Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira. Kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. (Yohanes 16:20)
Ratih dan suaminya, Daru, telah delapan tahun menantikan kelahiran seorang anak dalam pernikahan mereka. Tahun ini, Ratih dinyatakan hamil. Daru dan Ratih pun bergembira luar biasa. Ratih memilih untuk melahirkan secara normal karena ia ingin merasakan perjuangan seorang ibu saat melahirkan. Rasa nyeri yang luar biasa dirasakan Ratih. Rasa sakit itu pun berganti dengan sukacita ketika Ratih dan Daru dapat melihat wajah bayi mereka.
Bacaan hari ini merupakan bagian dari percakapan panjang antara Yesus dan para murid-Nya. Saat itu, Yesus sedang mempersiapkan para murid-Nya untuk berpisah dengan-Nya. Hal ini menunjuk pada kematian-Nya yang mendatangkan dukacita bagi para murid. Namun, Yesus menegaskan bahwa Ia akan segera menjumpai mereka kembali. Hal ini menunjuk pada kebangkitan-Nya. Bagi Yesus, pengalaman para murid yang berdukacita dan bersukacita merupakan hal yang wajar dan biasa terjadi. Hal yang terpenting adalah bahwa para murid dapat meminta pertolongan, kekuatan, dan pemeliharaan kepada Bapa dalam nama Yesus.
Kehidupan selalu diwarnai oleh dua hal, yaitu dukacita dan sukacita. Dukacita dan sukacita ibarat dua sisi mata uang. Keduanya dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan. Hal yang dapat kita lakukan adalah menerimanya. Firman Tuhan mengajarkan kita untuk meminta kepada Bapa agar kita mampu menjalani keduanya dengan hati yang terbuka. [Pdt. Natanael Setiadi]
REFLEKSI:
Kehadiran Tuhan di tengah dukacita membuat hati kita bergembira.
Ayat Pendukung: Ul. 31:1-13; Mzm. 93; Yoh. 16:16-24
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.



Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.