Yang Sempurna Hadir Melalui yang Tidak Sempurna

Yang Sempurna Hadir Melalui yang Tidak Sempurna

Belum ada komentar 24 Views

Ada pepatah tua yang mengingatkan kita bahwa lebih baik mencari kawan dibandingkan lawan. Pepatah itu benar-benar dipegang teguh oleh seorang tokoh pengampun yang pantas dijadikan contoh, yaitu Nelson Mandela, pemenang Nobel Perdamaian tahun 1993. Mandela adalah sosok pahlawan Afrika yang menentang diberlakukannya pembedaan warna kulit di negaranya. Akibat keberaniannya menentang rezim yang berkuasa pada saat itu, Mandela terpaksa harus mendekam selama 27 tahun di penjara.

Namun setelah rezim Apartheid tumbang, Mandela tidak membalas hukuman yang diterimanya kepada rezim tersebut. Ketika Nelson Mandela diangkat menjadi Presiden Afrika Selatan yang ke -11, ia membentuk suatu komite untuk mengusut tuntas kebrutalan yang dilakukan oleh rezim apartheid. Setiap polisi warga kulit putih yang mengaku bersalah di hadapan keluarga korban, tidak dihukum.

Suatu hari seorang ibu tua diperhadapkan dengan polisi yang membunuh anak satu-satunya dan suaminya yang tercinta. Ketika ditanya apa yang ingin ia lakukan, wanita renta itu berkata, “Walaupun saya tidak lagi memiliki keluarga, saya masih memiliki banyak kasih untuk diberikan.” Wanita itu meminta agar si polisi muda mengunjunginya secara berkala sehingga ia merasakannya sebagai kunjungan seorang anak kepada ibunya. Kemudian ia berkata, “Saya ingin menunjukkan kepadanya bahwa pengampunan yang saya berikan adalah sebuah kesungguhan.” Polisi muda itu setelah mendengar perkataan si ibu begitu malu hingga ia jatuh pingsan (dari Buku Champion).

Berhati Mulia

Tak perlu kita persoalkan, Nelson Mandela dan janda renta itu, apakah mereka itu orang Kristen atau bukan. Yang jelas mereka, sang presiden dan wong cilik tadi keduanya berhati mulia, menunjuk kepada kasih Kristus yang sangat indah dan mempesona. Tuhan pasti sangat berkenan kepada mereka. Sebab sebagai manusia yang penuh keterbatasan, mereka sudah memancarkan wajah, hati dan hidup Kristus.

Di dalam Alkitab, Tuhan Yesus sering memuji orang yang dipandang rendah oleh sesamanya, tapi melakukan hal-hal yang besar di mata Tuhan. Perumpamaan orang Samaria yang murah hati termasuk pelajaran Tuhan Yesus yang penting. Melalui perumpamaan itu, Tuhan Yesus memperingatkan agar kita jangan tergesa-gesa menilai orang. Kedudukan yang terhormat dan rohaniah bukanlah jaminan mutu. Orang yang kita pandang tidak masuk hitungan, sering bisa melakukan perbuatan terpuji yang diperkenan Tuhan. Dalam hidup sehari-hari, terkadang kita disuguhi pelajaran menarik dari orang-orang sederhana yang berhati mulia, misalnya seorang tukang beca yang karena kejujurannya, tanpa pamrih mau berjerih payah mencari penumpangnya, hanya untuk mengembalikan dompet tebal yang baru saja tertinggal di becanya.

Tuhan yang Sempurna Mau Hadir Melalui Kita

Dalam Yesaya 9 tadi, hanya Tuhan yang dapat memunculkan terang yang besar di dalam kegelapan. Tuhanlah yang mampu mengakhiri ngerinya peperangan. Tuhan pula yang telah mengubah derita peperangan menjadi sorak-sorai dan kelegaan besar sebab perang telah berakhir. Penindasan dan masa pembuangan sudah tak ada lagi.Semua itu adalah prakarsa Tuhan, semua adalah anugerah Tuhan. Jika Tuhan sudah melakukan hal-hal yang besar, maka Dia selanjutnya menghendaki agar umat-Nya mau menyambut dengan sukacita, serta mensyukurinya. Tuhan tidak mau keberadaan umat-Nya bertentangan, atau bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh-Nya. Tuhan ingin agar umat-Nya dapat mengamini apa yang dilakukan-Nya dengan hidup selaras dengan-Nya. Dengan demikian terjadi suatu pertobatan serta lembar hidup baru di tengah-tengah umat Tuhan.

