In Memoriam: Sanatalayan Henky Wijaya

Belum ada komentar 1 View

Sebagai penatua kala itu, aku selalu bersukacita bila ada pengangkatan penatua baru karena hal itu berarti bertambahnya armada pelayan di Majelis Jemaat. Pak Henky diteguhkan sebagai penatua pada bulan September 2006, dan kemudian menjabat beberapa fungsi dalam kemajelisan, antara lain bidang Pembinaan Umum dan Pengembangan Jemaat. Bukan kali pertama aku mengenalnya, beliau sudah lama kukenal. Seingatku, melalui anaknya Joyce Litani saat aku masih aktif di Komisi Remaja. Selain itu, sempat juga kami terlibat dalam kerja sama di beberapa kepanitiaan dan program Pembinaan di awal dekade 1990- an.

Kesan awal kala mengenal Pak Henky adalah, betapa dia amat menghargai orang lain yang berusia muda. Ini amat kurasakan, mengingat rentang usia di antara kami yang lebih 20 tahun dan ternyata kami tetap bersahabat, walaupun kepenatuaan kami masing masing sudah berakhir di tahun 2008 dan 2012 yang lalu. Hal ini juga sejalan dengan cerita beliau dalam kesempatan berbagi kisah hidupnya. Beliau, yang lahir 2 Juni 1947 dan besar di Cirebon, punya banyak kisah unik dalam menjalani kerasnya kehidupan di masa mudanya, antara Cirebon dan Bandung. Pernah bekerja di lingkungan pelabuhan yang keras di kota Cirebon, tapi juga aktif di komisi Pemuda GKI Pengampon, Cirebon. Pernah studi Teknik Sipil di salah satu universitas swasta di kota Bandung, tapi karena alasan kebutuhan ekonomi, kuliahnya pun ditinggalkan.

Banyaknya teman dan kenalan pendeta di kedua kota itu memungkinkannya untuk aktif di Komisi Pemuda Sinode, khususnya Sinode GKI Jabar. Tidak heran, di usia mudanya, beliau pernah menjabat sebagai penatua.

Pak Henky juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang ikut menyatukan GKI. “GKI itu bisa bersatu, antara lain karena Pemuda!” begitu cerita beliau mengawali kisahnya. “Moderamen Sinode Am GKI sudah ada sejak tahun 1962, tetapi ketiga Sinode yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur tetap berjalan sesuai aturan/tata gereja yang dimiliki masing-masing dan ketiganya menjadi anggota PGI (DGI). Barulah pada Persidangan Sinode Agustus 1988, kami ikut menyerukan “Its Now or Never bagi penyatuan GKI.” Kala itu kalau kuingat, beliau sudah menjadi simpatisan GKI Pondok Indah dan tak lama kemudian menjadi anggota jemaat.

Berjuang dalam melanjutkan kinerja mabid. Pengembangan Jemaat yang relatif masih baru kala itu (dimulai 2002) tidaklah mudah. Berawal sebagai sekretaris Mabid. yang mendampingi alm. Samuel Oka, lalu menggantikannya sebagai ketua mabid. cukup membuatku ketar-ketir juga. Namun demikian, Tuhan selalu mengirimkan hamba hamba-Nya kala itu, di waktu yang tepat dengan orang-orang yang tepat pula. Antara lain dalam sosok Pak Henky. Memahami peran Mabid. ini sebagai pengawas proses, tapi juga sebagai sistem masukan dan pengayaan ide-ide serta konsep, cukup menggugah beliau untuk mengajak belajar bersama-sama. Sikapnya yang terbuka pada perubahan dan wawasannya yang luas menginspirasi kami, terutama atas ide “Sahabat Penatalayan”, suatu konsep kepemimpinan, mentoring dan kaderisasi yang awalnya bergerak dari konsep-konsep Servant Leadership. Istilah “Sanatalayan” atau Sahabat Penatalayan menjadi populer kala itu di antara penatua dan pegiat dalam rangka melengkapi diri menjadi Pelayan Tuhan di gereja-Nya, GKI Pondok Indah.

