lakukan

Apa Yang Anda Lakukan Kala Sakit Hati?

1 Samuel 1:1-28

Belum ada komentar 135 Views

“Pa, pakaian anak kita hilang lagi, pasti diambil Hana,” teriak Penina. Elkana berusaha menenangkannya, “Ma, tidak usah mengada ngada, Hana tidak akan melakukannya. Coba cari lagi, mungkin terselip di mana. Ngomong-ngomong, suruh anak-anak bersiap siap, dua hari lagi kita berangkat ke Silo untuk menyembah Tuhan.” “Baik, Pa,” jawab Penina. Lalu ia memanggil anak-anaknya, “Susana, Molina, Kevina, Juliana, Marina, Mona, Antena… segera siapkan perlengkapan untuk berangkat ke Silo.”

“Dari tahun ke tahun” (1 Sam. 1:3), Elkana membawa keluarganya untuk beribadah kepada Tuhan di Silo dalam kondisi spiritual Israel yang sangat terpuruk dan kelam. Orang-orang menolak untuk mendengarkan Tuhan, dan memilih melakukan apa yang mereka pandang baik. Hofni dan Pinehas, kedua anak imam Eli, sangatlah korup. Mereka memaksa dan bahkan mengambil paksa persembahan umat (bagian berlemak) untuk mereka sendiri (1 Sam. 2:11-14).

Maukah Anda tetap setia melakukan saat teduh setiap hari kala semua orang merasa bahwa hal itu tidak diperlukan? Bersediakah Anda tetap setia beribadah ketika orang-orang meninggalkan kehidupan ibadah mereka?

APA YANG MEMBUAT DIRIMU SEDIH?
“Dari tahun ke tahun” Penina menyakiti Hana (1 Sam. 1:7)

Pada masa itu, lebih banyak anak berarti lebih banyak pekerja di ladang. Lebih banyak anak laki-laki berarti lebih banyak pelindung. Jika seorang perempuan mandul, orang-orang akan berpikir: “Apa kontribusimu?” Hana dianggap sebagai perempuan yang gagal, tidak berguna, dan terkutuk. Dunia ini memang penuh ironi. Ada banyak pasangan suami istri yang tidak punya anak, tetapi ada banyak remaja yang mengandung. Suatu pagi, ketika saya sedang merenungkan 1 Samuel 1, saya melihat seorang ibu mengendarai motor dengan membawa dua anak batita, satu di depan, dan satu di belakang. Yang membuat saya kaget adalah ibu ini asyik membaca layar ponselnya sehingga ia mengendarai motornya dengan sebelah tangannya. Saya berpikir, ada yang merindukan anak, tetapi ada yang tidak menghargai nyawa anaknya sendiri.

Sesuatu yang membuat kita sedih, pasti sangat PENTING bagi kita. Momen yang paling sedih buat Hana adalah ketika ia harus berangkat ke Silo untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Pernahkah Anda merasa sedih di momen yang menyenangkan seperti Natal, Paska, Tahun Baru, Hari Ulang Tahun? Merasa sedih di Mother’s Day karena tidak punya anak. Di Hari Ulang Tahun Anda, karena tidak ada yang mengingatnya? Mungkin Anda yang masih lajang paling tidak suka menghadiri pesta pernikahan karena sering ditanya, “Kapan giliranmu?” Anda pasti sangat ingin membalas dan mengajak yang bersangkutan ke rumah duka, untuk bertanya, “Kapan giliranmu?”

APA YANG ANDA LAKUKAN KALA SEDIH?
Apa yang Penina lakukan membuat Hana gusar (ayat 6), menangis (ayat 8), sedih (ayat 8), pedih (ayat 10), bersusah hati (ayat 15), cemas dan sakit hati (ayat 16). Sebagian orang Kristen berpendapat bahwa kita tidak boleh datang ke hadapan Tuhan dengan wajah sedih, oleh sebab itu kita selalu diminta untuk menunjukkan wajah sukacita kita.

Apabila Anda menonton drama seperti kisah Elkana ini, apa respons Anda? Apakah Anda sangat ingin menampar Penina dan membela Hana? Namun Hana tidak membalas dendam. Ia memilih untuk MENCURAHKAN kepedihan hatinya kepada Tuhan (1 Sam. 11:15). Biasanya ketika kita sedih, kita bersungut-sungut ke mana mana. Kita cenderung mencurahkan kesedihan kita di tempat yang salah. Namun tempat yang paling baik dan paling aman untuk mencurahkan amarahmu adalah “ruang doamu”.

Marah dan kesal pada seseorang tidak akan mengubah dirinya, tetapi pasti akan mengubah dirimu. Kekesalan pada orang lain tidak memperbaiki dirinya, tetapi pasti MEMPERBURUK diri kita.

Yang sangat menarik, setelah berdoa, muka Hana tidak lagi muram dan ia bisa makan (1 Sam. 1:18). Padahal tidak ada kepastian apakah doanya akan dikabulkan atau tidak.

Life is a journey, if you can’t be grateful in the journey, you will grumble all the way.

