Gembalakanlah Domba-dombaku

Gembalakanlah Domba-dombaku

bukan sekadar perintah sama yang diulang hingga tiga kali

Belum ada komentar 75 Views

Pemahaman Terjemahan
Bila kita membaca Yohanes 21:15-19 dari Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia, maka mungkin kita hanya akan menemukan sebuah percakapan di mana Yesus menanyai Petrus sebanyak tiga kali: “… Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan Petrus menjawab pertanyaan Yesus juga sebanyak tiga kali: “… Aku mengasihi Engkau.” Lalu Yesus menyampaikan pesan kepada Petrus sebanyak tiga kali juga: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Itu saja. Bisa jadi tanpa insight yang lain.

Jika hal itu yang kita pahami, maka fokus kita akan segera beralih dari isi dan makna percakapan itu dengan pertanyaan: “Mengapa (harus) tiga kali? Tidak cukupkah pertanyaan, jawaban, dan perintah itu disampaikan satu kali saja?” Dan pembahasan akan melantur ke sana kemari dengan fokus pada angka 3 (kali) tadi. Ada yang dengan sangat yakin menjelaskan bahwa tiga kali itu untuk menebus penyangkalan Petrus yang tiga kali. Fokus kita tidak di situ. Adalah hak orang yang mencoba menjelaskan dengan berfokus pada angka itu. Namun pembahasan ini tidak dimaksudkan ke sana. Kita akan menggali apa sebenarnya yang terjadi dengan komunikasi yang berulang itu.

Lalu apa maksudnya persoalan itu diangkat jika tidak dibahas lebih lanjut? Ah… itu benar-benar hanya pembuka saja. Namun bukannya tanpa arti sama sekali. Ada maksud di balik pengedepanannya. Terjemahan Baru LAI sudah bagus. Namun demikian, keterbatasan kosa kata bahasa Indonesia dalam menerjemahkan berbagai istilah yang punya banyak sinonim sering kali mengantar pada pengertian dan pemahaman yang kurang tepat. Tidak salah, tapi kurang akurat, dan bahkan bisa memberi pengertian yang kurang mengena tepat pada sasaran.

Bahkan jika kita perhatikan dalam terjemahan bahasa Inggris, tanya jawab yang dilakukan Yesus dan Petrus sama seperti terjemahan bahasa Indonesia. Yesus bertanya: “… Apakah engkau mengasihi Aku (Do you love Me)?” dan Petrus menjawab: “… Aku mengasihi Engkau (I love You)?” Namun jika kita perhatikan dalam bahasa Yunani sebagai bahasa aslinya, barulah terlihat perbedaannya.

Perbedaan Pemahaman Yohanes 21:15 – LAI TB, Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi (αγαπας, agapas) Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi (φιλω, philo) Engkau.” Dua kali hal ini berulang. Yesus menggunakan kata agapas/agapao/Agape, sedang Petrus menggunakan kata philo/phileo/Filia. Sebagian orang menganggap Yesus menggunakan kata Agape yang lebih mulia maknanya, sedangkan Petrus menggunakan kata Filia yang mengandung makna persahabatan. Benarkah demikian?

Agape
Agape adalah istilah Yunani yang berarti cinta yang tidak mementingkan diri sendiri, atau cinta tanpa batas, atau cinta tanpa syarat (Inggris: unconditional love). Cinta Agape tidak pernah egois. Dalam tradisi Kristen, Agape berarti cinta yang bersifat total, kerap identik dengan cinta Tuhan terhadap ciptaan-Nya. Agape dianggap sebagai kasih yang paling mulia, sebab identik dengan kasih Allah, juga Allah itu sendiri. Salah satu pernyataan itu kita jumpai dalam 1Yohanes 4:7-8: “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barang siapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”

Dalam Surat Roma 5, cinta Agape memiliki kriteria, yaitu suci dan sarat akan pengorbanan. John Marcus dalam bukunya ‘Agape: What is it? menjelaskan cinta Agape dengan sebuah kalimat puitis, “Bagaimana jika bunga-bunga menolak mekar dan menyemarakkan keharuman? Bunga-bunga akan kehilangan tujuan untuk dinikmati siapa saja. Namun ketika bunga mekar dan memberikan keharumannya, tujuannya terungkap. Kasih Agape semarak, dan keharumannya membawa sukacita dan kehidupan.” – Marcus

Sifat dari Agape yang identik dengan cinta penuh pengorbanan diperlihatkan dalam Injil Yohanes. Cinta seperti inilah yang pernah dilakukan Yesus, dan dimaknai sebagai cinta Allah menebus dosa manusia, yang dianggap-Nya sebagai sahabat sahabat yang dikasihi-Nya. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” – Yohanes 15:3

