Berdoa

Belajar Berdoa Dari Yesus

Belum ada komentar 112 Views

Murid-murid memerhatikan Yesus yang sedang berdoa (Luk. 11:1a). Saya percaya murid-murid memerhatikan dengan seksama, tidak berani bergerak, tidak berani bersuara, jangan-jangan mereka juga sedikit menahan napas karena takut mengganggu Tuhan Yesus yang sedang berdoa.

Dalam doa-Nya, Yesus tidak saja berkomunikasi dengan Allah Bapa, tapi juga menjadi perantara untuk menyampaikan permohonan kita kepada-Nya. Dia mengajar kita berkomunikasi kembali dengan Allah—setelah hubungan itu terputus karena kejatuhan manusia ke dalam dosa—dan menyampaikan permohonan kita di dalam nama-Nya.

Merespons permohonan murid-murid, Yesus memberikan sebuah pola doa (doa Bapa Kami), sebuah perumpamaan doa (seorang sahabat yang mengganggu tidur tetangganya), dan sebuah prinsip doa (meminta Roh Kudus).

Mendengarkan Tuhan
Alkitab menggambarkan relasi dengan Tuhan sebagai bentuk “berjalan bersama”-Nya. Berjalan bersama mengandung makna berkomunikasi dan berhubungan dekat. Tidak mungkin kita bisa menjalin hubungan dekat dengan Tuhan, jika doa kita bersifat satu arah. Kita berbicara dan berbicara dan berbicara, tetapi tidak pernah mendengarkan-Nya. Yesus mengajar kita untuk menyapa Tuhan sebagai Bapa. Jelas bahwa Tuhan ingin relasi yang dekat dan akrab dengan kita.

Dalam pengalaman doa pribadi, saya menyimpulkan:

When I miss my prayer moment, I feel I miss a hug from my loving Father in heaven
Daily prayer is not only saying “Hi” to Father, but also receiving a smile from Him.

Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku” (Yoh. 10:27a). Kita belum berdoa, jika kita belum mendengarkan-Nya. Mengapa kita tidak mendengarkan Tuhan? Karena “ruang hati” kita terlalu penuh, tidak ada tempat bagi firman-Nya. Yesus berkata, There is no room in your hearts for my message—firman-Ku tidak memperoleh tempat di hatimu” (Yohanes 8:37). Sering kali kita tidak mendengarkan Tuhan, karena doa kita dipenuhi dengan “nama kita, kerajaan kita dan kehendak kita”. Padahal yang Tuhan ajarkan adalah “Nama Bapa, Kerajaan Bapa, dan Kehendak Bapa.” Dengan kata lain, doa adalah tentang “agenda Tuhan” buat kita, dan bukan tentang “agenda kita” buat Tuhan.

Pola doa yang Yesus ajarkan, memuat 1 relasi dengan 3 kebutuhan dasar, yakni kebutuhan jasmani (makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, pekerjaan, keamanan), kebutuhan jiwa (pengampunan oleh Tuhan dan mengampuni sesama, sehingga kita tidak perlu memikul “bagasi” yang berat yang menyeret kehidupan kita), serta kebutuhan spiritual (perlindungan dari si jahat), oleh karena si jahat dan minion-minion-nya sangat aktif bersiasat untuk menjebak dan menyesatkan kita.

Saudara, siapa di antara kita yang meminta makan sehari-hari kepada Bapa? Apakah kita merasa sudah punya stok makanan untuk 20 tahun ke depan, sehingga tidak perlu meminta kepada-Nya? Siapa anak-anak yang meminta makanan kepada orangtua mereka? Bukankah cenderung sebaliknya, yakni orangtua yang selalu bertanya, “Nak, sudah makan. belum? Nak, mau makan apa?” Tuhan ingin kita berserah dan bersandar kepada-Nya seperti anak bayi yang bersandar penuh pada pengasuhnya.

Percaya Kepada Bapa

Yesus memberi sebuah perumpamaan doa. Seseorang didatangi tamu, sahabatnya dari tempat yang jauh. Ia mungkin berkata kepada istrinya, “Say, di dapur masih ada roti?” Istrinya menjawab, “Wah, sudah habis dimakan anak-anak tadi.” Karena itu ia memberanikan diri mengetuk pintu tetangganya—yang juga sahabatnya—di tengah malam, untuk membangunkannya dan meminjam 3 potong roti.

Pertama, siapa “sahabat” Saudara yang membutuhkan perhatian? Keegoisan, kesepian, kecemasan, kelelahan, kesibukan, kegelisahan, keputusasaan, kesuksesan, kesombongan? Apakah kita menyadari “urgensi” untuk datang kepada Tuhan?

Kita terlalu terobsesi dengan diri kita, kesuksesan kita, kehebatan kita, pencapaian kita, nama kita, kerajaan kita, dan kehendak kita. Kita menilai hidup kita dari profesi, prestasi, dan kesuksesan kita. Siapa diri kita bukanlah profesi, karier, keterampilan, atau talenta kita, melainkan siapa kita saat bersujud berdoa di hadapan Bapa surgawi di ruang pribadi kita (Who we are, is not our professions, career, skills, or talents, but who we are kneeling in prayer to our Father in the secret chamber). Sebenarnya, siapa diri kita adalah apa yang kita pikirkan dan lakukan ketika tidak ada yang melihat kita. Itulah diri kita yang sebenarnya (Who we actually are, is what we are thinking most of the time and who we are when no one is looking).

