perjuangan

Iman, Perjuangan Dan Impian

Belum ada komentar 22 Views

Jarak antara impian dan kenyataan adalah tindakan.” (Julianto Eka Saputra)

Apakah Anda pernah mendengar cerita tentang Peter Pan, anak yatim piatu yang tinggal di Neverland, suatu dunia impian di mana anak-anak tidak pernah menjadi dewasa dan orang dewasa yang ada di sana semuanya perompak? Kedua belah pihak bermusuhan dan Peter Pan selalu menang.

Sekarang, apakah Anda pernah mendengar tentang SMA Selamat Pagi Indonesia (SMA SPI)? Sekilas tempat ini adalah utopia bagi anak-anak remaja, karena mereka belajar, tinggal dan bermain bersama dengan supervisi yang minimal dari orang dewasa. SMA ini dibuat oleh Julianto Eka Saputra—atau yang lebih dikenal sebagai Ko Yu—dan berfungsi sebagai tempat pendidikan gratis bagi anak-anak yang tidak mampu dan yatim piatu. Namun saat kaum remaja Bapos Desa Kemang dan Telaga Kahuripan berkunjung ke sana, mereka tidak menemukan Peter Pan. Tidak ada yang ingin menjadi anak kecil selamanya, karena semuanya ingin terus bertumbuh dan berhasil. Caranya, masing-masing bekerja keras dan bertanggung jawab atas keputusannya untuk mengejar impiannya.

Sekolah gratis ini dibangun dengan mendengar perintah Tuhan. Ko Yu, yang beragama Katolik, mendapat amanat dari Tuhan untuk menolong dan melayani anak yatim piatu dan putus sekolah. Ketaatannya membuahkan hasil. Dari tahun 2007 sampai hari ini, asrama SMA Selamat Pagi Indonesia telah menampung 250 siswa dan sekitar 300 alumni yang bekerja di organisasi edukasi ini. Dengan komposisi kepercayaan yang berbeda-beda, yaitu 20% Kristen, 20% Katolik, 40% Islam, 15% Budha dan 5% Hindu, SMA ini adalah tempat yang spesial untuk menerapkan pengertian Bineka Tunggal Ika kepada generasi muda.

Inilah sebabnya Bapos Desa Kemang dan Telaga Kahuripan (DK-TK) memutuskan untuk mengirimkan para remaja mereka—dengan didampingi oleh Pdt. Luisye—untuk melihat dan belajar secara langsung bagaimana SMA Selamat Pagi Indonesia bisa terkenal di Indonesia dan di mancanegara, serta berhasil mencetak pengusaha-pengusaha muda di berbagai industri. Apa rahasia mereka sehingga semuanya selalu terpacu untuk memberikan yang terbaik dari diri mereka, meraih prestasi unggul, dan tetap berfokus kepada Tuhan sebagai panduan utama mereka.

Untuk belajar formula sukses tersebut, para remaja Bapos DK-TK telah menggalang dana dengan menjual sate babi, keripik pisang dan bacang untuk membiayai transpor dan penginapan selama kunjungan ini. KPI GKI PI juga turut membantu proses penggalangan dana mereka.

Perkenalan

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Para remaja tersebut tiba di Batu, Malang dan disambut oleh lingkungan yang segar, jauh dari polusi, dan suhu dingin sekitar 16°C. SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) memiliki lahan seluas 250 hektar. Fasilitas di dalamnya mencakup asrama, sekolah, aula pertemuan, restoran, toko, kantor, perkebunan, hotel, tempat bermain outbound, dan panggung arena untuk pertunjukan yang berkapasitas 800 orang.

Hari pertama, para peserta diberi kesempatan untuk mengenal area SMA SPI, dan menyaksikan pertunjukan Bineka Tunggal Ika yang menampilkan tarian dan nyanyian dari berbagai suku di Indonesia. Performa para siswa SMA SPI sudah bertaraf profesional, padahal mereka masih duduk di bangku SMA.

Character Building

Sesi motivasi dan pembentukan karakter juga diberikan dalam rangkaian 3 hari di sana. Para remaja mendapat penjelasan dari siswa-siswa SMA SPI sendiri dan alumni mereka. Kesaksian dan cerita sukses dari masing-masing murid sangat menyentuh dan menginspirasi para pendengarnya. Ada tiga pemandu untuk program ini, yaitu Kak Caca, Kak Arnil dan Kak Anton. Kak Caca, yang sudah tidak mempunyai ibu, selalu ingin membahagiakan ayahnya. Ia juga telah membiayai perjalanan umrah pamannya. Ada sasaran dan impian yang terus berusaha diwujudkannya dengan perencanaan yang spesifik. Kak Rio adalah pembicara muda penggerak motivasi (motivational speaker) yang telah diwawancara oleh berbagai media. Ketika ia berusia 10 tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia sempat marah kepada Tuhan, tetapi akhirnya mengerti bahwa 10 tahun kehidupannya bersama ayahnya adalah momen-momen berharga yang harus disyukurinya. Ada benang merah dari setiap kesaksian yang diberikan, bahwa semua hal terjadi bukan karena kebetulan, tetapi merupakan rencana Tuhan. Inilah yang membuat mereka bisa melihat masa lalu dengan pandangan positif.