Masih banyak kesempatan kerja sama lainnya bersama beliau, baik dalam persidangan maupun pelayanan. Kami saling melengkapi satu sama lain. Kalau beliau datang dengan konsep konsep yang canggih, maka menjadi tugasku untuk mendaratkannya agar konsep tersebut dapat berjalan.

Sesuai passion-nya, beliau juga banyak melayani di bidang Pembinaan Umum. Aku tahu bahwa ia sangat memedulikan kaderisasi pelayan di gereja. Sebagai puncaknya, gagasan bersama kedua Mabid. untuk menyelenggarakan “Sekolah Orientasi Melayani /Oase Spiritual Tengah Minggu” dengan topik “Bina Sanatalayan” terselenggara medio 2012 dalam 12 pertemuan.

Itulah beberapa kenangan indah bersama Pak Henky yang dapat kubagikan. Kami mencoba bahu– membahu membantu beberapa ministry yang ada di GKIPI walau tugas kepenatuan kami telah berakhir. Seiring dengan berjalannya waktu, tidak banyak lagi kerja sama pelayanan dengan beliau, selain pertemanan terutama obrolan-obrolan pasca ibadah Minggu.

Masa pandemi pun tiba, kami hanya sempat ngobrol via telepon, terutama saat Tante Celly, istri beliau, membutuhkan perawatan khusus terkait operasi panggulnya. Hanya ada saling monitor, saling sapa via WA grup di antara kami hingga akhirnya pada awal tahun 2021 kami saling telepon lagi. Beliau mengutarakan rencana kepindahan rumahnya untuk sementara sampai pandemi berakhir, hingga segalanya siap, dan nanti bersama Tante Celly akan menetap di Vancouver, Kanada bersama Joyce, anaknya. Untuk itu, ia berencana memberikan beberapa koleksi buku yang dimilikinya kepadaku. Senang, sekaligus sedih mendengar kabar tersebut, kujawab bahwa aku pasti punya waktu untuk segera main ke rumahnya.

Kesibukan dalam kepanitiaan emeritasi Pdt. Tumpal Tobing membuat rencanaku untuk menyambangi beliau tertunda. Sampai akhirnya pada hari Selasa, 16 Februari 2021, aku baru sempat datang ke rumahnya. Kami saling meng-update keadaan masing-masing, dan dengan detail dia ceritakan semua rencana terkait kepindahannya, sambil menunjukkan foto-foto rumah, baik yang akan disewa di Bintaro maupun yang ada di Vancouver. Rupanya sudah banyak juga teman yang diajak berkunjung ke rumahnya, demi misi kepindahan ke tempat yang lebih kecil. Barang–barang milik Joyce dan Alvin pun masih terletak dengan sempurna di kamar mereka masing-masing. Aku hanya tertarik pada buku-buku, begitu banyak koleksinya. Terutama manajemen, marketing, keuangan dan tak kalah banyaknya buku pengembangan diri, spiritualitas dan kerohanian. Tak terasa sudah hampir tiga jam sore itu aku bertandang di rumahnya. Segera aku pamit sambil membawa lima buku pilihan, tak sanggup aku membawa lebih, entah kapan kuselesaikan membacanya…

Minggu pagi, selepas ibadah online 21 Februari, aku dikejutkan dengan kabar kepulangan beliau yang amat mendadak, terjatuh kala sedang joging di sekitar rumahnya. Kabarnya terkena serangan jantung. Langsung aku teringat bagian dari percakapan kami sore itu, bahwa salah satu yang akan dilakukannya dalam waktu dekat adalah mengganti alat pacu jantungnya yang mungkin sudah expired. Ya, kuingat lagi bahwa Pak Henky memang punya kelainan denyut jantung bawaan. Ukuran pulse beliau selalu di atas 100 (takikardia). Segera aku bergegas ke RSPI untuk sebisanya membantu Tante Celly. Ketatnya rumah sakit di kala pandemi menghalangiku untuk masuk, beruntung sudah ada Pdt Vera dan Pnt Alice di sana. Aku berkoordinasi dengan Pnt. Alice. Mereka menunggu hasil swab Pak Henky yang menjadi prosedur wajib saat ini, sebelum menentukan proses selanjutnya. Aku berinisiatif menunggu mereka di rumahnya saja. Akan segera kubantu mencari akte kelahiran kedua anaknya untuk difoto/scanned yang mungkin bisa meringankan persyaratan karantina bila mereka kembali ke Jakarta, mengingat mereka sudah berbeda kewarganegaraan.

Tak lama aku menunggu, rombongan tiba dari RSPI dengan membawa kabar bahwa hasil swab negatif dan rencana kremasi akan dilakukan esok hari. Kemudian menyusul Pak Jasin, sahabat Pak Henky juga, yang tiba di rumah itu. Kami bersama-sama membantu mempersiapkan pakaian untuk Pak Henky dan berbagai dokumen keluarga yang diperlukan, termasuk akte lahir anak-anak. Rombongan kembali berpisah untuk mempersiapkan pemindahan jenazah dari RSPI ke rumah duka Grand Heaven, Pluit, setelah melengkapi semua persyaratan yang diperlukan.

Dalam ibadah penghiburan malam itu di Pluit, selaku sahabat lama sejak di Cirebon, Pak Jasin menyampaikan kesan-kesannya selama beliau mengenal Pak Henky. Hal yang amat dipuji oleh Pak Jasin adalah semangat Pak Henky untuk mempelajari apapun secara otodidak. Hal ini amat kuamini. Aku jadi teringat bahwa tak hanya persoalan gereja yang beliau pelajari secara otodidak, urusan bisnis pun Pak Henky cukup lama berkecimpung dalam materi pelapis lantai (epoxy) yang umumnya digunakan untuk pabrik atau pergudangan. Menurutku, beliau lebih hebat dari sarjana teknik sipil yang sempat dicita-citakannya, bahkan pernah memiliki pabriknya sendiri di Surabaya. Belum lagi penguasaannya atas berbagai alat musik, yang juga dipelajari secara otodidak. Sungguh suatu teladan bagi kita semua.

Selamat jalan Pak Henky, kami warga jemaat GKI Pondok Indah sungguh amat merasa kehilangan. Mulai dari jemaat mula-mula, komunitas tenis, Kencana Band, Kairos dan Neo Kairos Band dan banyak lagi rekan yang dibimbingnya via Bina Sanatalayan untuk menjadi pegiat di gereja yang dicintainya ini. Untuk Tante Celly, Joyce dan Alvin beserta cucu-cucu, kalian patut bangga memiliki suami, ayah dan kakek dalam diri Pak Henky. Kiranya Tuhan menguatkan! •

|BENNY MOERTONO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Ketika Aku Positif!
    My days with COVID
    Bicara tentang COVID-19 berarti bicara tentang sesuatu yang sangat personal. Pada dasarnya saya tergolong sehat, karena walaupun gendut, saya...
  • isolasi
    ISOLASI
    ‘Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada Nya, sebab Ia yang memelihara kamu’ (1 Petrus 5:7) Peristiwa yang terjadi pada minggu terakhir...
  • Bersukacita Dalam Kelemahan
    Pasutri Bertha Eta & Anung
    Bulan Juli merupakan bulan yang sangat berat bagi kami berdua, terutama bagi suami saya, Anung. Pikiran dan hati kami...
  • Ayahku Yang Sederhana
    Ayahku Yang Sederhana
    Bila kukenang kembali, ah… keindahan itu telah berumur 54 tahun yang lalu. Waktu itu aku meninggalkan kampung halamanku dan...
  • Rasika Wiyarti: BERGUMUL DENGAN KANKER
    Aku seorang Katolik sejak dibaptis pada tahun 1998 dan pengetahuanku tentang Alkitab sangatlah sedikit. Sebelumnya ingin kuperkenalkan siapa diriku....