Tidak Ada Kebenaran Di Antara Orang yang Saling Membenarkan Diri

Tidak Ada Kebenaran Di Antara Orang yang Saling Membenarkan Diri

“Sikap kita terhadap orang lain (termasuk dalam hal keyakinannya) mencerminkan bagaimana sikap kita terhadap diri kita sendiri,” begitu antara lain tertulis di sampul Warta Gereja Kristen Muria Indonesia di Jepara (Jateng) pada hari Minggu tanggal 26 September 2010.

Kalimat itu ditulis untuk menegaskan bahwa untuk memahami Allah dengan benar, maka kita harus bersikap kasih kepada sesama, dan sikap seperti itu hanya dapat tercermin apabila kita menghargai, membuka diri terhadap sesama (termasuk keyakinannya) dan tidak membenarkan diri kita sendiri. Dasar moral dan tindakan etis jemaat seharusnya adalah kebenaran Allah dan bukan kebenaran kita sendiri, karena hanya Allah yang mengetahui kebenaran-Nya itu (lihat Yoh. 4:23-24). Kebenaran Allah itu harus tercermin dalam “ketulusan hati,” sesuai sikap Yesus dalam praktik hidup-Nya yang dapat kita pahami melalui Alkitab, karena Yesus adalah sumber kebenaran yang sejati (Yoh. 14:6).

Pdt. Purboyo, dalam mendukung tema khotbah “Tuhan Cinta Semua Bangsa,” juga antara lain menulis di Warta Jemaat tanggal 9 Januari 2011, yang memaknai Kis. 10:34-43, bahwa “iman” adalah tangan kita yang menggenggam tangan Allah yang senantiasa terulur kepada umat manusia kekasih-Nya, dan “baptisan” adalah tanda atau meterainya, sehingga apapun juga, bahkan “iman atau baptisan” sebagai tandanya (yang mengelompokkan kita sebagai orang Kristen), tak bisa membenarkan atau memberi hak kepada seseorang untuk mengatakan bahwa orang lain, atau sesamanya yang berbeda darinya (termasuk keyakinannya) adalah haram (najis, tidak suci). Untuk itu beliau selanjutnya menyatakan bahwa kita “perlu penghayatan yang jernih tentang kasih Tuhan,” yang tidak bisa dibatasi atau ditempatkan pada kotak-kotak ciptaan manusia.

Jadi janganlah kita sebagai orang Kristen menyombongkan diri dengan misalnya berkata bahwa “kami yang benar dan pasti masuk surga dan berkenan kepada-Nya sedang kamu dan orang lain yang sepaham dengan kamu pasti salah dan berdosa.” Bukankah dengan sikap yang demikian, kita juga sudah bersalah dan berdosa karena tidak menunjukkan kasih seperti yang diperintahkan Yesus?

Sikap pembenaran diri adalah suatu kesombongan dan sudah tentu salah. Karena itu saya katakan dalam judul tulisan ini bahwa “tidak ada kebenaran di antara orang yang saling membenarkan diri.” Memang “kita perlu selalu mencari kebenaran, tetapi harus disikapi dan dilakukan dengan benar, jangan menjadi sombong karena merasa diri sudah benar. Sikap dan tindakan seperti itu sudah pasti tidak benar.” Firman Tuhan dalam Yak. 3:16-17 berbunyi: “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut dan penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.”

Akhir-akhir ini kita banyak mendengar dan membaca berita tentang masalah “kebohongan” atau “ketidakbenaran,” yang kemudian semakin ramai dengan terjadinya perseteruan antara para pemuka agama dengan pemerintah. Para pemuka agama mengritik pemerintah dengan mengatakan bahwa “pemerintah tidak jujur,” dan ada “kebohongan.” Tidak tanggung-tanggung, belasan kebohongan itu disampaikan dengan berbagai data sebagai bukti. Tuduhan itu lalu ditimpali oleh berbagai ulasan para redaktur media komunikasi, juga pandangan para cendekiawan dan pakar berbagai bidang termasuk para budayawan. Pemerintah kemudian secara tegas menolak tuduhan itu dengan mengemukakan berbagai data dan alasan pendukungnya. Apakah ada kebenaran di antara mereka? Siapa yang benar dalam hal ini, apakah para pemuka agama yang tentu dilatarbelakangi oleh keyakinan iman mereka masing-masing, atau rezim pemerintah? Hanya Tuhanlah yang tahu, karena “Dialah Yang Mahatahu, sekaligus Yang Mahabenar.” Tetapi yang perlu penulis tekankan dalam hal ini adalah bahwa kalau kita hanya sibuk dengan sikap yang saling membenarkan diri secara terus-menerus, maka tidak akan terjadi kebenaran dan di mana tidak ada kebenaran, tentu sulit menemukan kesejahteraan.”

Kita yang telah percaya dan dimeteraikan melalui baptisan menjadi umat-Nya (Kristen) harus menyatakan kebenaran dengan menjadi “garam dan terang.” Apakah kita rela untuk gagal seperti Israel zaman dahulu itu? Tentu tidak. Karena kita telah mengenal Allah (melalui Yesus), maka kita harus melakukan perintah-Nya dengan penuh tanggung jawab. Semua perintah-Nya itu tercantum dalam Alkitab, antara lain: tidak boleh menyombongkan diri, tidak menghina orang, tidak menyalahkan atau tidak membenarkan diri sendiri, yang kesemuanya telah dirumuskan sebagai tindakan kasih. Tetapi menurut Pdt. Setyo Pranowo, selain kita “tetap menghargai pluralitas” (antara lain menghargai keyakinan orang lain), kita harus tetap teguh kepada keyakinan pada Yesus Kristus dan mencari kebenaran dari-Nya.

Tetapi jangan pula kita bersikap mau mendirikan tembok-tembok kebenaran kita sendiri saja, karena Kahlil Gibran, seorang pendeta dari Timur Tengah, pernah mengungkapkan bahwa “setiap cahaya kebenaran asalnya adalah karya Allah, dan Allah tidak dapat dipenjara oleh tembok-tembok pemisah agama karena Allah adalah kebenaran.” Ingat pula firman dalam 2 Tim 3:16 yang berbunyi:“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”

Perlu ditekankan dalam hal ini bahwa Alkitab bukan tempat mencari pembenaran terhadap apa yang kita yakini, tetapi mencari kebenaran supaya kita yakini. Berusahalah mencari kebenaran, lalu lakukan dengan benar, jangan menjadi sombong karena merasa diri sudah benar, karena tindakan seperti itu tidak benar.

Kiranya Tuhan memberkati dan memberi kekuatan kepada kita.

R. Sihite

Bookmark and Share

Sampaikan Pendapat Anda

Berikan komentar Anda...
dan sertakan avatar anda. Dapatkan disini!

(*) wajib diisi