Bersyukur & Karya GKIPI Bagi Dunia

Belum ada komentar 1 View

NIGHTBIRDE

Beberapa malam silam, saat tubuh letih, saya menonton sebuah audiensi di America’s Got Talent 2021. Seorang perempuan muda bernama Jane—yang memakai julukan Nightbirde—menyanyikan sebuah lagu gubahannya, berjudul “It’s Okay.” Nightbirde menyanyikannya dengan begitu apiknya sampai-sampai Simon Cowell memberinya Golden Buzzer. Yang menarik adalah bahwa Nightbirde telah bergumul dengan kankernya selama tahun-tahun terakhir. Namun, dalam percakapan sebelum dan sesudah ia menyanyi, terlihat sekali sikap positif yang dipertontonkannya; sebuah sikap hidup penuh syukur. Ia berkata, “You can’t wait until life isn’t hard anymore before you decide to be happy” (Engkau tidak dapat menanti sampai kehidupan tak lagi berat sebelum engkau memutuskan untuk bahagia). Sungguh menyentuh … dan benar! Setelah keluar dari panggung, Nightbirde berkata, “I have a 2% chance of survival, but 2% is not 0%. 2% is something, and I wish people knew how amazing it is” (Saya memiliki 2% kesempatan bertahan hidup, tapi 2% bukanlah 0%. 2% itu sesuatu, dan saya berharap orang-orang tahu betapa mengagumkannya itu semua).

Bahasa kristiani untuk happy adalah grateful, bersyukur. Kalimat Nightbirde mungkin dapat kita ubah sedikit: “You can’t wait until life isn’t hard anymore before you decide to be grateful.” Tidak mudah tentu bersyukur di tengah kelamnya hidup, apalagi di saat kesempatan untuk melihat terang kecil di ujung lorong gelap itu tampak sangat kecil. Dan kesulitan bersyukur itu tentu tak hanya urusan orang per orang, tapi juga sebuah komunitas atau bahkan masyarakat yang lebih luas.

Bagaimana GKI Pondok Indah bersyukur di usia ke-37 ini? Bagaimana bersyukur sebagai sebuah gereja yang harus menghadapi situasi pandemi yang berkepanjangan ini? Refleksi ini adalah sebuah usaha untuk menjawabnya. Dan saya tidak ingin memberikan jawaban-jawaban yang legalistis melainkan menawarkan butiran-butiran refleksi yang semoga dapat memperkaya embara spiritual kita bersama.

Bersyukur ATAS atau dalam PENDERITAAN?

Ternyata bersyukur bukanlah sebuah sikap hati yang berlawanan dengan situasi buruk. Maksudnya: seharusnya bersyukur tidak hanya muncul pada saat kita mengalami hal-hal baik, tapi juga ketika kita mengalami hal hal buruk. Paulus memberi sebuah nasihat yang sangat singkat tapi jelas: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tes. 5:18). Kita perlu menyimak baik-baik apa yang ditulis Paulus. Ia tidak mendorong kita untuk mengucap syukur atas hal-hal buruk. Rasanya kita semua sepakat bahwa anehlah jika kita mensyukuri keadaan buruk yang menimpa hidup kita. Jika itu yang terjadi, kita seperti seorang masokhis, yaitu seseorang yang justru menikmati rasa sakit. Tidak! Kita sungguh bersedih dan bergumul saat kepiluan itu terjadi. Namun, Paulus mendorong anggota jemaat Tesalonika untuk mengucap syukur dalam segala hal. Ada dua hal menarik di sini. Pertama, untuk mengucap syukur dalam segala hal, kita memang harus berada di dalam segala hal itu. Artinya, kita tidak bisa memilih dan memilah situasi apa yang mau kita hadapi dan alami. Jika memang harus menderita, baiklah kita menderita. Semua itu tak dapat kita tolak dan hindari. Yang kedua, Paulus memberikan sebuah resep spiritual tatkala kita memasuki “segala hal” itu, yaitu bersyukur. Bukan bersyukur atas segala hal, melainkan bersyukur dalam segala hal (Yunani: en panti eikharisteite).

Nah, jika kita tidak bersyukur atas segala hal itu, untuk apa kita bersyukur? Paulus melanjutkan dengan berkata, “… sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Yang kita syukuri bukanlah penderitaan, bahkan juga bukan kegembiraan kita. Yang kita syukuri adalah Allah yang tetap hadir dan mencintai kita melalui Yesus Kristus. Yang kita syukuri bukanlah berkat, melainkan si pemberi berkat. Yang kita syukuri bukanlah penderitaan, melainkan Dia yang ikut mengalami penderitaan kita.

