Hidup untuk Menjadi Saksi Bagi-Nya

Kesaksian Markus Wihajaya

Belum ada komentar 0 View

Pada hari Jumat, 11 Juni yang lalu, saya mengikuti program vaksinasi di Semarang, setelah dokter mengatakan bahwa saya masih diperbolehkan mengikutinya. Saat itu saya memakai brace (pelindung punggung) sehingga perawat bertanya tentang penyakit yang saya derita. Saya jawab, HNP.

Keesokan harinya (Sabtu) saya mulai demam dan sakit kanker tulang saya terasa berlipat-lipat daripada sebelumnya. Saturasi oksigen: 80. Hasil rontgen menunjukkan bahwa sebagian paru-paru saya sudah putih. Sebenarnya saat itu saya sudah tahu bahwa saya menderita COVID. Dokter spesialis paru-paru mengatakan: “Komorbidmu enggak main-main lo karena sudah CA stadium 4 dengan skor keganasan 9 (dari 1 sampai 10).” Saya segera disuruh opname di rumah sakit, tapi semua rumah sakit penuh. Tadinya saya masih memaksakan diri untuk menyetir ke tempat praktik dokter tersebut, tapi sepulang dari sana saya tidak kuat lagi menahan sakit, sehingga istri sayalah yang menyetir mobil itu dan saya duduk di kursi belakang.

Akhirnya saya menjalani perawatan home care. Rasa sakit yang saya alami jauh lebih parah daripada ketika saya menjalani operasi kanker pada bulan Oktober 2019, tapi saya berusaha untuk tidak minum obat pain killer yang berat.

Saya tahu bahwa COVID dengan komorbid kanker tulang sangat ganas dan mematikan. Karena itu saya berdoa kepada Tuhan, bahwa kalau memang sudah tiba saatnya saya kembali kepada-Nya, saya siap ikut ke Firdaus, tetapi jika saya masih diberi waktu untuk hidup, saya akan pergunakan untuk memberi semangat kepada para penderita lainnya. Sebagai olahragawan, saya memotivasi diri untuk tidak kalah sebelum bertanding. Iman harus dilatih, dan saya tidak mau dikasihani. Saya harus terus melawan COVID itu, dengan Tuhan sebagi coach utama saya. Saya bertekad melawan penyakit itu dengan kekuatan dari Tuhan. Kalah atau menang adalah hak Tuhan. Namun saya harus terus berjuang dan tidak mudah menyerah.

Pada hari Minggu, saya jatuh ketika sedang sikat gigi sehingga harus diangkat ke tempat tidur. Sebenarnya saya harus sangat berhati-hati untuk tidak jatuh, karena bisa berakibat fatal pada tulang punggung saja. Puji Tuhan, tulang punggung saya selamat. Namun setelah diperiksa, ternyata saturasi oksigen saya 80. Saya diinfus 7 hari (home care) dan mengonsumi beberapa obat dan vitamin untuk menguatkan kekebalan tubuh saya. Istri saya terus mendoakan dan merawat saya dengan tabah, telaten dan kasih. Ia juga tidak tertular COVID. Setelah kurang lebih 2 minggu, hasil PCR saya menyatakan bahwa virus itu “tidak terdeteksi”. Dokter mengucapkan selamat kepada saya dan mengatakan bahwa saya telah mengalami mukjizat.

Kesaksian ini saya bagikan sebagai rasa syukur saya karena Tuhan masih memperkenankan saya hidup sampai sekarang. Segala kemuliaan hanya bagi-Nya.•

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Cara Tuhan Mengasihiku
    Kesaksian Lukas Widjajanto
    Teman-teman sekalian yang dikasihi Tuhan, saya sungguh menantikan kesempatan untuk menyampaikan kesaksian ini. Seperti yang teman-teman ketahui, saya menderita...
  • In Memoriam: Sanatalayan Henky Wijaya
    Sebagai penatua kala itu, aku selalu bersukacita bila ada pengangkatan penatua baru karena hal itu berarti bertambahnya armada pelayan...
  • Ketika Aku Positif!
    My days with COVID
    Bicara tentang COVID-19 berarti bicara tentang sesuatu yang sangat personal. Pada dasarnya saya tergolong sehat, karena walaupun gendut, saya...
  • isolasi
    ISOLASI
    ‘Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada Nya, sebab Ia yang memelihara kamu’ (1 Petrus 5:7) Peristiwa yang terjadi pada minggu terakhir...
  • Bersukacita Dalam Kelemahan
    Pasutri Bertha Eta & Anung
    Bulan Juli merupakan bulan yang sangat berat bagi kami berdua, terutama bagi suami saya, Anung. Pikiran dan hati kami...