Jadi Agape merupakan kasih yang paling tinggi, yakni kasih yang benar benar tulus, suci, tidak berpamrih, bahkan sarat pengorbanan diri. Kata Agape mengandung makna ‘meskipun’. Kasih Agape adalah kasih yang sempurna, karena tidak memerlukan alasan dan mau menerima apa adanya secara tulus. Kasih ini mau mengampuni. “Meskipun Engkau Terus Menghinaku Tapi Aku Selalu Mencintaimu.” Agape adalah kasih yang membuat hidup kita sempurna karena tidak memiliki syarat apapun dan bisa selalu mengampuni. Untuk dapat mengasihi seperti ini tidaklah mudah. Seorang manusia sulit untuk mengampuni sesamanya secara total. Kasih Agape hanya dimiliki oleh Tuhan Yang Maha Kasih. Dia mengasihi kita dengan penuh walaupun kita sering membuat kesalahan. Dalam pemahaman seperti inilah Yesus bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihi-Nya (αγαπαω – AGAPAÔ).

Namun, dalam kesederhanaan dan keterbatasan Petrus untuk mengetahui arah pertanyaan Yesus dan harapan Yesus akan masa depan murid-Nya itu, Petrus tetap menganggap Yesus sebagai Sahabatnya, yang dalam waktu singkat tapi intens berada bersamanya. Karena itu ia menjawab-Nya dengan pengertian dan pemahaman itu. “…Aku mengasihi (φιλεω – PHILEÔ) Engkau.”

Filia
Secara etimologis, Filia berasal dari bahasa Yunani phileo, yaitu kasih yang setara atau identik dengan ikatan persaudaraan (brothership). Filia adalah kasih di antara sahabat. Kasih Filia tidak ingin memiliki, tapi saling melengkapi. Saling memberi dan menerima, berkomunikasi dan bekerja sama. Bila kita merasakan kasih Filia, maka kita dapat lebih menghargai orang lain dan tidak mencari kepuasan diri sendiri semata. Kata Filia bisa diartikan sebagai ‘supaya’. Kita mengasihi sesama kita supaya kita juga dapat dikasihi orang lain. “Supaya Kamu Baik Maka Saya Baik Sama Kamu.”

Kasih Filia memang menempati level lebih baik kepada tetangga, kepada saudara dan kepada orang sewarga dibandingkan dengan orang yang tidak kita kenal. Yesus menggunakan kata Filia untuk menggambarkan kasih dari orang Samaria yang murah hati. Kasih Filia memungkinkan kita untuk mengasihi siapa saja yang dapat kita kenal dan temui.

Petrus yang belum tercerahkan sejak kematian Yesus, belum menyadari kuasa keilahian Yesus, meskipun Dia sudah bangkit dari kematian-Nya. Ia masih saja diliputi oleh pemikiran bahwa karyanya bersama Yesus sudah berakhir. Sang Guru telah pergi dan mungkin ia pun harus segera kembali ke kehidupan lamanya. The show must go on, bukan? Makanya begitu ia menanggapi pertanyaan Yesus, seolah olah ia ingin meyakinkan Yesus bahwa ia tidak akan pernah melupakannya, sebagai sahabat.

Bahkan ketika Yesus menanyainya untuk ketiga kalinya dengan pernyataan yang sedikit berbeda: ”… Apakah engkau mengasihi (φιλεις, phileis) Aku?” Petrus tetap menjawab dengan cara dan pemahaman yang sama: “…Aku mengasihi (φιλω , filo) Engkau.”

Banyak yang mengatakan bahwa karena ingin memahami Petrus, Yesus menurunkan derajat tuntutan kasih yang diajukan-Nya pada Petrus. Jika pembicaraan hanya berhenti di situ, mungkin alasan ini bisa dipahami. Namun ternyata tidak demikian halnya jika dihubungkan dengan maksud kalimat pernyataan sesudahnya.

Gembalakanlah Domba domba-Ku
Yang benar-benar berbeda dalam pemahaman Terjemahan Baru LAI dengan terjemahan bahasa Inggris serta bahasa aslinya, adalah perintah Yesus kepada Petrus di penghujung kalimat, yang diterjemahkan sebagai: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Dalam Terjemahan Baru LAI, ketiga pernyataan Yesus ditampilkan sama tanpa perbedaan sama sekali, sehingga benar-benar dianggap sebagai perintah sama yang diulang-Nya tiga kali.