Praktik Kerja

Tidak saja mendengar pesan dan formula sukses untuk masa depan, para remaja juga diajak untuk langsung menyaksikan bagaimana murid-murid SMA SPI menjalankan tugas mereka sehari-hari. Penjelasan tentang setiap divisi yang ada diberikan secara mendetail dan para peserta dapat lebih jauh mengenal proses setiap pelatihan yang diberikan. Setiap divisi adalah laboratorium di mana siswa dapat bereksperimen dan berkarya untuk membuat inovasi baru. Setiap produksi dimulai, dimonitor dan dieksekusi. Ada 8 divisi: Restaurant, Engineering, Food Production, Merchandise Store, Tour and Travel, Marketing, Show, dan Hotel. Setiap divisi memiliki berbagai departemen dengan beberapa tim khusus, layaknya organisasi perusahaan. Tim terdiri atas siswa-siswa yang bekerja langsung di lapangan untuk melatih ketrampilan mereka dan mengajarkannya kepada adik-adik kelas mereka.

Salah satu presentasi yang berkesan adalah dari divisi Show. Pembicaranya adalah Kak Yulius Bagus Ragil Rahmawan, yang berasal dari Kediri. Anak dari 8 bersaudara yang sejak kecil sudah yatim ini, kini menjadi make up artist untuk film yang menceritakan kisah anak SPI. Menurut rencana, film ini akan ditayangkan pada bulan Juli 2019. Walaupun Kak Yulius belum mengantongi sertifikat kemahiran, ia sudah menjadi perias di setiap pertunjukan SMA SPI, bahkan juga bekerja sebagai asisten make up artist di beberapa fashion show. Hobi sebagai penari tradisional juga dikembangkannya dengan mengikuti pementasan di berbagai pertunjukan SPI. Padahal ia baru menginjak kelas tiga SMA. Ia mendapat pengajaran iman yang kuat dari Romo yang menjadi pemandunya.

Selain pengenalan proses kerja di setiap divisi, kerja sama dan pelatihan teamwork diajarkan dalam acara outbound di hari kedua. Berbagai permainan dan rintangan harus dilalui secara individu maupun berkelompok. Dapat dikatakan, program ini paling seru dan disukai para peserta. Mereka yang sering kali berteriak tidak bisa, dipaksa untuk mencoba. Banyak remaja yang pada mulanya takut, akhirnya mendapat semangat untuk menyelesaikan rintangan dengan baik.

Pesan dari Setiap Pementasan

Ada tiga pertunjukan yang disajikan kepada para remaja. Garuda show bercerita tentang kebinekaan Indonesia, Blaze of glory memberi pesan untuk jangan menyerah menggapai impianmu, dan pagelaran musik berdasarkan buku The Nerd Can Fight berkisah tentang remaja yang menentang budaya bullying di sekolah dan lingkungannya. Dapat disimpulkan bahwa setiap produksi yang ditampilkan murid-murid SMA SPI ini menjadi inspirasi yang berharga bagi para remaja dan penonton lainnya. Ditekankan juga nilai-nilai alkitabiah, di mana kerendahan hati, pengucapan syukur dan penyerahan diri kepada Tuhan diutamakan dalam setiap perjuangan untuk meraih impian.

Pada hari terakhir, setiap remaja diminta untuk membuat Dream Book, yang berisi rencana yang ingin diwujudkannya dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Impian itu harus spesifik dan terencana. Metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, Timeable) diperkenalkan sebagai alat bantu untuk membuat Dream Book tersebut. Pembuatan Dream Book ini akan diteruskan oleh Bapos DK dan TK setelah kunjungan ini berakhir. Para remaja akan dimonitor untuk mewujudkan rencana mereka.

