Berbagi Kasih Melalui Singkong

Berbagi Kasih Melalui Singkong

Belum ada komentar 18 Views

Semua berawal dari perenungan saya saat menyikapi ajakan para pendeta kita dalam ibadah online masa raya Paska 2020 ini, agar kita berpikir positif dan tetap berbuat sesuatu bagi orang lain yang kesusahan dan terdampak selama masa pandemi COVID-19 ini.

Dalam beberapa kesempatan, saya melihat begitu banyak orang lalu-lalang di sekitar tempat tinggal saya. Anak anak berteriak dan berlarian dalam permainan mereka seperti biasa, penjual makanan dan sayuran tetap berkeliling, beberapa orang remaja dan dewasa asyik mengobrol di Balai Warga, atau melakukan berbagai kegiatan lain yang sama sekali tidak menggambarkan ketakutan. Awalnya, hal ini membingungkan saya, karena aturan yang diterapkan Pemerintah dalam masa PSBB ini cukup jelas, yaitu setiap orang harus diam di rumah dan dilarang berkumpul atau berkerumun.

Sampai suatu waktu, saya berkesempatan untuk berbincang bincang dengan salah seorang warga mengenai hal tersebut. Ia menyampaikan bahwa kondisi ekonomi mereka begitu sulit, sehingga mereka tetap harus melakukan sesuatu untuk menghasilkan uang. Selain itu, mereka kebanyakan tinggal di rumah petak yang sangat kecil dan sempit. Orang-orang di sekitar kampung saya menyebutnya rumah 1 pintu, yang biasanya hanya terdiri atas ruang tamu kecil yang berbatasan dengan tempat tidur, dan dengan dapur di belakangnya. Tidak ada halaman di belakang rumah, hanya sebuah teras kecil di depan rumah. Bisa dibayangkan betapa panasnya rumah itu di siang hari bagi sebuah keluarga dengan 2 orang anak, sehingga tidak memungkinkan penghuninya untuk terus berada di dalam rumah dan tidak keluar sama sekali. Kebanyakan pekerjaan mereka adalah tukang ojek, tukang cuci atau tukang setrika bagi rumah-rumah lain di sekitar kami. Kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang diberlakukan saat ini sangat memengaruhi penghasilan mereka. Pengguna jasa ojek berkurang, kegiatan cuci dan setrika pun berhenti karena rumah rumah untuk sementara menolak kehadiran mereka.

Sungguh berat kondisi mereka melalui masa-masa sulit ini. Hati saya tersentuh untuk meringankan beban mereka. Namun membantu secara keuangan sudah pasti saya tidak mampu, demikian juga untuk membelikan bahan-bahan pokok bagi mereka.

Puji Tuhan, tidak lama kemudian Tuhan menjawab doa saya, ketika melalui Komunitas Basis Cirendeu, Bpk. Frans Herry sebagai koordinator menyampaikan bahwa salah seorang anggota, Ibu Ester Jusuf, yang memang sudah dikenal komitmennya bagi kehidupan sesama, menawarkan sebuah program ketahanan pangan melalui bibit singkong mentega yang dibagikan gratis kepada semua orang yang mau dan bersemangat menyediakan bahan makanan bagi keluarga mereka. Singkong mentega ini akan memberikan hasil dalam 2-3 bulan, dan setiap pohon dapat menghasilkan tunas tunas yang baik sebagai bibit yang bisa ditanam lagi. Setiap hasilnya bisa dikonsumsi oleh sebuah keluarga kecil selama 2-3 hari. Apabila dikelola dengan baik, sudah tentu ini akan jadi sumber makanan yang luar biasa dan berkelanjutan.

Saya kemudian berbicara dengan orangtua saya untuk memanfaatkan lahan yang mereka miliki untuk ditanami singkong ini, dan hasilnya nanti dibagikan kepada keluarga keluarga di sekitar kami yang kesusahan secara ekonomi. Puji Tuhan, mereka setuju dan mendukung usul saya. Pada mulanya saya mengambil 1.000 bibit dari kediaman ibu Ester Jusuf, dan ketika kami sedang menanam bibit bibit singkong tersebut, ternyata beberapa warga yang melihat bertanya apakah mereka juga bisa mendapat beberapa buah bibit untuk ditanam di rumah mereka. Tentu saja saya penuhi permintaan tersebut, bahkan kemudian saya memberanikan diri untuk berbicara dengan beberapa anak muda anggota karang taruna di kampung kami mengenai penanaman singkong ini, dan ternyata mereka menyambut dengan sangat antusias. Saya lalu mengambil beberapa ribu bibit singkong lagi dari kediaman ibu Ester Jusuf dan saya bagikan kepada anak-anak muda karang taruna tersebut. Selama beberapa hari terlihat banyak kegiatan menanam singkong di rumah-rumah warga sekitar.

Kabar tentang kegiatan yang saya lakukan ini rupanya sampai ke telinga beberapa teman dan saudara yang kemudian juga tertarik untuk menanam singkong ini di rumah mereka masing masing. Bahkan seorang sahabat baik saya sejak kecil, yang saat ini menjadi Kalapas (Kepala Lembaga Pemasyarakatan) di Balikpapan, bersedia menyediakan ½ hektar lahan di area Lapasnya untuk ditanami singkong ini demi membantu warga di sekitarnya. Sungguh saya merasakan kelegaan dan kegembiraan yang belum pernah saya alami dalam hidup saya, ketika akhirnya saya bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain.

Terima kasih Tuhan Yesus, karena sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk terlibat dalam rencana-Mu yang indah bagi kehidupan ini. Terima kasih Bpk. Frans Herry dan Ibu Ester Jusuf, yang sudah memberikan jalan keluar bagi warga kampung di sekitar tempat tinggal saya.

Saya berdoa agar Tuhan memberkati usaha ini, dan pada waktunya singkong-singkong ini dapat memberikan hasil yang dinikmati bersama oleh semua warga di kampung kami, termasuk kami sekeluarga.•

| Eko P. Widianto

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
Kegiatan