Terjemahan bahasa Inggris sesuai benar dengan maksud bahasa aslinya. Sangat tampak perbedaan maksudnya, yang diungkapkan dengan istilah atau kata yang berbeda. Namun hal ini benar-benar tidak dapat kita kenali dalam Terjemahan Baru LAI.

Yang pertama Yesus mengucapkan: “… βοσκε τα αρνια μου, voske ta arnia mou,” yang diterjemahkan sebagai: “… grazing my lambs” (rawatlah anak anak domba-Ku).

Sedangkan pada perintah yang kedua, Yesus mengucapkan: “…ποιμαινε τα προβατα μου, poimaine ta provata mo,” yang diterjemahkan sebagai: ”… shepherded my sheep” (gembalakanlah domba-domba-Ku).

Dan pada perintah ketiga, Yesus berkata: “…βοσκε τα προβατα μου, voske ta provata mou,” yang diterjemahkan sebagai: “… grazing my sheep” (rawatlah domba-domba-Ku).

Perbedaan pertama adalah pada kata βοσκε, voske yang berarti merawat dengan kata ποιμαινε, poimaine yang berarti menggembalakan. Di dalam kata “merawat” terkandung makna menggembalakan, dengan tambahan tindakan yang lebih detail atau dalam, sedangkan pada kata “menggembalakan” bisa tidak terkandung makna merawat. Yang bertugas merawat pasti juga menyandang tugas menggembalakan, sedangkan yang menggembalakan belum tentu juga bertugas untuk merawat.

Perbedaan berikutnya adalah pada kata αρνια, arnia yang berarti anak domba (yang masih kecil, lemah) dengan kata προβατα, provata yang berarti domba (dewasa, kuat, bisa dilepas bebas sendiri). Pada kata “domba-domba” bisa termasuk anak anak domba. Sedangkan dalam kata “anak domba” tidak terkandung sama sekali makna domba-domba dewasa.

Menjadi jelas sekarang bahwa perintah pertama Yesus kepada Petrus yang mengatakan: “… Rawatlah anak-anak domba-Ku.” Sepeninggal Yesus, Petrus diminta untuk tidak saja menjaga dan memelihara tapi, terlebih dari itu, menolong, merawat, dan memberdayakan jemaat (orang orang) yang baru saja ‘dimenangkan’ melalui pelayanan Yesus dan menjadi percaya. Mungkin iman mereka masih lemah, mudah terombang-ambing, dan dipenuhi banyak pertanyaan serta keraguan tentang kebenaran yang mereka imani, seperti anak-anak domba yang lemah dan gampang diterkam pemangsa. Hal itu tentunya tidak mudah, dan memerlukan kemauan, kesediaan, kemampuan, dan keteguhan hati, bahkan mengorbankan nyawa untuk melaksanakannya. Itulah sebabnya Yesus bertanya apakah Petrus mengasihinya dengan kasih Agape: kasih yang benar-benar tulus, suci, tidak berpamrih, bahkan sarat pengorbanan diri. Orang yang tidak mempunyai kasih seperti ini pasti tidak akan tahan menjalankan tugas berat ini.

Perintah kedua Yesus agak berbeda dengan perintah pertama. Yesus berkata: ”… Gembalakanlah domba domba-Ku.” Orang-orang percaya akan bertambah banyak seiring dengan peristiwa-peristiwa ilahi yang mereka alami, pelayanan dan peristiwa ajaib yang dilakukan para rasul, dan kesaksian-kesaksian orang percaya sebelumnya yang membawa orang kepada Yesus. Lonjakan jumlah orang percaya ini akan begitu hebat sehingga ‘domba-domba’ Allah akan membutuhkan arahan dan penjagaan yang lebih baik. Petrus mendapatkan perintah untuk menjaga dan memelihara mereka, baik yang sejak semula sudah percaya kepada Yesus maupun yang baru belakangan. Tugas ini juga tidak mudah dan memerlukan ketulusan hati dan ketegaran jiwa untuk melaksanakannya. Itu pulalah sebabnya Yesus bertanya apakah Petrus mengasihinya dengan kasih Agape. Permusuhan nyata yang ditunjukkan oleh orang-orang Farisi, para ahli Taurat dan anggota-anggota Sanhedrin benar-benar merupakan ancaman nyata bagi upaya ini. Juga kemampuan mereka melibatkan penjajah merupakan kengerian yang membayangi tugas mulia yang tidak mudah ini. Karenanya, sangat diperlukan kasih/kecintaan untuk melakukan tugas yang sarat pengorbanan diri ini.

