Tetap Sehat di Atas Usia 50 Tahun

Tetap Sehat di Atas Usia 50 Tahun

1 Komentar 540 Views

Rata-rata orang lebih duapertiga masa hidupnya dihabiskan untuk bekerja. Bukan sedikit yang sampai menjelang ajal masih terus mencari nafkah. Aktivitas otak sepanjang hayat eloknya memang tidak boleh ikut pensiun. Namun aktivitas fisik berlebihan tanpa henti membuat tubuh lekas aus. Mereka yang bekerja fisik tanpa henti sampai uzur, Maximum Life Potential-nya berisiko tidak lagi penuh.

Seseorang dikatakan mampu menikmati hidup, dan hidupnya dirasakan bermakna kalau hidupnya ditempuh dengan seimbang. Untuk itu tak perlu hidup berlebihan. Perlu menyediakan waktu untuk merenung. Punya waktu untuk ‘time-out’ sejenak, melakukan check-up terhadap kehidupan. Tahu pula kapan saatnya harus minggir menepi (Ruralisasi).

Menjadi sehat itu katanya seberapa bagus kita memperlakukan tubuh di sepanjang hidup. Cukupkah gizi, sehingga mesin tubuh kita awet tahan lama. Cukupkah jeda harian sehingga roda dan ban tubuh kita tidak lekas aus dan gundul. Sudah cukupkah tenang jiwa kita.

Jiwa yang gundah merusak badan juga. Stres sendiri merongrong tubuh. Kencing manis, jantung koroner, darah tinggi, lemak darah, maupun kanker diperburuk oleh stres. Barangkali itu sebab usia krisis yang dulu rata-rata baru terjadi setelah usia 50, akibat cenderung dirundung stres berkepanjangan (malstress) krisis orang sekarang sudah muncul lama sebelumnya. Kita melihat semakin banyak kasus psychosomatic muncul sekarang, bentuk keluhan di badan yang dihibahkan oleh jiwa yang gundah. Bentuk penyakit badan yang muncul akibat jiwa yang merana. Sesungguhnya masihkah ada yang bisa kita lakukan agar tetap sehat sampai di ujung hayat?

  1. Umur tubuh kita (Maximum Life Potential) ditentukan oleh kualitas pembuluh darah yang berada di dalamnya. Pembuluh darah bertugas memasok makanan bagi seluruh sel tubuh. Agar pembuluh darah optimal melaksanakan tugasnya bukan saja dindingnya yang harus tetap elastis, melainkan perlu dicegah agar tak menumpuk karat lemak (atherosclerosis) di dalam sana. Untuk itu kadar lemak dalam darah (cholesterol, triglyceride) tidak boleh dibiarkan tinggi. Kencing manis, darah tinggi, asam urat, dan radikal bebas sendiri membantu menambah tebal karat lemak dinding pembuluh darah.Dengan bertambahnya usia, dinding pembuluh darah sendiri akan semakin mengeras dan kaku (arteriosclerosis). Proses kekakuan ini dipercepat selain bila nutrisi yang kita konsumsi tidak selalu lengkap, darah tinggi pun tetap dipelihara. Untuk itu selain darah tinggi harus dikontrol, menu harian perlu kecukupan seluruh zat gizi, termasuk vitamin dan mineral yang membantu memelihara pembuluh darah.Namun dinding pembuluh darah yang masih elastis dan tanpa karat lemak saja belum cukup untuk menyehatkan jika kualitas darah yang mengalir di dalamnya tidak normal. Darah dikatakan sehat kalau penuh bermuatan oksigen selain lengkap pula zat nutrien yang dikandungnya. Untuk itu perlu olah napas (lewat bergerak badan dan meditasi) selain tetap doyan makan apa saja (pemakan segala).Dinding pembuluh yang sehat, darah yang lengkap muatan oksigen dan nutriennya masih belum menjamin makanan itu bisa tiba ke dalam sel yang membutuhkannya bila jantung tidak memompa optimal. Sel-sel tubuh yang kekurangan makanan menjadi tidak optimal menunjang tubuh.

    Sel-sel tubuh membentuk jaringan. Jaringan membentuk organ. Jika organ tubuh tidak mendapatkan makanan yang optimal porsi maupun kualitasnya, mereka akan lekas merana, dan mundur fungsinya. Jika semua organ tubuh mengendur fungsinya, mesin tubuh tidak bekerja optimal. Kondisi ini yang memunculkan gejala penurunan vitalitas fisik. Kasus “tidak-sehat-tidak-sakit” di kalangan orang modern berhulu dari kondisi ini juga.

    Kasus lesu-letih-lemah lazim dikeluhkan orang sekarang. Dokter dihadapkan pada kenyataan pasien minta dokter membuatkan resep untuk mendongkrak vitalitasnya yang dirasakan mundur. Kasus demikian lazim bermula dari sel tubuh yang dibiarkan berlama-lama menderita kekurangan pasokan makanan yang dibutuhkannya.

    Kondisi itu bisa sebab pembuluh darahnya sendiri yang sudah tidak sehat, atau bisa juga sebab kualitas darahnya yang kurang gizi, atau boleh jadi sebab kerja jantung yang memang sudah lemah (akibat penyakit atau kurang bergerak badan), atau gabungan dari ketiganya.

    Sel-sel tubuh yang kekurangan makanan akan menjadikannya cepat aus dan lekas tua. Tanpa kekurangan pasokan makanan saja, dengan bertambahnya usia, sel-sel tubuh mengalami proses degenerasi. Menyaksikan semakin lajunya proses degenerasi itulah yang kemudian menggerakkan Linus Pauling mengubah paradigma hidup sehat dengan menilik langsung pada nasib sel tubuh orang modern (Konsep “Orthomolecular Medicine”).

  2. Jadi upaya menyehatkan tubuh berarti harus ditujukan pada upaya menyehatkan seluruh sel tubuh. Supaya sel tubuh sehat dan jaringan organ yang dibangunnya bekerja normal, pasokan makanannya pun harus optimal. Untuk itu pembuluh darah di seluruh tubuh perlu dirawat. Caranya, selain menu harian meja makan keluarga perlu ditata porsi dan kelengkapan nutriennya, semua penyakit yang merongrongnya, khususnya kencing manis, darah tinggi, asam urat, radikal bebas, harus disingkirkan. Untuk itu selain perlu obat dan pantang, perlu pula menu seimbang: memadai porsi dan lengkap pula seluruh nutrien yang dibutuhkan tubuh.Kasus orang modern “kurang gizi” bagian yang diperhatikan oleh penganut “Orthomolecular Medicine”. Dari situ pula muncul alasan mengapa sekarang begitu banyak makanan suplemen ditawarkan.
  3. Radikal bebas (free radicals) ada di dalam dan di luar tubuh. Tubuh sendiri memproduksi antioxidant untuk menawarkan racun radikal bebas yang terbentuk dalam tubuh. Namun kehidupan zaman sekarang yang penuh polusi (udara, air, makanan, overtraining), antioxidant yang tubuh produksi tak mampu lagi menawarkan begitu meruahnya radikal bebas yang tubuh terima. Untuk mengurangi tumpukan radikal bebas kita bisa menata hidup dengan memilih gaya dan pola hidup yang lebih arif dalam soal makan, bekerja, aktivitas harian, dan pilihan berdomisili.
  4. Usahakan agar menu harian lebih alami, menjauhkan makanan olahan (junk food), kini menjadi kiblat orang di negara maju. Kita sendiri malah bangga kalau bisa makan burger, steak, dan menu fast food, yang sebetulnya sudah banyak kehilangan gizinya, namun boros lemak, gula, dan garam. Jenis menu begini yang bikin lemak dalam darah kita cenderung lebih tinggi. Anggapan semakin gemuk semakin memberi kesan makmur harus pupus dari benak anak-anak kita. Bukan yang gemuk melainkan yang tidak gemuk justeru yang tergolong sehat.

Status kesehatan seseorang mencerminkan otobiografi menu hariannya sepanjang hidupnya. Menu modern di satu sisi bikin kelebihan gizi sehingga bikin berat badan selalu melebihi ukuran normal, pada sisi lain bikin banyak orang yang hidupnya kecukupan berisiko kekurangan gizi. Kenapa?

Tidak sedikit di Amerika orang yang kekurangan mineral, termasuk trace elements akibat monodiet, selain memilih menu olahan yang gizinya sudah kritis. Tubuh membutuhkan lebih 40 jenis nutrien setiap hari. Sebagian tidak bisa dibuatnya sendiri dan mengandalkan dari menu harian.

Makanan kalengan, masakan olahan, junk food, fast food, cenderung sebagai menu ampas, sebab sudah banyak kehilangan zat gizi akibat cara panen, cara simpan, cara olah. Sementara lapisan permukaan tanah (topsoil) bumi kita sudah luruh ke laut sehingga kehilangan sebagian besar unsur hara yang dibutuhkan tanaman maupun tubuh manusia. Sayur mayur, dan ternak yang kita konsumsi sudah tidak lengkap lagi kandungan zat gizinya. Jika tubuh kekurangan zat gizi yang tubuh tidak bisa membuatnya sendiri, lama kelamaan akan mengganggu mesin tubuh juga. Sakit gizi macam begini yang kini banyak diderita orang modern dalam bentuk keluhan dan gejala yang beraneka: letih-lelah-lesu.

