Jalan Pagi di Antara Jiwa-Jiwa

Perjumpaan-perjumpaan yang menginspirasi kehidupan dan mendatangkan syukur.

Belum ada komentar 10 Views

Jalan Pagi

Untuk menjaga kondisi dan kesehatan jasmani di masa yang menekan ini sehingga tidak banyak aktivitas yang bisa saya lakukan di luar, saya membiasakan diri untuk jalan pagi. Jadwalnya ‘dipaksakan’ agar bisa dilakukan secara rutin 2 hari sekali. Sebenarnya saya mengikuti program yang dirancang oleh istri saya untuk olahraganya. Di tengah kesibukan mengerjakan pekerjaan rumah atau di luar rumah yang hampir semua dikerjakannya sendiri, ia merasa perlu mengimbanginya dengan menjaga kesehatan yang memadai. Tadinya ia hanya berjalan berdua dengan kakaknya, Yosephine, sambil terus menghimbau dan mengajak saya turut dalam aktivitas yang menyehatkan ini. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut dan jadilah acara jalan pagi itu melibatkan kami bertiga.

Efek yang Menyehatkan

Pada awalnya tidaklah seperti harapan semula bahwa jalan pagi ini akan membawa dampak yang menyegarkan sehingga tubuh menjadi fit dan dengan demikian akan menambah energi dalam mengerjakan banyak hal di hari itu, seperti yang dirasakan dan ditunjukkan oleh para ibu itu. Karena benar-benar sudah lama saya tidak pernah berolah raga, maka pada kesempatan pertama sampai ketiga saya belum bisa merasakan dampak itu. Malah sebaliknya, badan merasa pegal-pegal dan terus mengantuk, terutama sehabis mandi setelah keringat tidak keluar lagi. Kesegaran mandi itu sepertinya mendorong minat untuk berbaring-baring santai yang tak jarang terus berlanjut, ketiduran. Beruntung saya tidak putus asa lalu menghentikan aktivitas itu. Sekarang setelah lebih sering melakukannya, jalan pagi itu benar benar memberikan efek seperti yang dirasakan para ibu tadi.

Destinasi yang Jauh

Kami tidak memilih kompleks kami yang asri dan nyaman itu untuk jalan pagi. Padahal, meskipun tidak terlalu besar, penataan taman dan pedestrian dalam kompleks itu sepertinya disiapkan bagi kenyamanan warga melakukan aktivitas outdoor seperti jalan pagi. Alasan kami jelas bukan karena kurang nyaman berjalan-jalan pagi di sana, sedangkan orang dari kompleks perumahan lainnya saja memilih kenyamanan berjalan-jalan di kompleks perumahan kami.

Alasan kami lebih disebabkan adanya terlalu banyak interupsi yang menyebabkan aktivitas itu terhenti sejenak berkali-kali, sehingga membuat kelangsungan jalan pagi itu tidak nyaman. Kami terlalu banyak bertegur sapa dengan warga yang melakukan aktivitas serupa, karena saya adalah Ketua RT abadi di situ sehingga mengenal hampir semua penghuni kompleks. Kadang-kadang tidak cukup hanya dengan say hello, tetapi lebih sering menumbuhkan pembicaraan-pembicaraan kecil di antara kami; bahkan tak kurang juga menjadi lebih serius menyangkut urusan hidup bersama dalam satu kompleks ini.

Kami sengaja menyeberangi jalan raya menuju kompleks perumahan di depan kami yang lebih luas dan memiliki jalan tengah yang panjang sekali. Jadi kami hanya menempuh perjalanan pergi-pulang dari rumah kami ke ujung jalan panjang tadi, dan itu sudah 8 km jaraknya, lebih dari cukup untuk memenuhi syarat kesehatan berjalan 10.000 langkah setiap hari.

