Gki Pondok Indah Memasuki Masa Pascapandemi : Sebuah Pengantar

Belum ada komentar 23 Views

Visi-Misi yang Rampung dan Pandemi yang Menggelisahkan

Tahun 2021 merupakan tahun terakhir GKI Pondok Indah menjalani sepuluh tahun perjalanan visi-misinya, “Sebuah jemaat yang hidup, terbuka, partisipatif dan peduli.” Rampungnya satu dekade ini berkelindan dengan sebuah peristiwa global yang kita alami bersama sampai hari ini: pandemi COVID-19. Krisis berkepanjangan yang diciptakan oleh pandemi ini telah merembes ke semua dimensi kehidupan manusia di seluruh dunia, tak terkecuali gereja gereja. Semua gereja dikejutkan dengan ketidakmungkinan untuk melangsungkan kegiatan-kegiatan mereka seperti pada masa sebelum pandemi. Semua berubah secara cepat dan seketika. Semua beralih ke modus online dan hibrid. Sungguh sebuah masa yang penuh ketidakpastian.

Ketidakpastian ini, bagi banyak gereja, berarti juga ketidakmungkinan untuk memprediksi masa depan. Padahal, di masa lalu, gereja-gereja sangat gemar memprediksi masa depan dan menuangkan mimpi mereka ke dalam rumusan visi yang kemudian disasar melalui misi dan serentetan strategi pencapaiannya. Semua itu dikerjakan, tampaknya, setelah gereja banyak belajar dari dunia bisnis. Pencanangan visi-misi-strategi memang sangat khas dalam banyak model bisnis (business model). Padahal, di masa pandemi, yang kerap dipandang telah menciptakan sebuah disrupsi ini, hampir semua pelaku bisnis sendiri kebingungan memastikan visi-misi strategi mereka. Lantas, gereja-gereja yang meniru pemakaian bisnis model ini tentu saja sama bingungnya. Tak heran jika Andy Crouch, seorang peneliti dan teolog, berkata bahwa semua organisasi di dunia, termasuk gereja, terpaksa menjadi startups baru. Kita harus kembali ke “kilometer nol” lagi. Kita harus belajar sekali lagi A-B C-nya hidup menggereja di masa yang aneh dan murung ini.

Visi dan Misi Kerajaan Allah

Lantas bagaimana dengan visi-misi yang sudah kita rampungkan itu? Yang pasti, kita bersyukur bahwa selama sepuluh tahun, perjalanan GKI Pondok Indah telah dituntun oleh visi-misi tersebut. Namun, dengan ada pandemi yang membuat kita pun menjadi sebuah startup baru, tampaknya kita tak dapat sekadar merumuskan visi-misi yang baru. Kita tak dapat melanjutkan model berpikir yang lama. Sebab, memang, kita tak dapat memprediksi masa depan kita. Jangankan sepuluh tahun ke depan, satu tahun ke depan pun tampak penuh kabut. Contohnya adalah ibadah hibrid kita. Setelah redanya varian Delta di Indonesia, dan kita memulai ibadah hibrid selama beberapa minggu, tiba-tiba kasus-kasus varian Omicron bermunculan dengan sangat cepat. Sampai-sampai, kita harus memutuskan untuk menghentikan ibadah hibrid dan kembali ke livestreaming. Kabut yang sudah mulai memudar, kini memekat lagi.

Maka, dalam pergumulan yang panjang, Majelis Jemaat bersama dengan Tim Pendeta mengusulkan sebuah cara menggereja yang berbeda di tengah pandemi ini. Cara baru tersebut adalah dipergunakannya virtue sebagai prinsip utama untuk hidup menggereja di masa pandemi dan pascapandemi ini. Jadi, kita tak lagi memiliki visi dan misi? Nanti dulu! Tentu saja kita harus tetap memiliki visi dan misi. Namun, berbeda dari kebiasaan lama kita, dan banyak gereja lain, untuk merumuskan visi-misi kita sendiri, kita ingin menegaskan kembali bahwa semua gereja di dunia ini seharusnya memusatkan diri pada visi bersama dan misi bersama, yaitu Kerajaan Allah. Dokumen penting GKI yang bernama “Konfesi GKI 2014” menegaskan Kerajaan Allah demikian:

  1. Kerajaan Allah bukanlah tempat atau struktur kelembagaan tertentu, melainkan sebuah proses dinamis yang menghadirkan persekutuan kasih yang akrab dari Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
  2. Dengan Kerajaan Allah, seluruh ciptaan dibarui ke dalam pemenuhannya.
  3. Gereja dipanggil dan diutus untuk mewujudkan tujuan Kerajaan Allah tersebut. (Penjelasan Konfesi GKI 2014, 9.a-c)

Jadi, dengan mempergunakan Kerajaan Allah dan visi-misi kita, GKI Pondok Indah ingin mengatakan bahwa Allah Trinitas sendirilah yang tengah bekerja mendatangkan pembaruan. Ini visi kita! Dan untuk itu, Allah Trinitas mengundang kita untuk mengambil bagian ke dalam misi-Nya. Inilah misi kita! Kita bukan perumus visi, sebab Allah Trinitas itulah yang menanamkan visi-Nya bagi gereja-Nya. Kita bukan pelaku misi, sebab Allah Trinitas adalah Allah yang misional, yang bekerja melalui Kristus di dalam kuasa Roh Kudus. Kita patut bersyukur sebab Allah mengundang kita memasuki karya-Nya bagi pembaruan seluruh ciptaan ini.

Maka, berbeda dari visi-misi GKI Pondok Indah yang lalu, yang sifatnya jangka pendek, timely, sepuluh tahunan, visi-misi Kerajaan Allah bersifat jangka panjang, sepanjang masa depan ciptaan ini, timeless, sampai Allah menyempurnakan seluruh karya-Nya. Dengan mengarahkan hati dan mata iman kita pada visi-misi Kerajaan Allah ini, GKI Pondok Indah bertekad untuk terus memiliki harapan ke masa depan, sekaligus menghidupi masa kini yang penuh kemurungan akibat pandemi Covid-19.

Kerapuhan

Kita perlu berjalan ke masa depan penuh kabut itu dengan sebuah kesadaran bahwa pandemi ini telah menyingkapkan sebuah kebenaran yang sering kita abaikan, yaitu bahwa kita adalah ciptaan yang rapuh (vulnerable). Begitu banyak orang kehilangan nyawa. Begitu banyak orang kehilangan orang yang disayangi. Begitu banyak orang kehilangan nafkah. Begitu banyak orang memasuki kegelapan malam yang memunculkan kekhawatiran dan depresi.

Pandemi global ini telah menuntun kita pada kesadaran bahwa seluruh umat manusia, baik secara personal, komunal, maupun sosial adalah insan yang rapuh. Kerapuhan (vulnerability) merupakan “bagian dari kondisi manusia yang terkait dengan hidup sebagai makhluk yang terikat waktu yang mengalami perubahan dan transformasi dalam berbagai aspek kehidupan dan yang hidup dengan kesadaran akan kemungkinan perubahan tersebut” (Marina B. McCoy). Dengan demikian, kerapuhan merupakan sebuah kondisi manusiawi (human condition), yang terjadi karena, sebagai makhluk yang terikat pada ruang, kita tak dapat memilih dengan siapa kita hidup, sekalipun kita dapat menentukan bagaimana menyikapi hidup bersama tersebut. Selain itu, kerapuhan juga terjadi karena sebagai makhluk yang terikat pada waktu, kita tidak dapat memastikan apa yang terjadi sebagai akibat dari relasi dengan yang lain. Ternyata, terdapat tiga jenis kerapuhan yang saling terkait:

1. Secara hakiki, semua manusia tanpa terkecuali hidup dalam kerapuhan esensial. Pada titik ini, kerapuhan adalah konsekuensi dari relasi. Dalam iman Kristen, setiap orang adalah pribadi-dalam relasi, baik relasi dengan Allah, sesama manusia, dan alam sekitar. Relasi ini membuat manusia tidak mungkin keluar dari kerapuhan. Bahkan, iman Kristen memercayai Allah yang menjadi rapuh di dalam Yesus Kristus. Kerapuhan esensial perlu diterima, direngkuh, bahkan dirayakan.

2. Dimensi kedua adalah kerapuhan situasional, yaitu kerapuhan yang muncul akibat situasi-situasi hidup yang berbeda dari satu orang ke orang lain. Kerapuhan jenis ini muncul karena perbedaan kondisi sosial, biologis, politik, dan sebagainya. Misalnya, sementara beberapa orang memiliki privilege untuk tinggal di rumah selama pandemi, banyak orang yang terpaksa harus keluar rumah untuk mencari nafkah setiap hari. Kondisi ekonomi yang terbatas tersebut mengakibatkan orang itu dan keluarganya memasuki kerapuhan situasional, sebab mereka lebih mudah terinfeksi virus COVID-19. Kerapuhan situasional perlu direspons dengan cara memperbaiki kondisi kehidupan yang kurang baik tersebut.

3. Kerapuhan patogenis adalah jenis ketiga, yang terjadi ketika seseorang menjadi korban tindakan jahat sesamanya dan hidupnya menjadi lebih rapuh. Bisa jadi, si pelaku kejahatan tersebut melakukan tindakan tersebut karena ia juga ingin mengatasi kerapuhan situasionalnya. Misalnya, di tengah kemurungan ekonomi akibat pandemi, beberapa orang menimbun obat-obatan penting yang mengakibatkan orang lain yang sangat membutuhkan tidak dapat membeli obat-obatan tersebut. Situasi kerapuhan patogenis ini harus dikritik dan dilawan.

Nah, dengan mempertimbangkan kerapuhan lapis-tiga inilah, GKI Pondok Indah ingin menghidupi dirinya sebagai gereja yang dituntun oleh empat kebajikan (virtues).

Empat Virtue

Apa yang dimaksud dengan virtue? Di dalam Bahasa Indonesia, kita dapat memakai kata “kebajikan” atau “keluhuran.” Jadi, bayangkan, kita sebagai gereja tak dapat lagi memastikan masa depan, sebab jalan di depan sana tertutup kabut tebal ketidakpastian. Namun, kita harus tetap berjalan ke depan, sebab kita menghasrati Kerajaan Allah itu. Maka, mari terus berjalan, dengan dituntun oleh kebajikan-kebajikan yang kita percaya merupakan buah dari karya Roh Kudus di dalam hidup bersama kita.

Ada dua definisi dari virtue yang dapat kita pertimbangkan untuk lebih memahami pengertian istilah ini:

“Keunggulan karakter yang dibentuk oleh kecenderungan untuk beraksi dan bereaksi dengan bajik, dalam hal motivasi batin, perasaan dan penalaran, serta tindakan eksternal” (Eric J. Silverman)

“Karakter batin manusia yang mengarahkan perasaan, pikiran, dan tindakan kepada cara-cara yang menampilkan keutamaan moral demi kebaikan bersama” (Toby Newstead)

Dengan pemahaman mengenai virtue (kebajikan atau keluhuran) tersebut, Majelis Jemaat GKI Pondok Indah menyepakati, dari begitu banyak virtue dalam tradisi Kristen, empat virtue utama yang akan menuntun kita, setidaknya di beberapa tahun ke depan.

1. Daya Lenting (resilience). Daya lenting merupakan kemampuan pribadi dan komunitas untuk bertahan di bawah tekanan atau penderitaan dengan terus tekun, teguh, dan sabar demi pemulihan hidup yang lebih baik, dengan keyakinan bahwa Allah mengasihi dan memelihara ciptaan-Nya. GKI Pondok Indah yang berdaya lenting terpanggil untuk menjadi persekutuan umat Allah yang memiliki keyakinan dan pengharapan pada pemeliharaan Allah yang akan terus menguatkan setiap pribadi dan komunitas demi menjawab tantangan zaman yang senantiasa berubah dan terus memberkati dunia. Kebajikan daya lenting ini menggaungkan kembali dan memperdalam karakter GKI Pondok Indah sebagai sebuah “jemaat yang hidup.”

2. Agilitas (agility). Agilitas adalah kemampuan pribadi dan komunitas untuk bergerak dengan anggun dan lincah dalam menghadapi perubahan zaman yang tak pasti dengan tuntunan Tuhan. GKI Pondok Indah memerlukan kebajikan ini sebab Allah menganugerahi hikmat dan mengajar kita untuk beradaptasi dengan cepat dalam merespons situasi yang tak dapat diprediksi. Kebajikan agilitas ini menggaungkan kembali dan memperdalam karakter GKI Pondok Indah sebagai sebuah “jemaat yang terbuka.”

3. Persahabatan (friendship). Persahabatan adalah kemampuan pribadi dan komunitas untuk keluar dari kenyamanan diri, menerima kasih Allah, serta meneladani keterbukaan Yesus pada ciptaan. GKI Pondok Indah terpanggil untuk mengambil bagian ke dalam penyahabatan Kristus pada dunia dengan cara menerima, mengampuni, dan menyahabati sesama yang rapuh di dunia ini. Kebajikan persahabatan ini menggaungkan kembali dan memperdalam karakter GKI Pondok Indah sebagai sebuah “jemaat yang partisipatif.”

4. Belas Kasihan (compassion). Belas-kasihan adalah kemampuan pribadi dan komunitas untuk menunjukkan sikap empati dan peduli terhadap kesulitan dan penderitaan sesama. Di dalam cinta kasih-Nya, Allah yang tak terbatas senantiasa bersedia untuk menunjukkan belas-kasihan Nya yang melimpah terhadap penderitaan ciptaan. Belas kasihan Allah inilah yang menjadi dasar bagi GKI Pondok Indah untuk hadir di tengah kondisi kehidupan yang penuh dengan penderitaan. Kebajikan belas kasihan ini menggaungkan kembali dan memperdalam karakter GKI Pondok Indah sebagai sebuah “jemaat yang peduli.”

Penutup: Gereja dan Menggereja

Akhirnya, sebagai penutup, saya ingin membahas sebuah istilah yang penting, yaitu “menggereja.” Para ahli teologi kerap memakai istilah ini untuk menekankan bahwa gereja bukan sekadar sebuah kata benda (noun). Ia bukan saja menunjuk pada sebuah komunitas orang percaya, melainkan komunitas yang berproses secara dinamis. Ia lebih sebagai sebuah kata kerja (verb). Bukan gereja namun menggereja; bukan being namun becoming; bukan church namun churching; bukan ecclesia namun ecclesiatio.

Karena itu, di samping identitasnya yang ajek sebagai komunitas yang didirikan oleh Kristus dalam kuasa Roh Kudus, gereja juga terus berubah dan bertumbuh. Ia bukan hanya menunjuk pada sebuah lokasi, sebuah komunitas di sebuah rumah (oikos), melainkan sebuah komunitas yang mengembara ke masa depan (paroikos). Dari waktu ke waktu, ia diundang untuk menyelaraskan diri dengan visi Kerajaan Allah di tengah badai dunia yang dengan mudah dapat membelokkan tatapan imannya itu. Dengan terus berjalan, kita mengimajinasikan diri kita sebagai “gereja perjalanan ke Emaus” (Luk. 24:13-35).

Maka, mari kita melangkah ke depan dalam ketidakpastian akibat pandemi ini. Kita diundang untuk percaya bahwa Allah Trinitas masih terus bekerja mendatangkan kebaikan, bukan hanya bagi GKI Pondok Indah, melainkan juga bagi Indonesia, dan bahkan seluruh dunia. Kita melangkah dengan tuntunan keluhuran batin yang akan memampukan kita untuk tetap menggereja dengan setia, demi melaksanakan misi Kerajaan Allah. Sembari mengerjakan semua itu, kita berdoa: “Datanglah Kerajaan-Mu, di bumi seperti di surga.”

|PDT. JOAS ADIPRASETYA

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
  • Refleksi Panitia PASKA 2022
    Halo, Sahabat GKIPI … Tulisan berikut ini adalah rangkuman dari beberapa kesan dan refleksi yang disampaikan oleh kawan-kawan panitia...
  • KASUT, Bukan Hanya Sebuah Nama
    Pesatnya kemajuan teknologi internet dan begitu derasnya arus informasi yang tak terbendung lagi mengakibatkan banyak media konvensional cetak seperti...
  • Merangkai Injil di PULAU RUPAT
    I. Misi Yang Berkelanjutan Sudah sejak lama berbagai denominasi gereja hadir dan melakukan misi di Pulau Rupat. Selain melayani...
  • BEYOND
    “Wah, bener-bener Beyond banget emang nih!” Demikian kalimat yang bisa dikatakan menjadi canda, tetapi juga kenyataan sehari hari dalam...