Grandparenting

Meletakkan Dasar Iman Buat Cucu

Belum ada komentar 107 Views

Sepasang oma dan opa memiliki 5 cucu. Cucu pertama suka sekali makan. Cucu kedua makan makanan sehat saja. Cucu ketiga suka sekali makan makanan yang enak, tetapi lebih condong makan makanan sehat. Cucu keempat hanya menyukai makanan tertentu. Sementara cucu kelima tidak suka makan.

Bagaimana menunjukkan cinta kasih kepada setiap cucu? Karena bingung, makanan seperti apa yang akan mereka santap pada acara Natal bersama cucu-cucu, akhirnya oma dan opa memesan pizza. Wow! Ternyata itu merupakan makanan favorit semua cucu. Namun, cucu yang lebih memilih makan makanan sehat, membawa makanannya sendiri sambil menyantap makan siang bersama mereka. Mereka foto-foto bersama, berdoa bergandengan tangan bersama dan bermain bersama siang itu. Yang tidak terlupakan, setiap cucu mendapatkan angpao Natal.

Tidak mudah menyatakan cinta kepada cucu yang berbeda selera, gaya hidup, dan aturan rumah orangtua mereka. Opa-oma juga tidak bisa terlalu sering mengumpulkan semua cucu mereka secara bersamaan. Namun demikian, mereka bisa menyediakan waktu istimewa di mana hanya ada cucu-cucu yang bercengkerama dengan mereka untuk berbagi cinta dan cerita, senyuman dan canda tawa.

Impresi seperti itu merupakan asupan yang sangat diperlukan oleh seorang anak usia dini. Namun demikian anak-anak yang sudah mulai beranjak remaja pun membutuhkan perhatian, tawa dan canda dari opa-oma mereka sebagai suapan cinta yang mereka dapat tabung untuk meletakkan dasar iman mereka.

DASAR IMAN ANAK

Dasar iman anak, menurut Fowler, penulis buku Stages of Faith, adalah bagaimana anak mendapatkan sebanyak-banyaknya pengalaman dicintai. Siapa pun mendapat hak istimewa untuk memberikan cinta kepadanya, termasuk opa-oma.

Dasar iman itu merupakan modal baginya untuk memahami cinta Tuhan yang belum dapat dipahami dengan logikanya. Sampai ia bisa mengakui atau menikmati “Opa sayang kepadaku dan Oma sayang kepadaku,” memang mencintainya merupakan perjuangan yang bisa gagal atau berhasil.

Apa maksudnya opa-oma gagal mencintai cucu? Seorang opa mencoba bermain bersama cucunya. Dia menggoda dengan mengambil gawai cucunya sehingga anak itu kaget. Setelah itu, opa ini mengembalikan lagi gawai itu. Alhasil, si cucu bukannya merasa senang dan lucu, tetapi justru lari ke kamarnya dan bermain sendirian dengan gawainya. Apakah opa itu berhasil meletakkan dasar cinta kepada cucunya? Saudara sendiri dapat menjawabnya.

Kisah lain lagi, seorang oma ingin sekali menunjukkan kasih sayang kepada cucunya. Ia membelikan makanan kesukaan anak itu, yang sebetulnya sangat dilarang oleh mamanya. Jadi setiap kali si cucu berjumpa dengan omanya, ia akan berkata, “Oma…, Oma bawa makanan itu atau tidak?” Lalu dengan bangga dan senangnya si oma berkata, “Bawa dong. Oma selalu siapkan buat kamu!” Dengan spontan si anak menjawab, “Horee!!!! Oma baik sekali!” Menurut Saudara, apakah oma itu berhasil meletakkan dasar cinta kepada anak?

Opa-oma yang berhasil meletakkan dasar cinta kepada seorang anak adalah opa-oma yang dapat membuatnya tahu bahwa ia disayang dengan cara yang dapat dimengertinya, sehingga muncullah sebuah respons, “Terima kasih, Opa!” tanpa diminta oleh orangtuanya. Atau “Wow… lagi Oma!!!” dengan senangnya.

Memang terjadi dilema dalam grandparenting, karena bisa jadi apa yang orangtua lakukan dan putuskan berbeda dengan apa yang opa-oma lakukan dan berikan. Namun demikian, jika mengingat bahwa seorang anak—dengan banyaknya kesempatan untuk berkenalan dengan banyak orang—hanya memiliki sedikit impresi tentang cinta, itu berarti bahwa hanya cinta yang berkenan di hatinyalah yang dapat menjadi dasar iman.

Apa gunanya dasar cinta bagi iman anak? Menurut Fowler, pada tahapan undifferentiated faith (iman yang tidak dapat dibedakan), iman seseorang tidak dapat dilihat hasilnya. Namun demikian, setiap orang dapat meletakkan dasar iman anak. Dasar iman bagaikan fondasi sebuah bangunan. Seseorang membutuhkan dasar yang kuat agar suatu kali saat angin dan badai menerpa, ia tetap dapat bertahan dengan imannya. Dalam hal ini, iman kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, Tuhan, Sahabat dan Pemimpin Hidupnya.

Seseorang bisa percaya bahwa Tuhanlah Juru Selamat yang mengasihinya, hanya jika ia mengalami dan memahami arti kasih. Tuhan yang abstrak dapat membuat seseorang memahami kasih melalui orang-orang di sekitarnya. Salah satu kuncinya adalah orangtua dan opa-oma. Jika mereka hidup bersama anak di rumah, sesering mungkin, maka makin banyak kesempatan bagi si anak untuk menikmati, mengalami dan memahami cinta.