Perjumpaan yang Menginspirasi Namun, meskipun sudah memilih kompleks lain sebagai destinasi kami untuk jalan pagi, ternyata perjumpaan-perjumpaan itu tidak bisa hilang atau dihindari. Meskipun terpampang pemandangan indah dan rumah-rumah mewah di sepanjang rute perjalanan kami yang cukup memanjakan mata dan menenteramkan pikiran, tetapi perjumpaan dengan manusia tetap yang paling menarik bagi kami yang memang people oriented ini.

Perjumpaan dengan orang-orang yang kami temui di sepanjang jalan itu ternyata memberikan banyak inspirasi, insight, serta alasan untuk bersyukur, baik bagi mereka yang berkisah, maupun kami yang mendengarnya. Itulah yang ingin saya bagikan kepada para pembaca yang budiman.

Mbak Purwanti – Puskesmas Keliling

‘Kolega’ pertama yang ingin saya ceritakan adalah Mbak Purwanti, penjual jamu keliling (dulu lebih dikenal dengan istilah jamu gendong, tetapi kini sudah dijajakan menggunakan sepeda motor). Perempuan setengah baya asal Karanganyar Solo ini adalah ibu dari dua anak perempuan, satu di antaranya sudah berkeluarga. Suaminya pedagang bakso yang dijajakan berkeliling juga. Mereka sudah 10 tahun menetap di Jakarta. Sebenarnya sejak di Karanganyar mereka sudah berjualan bakso dan jamu seperti yang dijajakan sekarang. Karena hasil penjualan tidak seberapa sehingga terkadang tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, maka atas himbauan kakaknya yang bekerja di Jakarta, keluarga ini pun memilih untuk mencari penghidupan yang lebih baik di sini. Mbak Purwanti bersyukur bahwa apa yang didambakannya itu benar-benar dapat diperolehnya.

Saat ini jualannya lancar sekali. Jamu jamu yang dibuatnya sendiri itu laris manis dan ia mempunyai banyak langganan yang menyukainya. Tidak mengherankan karena jamunya disajikan kental, bercita rasa, dan benar-benar ‘menggigit’. Untuk alasan itulah kami memilih menjadi langganannya. “Meskipun banyak penjual jamu yang menjajakan sajian serupa, tetapi pada akhirnya konsumen akan memilih berdasarkan penilaiannya atas rasa dan kualitas jamu yang diminumnya, kan?” ujarnya ketika kami tanyakan bagaimana ia mengatasi persaingan di antara banyaknya penjual jamu di wilayah pemasarannya.

Mbak Pur mengatakan bahwa meskipun perjuangannya tidak lebih ringan atau lebih mudah dibandingkan di kampung, tetapi ia sangat menyukuri atas rezeki yang Tuhan berikan kepadanya. Ia bahkan bisa berjualan pagi dan sore jika cuaca tidak sedang hujan. Ia tak habis-habisnya mengucapkan syukur atas kecukupan yang dikaruniakan kepadanya sehingga membuat kehidupan keluarganya nyaman. Meskipun tidak berkelebihan, apalagi berkelimpahan, tetapi jelas ia dan keluarganya tidak merasa berkekurangan. Pasangan suami istri ini saling mendukung untuk mencukupi kebutuhan keluarga— masing-masing berkontribusi mencari nafkah—sehingga sangat membangkitkan semangat hidup dalam berumah tangga. Mereka mampu menyekolahkan anak sampai tuntas, bahkan mengantarnya berumah tangga. Inilah sebuah prestasi tersendiri bagi mereka.

Mas Mukriyanto – Pengisi Dapur

Mas Mukri—nama lengkapnya Mukriyanto—adalah penjual sayur keliling yang sudah 18 tahun menekuni profesinya. Laki-laki kelahiran Semarang 58 tahun yang lalu itu adalah seorang yang sabar, tekun, dan mempunyai pemikiran—yang meskipun sederhana— cukup terstruktur. Ketika kehidupan di kampung tidak cukup memberinya kesempatan untuk menata kehidupannya sendiri, ia merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib dan mencari penghidupan yang lebih baik dengan bekerja di bangunan. Yang ada di pikirannya waktu itu adalah bagaimana ia dapat secepatnya mengumpulkan modal untuk menikah, sebab umurnya sudah tergolong lanjut untuk ukuran bujangan di desanya. Karena itu ia rela mengambil kerja sambilan jika malam tiba, yakni menarik becak. Kerja keras yang diimbangi dengan kesederhanaan hidupnya memampukannya melaksanakan niatnya itu setahun kemudian. Dalam usia 23 tahun ia menikah dengan gadis pilihan dari kampungnya.