Coba simak satu kejadian yang menyentuh hati ini: Beberapa tahun yang lalu, sekelompok salesman mengadakan pertemuan di suatu kota. Melalui telpon mereka memberitahukan kepada para isteri mereka bahwa akan pulang agak malam, tapi ternyata pembicaraan lebih panjang dari yang diduga. Ketika pulang, karena tergesa-gesa maka tidak sengaja salah seorang salesman itu telah menendang kaki meja dari penjual buah-buahan. Berhamburanlah buah-buahannya, padahal pedagang buah itu ternyata adalah seorang yang buta matanya. Mengetahui hal itu salesman tadi segera turun kembali dari dalam bus yang akan ditumpanginya, dengan penuh rasa tanggung jawab ia segera mengumpulkan kembali semua buah tadi. Kemudian ia juga mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya sebagai ganti rugi, sebab ada beberapa buah yang rusak karena jatuh. Mengetahui semua kebaikan hati salesman tadi maka sang penjual buah yang buta itu lalu mengajukan satu pertanyaan yang aneh kedengarannya, “Apakah engkau Yesus?” Mendengar pertanyaan yang tak terduga-duga itu tercenganglah sang salesman.

Memang sangat mencengangkan jika perbuatan yang tampaknya biasa-biasa saja tiba-tiba memiliki satu nilai ilahi dan surgawi. Jika kita sering berbuat demikian, tahu-tahu kita sudah memberkati dunia yang sudah layu karena dosa ini. Tetesan bahkan siraman air sejuk telah kita limpahkan atas ladang-ladang, yang sudah mulai kering tanpa harap.

Manusia Yesus Mulai Melakukan Perjalanan Ilahi-Nya

Yesus tidak memilih Yerusalem sebagai tujuan awal perjalanan-Nya, tapi kota-kota kecil. Sebagai duta surga dan Putera Allah, Ia justru mendatangi orang-orang bersahaja. Allah transenden menyembunyikan kegagahan-Nya untuk melayani dengan kasih dan penuh kesabaran. Umat manusia yang dirangkul kegelapan maut, kini disinari terang besar yang memberi pengharapan untuk hidup. Melalui penampilan yang sederhana bahkan yang dinilai sebagai “yang tidak sempurna” itu, Yang Maha Kuasa datang bukan dengan maksud menjatuhkan hukuman, tapi menganjurkan pertobatan. Semua ini menunjukkan bahwa pada dasarnya Tuhan mengasihi manusia berdosa yang memprihatinkan nasibnya itu. Mengapa Yang Maha Mulia mendatangi manusia hina melalui Yesus anak tukang kayu yang sederhana dan yang dinilai tidak sempurna itu?

Sebab manusia tidak akan tahan menghadapi kekudusan Allah secara langsung, dan hanya melalui “yang tidak sempurna” itu maka akan terjalin persekutuan serta pergaulan yang seakrab-akrabnya antara Allah dan manusia. Ada satu hal lagi, yaitu: Obyek kasih Tuhan tidak boleh hanya tertuju kepada segelintir manusia, tapi “bangsa yang diam dalam kegelapan” bahkan “bangsa-bangsa lain.” Kalau begitu, selaku kepanjangan tangan Tuhan Yesus, kita tidak boleh tebang pilih dalam kegiatan pekabaran Injil.

Kita memang perlu bersikap bijaksana, terutama terhadap pemeluk agama lain, tetapi hati kita tidak boleh hanya tertarik kepada orang-orang yang berduit atau berkedudukan tinggi untuk memperkuat gereja. Pekabaran Injil dan jaring kasih Kristus jangan hanya ditebarkan kepada “kakap dan gajah” tetapi juga mereka yang tergolong “teri dan kelinci” di dalam masyarakat.

Dalam Yesus, Allah Dibesarkan dan Mengecilkan Diri

Yesus mengajar di seluruh Galilea, dalam rumah-rumah ibadah, memberitakan Injil Kerajaan Allah, melenyapkan segala penyakit dan kelemahan, tersiar berita tentang Dia di seluruh Siria, dan dibawa kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan, lumpuh lalu Yesus menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Dari Galilea, Dekapolis, Yerusalem dan Yudea.

Baru satu gebrakan saja, Yesus sudah sedemikian memikat dan mendatangkan kekaguman serta memuliakan Allah. Di dalam Yesus, Allah telah dibesarkan. Tapi Yesus tahu pasti bahwa akan tiba saatnya Ia akan meninggalkan dunia ini. Tujuan utama-Nya adalah mati menebus dosa manusia, sesudah itu harus ada para pengikut yang melanjutkan misi Allah. Maka sementara mendirikan tanda-tanda Kerajaan Allah, Ia juga menyiapkan murid-murid demi kepentingan masa depan, bahkan demi kepentingan yang lebih besar. Sebab para murid-Nya itu akan menjadi modal, model dan dasar bagi setiap hamba Tuhan yang menghubungkan Allah dengan bangsa-bangsa, untuk menghadirkan kasih karunia Allah.

Tapi sungguh aneh bahwa rencana besar-Nya itu hanya ditandai oleh langkah-langkah sederhana yang dapat “mengecilkan” kebesaran Allah. Lihatlah, Yesus tidak gembar-gembor menginformasikan progam keselamatan-Nya, lalu mengundang para cendekiawan dan para rohaniwan untuk mau mendaftarkan diri sebagai murid dan rasul-Nya. Tetapi Dia hanya menjumpai orang per orang, dari golongan rendah, dengan janji bahwa para nelayan itu akan diubah-Nya menjadi penjala orang! Jika kita bertanya-tanya mengapa begitu? Maka paling sedikit kita beroleh jawaban seperti ini: Yesus memilih orang-orang sederhana supaya di kemudian hari mereka dapat memberi kejutan bahwa di dalam tangan Tuhan, mereka bisa berubah menjadi hamba Tuhan yang berwibawa, karena memberitakan injil Kerajaan Allah dan membaptiskan orang-orang yang bertobat. Dengan demikian Allah yang dikagumi dan dimuliakan, bukan kepandaian manusia. Sebagaimana pilihan jatuh pada kandang domba, maka kali inipun diharapkan orang-orang dari segala lapisan masyarakat tidak akan merasa takut belajar kenal sama Tuhan Yesus melalui para murid-Nya.

Pemberitaan Tentang Salib Seperti Kebodohan, Namun Sebenarnya Kekuatan Allah

Tugas kita sekarang harus mampu mewujudnyatakan hal itu. Apa jadinya jika kita yang oleh dunia sudah dipandang bodoh karena memercayai Yesus Kristus yang tersalib itu, tapi ternyata kita juga tidak mampu menampilkan kekuatan Allah? Kita sudah dipandang bodoh karena mau memercayai Yesus, dan masih juga menjadi pecundang yang ringkih tak bertenaga. Bukan memuliakan, tapi sebaliknya akan menjadi batu sandungan yang mencemarkan nama Allah.

Ketahuilah, rahasia keberhasilan kita terletak pada kesediaan hati kita untuk mengutamakan persekutuan yang kokoh kuat. Bukankah kita ini lemah dan tidak sempurna? Tapi percayalah bahwa Tuhan yang sempurna akan hadir melalui kita yang tidak sempurna, menunjukkan kuat kuasa-Nya dalam segala hal. Mari, segala bentuk perpecahan yang dapat menyerang dan merusak persekutuan kita hindari, kita lawan dengan iman dan kasih. Kita dahulukan persekutuan kita dengan Tuhan, dan kita lakukan secara terus menerus persekutuan di antara kita dengan kita.

“Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Mazmur 27:1b).

Dalam Tuhan, oleh Tuhan, dan bersama Tuhan, kita pasti akan berhasil menjadi terang yang bercahaya di tengah kegelapan dunia!

Pdt Em. Daud Adiprasetya

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan