Tantangan Berkomunitas

Sebuah refleksi singkat tentang hidup menggereja saat ini

Belum ada komentar 11 Views

Dalam rangka mengembangkan kehidupan menggereja, pertanyaan tentang apa tantangan gereja saat ini kembali muncul sebagai pertanyaan yang relevan. Pertanyaan ini penting karena mengajak kita mensyukuri penyertaan Tuhan pada gereja-Nya dengan sikap yang reflektif dan terus menjadi kritis. Sudah lama kita menyadari bahwa segala sesuatu dalam dunia ini bersifat dinamis dan terus berubah. Keberadaan kita hanya akan menjadi relevan ketika kita mengenali dan berinteraksi dengan perubahan-perubahan, memahami kesempatan maupun tantangan yang ada, tidak terkecuali gereja. Namun berbicara tentang tantangan gereja di tengah dinamika dan perubahan masa kini, menurut penulis, seperti berbicara tentang sejuta hal pada saat bersamaan. Artinya, kita akan diperhadapkan pada banyak sekali kemungkinan permasalahan, keberhasilan, perspektif dan pembahasan serta perdebatan yang mengiringi pelayanan gereja itu sendiri. Ini menjadi topik yang amat luas dan besar dalam sebuah ruang pembicaraan yang amat terbatas. Nah, tanpa bermaksud untuk mengabaikan berbagai kemungkinan yang ada, penulis ingin mengajak kita fokus pada salah satu hal yang baik untuk diperhatikan, yaitu soal berkomunitas sebagai gereja.

I

Di Indonesia, seperti juga di banyak tempat lain di Asia, agama adalah hal yang sangat populer di tengah masyarakat. Sebagai contoh, data yang penulis miliki terkait seberapa banyak remaja-pemuda gereja terlibat dalam ibadah dan aktivitas keagamaan lainnya (tahun 2007 remaja-pemuda mahasiswa di Ambon dan Yogyakarta, dan tahun 2016 remaja-pemuda di lingkungan Gereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jawa Timur) menunjukkan angka yang tinggi. Lebih dari 80% responden menyatakan diri hadir dalam ibadah-ibadah minimal 1 kali dalam 1 minggu dan lebih dari 60% mereka menyediakan diri untuk terlibat dalam aktivitas keagamaan di luar ibadah. Data ini mengonfirmasi rasa optimis pada popularitas agama yang tinggi, apalagi karena ini ditemukan di kalangan anak muda. Penulis selalu mengatakan bahwa tantangan gereja di Indonesia yang paling besar mungkin bukan soal kehadiran anggota gereja dalam ibadah dan aktivitas keagamaan, tetapi lebih pada bagaimana mengembangkan kualitas hidup menggereja di tengah semangat dan optimisme anggota-anggotanya itu.

Jika kita mau berbicara lebih jauh tentang pengembangan kualitas hidup menggereja yang adalah sebuah persekutuan, kita dapat dibantu dengan menggunakan konsep berkomunitas sebagai lensa. Gambaran gereja tradisional di dalam Alkitab, yaitu Tubuh Kristus (Rm. 12:5; 1 Kor. 12:7; Ef. 4:12) atau juga model gereja sebagai murid-murid Kristus (bdk. Dulles 1987) mengingatkan kita bahwa gereja pertama-tama bukan lembaga, apalagi sekadar tempat. Gereja adalah sebuah persekutuan atau komunitas di mana murid-murid Kristus yang saling terikat belajar dan bekerja seperti Allah mengutus Kristus yang diutus ke dalam dunia (Yoh. 17:18; 14:12). Pertanyaan yang muncul adalah, sampai seberapa jauh rasa berkomunitas dalam persekutuan gereja dihidupi? Secara konseptual rasa berkomunitas yang dimaksudkan di sini adalah ketika setiap anggota gereja menghayati dan merasakan dengan kuat elemen-elemen penting dalam hidup berkomunitas, yaitu keanggotaan yang dihidupi (secara tertutup atau terbuka), kesempatan untuk memberi dan menerima pengaruh (yang kaku atau cair), integrasi anggota dengan nilai-nilai yang menjawab kebutuhan anggota gereja dan yang diperjuangkan (secara konservatif atau terbuka), dan pengalaman bersama yang dirasakan secara emosional (dengan lemah atau kuat) (bdk. McMillan & Chavis 1996). Rasa berkomunitas yang dibangun dengan kuat sesuai dengan kebutuhan anggota-anggota komunitas tersebut akan membuat anggota-anggotanya bertahan dan bergembira. Dan pada saat bersamaan, rasa berkomunitas yang lebih terbuka, dinamis, dan cair juga akan mendorong komunitas tersebut untuk berkembang dalam mewujudkan konsepsi identitas yang kuat, yang pada akhirnya berdampak pula pada kesediaan setiap anggotanya untuk melakukan tugas-tugas gerejawi dan berpartisipasi dalam aktivitas keagamaan dengan tujuan-tujuan yang makin luas. Tanpa upaya untuk memelihara rasa berkomunitas, maka tugas-tugas gerejawi dan aktivitas keagamaan yang tampak marak itu dapat sekadar menjadi aktivisme demi dirinya sendiri yang tidak memberikan dampak bagi dunia, atau lebih parah lagi, perlahan-lahan berkurang peminatnya. Jelas perlu ada kesediaan untuk terus bekerja dan belajar sebagai pengikut Kristus yang berupaya menerjemahkan cinta Allah di tengah kehidupan (bdk. Yoh 15:17).

II

Hidup berkomunitas dalam masyarakat modern memiliki tantangan yang kuat. Ada dua isu yang sering dibicarakan terkait dengan keberadaan masyarakat modern saat ini. Pertama, isu tentang individualisme, di mana kepedulian pada diri dan kepentingannya sendiri makin lama mulai menguat. Kedua, isu tentang komunikasi yang cair dan didukung dengan teknologi komunikasi modern membuat relasi formal tidak menjadi hal yang menarik. Masyarakat dapat terhubung dalam berbagai jejaring melalui media sosial dan media komunikasi berbasis internet serta mencapai berbagai tujuan yang sesuai dengan kepentingannya. Di dalam hidup menggereja, konteks ini tidak dapat dihindari. Berbagai literatur, sampai dengan strategi pembangunan jemaat praktis, telah berbicara tentang topik ini dan menghasilkan berbagai ide, seperti gereja tanpa tembok, gereja yang cair, jejaring dan pelayanan, media sosial dan pelayanan, dsb. Mereka yang tidak gembira dengan perubahan dan konteks ini mempertanyakan relasi interpersonal yang lemah dan hilangnya otoritas serta hierarki yang dianggap menjadi sumber dari ketidakefektifan, bahkan mungkin juga kekacauan, hidup menggereja. Solusi teknis biasanya dilakukan dengan menghadirkan sikap yang melawan kondisi tersebut, misalnya dengan menekankan komunalitas, menegaskan otoritas pemimpin, memperkuat doktrin dan nilai tradisional. Sebaliknya, mereka yang bersimpati menunjukkan bahwa teknologi komunikasi modern mendorong relasi yang amat luas, di mana gereja hidup tidak lagi dengan batas-batas yang kaku dan dapat berbagi nilai secara cair. Beberapa sikap yang tampak, misalnya ketidaktertarikan anggota gereja pada gereja konvensional, organisasi, aktivitas tertentu.

Penulis sendiri tidak ingin terjebak pada kedua pendapat di atas, tetapi lebih memilih untuk melihat sendiri bagaimana masyarakat gereja masa kini menghidupi rasa berkomunitasnya. Mengenali karakteristik rasa berkomunitas masyarakat gereja modern akan membantu kita untuk memahami tantangan berdasarkan fakta dan memikirkan strategi yang tepat. Dari satu penelitian tentang rasa berkomunitas di tengah remaja-pemuda anggota GKI di lingkungan SW Jatim (2017), penulis menemukan bahwa ‘nilai bersama’ dan ‘pengalaman bersama’ adalah hal yang perlu diperhatikan. ‘Nilai-nilai bersama’ dalam komunitas dipahami sebagai salah satu modal penting untuk mendorong keterikatan dan visi bersama yang menghasilkan tindakan-tindakan bersama pula. Tetapi dalam penelitian tersebut penulis menemukan bahwa bagi remaja-pemuda GKI ‘nilai-nilai bersama’ ini justru menjadi penyebab dari keengganan mereka untuk terlibat lebih banyak dalam aktivitas keagamaan. Apa yang dipahami oleh para remaja-pemuda ini? Kesediaan mereka untuk terlibat dan melakukan sesuatu dalam komunitas tampaknya tidak selalu sejalan, bahkan bertentangan, dengan konsep ‘nilai-nilai bersama’ yang justru biasanya terus menerus diperkuat dalam sebuah komunitas.

Tampaknya ada persoalan terkait bagaimana gereja melakukan interpretasi pada ‘nilai-nilai bersama’ itu. Ketika cara berpikir gereja menjadi tradisional, apalagi kaku, maka gereja cenderung memperlakukan ‘nilai-nilai bersama’ sebagai doktrin yang bermuara pada satu atau sedikit model aktivitas tertentu yang dipandang benar. Hal ini akan diperparah dengan asumsi bahwa anggota gereja harus tunduk hanya pada otoritas tradisional yang dipegang oleh satu kelompok tradisi atau denominasi tertentu. Padahal dalam masyarakat modern, otoritas tradisional harus bersaing dengan beragam sumber informasi yang dapat menggeser posisi pemegang otoritas lama. Ironi yang muncul adalah bahwa nilai bersama yang seharusnya ditemukan dari bawah untuk menjadi jembatan bagi anggota komunitas yang beragam, justru menjadi pemisah bagi beberapa kelompok yang tidak sejalan. Sebagai contoh, gereja-gereja yang memahami gerakan ekumenis sosial sebagai nilai bersamanya, yang notabene sering pula menjadi arah dari identifikasi diri GKI. Mereka memahami bahwa nilai ekumenis-sosial adalah nilai bersama dan setiap anggota harus menghidupinya melalui aktivitas terkait aksi dan tindakan-tindakan sosial tertentu. Persoalan muncul ketika ada kebutuhan spiritual lainnya, nilai, pemikiran, ide yang mungkin berbeda yang hidup di tengah anggota-anggota gereja dan tidak pernah benar-benar mendapatkan tempat karena dianggap salah/berbeda. Akibatnya tidak selalu anggota komunitas dapat menemukan aktivitas yang sesuai dengan apa yang diharapkannya. Tentu dalam dirinya, nilai ekumenis dan sosial bukan hal yang salah. Tetapi sikap doktriner dalam keragaman, sekalipun atas nama kebenaran, justru menjadi kontra produktif pada kesediaan remaja-pemuda gereja masa kini untuk terlibat dan mengembangkan aktivitas keagamaan. Penulis memiliki pandangan bahwa munculnya komunitas-komunitas religius radikal dan fundamentalis yang marak pada saat ini jangan-jangan salah satunya disebabkan justru oleh kurangnya ruang yang memerhatikan pemikiran dan kebutuhan-kebutuhan spiritual mendasar dari komunitas-komunitas religius yang terus menerus berbicara tentang masalah sosial. Banyak orang, termasuk anak-anak muda, yang mencari alternatif di tengah hasrat spiritual dan kepentingan diri mereka yang tidak terjawab.

Nilai-nilai bersama semestinya tidak boleh beku dalam doktrin satu arah. Hal ini sama sekali tidak cocok dengan masyarakat modern yang memiliki banyak pilihan dan kepentingan dalam mewujudkan aktivitas, serta sumber informasi yang tidak membiarkan adanya otoritas yang dominan atau tunggal (bdk. Possamai 2018). Nilai-nilai bersama harus dikembalikan pada intinya, yaitu nilai yang ditemukan dan dikembangkan bersama, termasuk dengan menemukan lebih banyak lagi nilai serta kepentingan di tengah keberagaman. Dalam penelitian yang sama, penulis menemukan bahwa pengalaman bersama yang memberikan tekanan pada bagaimana terjadi perjumpaan-perjumpaan yang kuat antara berbagai orang−termasuk berbagai nilai dan kepentingan, pengalaman yang memperhatikan rasa dan emosi−justru memberikan pengaruh amat kuat pada kesediaan mereka untuk lebih terlibat, dan tidak menutup kemungkinan untuk belajar serta berkembang sebagai sebuah komunitas. Jika kita kembali pada contoh di atas, gereja yang ekumenis-sosial perlu memberikan ruang yang juga kuat pada banyak hal yang mungkin menjadi pengalaman anggota gereja yang selama ini belum diperhatikan atau belum jelas bagi mereka, seperti misalnya kerinduan pengembangan spiritualitas pribadi, latihan-latihan rohani, gambaran tentang gereja dan Allah yang buram, pergumulan-pergumulan domestik, konsep penginjilan dan pemuridan, termasuk persoalan, kesedihan, kemarahan atau luka-luka batin yang mereka alami sebagai orang beriman dalam kehidupan sehari-hari, dll. (bdk. Tacey 2004).

III

Dari apa yang telah kita coba bicarakan di atas, ada dua hal yang perlu mendapat catatan. Pertama, kita berhadapan dengan bentuk komunikasi yang baru. Berkomunitas, termasuk hidup menggereja di tengah masyarakat modern, menjadi jauh lebih cair, baik dalam bentuk organisasi, tradisi dan aturan, nilai-nilai yang dipahami, sampai dengan cara berkomunikasi. Namun satu hal yang menjadi amat penting adalah bagaimana setiap orang mampu berkomunikasi secara aktif dan dinamis. Komunikasi dalam masyarakat modern tidak lagi dapat mengandalkan sikap kaku, otoriter dan satu arah, yang merujuk hanya pada satu sumber pemegang otoritas. Kita harus membuka diri bahwa pada dasarnya otoritas tidak pernah menumpuk pada posisi dan denominasi tertentu. Setiap orang dapat memiliki ide, nilai dan menyebarkannya. Karena itu apa yang dibutuhkan adalah bagaimana ide dan nilai-nilai itu diteruskan, digali dan dikembangkan secara sehat dalam komunikasi yang berjalan kreatif. Karena itu kita tetap memerlukan organisasi dan institusi. Namun pada saat yang bersamaan, ketimbang memperkuat otoritas tertentu dan memberlakukan pendekatan kekuasaan, gereja modern justru harus memikirkan cara dan media untuk mengoneksikan sebanyak mungkin orang agar dapat turut serta mendistribusikan ide dan nilai-nilai yang diinginkan dan berkontribusi dalam proses pembentukan karakter dan spiritualitas masyarakat (Drescher 2011; Tacey 2004). Gereja akan menjadi komunitas yang kuat ketika setiap orang terhubung dan kemudian berpartisipasi dalam membangun ide dan nilai-nilai kristiani yang mereka sendiri benar-benar pahami.

Kedua, kita perlu memberikan perhatian yang kuat pada kebutuhan spiritual anggota jemaat. Pada dasarnya, ada banyak orang yang memiliki kebutuhan spiritual untuk memiliki gambaran tentang Tuhan dan diri mereka sendiri, yang dapat membantu mereka dalam menjalankan hidup mereka di dunia (Possamai 2018; Tacey 2004). Pengalaman bersama yang diharapkan oleh anggota gereja untuk dapat tetap berkomunitas memperlihatkan harapan untuk membangun kreativitas yang mempertemukan kebutuhan komunal dan individual. Dengan kata lain, gereja adalah komunitas yang bukan sekadar mempertahankan tradisi (tradisionalisme), tetapi juga memberikan empati pada banyak pengalaman dan keberadaan anggota gereja serta banyak orang di sekitar gereja (kreativitas). Seorang rekan dosen yang mengajar tentang ibadah dan liturgi, dengan bersemangat menceritakan pengalamannya bahwa ibadah, liturgi, bahkan tindakan pastoral yang gereja lakukan pada orang sakit atau menderita, sering kali tidak pernah benar-benar memerhatikan kebutuhan si sakit atau yang menderita, karena liturgi dan pastoral gereja sebenarnya lebih sibuk dengan doktrin yang hendak disampaikan. Hidup berkomunitas dan menggereja masa kini harus dibangun dan bermuara pada tumbuhnya spiritualitas kreatif dan bukan sikap kuno doktriner.

Sampai di sini penulis selalu yakin, gereja tidak pernah akan kehabisan pekerjaan, jika mau melihat dengan mata terbuka dan belajar dengan hati yang luas pada Yesus yang bekerja seperti Bapa yang juga terus bekerja. Selamat ulang tahun jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pondok Indah. Selamat terus menjadi gereja Tuhan.

>> Pdt. Handi Hadiwitanto, PhD. Pendeta GKI tugas khusus sebagai dosen teologi praktis – pembangunan jemaat di Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Maverick
    don’t judge the book from its cover
    ‘Maverick’ secara harfiah diartikan sebagai seseorang yang berpikir dan bertindak independen. Ia sering berperilaku berbeda dari yang diharapkan atau...
  • bebas
    Kebebasan Yang Mau Terikat
    Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin...
  • Sahabat Allah
    Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
Kegiatan