Keluarga sederhana ini memulai kehidupannya dengan mengontrak rumah petak yang dikenangnya seperti ‘kandang burung’. Namun, cita-cita besarnya untuk mempunyai keluarga sederhana yang cukup dan tidak terimpit kemiskinan tetap terpatri di sanubarinya. Hal itu sangat didorong oleh obsesinya untuk bisa menjalani kehidupan normal seperti keluarga lain pada umumnya. Dan obsesi itulah yang menjadi motivasi pendorong untuk terus bekerja giat dan dapat menjalani hidup mandiri yang menimbulkan syukur.

Tujuh tahun kemudian sejak kedatangannya ke Jakarta dan menggeluti dua macam pekerjaan dengan sabar dan penuh kesungguhan, teman temannya yang tergabung dalam paguyuban tukang sayur keliling menyarankannya untuk mencoba menjadi penjual sayur keliling. Hal itu dipicu oleh pembukaan sebuah kompleks perumahan baru di daerah Cibubur ini. Dengan modal pinjaman dari paguyuban itu ia mulai membangun kehidupannya melalui perubahan profesi. Kebaikan hati, kesopanan dalam berkomunikasi, dan kepiawaiannya membawakan diri menjadi pendukung utama baginya dalam membentuk relasi dan pelanggan sayur keliling yang dijajakannya.

Kenalannya menjadi sangat luas, dari tukang sapu taman hingga pensiunan jenderal serta petinggi-petinggi profesional dari berbagai profesi. Hal itu tidak menjadikannya besar kepala dan bangga secara berlebihan, sehingga menjadi salah sikap dan perilaku. Ia hanya bersyukur bahwa Tuhan sering menjadikan mereka saluran berkat yang turut memelihara kehidupannya.

Di tengah kehidupan yang mulai membaik dan dengan tetap mengingat obsesinya, Mas Mukri benar-benar berhati-hati dalam mengatur keuangannya. Sesedikit apa pun ia tetap berusaha menabung. Salah satu alasan untuk bersyukur dalam berjualan sayur adalah bila sayurannya tidak habis terjual tetap dapat diolah dan dimasak untuk dikonsumsi keluarga sendiri. Dengan tekad dan aksi yang terus dihidupinya itu, kini Mas Mukri sudah bisa mengentaskan putrinya—anak pertama yang sudah sarjana—memasuki rumah tangga mandiri. Sedangkan putranya—anak kedua—kini sedang menjalani kuliah. Mereka berbahagia tinggal di rumah kontrakan yang sangat pantas dan layak untuk sebuah rumah tangga. Masih mengontrak? Ya, karena Mas Mukri telah bersepakat dengan istrinya untuk lebih fokus membangun dan mengembangkan rumah masa tua mereka di kampung yang kini sudah terwujud keberadaannya.

Secara khusus Mas Mukri menyampaikan apresiasinya kepada orang-orang Kristen langganannya, maupun kami kenalannya. Orang Kristen—menurutnya—hampir tidak pernah menunjukkan SARA dan bahkan mempunyai penerimaan yang lebih tinggi terhadap orang orang sederhana yang berlainan kepercayaan, seperti halnya dirinya. Mereka bahkan tidak membeda bedakan status sosial seseorang, karena bukan agama yang menjadikan seseorang layak dijadikan teman, bahkan saudara, melainkan perilaku, respons, dan penerimaan terhadap orang lain, apa pun keberadaan dan latar belakangnya. Mereka bahkan dikatakan sangat berperan dalam membantu banyak urusannya, terutama soal sekolah anaknya dan hajatnya menikahkan si sulung kemarin.

Mpok Suparyati -Penjaga Lingkungan

Mpok Par punya cerita yang agak berlainan. Perempuan Betawi yang bernama lengkap Suparyati ini tadinya adalah anak seorang yang cukup berada. Ketika tanah bapaknya terkena rencana pembangunan perumahan—di mana ia bekerja sekarang—dan mendapatkan ganti rugi yang cukup memadai, bapaknya mengalokasikan dana yang cukup besar untuk membangunkan 5 rumah bagi kelima anaknya, bahkan membelikan mereka masing-masing sebuah sepeda motor, termasuk Mpok Par. Namun ketika rumah Mpok Par terkena gusuran juga untuk pembangunan perumahan yang lain, ganti rugi yang diperolehnya tidak berlebih untuk mengatasi keperluan yang lain, setelah dipergunakan untuk membangun rumah barunya. Kini ia merasa makin dijauhkan dari tanah moyangnya semula. Ia merasa kebelangsak dan harus menempuh jarak yang makin jauh untuk mencapai tempat kerjanya yang sekarang.

Dari pernikahannya dengan seorang laki-laki tetangga desa—yang adalah pekerja bangunan—Mpok Par memperoleh 6 orang anak. Yang pertama dan kedua sudah bekerja dan bisa menafkahi diri mereka sendiri, bahkan anak yang kedua sudah berumah tangga dan menafkahi rumah tangganya secara mandiri. Pendapatan atau hasil kerja Mpok Par yang dianggap tidak memadai oleh suaminya sering membuat suaminya gusar dan meminta Mpok Par untuk berhenti bekerja dan lebih fokus mengurus anak-anak saja. Mpok Par sadar betul bahwa sebagai petugas kebersihan sepotong landscape di perumahan itu, penghasilannya sangat tidak memadai. Namun suaminya— yang tidak selalu mendapatkan pekerjaan, bahkan kadang-kadang bisa kosong dalam waktu yang sangat lama—sering kali membuat ekonomi keluarga itu kocar-kacir. Karena itu Mpok Par tetap menekuni pekerjaannya yang sederhana itu. Bila ia ingin mendapat tambahan penghasilan, ia kembali datang ke tempat kerjanya membersihkan landscape jatahnya, dari pukul 15.00- 17.00.

Beberapa hal yang sangat disyukurinya adalah anak-anaknya terdidik secara baik dari segi moral, agama, dan sopan santun, sehingga banyak orang yang mengasihi mereka. Sekolah mereka—meskipun hanya sederhana dan di kampung—dijalani dengan baik, bahkan anak-anaknya tergolong berprestasi. Itu semua karena Mpok Par menjalani kehidupan dengan penuh syukur, dalam segala dinamika, bahkan kekurangan sekalipun. Perhatian terhadap masa depan anak anaknya menjadi fokus utamanya. Ia juga merasa sangat bersyukur diberi kesempatan mengenal kami yang selalu menyapa, bahkan sering berbincang dengannya. Tadinya ia sangat memercayai kebenaran adanya kasta-kasta dalam masyarakat yang dibentuk oleh kekayaan, pangkat, jabatan, dan kekuasaan. Ia merasa menjadi orang yang dipaksa turun kasta dalam romantika perjalanan hidupnya. Menurut Mpok Par, kamilah yang mematahkan anggapan itu dalam dirinya dengan senantiasa bersedia berkomunikasi dan berinteraksi dengannya, bahkan dengan ibu dan anak-anaknya.

Saya masih mempunyai banyak cerita tentang pribadi-pribadi di sepanjang jalan yang kami lalui itu, tetapi akan terlalu banyak bila diceritakan semua di sini, saat ini. Jadi cukuplah dengan ketiga pelaku kehidupan itu saja dulu. Semoga memberikan inspirasi untuk mensyukuri kehidupan yang penuh berkat ini, meskipun dari sudut pandang yang berbeda dari mereka. Tuhan memberkati.•

(Sujarwo)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup