Damai Sejahtera Bagimu

Damai Sejahtera Bagimu

1 Komentar 77 Views

Perkataan Tuhan Yesus, “Aku haus” dan “Sudah selesai” yang terekam di telinga penulis pada saat mempersiapkan ibadah “Jumat Agung”, telah memberi inspirasi untuk menggarap rubrik Teropong kali ini.

Pandemi COVID-19 telah memaksa jemaat GKI Pondok Indah tidak menghadiri ibadah secara fisik. Sebagai gantinya, GKI Pondok Indah mempersiapkan ibadah secara on line.

Sambil menunggu semua yang diperlukan untuk penayangan, penulis duduk di tempat biasanya para penatua duduk. Melihat bangku-bangku jati yang kosong, ada perasaan aneh menyelinap. Rasanya tidak percaya bahwa ibadah umum harus ditiadakan. Semuanya tampak seperti biasa, yang tidak biasa adalah perasaan hati yang gundah, berharap dapat kembali berjumpa dengan jemaat untuk bernyanyi bersama, saling menatap, saling memberikan sapaan dengan salam hangat, saling memerhatikan melalui obrolan sambil minum kopi dan makan makanan kecil di plaza gereja.

Sekarang baru terasa bedanya khotbah yang biasanya dihadiri oleh mata yang berbinar, senyum yang menghias bibir, tawa yang ceria, meski ada juga yang cemberut dan bahkan mengantuk. Namun apa pun reaksinya, ternyata itulah yang membuat para pengkhotbah bersemangat membawakan Firman Tuhan.

Sekonyong-konyong penulis teringat renungan Pdt. Bonnie yang disampaikan persis saat pertama kali melakukan ibadah online. Apakah ini yang dimaksud Tuhan Yesus ketika berjumpa dengan perempuan Samaria di pinggir sumur, menyapa dan berkata, “Percayalah kepada Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Allah itu Roh dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” (baca Yohanes 4:21-24).

Kenyataan yang muncul, penyebaran virus COVID-19 yang mengancam kehidupan manusia, berdampak pada tempat-tempat peribadahan yang tidak lagi dikunjungi umat. Gedung besar dan megah seperti tidak berpenghuni, karena tidak atau jarang sekali ada kegiatan. Dengan kesenyapannya, COVID-19 telah membawa pesan bahwa ternyata ritual itu rapuh. Ada saatnya ritual sama sekali tidak dapat dilakukan. Hampir semua simbol dan upacara keagamaan yang pernah diadakan, seperti ibadah umum, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, Paska, ternyata hanya dapat dilakukan secara online.

Ketika virus korona datang, setiap orang, siapa pun dia, apa pun agamanya, apa pun sukunya, apa pun jabatannya, apa pun kehebatannya dalam berkarier, semua dipaksa untuk mencari Tuhan. Bukan di gedung peribadahan yang megah dan indah, bukan dalam keramaian ritual keagamaan, melainkan dalam kesendirian. Orang lambat laun mulai belajar untuk kembali pada dirinya, masuk dalam kesenyapan dan keheningan untuk melakukan perjumpaan dengan Tuhan. Dalam keterpaksaan untuk diam #dirumahaja, seharusnya seseorang punya waktu untuk mulai merenung tentang hidupnya.

Tampaknya Rasul Paulus —yang sering mengalami kesendirian dalam perjalanan hidupnya— telah menghayati dan mengalami perjumpaan dengan Allah. Menurut dia, keberadaan seseorang adalah Bait Allah, karena Roh Allah diam di dalam dirinya (baca: 1 Korintus 3:16). Sebab itu, jangan pernah melalaikan atau melupakan hal yang terpenting, yaitu bahwa perjumpaan dengan Tuhan berawal ketika seseorang membuka hati dan pikiran untuk menjumpai Allah secara pribadi. Pada akhirnya, tinggal aku dan Tuhan yang ada dalam diriku. Seperti kata Pemazmur, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau” (Mazmur 119:11).

