ditolak

Ditolak Oleh Pengenalan

“tidak ada nabi yang diterima di negerinya sendiri”

Belum ada komentar 16 Views

Pada umumnya, seseorang tak akan menyampaikan penghargaan kepada orang lain kalau tidak mengetahui, mengenal, atau pernah berbagi pengalaman dengannya. Penghargaan hanya timbul dari sebuah nilai atau pengalaman berkesan yang menggugah hati untuk menyampaikan apresiasi, penerimaan, atau kepercayaan kepada orang tersebut.

Namun, banyak pula yang tidak bisa menghargai orang lain karena dari awal sudah punya anggapan negatif tentang dia, meskipun orang tersebut nyata-nyata berbuat baik dan pantas mendapatkan apresiasi. Bahkan kebaikannya jelas dirasakan dan tak bisa diingkari. Mereka tetap keukeuh dengan anggapan dan penilaian awal mereka, dan tidak mau menerima bahwa orang tersebut mampu melakukan kebaikan, bahkan ketika kebaikan itu terjadi di depan mata mereka sendiri dan manfaatnya pun turut mereka rasakan.

Itulah yang dialami Yesus ketika berada di Nazaret, tempat asal-Nya. Penduduk Nazaret sudah mendengar sepak terjang Yesus selama ini dan benar-benar takjub atas apa yang sudah dilakukan-Nya dengan karya-karya kasih-Nya. Kekaguman dan ketakjuban ini makin bertambah manakala mereka mendengar-Nya mengajar di rumah ibadah. Namun anehnya, kekaguman itu tidak membuat mereka percaya kepada-Nya, bahkan meragukan-NyA.

Mereka mulai mengungkit kenangan lama kehidupan mereka bersama Yesus dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?”

Dengan alasan itu mereka meragukan Yesus. Dengan data dan fakta seperti itu mereka tidak percaya, dan bahkan mendelegitimasi apa yang Yesus perbuat. Dengan keberatan-keberatan itu mereka menolak Yesus. Mereka menyangkal ketakjuban mereka akan kuasa dan wibawa Yesus, bukan karena mereka ragu dan tidak mengenal-Nya, namun justru karena mereka merasa sangat mengenal-Nya, berdasarkan pengetahuan mereka akan latar belakang dan masa lalu Yesus.

Mereka tidak saja menolak, tapi juga meremehkan Yesus. Penyebutan Yesus sebagai anak Maria bukannya tanpa alasan. Bangsa Yahudi adalah masyarakat patrilineal (Yun. Pater: ayah, dan linea: garis), yakni masyarakat yang mengatur alur keturunan dari pihak ayah. Jadi, patrilineal berarti mengikuti garis keturunan yang ditarik dari pihak ayah. Yesus adalah anak dari keluarga Yusuf, seyogyanya Dia disebut anak Yusuf. Namun mengapa mereka menyebut Yesus sebagai anak Maria? Karena beberapa orang yang waktu itu mengetahui peristiwa hamilnya Maria, menganggap dan menuduh Maria telah melakukan perzinaan (porneae) di masa pertunangannya dengan Yusuf. Karena itu mereka tidak menyebut Yesus sebagai anak Yusuf, tapi anak Maria.

Mereka mempertanyakan dari mana Yesus memperoleh kuasa dan hikmat seperti itu padahal Dia hanyalah anak tukang kayu sederhana yang mereka kenal sejak kecil. Bahkan saudara-saudara-Nya pun tumbuh sebagai orang biasa-biasa saja, sebagaimana layaknya anak-anak dari keluarga tukang kayu di kota kecil. Penduduk Nazaret benar-benar meragukan, meremehkan, dan tidak memercayai Yesus dengan keberadaan-Nya sekarang ini. Mereka beranggapan bahwa hal itu tidak masuk nalar dan logika. Masakan orang yang sejak kecil dikenal sebagai anak tukang kayu biasa dan tidak pernah ke mana-mana, setelah kepergiannya yang singkat tiba-tiba muncul kembali sebagai rabi atau nabi. Nonsens itu! Jadi mereka kecewa dan menolak Yesus.

Yesus merasa heran dengan ketidakpercayaan mereka. Karenanya Dia berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” (Markus 6:4). Dalam satu kesempatan, keluarganya pun pernah khawatir dan meragukan-Nya karena terpengaruh anggapan orang banyak bahwa Yesus tidak waras lagi, sehingga mereka mendatangi-Nya dan bermaksud membawa-Nya pulang ke rumah (Markus 3:21). Yesus disangsikan, dan tidak dipercaya oleh orang-orang di tempat asalnya, bahkan oleh kaum keluarga-Nya sendiri. Dia ditolak, justru karena (dianggap) dikenal dengan baik.

Satu hal yang paling buruk tentang ketidakpercayaan orang-orang Nazaret pada Yesus menyebabkan Dia tidak bisa mengadakan satu mukjizat pun di antara mereka (Markus 6:5). Mukjizat lebih banyak merupakan respons atas iman seseorang kepada Allah, sehingga Dia berkenan mengaruniakan suatu berkat yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Ketiadaan subjek untuk mendapatkan respons yang sepadan inilah yang tidak memungkinkan Yesus mengadakan mukjizat. Bagaimanapun, Yesus bukanlah pembuat mukjizat yang semau-maunya mengadakan hal itu demi mendemonstrasikan kehebatan-Nya dan mendapatkan pengakuan pribadi. Semua mukjizat selalu ditujukan untuk menyatakan pekerjaan Allah melalui pengalaman iman seseorang, sehingga melalui orang itu nama Allah dipermuliakan. Nazaret dan penduduknya sangat miskin dalam pengalaman dan pertumbuhan iman ini, sehingga menghalangi karya dan pekerjaan Allah disemaikan di antara mereka.

Menjadi bahan renungan kita semua: bukankah kita sering kali juga bertindak dan mengambil keputusan dengan pola pikir seperti orang Nazaret? Meragukan, menyangsikan, meremehkan, bahkan menolak seseorang bukan karena kita tidak mengenal orang itu, melainkan justru karena kita (merasa) mengenalnya? Kita mengenal kekurangan dan ketidakmampuannya di masa lalu, mencatat kesalahan yang pernah dibuatnya, mengingat rasa ketidakpuasan kita kepadanya, terus menyimpan kekecewaan dan dendam karena pengalaman traumatis yang pernah dijalani bersamanya. Kita senantiasa menggunakan pengalaman dan data masa lalu itu untuk melakukan penilaian terhadap yang bersangkutan seolah-olah ia tidak pernah beranjak, berubah, bertumbuh, atau berpindah dari kondisi sebelumnya yang kita kenal.

Hal ini sangat tampak dalam cara kita memberi pertimbangan kepada kelompok, manakala ada usulan untuk melibatkan seseorang dalam suatu kegiatan, baik itu kepanitiaan, penyusunan organisasi, pelayanan bersama, bahkan pencalonan penatua. Kita jarang memberi pengakuan tentang sisi kebaikan orang itu, kecuali bila hanya mengenalnya sesaat.

Kalau pun ada satu atau dua sisi kebaikan yang dikemukakan, akan muncul enam hingga sepuluh argumen yang mendukung pengalaman dan data masa lalu yang lebih banyak bernada negatif, demi mengecilkan kebaikan tadi. Memang tidak ada salahnya mengemukakan pengalaman dan data untuk saling berargumen dan menguatkan penilaian guna memperoleh keputusan akhir yang baik. Namun alangkah eloknya jika kita tidak sekadar mengajukan data dan pengalaman negatif masa lalu dalam perspektif trauma yang tidak memercayai adanya perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan seseorang. Jangan kita berpola pikir seperti orang Nazaret yang hanya menilai masa lalu sebagai hal yang stagnan. Karunia, pengampunan, pembaruan, dan pencerahan dari Allah dianggap tidak ada dan tidak berperan.

Meskipun dilakukan di tempat-tempat terhormat dan lembaga-lembaga yang dianggap suci, penggunaan pengalaman dan data negatif masa lalu yang terus-menerus tanpa diimbangi kesadaran bahwa seseorang sangat mungkin berubah, adalah ujaran kebencian dan pembunuhan karakter. Hal ini mengingkari kuasa dan kasih Allah yang dapat memperbaiki seseorang, juga diri kita sendiri. Pikiran seperti ini mencengkeram masa lalu dan menafikan masa depan. Kadang-kadang data dan pengalaman negatif, yang tidak terkait dengan persoalan, juga bisa digunakan untuk mempertajam argumen penolakan itu. Seperti halnya penduduk kota Nazaret yang mengungkit-ungkit pemahaman mereka tentang kelahiran Yesus dari kehamilan Maria yang dianggap tidak wajar itu. Ini kekuatan menghancurkan yang sungguh dahsyat, apalagi jika diembuskan di komunitas besar yang mudah percaya dan cenderung membenarkan apa yang kita pikir, lakukan, dan bicarakan. Oleh karenanya berhati-hatilah.

Orang Nazaret merusak berkat dengan kesederhanaan dan kebodohan mereka. Namun kita mungkin merusak orang lain dengan kepandaian, ketenaran, ‘kesalehan’, dan ‘ketinggian derajat’ kita. Jadi bagi kita yang merasa baik, benar, saleh, terpelajar, tenar, berpengaruh, dipercaya, dan hebat, sebaiknya berhati-hati karena potensi untuk merusak orang lain—bila kita salah bersikap dan bertindak—bisa lebih terstruktur, sistematis, dan masif. Rasul Paulus telah mengingatkan dalam 1Kor. 10:12: Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!

Dalam kebaikan, kebenaran, kesalehan, pendidikan, ketenaran, pengaruh besar, integritas, dan kehebatan yang ada, kita dipanggil untuk membangun persekutuan yang diberdayakan dan dicerahkan. Berkat dan anugerah yang dikaruniakan kepada kita dimaksudkan untuk menjadi sarana kemaslahatan dan bukan sebaliknya. Dengan demikian kita menambah nilai kemanusiaan bagi diri sendiri, orang lain, serta lingkungan.

Sehebat-hebatnya menjadi pembunuh karakter orang lain, masih lebih baik menjadi ‘nabi’ yang ditolak di negeri sendiri. Bandingkan penduduk Nazaret dengan Yesus. Menjadi maverick yang diberkati, jauh lebih mendatangkan syukur dan berkat, meskipun terus menerus dipojokkan oleh penilaian buruk si pembunuh karakter berdasarkan data dan pengalaman negatif yang pernah ada di masa lalu.

Mari belajar bersama di PATIBULUM. TUHAN memberkati.

SUJARWO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • kudus
    Kudus
    Pengikut Kristus selalu dikaitkan dengan keselamatan, anugerah, kasih, kepedulian, dsb. Juga hidup kudus, meski yang satu ini sering dilupakan...
  • persahabatan
    Persahabatan
    Ayat panduan kita diambil dari 3 Yohanes 15. Surat yang amat pendek, karena hanya terdiri atas satu pasal. Kita...
  • Berdoa
    Belajar Berdoa Dari Yesus
    Murid-murid memerhatikan Yesus yang sedang berdoa (Luk. 11:1a). Saya percaya murid-murid memerhatikan dengan seksama, tidak berani bergerak, tidak berani...
  • Pilihanku, Pilihanmu, Pilihan-Nya
    Hidup adalah Pilihan Pendapat tersebut sering kali kita dengar dalam banyak situasi. Misalnya dalam kehidupan sehari-hari, kita harus memilih...
Kegiatan