Pesan dan Kesan

Melalui kunjungan ini, para pembina GKI PI dan para remaja Bapos DK dan TK belajar bahwa setiap usaha merupakan bentuk keimanan. Moto “Iman tanpa perbuatan adalah mati” diterjemahkan sebagai PAKSA (Pray, Attitude, Knowledge, Skill, Action) di SMA SPI. Tidak ada hal yang mustahil jika setiap orang percaya melakukan tahapan PAKSA dengan konsisten. Moto ini juga menjadi tantangan bagi pelayanan GKI PI dan Bapos DK-TK. Bagaimana menyelaraskan iman dan perbuatan agar apa yang kita lakukan bukan sekadar merupakan pengalaman atau seminar lepasan, melainkan menjadi inspirasi bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Pengetahuan yang dimiliki dan wujud hasilnya tidak harus sempurna, tapi harus dilihat dan dirasakan manfaatnya. Inilah arti pelayanan yang sesungguhnya.

Peter Pan dan kawan-kawannya memilih untuk tetap tinggal di negeri awan, tetapi bumi yang Tuhan ciptakan jauh lebih indah dan hanya dapat kita nikmati dengan komitmen, tanggung jawab dan rasa syukur yang konsisten. Di sinilah keberhasilan pelayanan Ko Yu dengan SMA Selamat Pagi Indonesia. Bersama-sama mereka tunjukkan kepada dunia bahwa dengan kerja keras dan iman yang kuat, impian yang dianggap paling mustahil pun dapat diraih.

>> Nadine Mustikarini

Sumber : www.selamatpagiindonesia.org

https://swa.co.id/swa/csr-corner/hdi-dukung-pendidikan-indonesia-lewat-sekolah-gratis

https://www.viva.co.id/berita/nasional/561899-melihat-sekolah-multietnis-yang-dituduh-kristenisasi

KESAN DARI PARA REMAJA

Lintang

Dari perjalanan ke SMA Selamat Pagi Indonesia ini, saya belajar bahwa:

  1. Kita harus mulai bersyukur dengan atas apa pun yang terjadi di kehidupan kita,
  2. Melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati,
  3. Mulai mencari dan mengembangkan bakat kita,
  4. Mulai mandiri dan selalu berpikir untuk bersedia memberi, mulai dari sekarang.

Kyre

Ternyata kami termasuk anak-anak remaja yang sangat beruntung, karena masih bisa sekolah, punya orangtua, dan bisa makan sehari-hari. Teman-teman SPI juga mengajarkan kami bahwa jika kami mau, kami pasti bisa. Kami menyaksikan teman-teman SPI yang bisa menari, berbicara di depan umum, memasarkan barang, bercocok tanam, padahal dulunya tidak bisa apa-apa. Dari mereka, kami bisa berkaca untuk juga berhasil seperti mereka, apalagi background kami lebih baik dan lebih beruntung daripada mereka.

Pepeng

Di SMA Selamat Pagi Indonesia saya belajar untuk selalu bersyukur atas segala sesuatu. Walau Papa atau Mama saya suka marah, saya tetap bersyukur karena memiliki orangtua yang lengkap. Beberapa murid di SMA Selamat Pagi Indonesia sudah kehilangan salah satu orangtua, atau kedua-duanya. Bahkan ada yang tidak mengenal orangtuanya. Meskipun begitu, mereka tetap bersyukur atas kehidupan mereka, dan terus berjuang sekuat tenaga sehingga bisa berhasil seperti sekarang.

Di sini saya belajar bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau dan berusaha. Saya juga belajar untuk terus bermimpi dan berusaha mewujudkannya. Meskipun saya mungkin gagal, saya harus terus berusaha sampai mimpi saya terwujud. Kak Ridwan pernah bilang, “Gantunglah cita-citamu setinggi langit. Jika cita-cita itu jatuh, ia hanya terjatuh di bintang-bintang.”

Kita juga harus menghargai suku, bangsa, agama, dan ras. Perbedaan bukan merupakan halangan bagi kita untuk bersatu. Tantangan yang ada harus kita hadapi sekuat tenaga, bukan kita hindari.

Saya pun belajar untuk tidak melecehkan (bullying) orang lain, dan bahaya dari pelecehan tersebut.

Rachel

Saya belajar dari kehidupan teman-teman di sini, bahwa sukses itu tidak instan dan butuh usaha. Untuk meraih sukses harus punya kemauan, lalu mencari caranya. Murid-murid di sekolah ini sangat baik mengaplikasikan nilai-nilai yang diajarkan. Melalui pertunjukan-pertunjukan yang mereka pentaskan, mereka menonjol dalam bidang seni dan moral. Intinya, speechless deh!

Margareta

Saya belajar dari teman-teman di SMA SPI untuk bersyukur dalam setiap keadaan, pada saat susah atau senang. Saya juga belajar untuk mandiri, berani, mudah berintegrasi, sopan, ramah, dan menjadi orang yang lebih baik lagi. Saya merasa beruntung memiliki orangtua yang masih lengkap. Di sini saya juga diajarkan bahwa dalam setiap usaha yang kita lakukan, kita juga harus mendoakannya.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
Kegiatan