Melalui janji Tuhan yang tertulis dalam firman-Nya, seseorang dapat memanfaatkannya untuk bercermin. Ketika seseorang bercermin, maka ia akan memerhatikan apakah ada sesuatu yang harus diubah supaya penampilannya dikagumi atau ia makin percaya diri. Firman Tuhan sebagai cermin kehidupan seseorang dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi diri. Apakah yang masih perlu diubah lagi dalam hidupku sehingga aku dapat berkenan kepada Tuhan? Self dialog dengan kesadaran bahwa seseorang sedang melakukan dialog dengan dirinya sendiri, sekaligus dalam relasi yang akrab dengan Tuhan melalui firman-Nya. Oleh sebab itu jadilah pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja, sebab jika tidak demikian maka kamu telah menipu dirimu sendiri (Yakobus 1:22).

Ada orang yang dapat menghafal firman Tuhan dengan sangat baik, bahkan mempunyai pengetahuan yang mendalam dan mampu menjelaskan dengan prima dan menarik, tapi semua itu tidak bermanfaat bagi pertumbuhan imannya jika ia sama sekali tidak melakukannya. Hanya sekadar gagasan, ide, fantasi. Dapatkah Anda bayangkan jika anak Anda diberi makan ayam goreng, semur daging, sayur bayam, yang hanya fantasi belaka? Apa jadinya? Apakah ia akan bertumbuh besar, apakah ia akan kenyang? Pasti tidak. Oleh sebab itu, hanya ketika Anda dan saya mau melakukan firman Tuhan dalam kehidupan ini, maka kita akan bertumbuh di dalam Tuhan. Inilah tanda bahwa seseorang adalah murid Kristus, seperti yang Tuhan Yesus sabdakan kepada para murid, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku” (baca Yohanes 8:31).

Apakah benar seseorang tetap ada dalam firman Tuhan sehingga ia atau mereka dapat disebut sebagai murid Tuhan Yesus ? Hal ini pastinya akan diuji melalui situasi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Para murid Yesus memperoleh ujian mereka ketika Yesus disalibkan, bukan sebagai orang yang terhormat melainkan orang yang hina, bahkan dianggap sebagai “penghujat Tuhan” oleh orang-orang Yahudi. Para pengikut-Nya pun dianggap sebagai pemberontak bangsa Romawi. Sebab itu, ketika Yesus sudah tidak ada lagi, para murid mengalami ketakutan yang sangat besar, sehingga mereka tidak lagi mengingat apa pun yang telah diajarkan-Nya, apalagi terkait dengan janji keselamatan dan kebangkitan setelah kematian.

Memang, pada saat para pengikut Tuhan Yesus dihadapkan pada tantangan dalam kehidupan ini, mereka harus memutuskan apakah mereka akan dikuasai oleh ketakutan karena permasalahan yang mereka hadapi atau tetap percaya bahwa Tuhan pasti menyertai mereka.

Penampakan Yesus yang pertama kali kepada para murid-Nya menjadi pesan yang sangat penting bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan mereka dalam keadaan apa pun. Dia sendiri telah memberikan damai sejahtera kepada mereka, suatu damai sejahtera yang berbeda dengan yang ditawarkan oleh dunia ini. Damai sejahtera dari Tuhan ini, wujudnya ada dalam diri Tuhan Yesus sendiri yang telah menderita di kayu salib dalam upaya menyelesaikan tugas pengutusan yang Bapa percayakan kepada-Nya. Karena itulah ketika berjumpa dengan para murid, Yesus menyampaikan salam, “Damai sejahtera bagimu.” Salam itu diikuti dengan menunjukkan bekas paku di tangan-Nya dan bekas tombak di lambung-Nya, yang sekaligus memberi pesan, “Inilah Aku yang telah disalibkan karena sungguh-sungguh melaksanakan kehendak Bapa di Surga sampai akhir kehidupan.” Yesus telah menderita dan disalibkan sebagai konsekuensi atas ketaatan Nya melaksanakan kehendak Bapa di Surga.

Apa yang Tuhan Yesus lakukan sangat menarik, karena mengingatkan kita kembali pada peristiwa pembebasan bangsa Israel di Mesir. Pada waktu itu, setiap pintu yang dioles dengan darah anak domba akan dilampaui dan diselamatkan. Paska atau Passover, berarti ‘melampaui’. Kesetiaan Tuhan Yesus untuk melakukan kehendak Bapa-Nya telah menunjukkan kepada para murid dan dunia, bahwa iman percaya-Nya melampaui ketakutan Nya. Artinya, dalam melaksanakan kehendak Bapa, tetap saja ada ketakutan, karena tidak ada seorang pun dalam kehidupan ini yang tidak pernah takut. Namun iman yang kemudian diwujudkan dalam ketaatan melaksanakan kehendak Tuhan itulah yang mendorong Yesus mampu melampaui ketakutan yang dialami-Nya.

Hal menarik lainnya adalah ketika Yesus menyatakan kembali kepada para murid, “Damai sejahtera bagimu,” dan setelah itu menyampaikan pesan yang sangat penting, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yohanes 20:21).

Dengan perkataan ini, Tuhan Yesus kembali mengingatkan para murid tentang hakikat pemanggilan mereka untuk mengikut Dia. Ada tugas perutusan dari Bapa di Surga, yang tidak akan pernah dilaksanakan apabila seseorang dikuasai oleh ketakutan. Oleh sebab itu Tuhan Yesus mengawali sapaan-Nya dengan berkata, “Damai sejahtera bagimu,” karena hanya dengan bekal damai sejahtera dari Tuhan ini, para murid akan dapat bertahan untuk melaksanakan kehendak Bapa sampai akhir kehidupan mereka.

Sebelum para murid melakukan tugas pengutusan, Yesus mengembus mereka dengan Roh Kudus yang akan selalu mendampingi mereka dalam seluruh perjalanan untuk menyelesaikan tugas pelayanan di dunia ini. Pemberian Roh Kudus dengan sengaja dituliskan sebagai penekanan sebelum para murid melaksanakan tugas pengutusan. Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa penciptaan manusia dalam kitab Kejadian, di mana manusia yang berasal dari debu tanah kemudian diberi napas hidup oleh Allah, sehingga ia —yang sebenarnya tanpa makna—menjadi punya makna dan mampu berkarya. Dengan kata lain, embusan Roh Kudus kembali memberikan kehidupan dan keberanian kepada para murid untuk keluar dari ketakutan dan melanjutkan kehidupan ini dengan karya-karya mereka.

Sama seperti Yesus yang telah menjalankan tugas pengutusan dari Allah hingga berakhir di kayu salib, demikian juga Dia mengingatkan para murid untuk memfokuskan diri pada tugas pengutusan dan bukan pada ketakutan mereka sendiri. Roh Kudus yang ada dalam diri dan hidup mereka akan membimbing dan mengarahkan mereka untuk terus memfokuskan diri pada kehendak Allah. Hanya dengan tuntutan Roh Kudus, iman para murid mampu melampaui ketakutan mereka.

Pemberian Roh Kudus sebagai pendamping para murid dalam melaksanakan tugas perutusan itu, mengingatkan kita pada peristiwa dalam kitab Kejadian, ketika manusia diciptakan Tuhan dari debu tanah dan diberi napas kehidupan, sehingga mempunyai kehidupan dan mulai bisa berkarya. Hanya kalau para murid mempunyai suatu kehidupan yang baru, keluar dari ketidakberdayaan akibat ketakutan mereka, mereka dapat melakukan tugas pengutusan dari Tuhan.

Kebangkitan Kristus telah memberikan jaminan bahwa setiap orang yang mati di dalam Tuhan kelak akan dibangkitkan dan berada dalam persekutuan yang abadi dengan Nya. Jaminan inilah yang sebenarnya memberikan keberanian kepada para murid. Meski mereka tetap berada dalam ancaman ketakutan, tapi mereka tidak lagi dikuasai oleh ketakutan tersebut sehingga tidak melakukan apa pun. Misteri masa depan ada di tangan Tuhan, karena itu janganlah hidup di masa depan, tapi fokuslah pada kehidupan saat ini, karena hanya itulah yang kita miliki. Jangan mengejar apa yang belum kita miliki, sementara kita tidak bisa menikmati dan mensyukuri apa yang sudah kita miliki saat ini.

Pada Paska (Passover) yang berarti ‘melampaui’ ini, Yesus ingin agar iman kita melampaui ketakutan kita. Masih ingatkah Anda pada kisah perempuan yang sakit pendarahan berpuluh tahun lamanya? Ketika ia mendengar Yesus akan datang, timbullah pengharapannya bahwa ia akan disembuhkan. Namun ia juga mengalami ketakutan kalau-kalau ia tidak dapat menjumpai Yesus karena banyaknya orang yang berdesakan mengikuti-Nya, atau jangan-jangan ia sama sekali tidak akan diperhatikan oleh Yesus karena keberadaannya yang tidak populer. Namun catatan yang penting bagi kita: kemenangan perempuan ini adalah ketika imannya mampu melampaui ketakutannya. (Passover). Ia memang takut akan banyak hal yang mungkin bakal terjadi, tapi keyakinan bahwa ia akan disembuhkan ternyata lebih kuat, melampaui ketakutannya.

Ada banyak kisah yang saya peroleh dari kiriman di Whatsapp, dan saya tertarik pada satu kisah di Italia, tentang seorang dokter bernama Yulian Urban berumur 38 tahun di Lombardy, Italia. Dalam tulisannya ia memberikan kesaksian tentang dirinya sebagai orang ateis. Bagi para dokter, hal itu normal karena mereka telah belajar bahwa sains meniadakan Tuhan. Dokter Yulian biasa menertawakan orangtuanya yang setia pergi ke gereja.

Suasana di rumah sakit baginya seperti mimpi buruk. Pada awalnya, pasien yang positif terjangkit COVID-19 hanya hitungan jari, tapi kemudian mulai datang lusinan dan selanjutnya ratusan, sampai akhirnya ia merasa bukan lagi sebagai dokter, karena harus memilah-milah dan memutuskan siapa yang akan hidup dan siapa yang akan dikirim ke rumah untuk mati.

Suatu hari, seorang pendeta berusia 75 tahun mendatangi para dokter. Pendeta ini memiliki masalah pernapasan serius. Ke mana-mana ia menenteng Alkitabnya. Yang sangat mengesankan para dokter, pendeta ini membacakan firman Tuhan kepada orang-orang yang sekarat sambil memegang tangan mereka.

Semua dokter di rumah sakit itu telah putus asa, lelah secara fisik dan emosional ketika mendengar pendeta itu berbicara.

“Namun sekarang,” kata Yulian, “kami harus mengakui bahwa sebagai manusia kami telah mencapai batas kami. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan dan setiap hari makin banyak orang meninggal. Kami kelelahan. Dua orang kolega kami telah meninggal dan yang lainnya telah terinfeksi. Kami mengakui bahwa kami telah tiba pada titik akhir dari apa yang dapat kami lakukan: Kami sungguh membutuhkan Tuhan. Kami mulai meminta pertolongan-Nya saat kami punya beberapa menit waktu. Kami berbicara satu sama lain dan kami tidak percaya bahwa kami —yang sangat ateis ini— sekarang mencari kedamaian dan meminta agar setiap hari Tuhan menolong kami melawan virus ini untuk membantu orang sakit.

Pendeta itu akhirnya meninggal, tapi bagi kami, ia telah berhasil membawa DAMAI kepada kami. Meskipun hamba Tuhan itu berada dalam situasi yang buruk, tapi apa yang dilakukannya telah menimbulkan pengharapan baru bagi kami, para dokter di rumah sakit.

Pendeta itu telah kembali kepada Tuhan, dan kami akan segera menyusulnya jika keadaan tidak berubah di sini. Sebenarnya sudah 6 hari saya belum pulang ke rumah. Saya bahkan tidak ingat lagi makanan terakhir yang sempat saya nikmati. Sungguh, saya menjadi lebih sadar betapa tidak bergunanya saya di bumi. Namun sekarang saya ingin membantu orang lain sampai napas terakhir saya. Saya senang telah kembali kepada Tuhan, sementara saya dikelilingi oleh penderitaan dan kematian orang orang yang terinfeksi.”

Dokter Yulian dan rekan-rekannya merupakan gambaran kebanyakan orang yang sangat mengandalkan sains dan teknologi, tipe orang-orang yang sulit memercayai adanya Tuhan begitu saja, tanpa bukti apa pun.

Sosok Tomas dalam bacaan kita menggambarkan kondisi mereka. Tomas —murid Yesus— juga tidak percaya sebelum berjumpa dan melihat sendiri Tuhan hadir dalam hidupnya.

Bukan kebetulan jika pada bagian lain dari bacaan kita di Yohanes 20, Tomas tidak sempat hadir pada saat Yesus berjumpa dengan para murid. Menurut saya, penulis kitab Yohanes mau menunjukkan bahwa tidak semua orang mempunyai kesempatan untuk mengalami perjumpaan dengan Allah yang ilahi. Ada momen, waktu tertentu, di mana orang bisa berjumpa dengan Tuhan, tapi ada juga orang yang tidak punya kesempatan untuk berjumpa dengan-Nya.

Meski Tomas tidak punya momen itu, tapi dalam bacaan kita, Yesus kembali hadir dan menyapa para murid-Nya. “Damai Sejahtera bagimu,” kata-Nya dan langsung menyuruh Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (ay. 27).

Kehadiran Yesus kembali di ruangan menjumpai para murid bukan karena permintaan atau tuntutan Tomas, melainkan karena inisiatif-Nya sendiri yang berkenan datang menjumpai Tomas, sekaligus untuk membuktikan bahwa Dia telah bangkit dari kematian.

Perjumpaan ini mengingatkan kita pada kisah dokter Julian dan sang pendeta tua. Keberanian hamba Tuhan itu untuk menyelesaikan tugas perutusannya sampai akhir, tentu karena ia telah mengalami perjumpaan dengan Tuhan, entah melalui suatu peristiwa dalam kehidupannya, ibadah di gereja, lagu yang didengarnya, atau kejadian lain yang telah membuka matanya untuk menyaksikan kehadiran Tuhan di dunia ini. Apa yang telah disaksikannya telah memengaruhi hidupnya sebagai murid Kristus yang membawa damai sejahtera bagi banyak orang yang tidak atau belum punya kesempatan berjumpa dengan Tuhan.

Dokter-dokter muda itu pada awalnya bukan orang-orang yang percaya kepada Tuhan, sampai mereka melihat iman pendeta tua itu yang melampaui ketakutannya. Hamba Tuhan yang penuh dengan kelemahan itu telah mempertemukan para dokter ateis itu dengan Tuhan melalui kesaksian hidupnya. Kekaguman mereka kepada Tuhan, sama seperti Tomas yang akhirnya dengan sukacita menyatakan pengakuannya kepada Tuhan Yesus, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Suatu pengakuan iman yang tulus dan tanda bahwa mereka telah mengalami pencerahan dan perjumpaan dengan Tuhan.

Tuhan Yesus pun berkata pada Tomas dan semua murid-Nya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:29). Kebahagiaan itu tidak diberikan kepada orang yang telah melihat Yesus, tapi justru kepada orang yang tidak melihat-Nya, tapi percaya kepada-Nya.

Mungkin ada di antara kita yang pernah mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui peristiwa tertentu, atau melalui pendalaman pengetahuan teologi, paduan suara, mengajar Sekolah Minggu, menyaksikan saudara atau anggota keluarga yang disembuhkan dari sakit, mengalami pertolongan Tuhan, dan lain-lainnya. Apa pun dan bagaimana pun bentuk perjumpaan itu, pertanyaannya adalah, apakah perjumpaan dengan Tuhan telah mengubah hidupmu, sehingga kesaksian hidupmu dapat memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bisa mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Hamba Tuhan itu telah menyelesaikan tugas pengutusan Tuhan sampai akhir hidupnya. Ia juga telah membukakan mata para dokter yang tidak berkesempatan mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam hidup mereka, untuk percaya kepada-Nya dan melanjutkan tugas pengutusan dengan memberikan pelayanan pendamaian seperti yang telah Tuhan Yesus lakukan.

Tugas pengutusan bagi para murid juga merupakan tugas pengutusan bagi kita. Kita diutus oleh Tuhan untuk melanjutkan misi-Nya di dunia ini, seperti yang telah dilakukan Nya sebagai pelayan pendamaian. Seperti dikatakan oleh Rasul Paulus, “Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri Nya dan yang telah memercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami” (2 Korintus 5:18).

Sebagai orang-orang yang dipercaya melakukan pelayanan pendamaian, dari manakah kita memulainya?

Seperti yang dilakukan Tomas, ada pengakuan yang menyatakan bahwa kita secara pribadi sudah didamaikan dengan Allah melalui Yesus Kristus. Pengakuan ini harus terus menerus diperbaharui. Akan lebih baik jika hal itu dilakukan setiap hari, setiap pagi, sebelum kita memulai pekerjaan rutin. Mengapa? Karena pengakuan ini akan selalu mengingatkan kita bahwa hidup kita sepenuhnya milik Tuhan, dan sebagai hamba-Nya kita sepenuhnya menyerahkan hidup kita untuk mengikuti kehendak-Nya. Dengan pengakuan yang dilakukan setiap hari, maka kita pun akan melakukan perjumpaan setiap hari dan terus mengakrabkan relasi kita dengan Tuhan. Pertobatan tidak cukup hanya dilakukan sekali, harus berkali kali, agar kita selalu diingatkan untuk kembali kepada Tuhan. Mengapa demikian? Karena setiap saat dalam rutinitas pekerjaan sehari-hari kita bisa melupakan perjumpaan dengan Nya, sehingga yang kita lakukan bukan lagi kehendak Tuhan, tapi cenderung kemauan kita sendiri.

Pengakuan akan Tuhan tidak cukup hanya sebatas pengertian (akal) yang dirumuskan dalam suatu dogma. Kita harus mulai belajar membiarkan pengakuan ini meresapi seluruh hidup kita. Artinya, kita harus yakin bahwa kita sudah didamaikan dengan Allah, bahwa kita telah diampuni, bahwa kita telah menerima hati yang dibaharui untuk dapat menerima dan terbuka pada kehendak dan pekerjaan Tuhan dalam hidup kita, bahwa kita telah menerima roh yang baru, yang memberikan keberanian kepada kita untuk melangkah melaksanakan kehendak Allah sampai akhir hayat. Kita juga memiliki mata yang baru untuk melihat dan peka terhadap peristiwa apa pun yang kita jumpai, roh yang baru, telinga yang baru untuk mampu mendengarkan apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Ketika kita tidak ragu lagi bahwa kita adalah milik Allah, kita dapat menjadi orang yang benar-benar merdeka dan dengan demikian dapat menjadi pelayan pendamaian. Ini bukan hal yang mudah, karena dengan gampang kita akan jatuh, menjadi ragu-ragu terhadap diri sendiri, atau bahkan menolak diri kita. Kita perlu terus menerus diingatkan bahwa kita telah mengalami pendamaian, dengan merenungkan firman Tuhan setiap hari.

Sejauh kita menerima bahwa melalui Yesus Kristus kita sudah didamaikan dengan Allah, sejauh itu pula kita dapat menjadi pelayan pendamaian bagi orang lain. Salah satu hal yang paling mendasar dalam pelayanan pendamaian ialah kehadiran yang tidak menghakimi. Inilah hal yang paling sulit dilakukan, karena orang cenderung menghakimi atau menilai seseorang. Kita tidak diutus untuk menghakimi, menghukum, menilai, atau memberi cap (label). Sering kita berpikir untuk mengubah orang lain, apakah itu sikap hidup, cara berpikir, atau kebiasaannya. Jika hal itu kita lakukan, maka yang terjadi adalah permusuhan, perpecahan, keretakan hubungan, karena kita tidak pernah dapat mengubah orang lain. Perubahan dalam diri seseorang hanya dapat terjadi dari diri orang itu sendiri. Yesus mengatakannya dengan amat jelas, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati… janganlah kamu menghakimi…: Janganlah kamu menghukum…; ampunilah…” (Lukas 6:36-37).

Ancaman penyebaran pandemi COVID-19 akan mempunyai dampak yang beragam di masyarakat. Mereka yang tertular penyakit ini akan mendapatkan penilaian dan perlakuan yang juga beragam. Masyarakat menjadi terpecah dan permusuhan mudah sekali terjadi, bukan hanya permusuhan dengan sesama, melainkan juga permusuhan dengan diri sendiri. Membenci dan menyalahkan diri sendiri karena keadaan yang sangat menyakitkan.

Dalam dunia seperti ini, kehadiran yang tidak menghakimi tampaknya tidak mungkin. Namun kehadiran seperti itu adalah salah satu buah paling indah dari kehidupan rohani yang mendalam. Buah seperti ini akan seperti magnet untuk menarik orang orang yang merindukan pendamaian. Mereka tidak akan menaruh curiga, dan bahkan memercayai orang yang tidak mempunyai kepentingan apa pun.

Jika kehidupan kita adalah gambaran dari orang yang bebas, tidak merasa perlu menghakimi atau menghukum, kita dapat menjadi tempat yang aman bagi orang-orang untuk saling bertemu dalam kelemahan. Di situ tembok tembok yang memisahkan akan diruntuhkan. Kalau hidup kita berakar pada kasih Allah, mau tidak mau kita akan didorong untuk mengundang saudara-saudari kita untuk saling mencintai. Kalau orang tahu bahwa kita tidak mempunyai maksud tersembunyi —bahwa kita tidak akan mencari keuntungan apa pun, dan bahwa keinginan kita satu-satunya adalah membangun persaudaraan lewat pendamaian— mereka akan menemukan kebebasan batin dan keberanian untuk meletakkan senjata mereka di depan pintu dan masuk ke dalam percakapan dengan musuh musuh mereka.

Sering kali ini semua terjadi tanpa kita rencanakan. Pelayanan pendamaian paling sering terjadi pada waktu kita tidak menyadarinya, karena hal itu memang sudah seharusnya dilakukan oleh siapa pun. Orang merasa nyaman berhubungan dengan kita karena kehadiran yang sederhana, yang sama sekali tidak bermaksud menghakimi. Sifat yang tidak menghakimi itulah yang akan mengerjakannya.

Pendamaian bukan sekadar satu peristiwa di mana konflik diselesaikan dan hubungan baik dipulihkan. Pelayanan pendamaian bukan sekadar pelayanan untuk memecahkan soal, menjadi perantara atau menjadi penengah untuk mengadakan perjanjian damai. Tidak ada sesaat pun dalam hidup kita yang tidak membutuhkan pendamaian. Kalau kita berani melihat ke dalam hati kita yang penuh dengan perasaan dan pikiran yang menyimpan permusuhan, kita akan segera sadar bahwa ternyata kita terlibat dalam berbagai “peperangan”. Musuh kita mungkin adalah orangtua kita, anak kita, tetangga kita yang baik, orang yang mempunyai gaya hidup berbeda, orang yang mempunyai pandangan hidup yang lain. Dalam pengalaman-pengalaman itulah pendamaian diperlukan.

Di sinilah akhir dari permenungan penulis saat melakukan persiapan (baca taping) ibadah online “Jumat Agung”. Ungkapan “Aku haus” sebagai pernyataan puncak dari penderitaan Yesus, dan “Sudah selesai” sebagai suatu kelegaan telah menyelesaikan tugas pengutusan yang Bapa percayakan kepada-Nya. Satu-satunya orang yang telah menyelesaikan misi hidupnya sebelum mati adalah Yesus.

Dalam Yohanes 4:34, Yesus berkata, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”

Yesus telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Allah kepada-Nya tepat sebelum Dia mati di kayu salib pada hari Jumat Agung.

Ketika Yesus berkata, “Sudah selesai,” itu merupakan sorak kemenangan. Dalam bahasa Yunani asli, ungkapan ini sebenarnya terdiri dari satu kata: tetelestai. Kata itu sangat umum di masyarakat Yunani kuno, tapi punya banyak makna. Ketika Yesus mengucapkannya di atas kayu salib, Dia merujuk pada maknanya masing masing:

  • Digunakan oleh para pelayan dan karyawan yang kembali kepada tuan mereka untuk melaporkan bahwa mereka telah menyelesaikan tugas mereka. Yesus telah menyelesaikan tugas yang diberikan Allah kepada-Nya.
  • Istilah hukum yang digunakan para hakim untuk mengumumkan bahwa seorang tahanan telah sepenuhnya menjalani masa hukumannya. Yesus telah memastikan bahwa Dia menanggung hukuman atas dosa kita.
  • Istilah akuntansi yang berarti utang telah dibayar penuh. Yesus telah sepenuhnya membayar lunas utang kita.
  • Para seniman menggunakan istilah ini ketika melukis gambar untuk menandakan goresan terakhir mereka. Pengorbanan Yesus telah menyelesaikan karya agung Allah dengan memungkinkan puncak ciptaan-Nya—kita— ditebus atas dosa kita.
  • Para imam menggunakan istilah ini ketika mereka mempersembahkan korban kepada Tuhan seraya berkata, “Pengorbanan telah dilakukan.” Kematian Yesus di kayu salib merupakan pengorbanan karena dosa kita.

Akhir dari permenungan ini sungguh sangat memberikan kelegaan dan pencerahan, bahwa setiap kita yang percaya pada panggilan, dan percaya pada tawaran jaminan keselamatan Tuhan Yesus, harus berani keluar dari ketakutan kita dan melanjutkan tugas pengutusan yang diberikan Tuhan kepada kita masing-masing.