Kedua, Bapa tidak seperti tetangga yang merasa tidurnya terganggu. Kita dapat datang kepada-Nya dengan membawa persoalan batin kita. Dia adalah Bapa yang peduli dan sangat mengasihi kita.

Ketika saya berada di Singapura untuk ikut kelas konseling, saya merasa tidak banyak yang bisa saya dapatkan. Karena itu saya memaksakan diri untuk membaca 1 buku selama 3 jam setiap hari. Sekurang-kurangnya, saya membaca 5 buku dalam 5 hari. Setelah pulang dari Singapura, saya sangat kelelahan. Saya memaksakan diri untuk mempersiapkan renungan yang akan saya sampaikan beberapa hari kemudian, tetapi tanpa hasil. Kemudian Tuhan berkata,

“Anak-Ku, kamu terlalu berfokus pada pergumulanmu dan tidak pada firman-Ku. Kamu melelahkan diri dan berfokus pada dirimu, pada permasalahanmu dan pada penderitaanmu. Kamu terus bekerja untuk menulis pesan yang hendak kamu sampaikan, tetapi kamu tidak meneduhkan hati untuk mendengarkan Aku. Kamu tidak melihat pikiranmu yang sibuk sebagai masalah. Kamu tidak melihat kegelisahan hatimu sebagai masalah. Kamu tidak melihat kekhawatiranmu sebagai masalah. Kamu memboroskan hari-harimu dan memboroskan hidupmu. Mengapa kamu tidak mau berdiam diri dan mendengarkan Aku? Mengapa kamu tidak mau percaya pada-Ku? Anak-Ku, percayakanlah hidupmu pada-Ku. Kamu membebani dirimu dengan terlalu banyak hal dan dengan terlalu banyak kekhawatiran (Jurnal saya tanggal 26 Februari 2019).

Ketika anak Saudara berkata, “Ma, saya lapar, bolehkah saya makan burger?” Apakah Saudara memberinya burger, namun bukan berisi daging, melainkan lempengan besi? Atau ketika anak Saudara berkata, “Pa, saya lapar, boleh titip belikan nasi goreng?” Apakah Saudara memesan nasi goreng yang sangat pedas, padahal dia biasanya hanya makan nasi goreng tanpa cabai?

Yesus berkata, Jadi jika kamu yang JAHAT tahu memberi pemberian yang BAIK kepada anak-anakmu, APALAGI BAPA-mu yang di surga! (Luk. 11:13a)

Bapa Memberikan Roh Kudus

Yesus mengatakan, “Mintalah, …diberikan, carilah, …mendapat, ketuklah, …pintu akan dibukakan. Kemudian kita mengeluh dengan berkata, “Saya meminta, mencari dan mengetuk, tetapi tidak mendapatkan apa-apa.” Saudara, kalimat Yesus belum selesai, karena masih ada kelanjutannya yang belum kita dengar, yang berbunyi, Ia akan memberikan ROH KUDUS kepada mereka yang meminta kepada-Nya (Luk. 11:13).

Mengapa tiba-tiba muncul “Roh Kudus”? Pernahkah Saudara meminta Roh Kudus dari Bapa dan apa kaitan hal berdoa dengan Roh Kudus? Saudara, tanpa Roh Kudus, kita tidak dapat berdoa. Mengapa kita tidak berdoa? Karena kita tidak memohon pertolongan Roh Kudus. Roh Kudus yang menolong kita untuk menjadi anak-anak Bapa dan menyapa-Nya sebagai Bapa (Roma 8:15; Gal. 4:6). Roh Kudus juga berdoa buat kita (Roma 8:26-27). Saya yakin Kristus menegaskan bahwa kita hanya dapat berdoa melalui pertolongan Roh Kudus, sehingga setelah memberikan sebuah pola doa (Luk. 11:1-4) dan sebuah perumpamaan doa (Luk. 11:5-8), Dia memberikan sebuah prinsip atau fondasi doa tentang meminta Roh Kudus kepada Bapa (Luk. 11:9-13).

>> Lan Yong Xing

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • kudus
    Kudus
    Pengikut Kristus selalu dikaitkan dengan keselamatan, anugerah, kasih, kepedulian, dsb. Juga hidup kudus, meski yang satu ini sering dilupakan...
  • ditolak
    Ditolak Oleh Pengenalan
    “tidak ada nabi yang diterima di negerinya sendiri”
    Pada umumnya, seseorang tak akan menyampaikan penghargaan kepada orang lain kalau tidak mengetahui, mengenal, atau pernah berbagi pengalaman dengannya....
  • persahabatan
    Persahabatan
    Ayat panduan kita diambil dari 3 Yohanes 15. Surat yang amat pendek, karena hanya terdiri atas satu pasal. Kita...
  • Pilihanku, Pilihanmu, Pilihan-Nya
    Hidup adalah Pilihan Pendapat tersebut sering kali kita dengar dalam banyak situasi. Misalnya dalam kehidupan sehari-hari, kita harus memilih...
Kegiatan