BISAKAH ANDA BERDOA?
Hana tidak memiliki teknik khusus untuk berdoa. Ia hanya menangis dan mencurahkan kepedihan hatinya. Memerhatikan Hana, imam Eli berkata, “Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu daripada mabukmu!” (1 Sam. 1:14). Mungkin menurut imam Eli, Hana adalah salah satu wanita dursila yang dibawa anaknya ke kemah suci. Anak-anak imam Eli sering membawa wanita dursila ke kemah suci. Mungkin imam Eli hanya mengenal doa yang bersifat agama, doa copy-paste. Mungkin ia belum pernah melihat orang yang sungguh-sungguh berdoa. Jangan-jangan ia sendiri tidak pernah berdoa selain memanjatkan doa doa yang bersifat ritual. Doa bukan sebuah kegiatan agama, tetapi RELASI kita dengan Tuhan.

Apabila kita berada di posisi Hana, dan ditegur seperti itu oleh imam Eli, apa respons kita? Mungkin kita akan berkata, “Kamu mengurus kedua anakmu saja tidak bisa, mengapa kamu mengurus diriku?” Meskipun dihakimi sebagai orang yang sedang mabuk, Hana tetap bersikap sopan terhadap imam Eli. Menarik, bukan?

Jika kita memerhatikan sebutan yang digunakan Hana dan imam Eli terhadap Tuhan, kita dapat melihat perbedaan yang cukup signifikan. Bagi Hana, Tuhan adalah “Tuhan semesta alam” yang juga dapat diterjemahkan sebagai “Tuhan Bala Tentara Surga” (1 Sam. 1:11). Sedangkan bagi Eli, Tuhan adalah “Allah Israel.”

Berdoa bukan soal berapa panjang atau berapa lancar kata-katamu di dalam doa. Doa berasal dari iman. Doa adalah komunikasi kita dengan Tuhan yang berlandaskan relasi kita dengan Nya. Doa yang baik justru singkat, jujur dan tulus.

“Apakah Anda seorang hamba Tuhan? Jika Anda bukan hamba Tuhan, hamba siapakah Anda?”

Hana menyadari bahwa hidupnya bukan tentang dirinya, tetapi tentang Tuhan. Tiga kali ia menyebut dirinya “hamba Tuhan” dalam satu kalimat doa (1 Sam. 1:11). Life is not about us! It is all about God!

APA PRIORITAS DOAMU?
Hana merawat Samuel, dan melihat anaknya begitu polos, manis dan menarik. Apa perasaannya ketika harus menyerahkan anak itu kepada Tuhan? Sangat tidak mudah baginya untuk berdoa meminta anak, kemudian setelah dikaruniai, mempersembahkan buah hatinya kepada Tuhan. Pernahkah Anda berdoa memohon tambahan penghasilan dengan komitmen untuk memberikan persembahan kepada Nya, tetapi setelah menerimanya, berubah pikiran? Siapa yang paling Anda cintai? Anakmu, pekerjaanmu, kesehatanmu atau Tuhan? Hana lebih mencintai Tuhan daripada anaknya. Maka Samuel, menjadi si imam kecil di Silo. Apa yang terpenting bagimu? Berkat Tuhan atau Tuhan?

Sewaktu ia berdoa, Hana pasti tidak menyadari bahwa dampaknya bisa sedemikian besar. Samuel menjadi orang yang disandingkan dengan Musa. Nabi Yeremia mencatat perkataan Tuhan, “Sekalipun Musa dan Samuel berdiri di hadapan-Ku, hati-Ku tidak akan berbalik kepada bangsa ini. Usirlah mereka dari hadapan-Ku, biarlah mereka pergi! (Yer. 15:1).

Hannah’s prayer is a prayer of a broken-hearted person, a prayer of a nobody. However, it is a prayer that enables her to walk into God’s masterplan.

»PDT. LAN YONG XING

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • simul iustus et peccator
    ‘simul iustus et peccator’
    sudah dibenarkan tetapi sekaligus tetap berdosa
    Percaya Saja Banyak orang Kristen yang hanya berhenti pada percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamat mereka lalu menganggap tugas...
  • Damai Sejahtera Bagimu
    Damai Sejahtera Bagimu
    Perkataan Tuhan Yesus, “Aku haus” dan “Sudah selesai” yang terekam di telinga penulis pada saat mempersiapkan ibadah “Jumat Agung”,...
  • Stop, Rest, & ReFresh
    Stop, Rest, & ReFresh
    Kejadian 2:1-3; Matius 11:28-29
    Kehidupan ini bisa terasa begitu melelahkan, sehingga seseorang berkata, “tired, then buried”, alias lelah dan kemudian dikuburkan. Salomo berkata,...
  • Splagchnizomai
  • persekutuan
    Persekutuan Kasih
    Suatu saat sebelum Yesus ditangkap, Dia mendoakan kesatuan orang-orang yang percaya kepada-Nya sepanjang zaman. Dia meminta agar kita boleh...
Kegiatan