Berkarya Bersama Dalam Inklusivitas

Gereja & Sahabat Tuli: Diskusi bersama Sahabat Tuli

Belum ada komentar 14 Views

Mengawali rangkaian Bulan Budaya GKI Pondok Indah selama bulan Agustus ini, Panitia menyelenggarakan acara yang menarik, yaitu “Diskusi bersama Sahabat Tuli”. Bertempat di Grha Persahabatan, acara ini diselenggarakan selaras dengan tema Bulan Budaya Agustus 2019, yaitu “All Are Welcome” atau “Semua Disambut”.

Berada di tengah umat manusia yang beragam, Panitia ingin mengajak warga jemaat memahami pentingnya budaya “MENERIMA YANG BERBEDA” sebagai proses untuk merayakan bersama keragaman yang ada di Indonesia, sehingga menjadi jemaat yang semakin HTPP (Hidup, Terbuka, Partisipatif dan Peduli).

Secara umum, forum diskusi ini diadakan dengan tujuan:

  1. Membangun KESADARAN jemaat GKIPI akan kehadiran kaum tuli (difabel) sebagai bagian yang tidak terpisahkan di sekitar/di lingkungan mereka.
  2. Mengajak jemaat untuk secara terbuka berperan serta menerima dan berkarya bersama-sama sahabat tuli.

Berangkat dari keinginan beberapa pegiat untuk membantu teman-teman tuli supaya dapat terlibat dalam setiap kegiatan di GKI Pondok Indah, maka sebagai awalnya kita perlu memahami teman-teman tuli sebagai pribadi yang dapat menikmatinya, baik di ibadah Minggu, atau pun di tengah masyarakat luas.

Namun ternyata, lebih luas dari itu, bukan hanya berkegiatan bersama, panitia dan pegiat yakin, bahwa akan lebih banyak lagi nilai-nilai yang dapat kita rayakan bersama-sama sebagai ciptaan Tuhan yang dikasihi-Nya (kita kaum non-tuli dan teman-teman tuli). Seperti Gus Dur pernah berkata, “Keragaman adalah keniscayaan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya”, maka marilah kita berkarya bersama-sama dalam keragaman.

Sebagai langkah awal, beberapa data profil teman tuli dicoba untuk digali, namun ternyata sangat sulit mendapatkan data yang aktual dan terkini. Dari berbagai sumber, yaitu Detik.com, riset dari ILO dan forum Indonesia-Australia 2018, serta dari Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia)—sebuah organisasi yang bergerak di bidang kesejahteraan kaum tuli di Indonesia—diperoleh data sebagai berikut:

  • com pada tahun 2017 menggambarkan data bahwa 5,3% penduduk dunia mengalami ketulian (360 juta), 180 juta berada di Asia Tenggara, dan Indonesia berada di peringkat ke-4;
  • Forum Indonesia-Australia 2018 mencatat bahwa dari 265 juta penduduk Indonesia, sekitar 2,5 juta penduduk tuli; hanya ada 41 Juru Bahasa Isyarat (PLJ, 2018);
  • Sementara data dari ILO dan Gerkatin menyampaikan bahwa kaum tuli Indonesia berjumlah sekitar 2.547.000 (ILO 2018), dengan sebaran di Jakarta > 2.000 orang (Gerkatin), dan khususnya di daerah Tangerang Selatan sebanyak ± 100 orang.

Dengan beberapa nara sumber yang terkenal, diskusi ini dikemas dengan metode yang sangat interaktif, mulai dari penampilan singkat Teater Tujuh Tuli sebagai pengantar, sharing nara sumber yang meliputi beberapa perspektif, dilanjutkan dengan diskusi kelompok antara nara sumber dan peserta, serta diakhiri dengan menyanyi bersama sebagai penutup.

Peserta acara ini cukup banyak, sekitar 40 orang hadir dan ikut secara aktif berinteraksi dan berdiskusi dengan para nara sumber. Pesertanya bukan hanya dari GKI Pondok Indah, namun ada juga dari GKI Kebayoran Baru, dan ada juga beberapa teman berbeda agama, termasuk Siti sendiri sebagai salah satu nara sumber. Keberagaman asal peserta juga menimbulkan ide bahwa pelayanan ini merupakan kolaborasi beberapa gereja dan entitas, bukan hanya dari GKI Pondok Indah, sehingga semangat inklusivitas dapat semakin dicapai.

Acara dibuka dengan fragmen singkat dari Teater Tujuh (teater yang beranggotakan orang tuli), yang ingin menceritakan komunikasi antara orangtua dan anaknya yang tuli. Setelah itu, Andrew Sihombing—seorang pegiat tuli—membuka dengan memperkenalkan para nara sumber.

Nara sumber diskusi adalah orang-orang yang sudah lebih dulu berkomunitas dalam kaum tuli, baik sebagai orangtua dari anak tuli, sebagai pebisnis yang berkolaborasi dengan kaum tuli, dan teman tuli sendiri yang bersedia berbincang-bincang untuk membuka wawasan awal tentang dunia tuli.

Dari sisi perspektif orangtua yang memiliki anak tuli diwakili oleh seorang aktor, yaitu Ray Sahetapy; dari perspektif orang tuli sendiri diwakili oleh Siti Rodhyah, seorang aktivis tuli; dan dari perspektif pebisnis yang berkolaborasi dengan kaum tuli, diwakili oleh Mario Gultom, pendiri dari Sunyi House of Coffee & Hope. Dari sisi Gereja, Pdt. Bonnie Andreas menyampaikan beberapa pandangan mengenai apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh gereja dan jemaat dalam pelayanan inklusi, khususnya dengan para sahabat tuli.

Ray Sahetapy—seorang aktor kelahiran Donggala, 1 Januari 1957, yang memulai kariernya di dunia perfilman pada tahun 1980, dan yang hingga saat ini sudah memainkan lebih dari 80 judul film dan menjadi sutradara Teater Experimen, serta sekarang penggagas dan pendiri Teater Tujuh Tuli (beranggotakan 30 orang tuli)—adalah orangtua dari 4 anak, yang dua di antaranya tuli, yaitu Giscka (almarhum) dan Surya. Giscka sendiri semasa hidupnya adalah seorang pelukis yang sangat produktif, dan Surya saat ini adalah Aktivis Tuli Internasional, pegiat di BISINDO, berkecimpung di dunia kreatif, dan segudang aktivitas lainnya.

Menjadi orangtua dari anak tuli membuka tingkap spiritual Ray Sahetapy, membuatnya menyadari bahwa menjadi tuli adalah anugerah, dan keadaan ini adalah pemberian Tuhan. Orang-orang tuli justru diberi kelebihan di indra yang lain.

Hal yang sangat signifikan dalam membesarkan, mengasuh, mendidik, dan memotivasi anak tuli adalah dengan terus memberi semangat dan kesadaran bahwa ia bisa dan mampu melakukan apa pun. Pemberdayaan dan pendampingan yang melekat sangat penting untuk membangun kepercayaan dirinya sehingga ia mampu berkarya seperti—atau malah lebih baik dari—orang-orang yang tidak tuli. Yang menarik—menurut Oom Ray (demikian panitia memanggil beliau)—justru orangtualah yang harus paling siap dan bisa menerima bahwa anak mereka unik. Setelah mereka bisa menerima keadaan tersebut, maka mereka dapat mendorong anak itu untuk melakukan hal-hal yang luar biasa.

Nara sumber kedua adalah orang tuli sendiri, Siti Rodhyah, seorang barista, pegiat tuli nasional dan internasional, dan pimpinan tim Gerkatin, khusus bidang kepemudaan. Dengan riang dan energik, Siti membagikan kisah hidupnya sebagai orang tuli, tentunya melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh teman juru bahasa isyarat (JBI).

Perempuan berumur 27 tahun yang tuli sejak usia 3 tahun akibat kecerobohan masa kanak-kanak ini, memiliki segudang pengalaman bekerja di berbagai bidang, dengan berbagai keahlian. Mendapatkan pendidikan formal terakhir di Universitas Muhammadiyah Jakarta, semenjak tahun 2014—selain mengecap pengalaman bekerja di sektor real—Siti juga merupakan guru/pengajar Bahasa Isyarat Pubisindo dan Peraga Juru Bahasa Isyarat Televisi sampai sekarang. Siti juga sangat aktif dalam kegiatan advokasi tuli dengan bergabung di Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia). Saat ini ia menjabat sebagai Wakil Ketua Gerkatin Bidang Kepemudaan. Ia sangat aktif berkampanye tentang tuli, salah satunya dengan mewakili Indonesia di konferensi World Federation of the Deaf Youth Section (WFDYS) di Singapura, 2016; membentuk Tim Advokasi Tuli Hukum dan roadshow workshop UU No. 8/2016 di berbagai kota di Indonesia, kampanye di sosial media, dan berbagai kegiatan lain. Saat ini ia mencoba keahlian lain sebagai barista di Sunyi Coffee, dan sejak tahun 2018 mulai terlibat dalam Teater Tujuh Tuli.

Melihat dan mendengarkan Siti membagikan kisah hidupnya dengan gayanya yang sangat ceria dan energik, para peserta menjadi ikut bersemangat dan riang. Bagi Siti, yang penting dalam hidupnya adalah jangan pernah berhenti mencoba apa pun, terus ingin tahu akan hal-hal baru, dan terus menanamkan pada diri sendiri bahwa kaum tuli memiliki kesempatan yang sama dalam segala bidang, sama dengan orang yang tidak tuli.

Nara sumber selanjutnya adalah Mario Gultom, seorang pemuda yang bisa dibilang seorang socio-entrepreneur, salah satu pendiri Sunyi House of Coffee & Hope, sebuah kafe kopi yang berkolaborasi dengan para pekerja difabel. Sebagai pekerja penuh waktu sebagai brand supervisor di salah satu perusahaan otomotif , Mario memiliki tujuan atau visi pribadi yang unik dan luhur, yaitu ingin menciptakan inklusivitas di segala bidang, dan menyediakan platform kesempatan berkarya untuk orang dengan difabilitas. Di tengah kesibukannya, Mario belajar bahasa isyarat (Indonesia Sign Language) pada tahun 2018 di Institute of Sign Language, dan terlibat di Festival Bahasa Isyarat 2018 “Isyarat Merakyat”.

Mario percaya bahwa semua orang dengan beragam kemampuan berhak mendapatkan pekerjaan yang layak dan baik. Dan ternyata saat ini banyak orang dengan berbeda kemampuan dalam usia produktif yang belum terjangkau. Ketika Mario memasang iklan lowongan pekerjaan untuk Sunyi Coffee, ada lebih dari 100 calon yang mendaftarkan diri, padahal hanya 5 orang yang dapat direkrut. Di sesi diskusi, Mario sangat menekankan pemikirannya ini, dan mengajak para pegiat untuk bersama-sama mempertimbangkan lapangan kerja yang dapat memberdayakan kaum difabel secara produktif.

Setelah mendengarkan sharing dari para nara sumber, acara dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang didampingi oleh masing-masing nara sumber. Tujuan dari diskusi kelompok ini adalah memberikan kesempatan kepada para peserta untuk berdialog lebih mendalam. Harapan panitia, setelah wawasan kita terbuka, kita bukan hanya sekadar mengenal, melainkan juga memiliki keinginan lebih lagi untuk mengambil langkah konkret dalam berkolaborasi dengan teman-teman tuli.

Sebagaimana telah diutarakan oleh Pdt. Bonnie di awal acara, keberadaan gereja harus juga menyadari keberagaman yang ada, serta dapat mengakomodasinya dalam menjalankan tiga panggilan orang Kristen, yaitu bersekutu, bersaksi, dan melayani dalam keberagaman. Pada 3 kelompok diskusi yang terbentuk, muncul berbagai ide-ide untuk mengadakan pelayanan bersama antara jemaat, simpatisan, dan para sahabat tuli.

Beberapa ide pelayanan yang muncul dalam dialog kelompok adalah:

  • mengadakan ibadah Minggu dengan bahasa isyarat, dengan Juru Bahasa Isyarat yang bergantian dan rotasi dari berbagai gereja;
  • menyediakan fasilitas untuk UM/KM yang bisa melibatkan orang-orang dengan difabilitas;
  • kolaborasi dengan berbagai gereja untuk melakukan pelatihan bahasa isyarat (antara lain dengan GKI Kebayoran Baru dan GKI Pamulang), sehingga makin banyak yang bisa berkomunikasi dan selanjutnya mungkin bisa menjadi JBI;
  • dan beberapa ide menarik lainnya.

Acara diakhiri dengan para peserta yang bergandengan tangan menyanyikan bersama lagu “Laskar Pelangi”, yang dipandu oleh Siti yang menggunakan bahasa isyarat dan Alent, seorang perempuan low-vision pegiat di GKI Pondok Indah.

Sebuah momen yang indah; menyanyi bersama merayakan keberagaman dan memuliakan Tuhan Sang Pencipta semuanya.

……………………………………….

“bersyukurlah pada Yang Kuasa
cinta kita di dunia…
selamanya
cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau hidup kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita…” (“Laskar Pelangi”, Giring Nidji)

Siapkah kita berkarya bersama-sama dalam keberagaman dan menyatakan cinta Tuhan di tengah taman ciptaan-Nya?

(Panitia Bulan Budaya, 2019)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
Kegiatan