Saya tidak tahu, apakah ketika tulisan ini diterbitkan, pandemi virus korona di Indonesia sudah mereda dan dapat diatasi, atau masih menjadi sesuatu yang menakutkan bagi orang-orang yang percaya pada Yesus. Hal sangat penting yang harus selalu kita ingat kembali adalah bahwa kita semua dipanggil untuk melanjutkan tugas pengutusan di dunia ini:

  • Tuhan Yesus selalu hadir dalam pergumulan hidup kita. Dia melihat dan mengetahui apa yang sedang terjadi, dan sekaligus memercayakan kita untuk berani menghadapi permasalahan apa pun yang kita hadapi dalam melaksanakan tugas pengutusan kita masing-masing.
  • Jangan pernah lupa pada tugas pengutusan untuk membawa orang mengalami perjumpaan dengan Tuhan, melalui peristiwa kehidupan sehari-hari.
  • Tuhan Yesus sudah mengembus kita dengan Roh Kudus sebagai simbol kehidupan yang baru bersama Yesus yang dibangkitkan.
  • Roh Kudus inilah yang akan memberitahukan kita tentang apa yang Tuhan ingin kita lakukan dalam tugas pengutusan kita. Roh ini pulalah yang akan memberitahukan kepada kita segala sesuatu yang telah Tuhan ajarkan kepada para murid untuk dilakukan.
  • Jagalah dan peliharalah relasi dengan Tuhan, karena di sinilah letak kunci kekuatan kita dalam melaksanakan tugas pengutusan.

Ketika para pakar virologi dan para tim kesehatan berada di garda depan untuk menolong pasien di rumah sakit, Tuhan ada di balik upaya mereka. Demikian juga ketika para penatua GKI Pondok Indah dan para penatua dari gereja-gereja lain berusaha keras memutuskan mata rantai penyebaran COVID-19, Roh Kudus ada di belakang mereka untuk mendorong dan memberikan keberanian, semangat dan kerelaan demi memberikan yang terbaik.

Pandemi virus korona memang merupakan ancaman, tapi sekaligus juga peluang untuk memperkenalkan kasih dan karya Tuhan melalui orang orang yang mempunyai keberanian untuk keluar dari ketakutan mereka dan mulai berkarya menyelesaikan misi Tuhan di dunia ini. Marilah kita tetap fokus pada “tugas pengutusan” yang telah Tuhan percayakan kepada kita sampai pada akhirnya kita juga dapat mengatakan seperti Tuhan Yesus, “Sudah selesai.” Amin.•

| PDT. TUMPAL TOBING

1 Comment

  1. Bibit Sudibyo

    Terima kasih atas KARYA TULIS ini, Sangat berbobot, namun cukup panjang hingga tidak semua warga tertarik untuk menyelesaikan membaca sampai akhir, dg masing2 alasan.
    Mungkin perlu di’siasat’i dg dibuat tulisan BERSAMBUNG.
    SALAM HORMAT kami yg #dirumahsaja , bibit&ria.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Imago Dei
    Imago Dei
    Hakikat Manusia Kita sering mendengar orang menyampaikan pernyataan- pernyataan seperti berikut: “Ahh… saya bisa apa???” atau, “… Yaa begitulah,...
  • simul iustus et peccator
    ‘simul iustus et peccator’
    sudah dibenarkan tetapi sekaligus tetap berdosa
    Percaya Saja Banyak orang Kristen yang hanya berhenti pada percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamat mereka lalu menganggap tugas...
  • Stop, Rest, & ReFresh
    Stop, Rest, & ReFresh
    Kejadian 2:1-3; Matius 11:28-29
    Kehidupan ini bisa terasa begitu melelahkan, sehingga seseorang berkata, “tired, then buried”, alias lelah dan kemudian dikuburkan. Salomo berkata,...
  • lakukan
    Apa Yang Anda Lakukan Kala Sakit Hati?
    1 Samuel 1:1-28
    “Pa, pakaian anak kita hilang lagi, pasti diambil Hana,” teriak Penina. Elkana berusaha menenangkannya, “Ma, tidak usah mengada ngada,...
  • Splagchnizomai
Kegiatan