Bisa dimengerti jika banyak kasus penyakit jantung, hati, prostat, pancreas, atau organ lainnya sampai gangguan jiwa muncul hanya lantaran kekurangan trace elements tertentu. Inilah mineral yang dibutuhkan dalam dosis yang amat kecil, namun menimbulkan gangguan bila tubuh tidak mendapatkannya. Tubuh kita membutuhkan puluhan jenis trace elements, yang tidak selalu tersedia dalam menu harian kita sekarang ini jika pola makan masih monodiet dan memilih “menu ampas”.

Kaitan zinc dengan gangguan prostat, chromium dengan kencing manis, selenium dengan jantung, dan banyak riset baru mengungkapkan betapa esensial peranan mineral dan trace elements dalam memunculkan banyak penyakit (kurang gizi) yang beraneka keluhan dan gejala yang mungkin tidak selalu muncul nyata.

Polusi kita sudah kuyup di mana-mana. Udara yang kita hirup setiap detik polutannya sudah melebihi ambang yang diperkenan. Air yang kita minum belum tentu cukup mineralnya selain banyak cemarannya. Menu harian kita juga sudah tercemar pengawet, zat warna, penyedap, selain bibit penyakit, radikal bebas yang memberi andil untuk mencetuskan banyak penyakit termasuk kanker.

Hidup sehat sampai tua itu hidup yang senantiasa terjaga tertib dan teratur. Tertib dan teratur waktu makan, waktu bekerja, waktu jeda, dan waktu melepas lelah, rekreasi, selain rutin bergerak badan.

Tak perlu bukti lagi kalau hidup kurang gerak (sedentary life) meningkatkan risiko koroner, atau stroke, sama jahatnya dengan merokok dan minuman keras. Ada baiknya mulai berpikir untuk ‘do by yourself’ dalam keseharian (menjadi Inem di rumah sendiri, atau tak malu menjadi suami yang “Mr. Mom”, apa salahnya ikut mengganti popok bayi, menggendong anak, mencuci baju, mengepel dan mencuci piring, oleh karena semua pekerjaan rumah tangga merupakan exercise paling alami bagi otot tubuh kita tanpa perlu menyisihkan waktu khusus seperti kalau untuk golf, atau tennis, misalnya).

Untuk vitamin batin perlu menyediakan waktu buat rekreasi, dan banyak tertawa. Dosis tertawa sekurang-kurangnya tiga kali sehari, kalau bisa sampai terpingkal-pingkal (asal tidak di depan Pak Polisi). Tertawa menyehatkan jantung dan paru-paru, selain menambah deras aliran darah. Biasakan mengajak otak tetap aktif, senantiasa berpikir positif (bagian dari kuasa doa), dan mengasah otak kanan dengan lebih sering menikmati produk kesenian (musik, pameran lukisan, sastra), selain dengan brain-gym, akan membangun hidup seimbang antara pikir dan rasa.

Dr. Handrawan Nadesul

1 Comment

  1. dani

    ijin dokter mw meng-copy paste artikel dokter boleh ngga dok?bagus dok buat referensi saya

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Kesehatan
  • Menjadi Inem di Rumah Sendiri
    Satu yang keliru untuk menjadi sehat rata-rata orang sekarang, adalah kebanyakan duduk dan kurang gerak (sedentary lifestyle). Kodrat tubuh...
  • Perut Kita Bukan Apotek
    Sukar dibayangkan masyarakat kita begitu gampang memakai obat layaknya kacang goreng. Pergi ke toko obat tinggal bilang apa keluhannya,...
  • Jurus Mencegah Kanker
    Angka kejadian kanker di dunia terus meningkat. Separuh dari kasus telah meninggal dunia, dan diperkirakan penderita kanker akan berlipat...
  • Mitos-Mitos Medis yang Masih Hidup
    Bangsa kita terbiasa dikerubuti aneka mitos. Termasuk sejumlah mitos medis. Bukan hanya kalangan tidak berpendidikan, bahkan yang lulus universitas...
  • Malapraktik dan Komunikasi DOKTER-PASIEN
    Malapraktik dan Komunikasi DOKTER-PASIEN
    Kasus pasien yang tidak puas terhadap dokter lebih disebabkan oleh tidak terbangunnya komunikasi dokter-pasien. Terjalinnya komunikasi ini menentukan kepuasan...
Kegiatan