dan satu dari GKJ yang sempat meminta pemimpin redaksi menjadi pembicara seminar dengan tema “Tips Mengelola Media Cetak Gereja”.

Dan yang tak kalah membanggakan, “Kasut” mendapat apresiasi berupa surat pujian dari Pdt. Em. Andar Ismail, penulis buku Seri Selamat yang terkenal itu, dan juga pujian dari Bpk. Harjoko Trisnadi, wartawan senior yang belakangan ini mendapat penghargaan Pengabdian Seumur Hidup di Bidang Pers di Hari Pers Nasional (PHPN) 2018.

Ada awal ada akhir.

Apa yang ada di dunia ini semua adalah fana. Barangkali kita pernah memiliki sesuatu yang berharga—yang kita banggakan mungkin—apalagi ia pernah bersama-sama dengan kita, ‘Kasut’ bisa salah satunya, hadir dan menyapa pembacanya 25 tahun lebih, tidak bisa dikatakan masa yang pendek untuk sebuah majalah gereja.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya ada banyak orang yang diberkati melalui media kita ini, karena materi Kasut bisa dibaca oleh jemaat, gereja lain hingga luar negeri melalui portal website https:// gkipi.org/ selain itu juga dibagikan melalui media sosial lainnya. Semua itu sumber materinya dari bahan yang sudah melalui juru masak “Kasut”. Melalui zoom meeting dengan sebagian redaksi “Kasut”, disampaikan bahwa “Kasut” akan diperbarui.

Sebagai ‘orang lama’ yang berada di dalam redaksional tentu memahami karena perubahan tren pembaca akibat kemajuan teknologi digital yang pesat dan semakin canggih. Mengenai apa yang disebut ‘baru’ nanti—tentu dengan sendirinya menjadi tanggung jawab konseptor dan pencetus ide.

Akhirnya, kata-kata yang lekat dengan kehidupan kita dan layak untuk direnungkan, Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba Nya. (Kolose 3:23-24 TB)

Selamat melayani di mana pun kita berada.•

|PURWY SUDHARMA

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
  • Refleksi Panitia PASKA 2022
    Halo, Sahabat GKIPI … Tulisan berikut ini adalah rangkuman dari beberapa kesan dan refleksi yang disampaikan oleh kawan-kawan panitia...
  • Merangkai Injil di PULAU RUPAT
    I. Misi Yang Berkelanjutan Sudah sejak lama berbagai denominasi gereja hadir dan melakukan misi di Pulau Rupat. Selain melayani...
  • BEYOND
    “Wah, bener-bener Beyond banget emang nih!” Demikian kalimat yang bisa dikatakan menjadi canda, tetapi juga kenyataan sehari hari dalam...