Itu sebabnya perlu juga opa-oma mengatakan, “Ini karena Opa-Oma sayang padamu!” Sayangnya, ada banyak tindakan dan perkataan yang sering kali kontradiksi. “Oma melarang karena sayang padamu” atau “Opa tidak mengajak kamu pergi, karena Opa sayang padamu.” Untuk anak-anak usia dini yang belum dapat secara kognitif membedakan antara yang nyata dan abstrak, sesuatu yang tidak nyata atau harfiah tidak dapat dipahaminya sebagai cinta. Bagaimana mungkin Opa meninggalkan saya, tapi itu disebut cinta? Bagaimana mungkin saya tidak mendapat makanan kesukaan saya, tapi disebut cinta?

Mencari dan menemukan yang disebut cinta bagi cucu, bukan hanya membutuhkan hikmat melainkan juga membutuhkan arahan. Temukanlah bahasa utama cinta cucu Saudara.

Jika mereka menyukai makanan-makanan enak dan suka sekali makan, menurut Gary Chapman, itu berarti bahwa bahasa cinta mereka adalah act of service. Berikanlah makanan atau ajaklah mereka makan yang mereka sukai dan buatlah mereka tertawa bahagia. Bawakanlah barangnya saat ia merasa repot membawa buku atau barang-barangnya. Bantulah menemukan barangnya jika ia kehilangan, tanpa menyalahkannya.

Jika anak suka menunjukkan prestasinya, berilah pujian. Itu berarti bahasa cintanya adalah words of encouragement. Anak-anak yang suka pujian, tidak suka mendengar celaan atau larangan. Biarkan opa-oma melakukan peran: hanya memuji! Sehingga itulah impresi yang mereka dapatkan dari opa-oma dan dengan demikian opa-oma sudah meletakkan dasar cinta bagi kebutuhan perkembangan iman mereka.

JIka anak suka hadiah, menabunglah untuk membeli dan memberikan mainan atau barang yang sangat diinginkannya pada saat ulang tahun, Natal, Paska, kenaikan kelas atau saat ia pulang sekolah dengan tidak bersemangat untuk belajar ujian. Hal ini akan membuatnya teringat seumur hidup bahwa “Opa-omaku sayang padaku.” Hindari melarang anak yang mengatakan bahwa ia menyukai suatu barang, meskipun mahal. Sebaliknya katakanlah, “Kalau Opa-Oma punya uang banyak, mungkin bisa membelikannya untukmu ya…”

Jika anak suka menyandar ke badan opa-oma, eluslah badannya saat ia sedang sedih atau mengantuk. Opa-oma dapat mengetahui saat yang tepat kapan memeluk, mencium atau mengelus bagian tubuh yang diperlukannya. Berikan ritual memeluk atau mencium tangan, kening atau pipi hanya jika anak menghendakinya. Itu akan menjadi sebuah kenangan indah tentang cinta opa-oma.

Jika anak suka sekali duduk bersama opa-oma sekalipun sambil bermain gawai, lakukan itu. Bermainlah gawai bersamanya. Nikmatilah kebersamaan dengannya untuk menunjukkan cinta. Itu berarti, bahasa cinta anak adalah waktu berkualitas. Carilah hobinya atau perkenalkan hobi opa-oma kepadanya, siapa tahu ia suka melakukannya juga bersama opa-oma. Target mengerjakan hobi bersama seperti masak, mencuci mobil atau berkebun bukanlah agar anak mengerjakannya dengan sempurna atau baik, tapi agar ia menikmati kebersamaan itu. Ada kalanya mungkin ia akan merusak karya yang sedang kita garap, tapi ia melakukannya dengan tertawa terbahak-bahak. Biarkan itu sebagai bagian dari asupan cinta yang sedang diperlukannya dan tabungan bagi masa depannya.

Oma saya suka sekali mengobrol. Dulu waktu beliau masih hidup, saya duduk di kakinya, dan berulang kali ia menceritakan kisah saat Opa mendekatinya pertama kali. “Tidak ada pacaran, Ri, saat itu!” Berulang kali pula ia bercerita tentang kekejaman Belanda yang dialaminya. Kami tertawa bersama dan tidur bersama. Senangnya punya Oma seperti Ema Engkim.

Apakah Saudara ingin selalu diingat anak sebagai pemberi cinta? Mari lakukan sejak sekarang! Tuhan memberkati.

>> Pdt. Riani J. Suhardja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
  • Menjembatani GAP Antar Generasi
    Friksi dalam Keluarga Di era pandemi ini banyak timbul gesekan di antara anggota keluarga. Apa yang tadinya tidak dianggap...
  • Kekuatan Hidup Harmonis
    Kej. 2:18-24; Mk. 10:2-16
    Manusia itu makhluk yang aneh. Sudah jelas Allah berkata, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja,” atau dalam...
  • Keluarga Harta Paling Berharga
    “Harga dari segala sesuatu adalah sejumlah kehidupan yang kautukarkan dengannya.” ~Henry David Thoreau ~ Hal yang paling menarik untuk...
  • Tanggung Jawab
    Tanggung Jawab Tidak Dapat Diajarkan?
    “Saya ingin anak saya bertanggung jawab. Itu sebabnya saya mewajibkannya melakukan tugas tugas ini setiap hari. Kalau dia tidak...