Dijadikan Mitra Allah
Pada masa depan ketika para rasul merasa terpanggil untuk tidak saja melakukan pelayanan pemberitaan Injil di Yerusalem dan sekitarnya, segenap tanah Yudea, dan seluruh wilayah Israel, maka mereka menyediakan diri untuk dituntun Roh Kudus melakukan pelayanan di luar wilayah Israel, bahkan jauh menembus batas antar negara, dan bahkan benua. Tomas melayani ke Persia, Parthia, dan India, Andreas melayani ke Rusia Selatan dan Semenanjung Balkan, Bartolomeus melayani ke Mesopotamia, Likoania, dan Armenia, dan Turki, sedangkan Petrus sendiri ke Roma. Pada waktu itulah para rasul berperan memperkenalkan Yesus kepada orang-orang di sana tanpa mereka melihat sendiri Yesus dan karya-Nya. Dengan demikian tugas para rasul untuk menebarkan benih iman, merawat perkembangannya, dan menjaga pertumbuhannya agar menghasilkan buah-buah seperti yang dikehendaki Kristus menjadi lebih berat dan menantang ketekunan, keikhlasan, serta semangat mereka.

Perintah Yesus kepada Petrus yang mengatakan: “…Rawatlah domba domba-Ku,” menunjuk pada kenyataan bahwa keberhasilan mereka dalam ‘menjala manusia’ (meskipun tanpa tampilnya Yesus secara langsung) memerlukan upaya yang tidak saja memimpin dan mengepalai mereka, tapi juga merawat dengan lebih intens. Para rasul itu menjadi teladan, harapan, dan andalan para anggota jemaat baru yang dimenangkan mereka. Menjaga mereka dari ajaran-ajaran sesat, mengingatkan mereka untuk memuliakan Tuhan melalui kehidupan berkeluarga dan berjemaat, membangun kesadaran untuk senantiasa bersyukur dan saling tolong menolong di antara mereka, dsb. Di titik ini Yesus menganggap Petrus bukan lagi sebagai murid yang sekadar mengekor Gurunya, melainkan sebagai sahabat, mitra kerja, dan pemrakarsa dalam perjuangan iman. Untuk itu dapatlah dipahami jika Yesus bertanya, apakah Petrus mengasihinya dengan kasih Filia: kasih yang tidak menguasai atau membawahi, tapi saling melengkapi. Kasih yang saling memberi dan menerima, berkomunikasi dan bekerja sama. Yesus bukan menurunkan derajat tuntutan kasih-Nya, melainkan justru mengangkat Petrus pada posisi sebagai sahabat dan mitra kerja-Nya. Untuk itu kalimat tanyanya menjadi berbeda: ” … Apakah engkau mengasihi (φιλεις, phileis) Aku?” Dan kali ini jawaban Petrus sangat pas dan mengena: “… Aku mengasihi (φιλω , filo) Engkau,” meskipun tanpa pemahaman yang benar seperti yang dikehendaki Yesus, seandainya waktu itu Petrus mengerti maksud dan arah pertanyaan dan perintah Yesus kepadanya.

Jadi nyata sekarang bahwa apa yang disampaikan dalam Yohanes 21:15-19 bukanlah pertanyaan dan perintah yang disampaikan secara sama sampai tiga kali, tapi merupakan pertanyaan dan perintah yang benar-benar dimaksudkan berbeda menurut tingkat dan kondisi perkembangan keadaan di masa mendatang, meskipun tiga kali mendapatkan jawaban yang sama karena ketidakpahaman Petrus.

|SUJARWO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Kitab Pengkhotbah
    Kitab Pengkhotbah
    kesia-siaan hidup yang tidak dinikmati dan diberi makna dalam anugerah Tuhan
    Tentang Penulisnya Sudah menjadi anggapan umum bahwa Kitab Pengkhotbah ditulis oleh Salomo (sekitar 935 SM), karena itu kaum tradisional...
  • Menghadapi Pandemi Dengan Bersehati Mencari Tuhan
  • Imago Dei
    Imago Dei
    Hakikat Manusia Kita sering mendengar orang menyampaikan pernyataan- pernyataan seperti berikut: “Ahh… saya bisa apa???” atau, “… Yaa begitulah,...
  • simul iustus et peccator
    ‘simul iustus et peccator’
    sudah dibenarkan tetapi sekaligus tetap berdosa
    Percaya Saja Banyak orang Kristen yang hanya berhenti pada percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamat mereka lalu menganggap tugas...
  • Damai Sejahtera Bagimu
    Damai Sejahtera Bagimu
    Perkataan Tuhan Yesus, “Aku haus” dan “Sudah selesai” yang terekam di telinga penulis pada saat mempersiapkan ibadah “Jumat Agung”,...