EUKHARISTIA DAN KHARIS

Di dalam Alkitab dipergunakan kata Yunani eukharisteō untuk kata kerja “mengucap syukur” dan kata eukharistia untuk kata benda “pengucapan syukur.” Kedua kata ini sebenarnya merupakan gabungan dari dua kata, yaitu eu (indah) dan kharis (rahmat, anugerah). Jadi, tatkala kita mengucap syukur, sesungguhnya kita tengah mengafirmasi bahwa rahmat Allah sungguh-sungguh indah!

Jika demikian, pengucapan syukur bukanlah sekadar sebuah perasaan positif. Ia adalah sebuah sikap hati, atau bahkan sikap iman, yang menegaskan bahwa rahmat Allah sungguh-sungguh nyata dan baik. Seluruh kehidupan kita, baik personal maupun sebagai satu komunitas gerejawi, tetaplah baik, terlepas dari semua keburukan yang mengepung kita. Itu semua baik, sebab Allah yang baik itu merahmati kita terus dengan cinta kasih-Nya.

Sepintas Anda mungkin akan menduga bahwa pengucapan syukur (eukharistia) mirip dengan kata ekaristi, yang menunjuk pada perjamuan kudus di dalam tradisi Katolik. Bukan hanya mirip, memang kata eukharistia sungguh-sungguh menunjuk pada sakramen ekaristi atau perjamuan kudus. Di dalam buku katekisasi terkuno yang kita kenal, yang bernama Didache (akhir abad pertama, sekitar tahun 90- an), dijelaskan arti ekaristi sebagai pengucapan syukur:

Sekarang tentang Pengucapan Syukur (Ekaristi), dan dengan demikian mengucap syukur. Pertama, tentang cawan: Kami bersyukur kepada-Mu, Bapa kami, atas pokok anggur suci Daud, hamba-Mu, yang Engkau nyatakan kepada kami melalui Yesus, Hamba Mu; bagi-Mulah kemuliaan untuk selama-lamanya. Dan tentang roti yang dipecah-pecahkan: Kami bersyukur kepada-Mu, Bapa kami, atas hidup dan pengetahuan yang Engkau nyatakan kepada kami melalui Yesus, Hamba-Mu; bagi Mulah kemuliaan untuk selama lamanya. Bahkan seperti roti yang dipecah-pecahkan ini tersebar di atas bukit-bukit, dan dikumpulkan menjadi satu, demikianlah Gereja Mu dikumpulkan dari ujung bumi ke dalam kerajaan-Mu; karena milik-Mulah kemuliaan dan kuasa melalui Yesus Kristus untuk selama lamanya.

Indah sekali, bukan? Perjamuan Kudus adalah perjamuan pengucapan syukur, sebab ia terarah pada rahmat Allah yang kita alami di dalam Yesus Kristus yang telah menyelamatkan kita. Itu sebabnya, peristiwa perjamuan kudus sebagai pengucapan syukur senantiasa merujuk pada peristiwa Yesus yang menetapkan perjamuan kudus itu di malam sebelum Ia diserahkan,

Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: “Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu. Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang.” Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk. 22:17-19; bdk. 1Kor. 11:24)

Bukan hanya itu, sebelum penetapan perjamuan kudus itu, Yesus selalu mengadegankan perjamuan dan pengucapan syukur dalam banyak peristiwa pelayanan-Nya (Mat. 15:36; Mrk. 6:41; 8:6; Yoh. 6:11, 23; dll.). Demikian juga, hal yang sama dilakukan-Nya setelah Ia bangkit di hadapan kedua murid di Emaus (Luk. 24:30) dan dilakukan Paulus dan para rasul lainnya juga (mis. Kis. 27:35). Singkatnya, seluruh peristiwa makan sehari-hari menjadi bernilai sakramental. Saya sengaja memakai kata sakramental dan bukan sakramen, sebab memang kita hanya mengenal dua sakramen, yaitu Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus. Akan tetapi, seluruh peristiwa sehari-hari dapat bernilai sakramental, artinya, menunjuk pada sakramen keselamatan itu. Maka, dalam seluruh peristiwa sehari-hari itu pula kita diundang untuk mengucap syukur. Semua peristiwa hidup kita sebagai gereja adalah tanda rahmat yang karena itu menampilkan ucapan syukur kita.

Jika pengucapan syukur terpusat pada rahmat Allah (kharis, gratia, grace), maka mengucap syukur sesungguhnya bukan hanya berarti gratitude, melainkan gracetitude. Secara bebas saya memahami gracetitude sebagai sebuah sikap hidup, personal atau komunal, terhadap rahmat—an attitude toward grace! Maka, di usia ke- 37 tahun ini, GKI Pondok Indah perlu merenungkan secara bersama-sama, apakah di tengah kepungan pandemi Covid-19 ini, kita sudah menegaskan sikap iman kita untuk mengarahkan seluruh karya-layan kita pada rahmat Allah, dengan mensyukurinya dan membagikannya. Jika ya, maka seluruh karya-layan kita akan benar benar bernilai sakramental. Saat klinik yang kita miliki berusaha mengobati pasien yang datang, tindakan itu bernilai sakramental. Saat persekutuan-persekutuan dilakukan walau dengan media Zoom, itu semua bernilai sakramental. Saat setiap anggota jemaat berjuang untuk hidup bermakna bagi sesama, itu semua pun bernilai sakramental. Itulah makna sesungguhnya dari pengucapan syukur!

Bersyukur sebagai sebuah Sikap Sosial

Robert Emmons adalah seorang profesor psikologi dari UC Davis, Amerika Serikat. Ia dikenal atas riset-risetnya mengenai “psikologi pengucapan syukur.” Kita dapat menimba banyak ilmu pengucapan syukur dari Emmons, khususnya dengan belajar bahwa pengucapan syukur sungguh-sungguh berdampak komunal dan sosial. Di dalam sebuah artikel yang berjudul “Counting Blessings versus Berdens” di Journal of Personality and Social Psychology (Vol. 84, no. 2, 2003), yang ditulisnya bersama dengan Michael E. McCullough, Emmons menjelaskan bahwa bersyukur ternyata sangat efektif untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Dengan menegaskan bahwa bersyukur adalah sebuah pilihan dan bukan perasaan, Emmons menemukan bahwa “pengalaman pengucapan syukur, dan tindakan tindakan yang dirangsang olehnya, membangun dan memperkuat ikatan ikatan sosial dan persahabatan.” Dengan demikian, pengucapan syukur menjadi “sumber-sumber daya sosial” yang memperkuat ikatan komunitas di saat-saat yang kritis. Ia melanjutkan, “Pengucapan syukur … merupakan sebuah bentuk kasih, sebuah konsekuensi dari sebuah keterikatan yang telah terbentuk selain juga sebuah syarat yang memicu pembentukan sebuah ikatan emosial yang baru.” Singkatnya, pengucapan syukur bukan hanya sikap batin personal. Sebuah komunitas —termasuk GKI Pondok Indah—perlu bersama-sama bersyukur. Sama seperti ekaristi atau perjamuan kudus merupakan sebuah kegiatan iman bersama, demikian pula bersyukur adalah komitmen kita bersama. Momen ulang tahun ke-37 GKI Pondok Indah ini menjadi sebuah momen penting untuk menegaskan komitmen kita untuk bersama-sama bersyukur di tengah situasi pandemi berkepanjangan ini. Hanya sebuah jemaat yang bersyukurlah yang dapat terus bertahan di dunia yang murung ini. Hanya sebuah jemaat yang bersyukurlah yang dapat menjadikan semua kegiatannya berwajah sakramental. Selamat ulang tahun ke-37 jemaat yang saya kasihi.•

|PDT. JOAS ADIPRASETYA

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
  • Panti & Yusti
    Mengenang almarhum Pak Panti dan Ibu Yusti, selalu terbayang wajah wajah yang ramah, penuh senyum, membuat orang lain bergembira,...
  • Siapa Ingin Kehilangan?
    Tak bisa dimungkiri, kematian adalah realitas kehidupan. Meski semua orang mengetahuinya, tetap saja kita tak mengharapkan kematian menghampiri orang...
  • I AM HERE FOR YOU
    Persekutuan Gabungan GKI Pondok Indah
    Mengatasi Kesendirian Majelis Bidang Persekutuan menggelar Persekutuan Gabungan dengan tema: (I) Am Here for You yang dipandu oleh Pdt....
  • SAFE: Safe (to be) Autenthic For Everyone
    Kebersamaan Pendeta, Penatua, Pengerja Gereja, Dan Calon Pendeta Gki Pondok Indah
    Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditetapkan Pemerintah dalam mencegah dan menghambat penyebaran pandemi virus COVID ini telah menyebabkan...